'Akhirnya. Selesai juga.'Aku kembali mendengar suara Theo.Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.Aku mengaitkan lenganku pada lengannya lalu bertanya, "Sayang, boleh kita lihat-lihat toko yang satunya lagi sebentar?"Dia tampak ragu. "Kita sudah terlalu lama di luar hari ini. Kamu pasti capek. Ayo kita pulang supaya kamu bisa istirahat."Kemudian, aku kembali mendengar isi pikirannya.'Aku sudah muak dengan semua ini. Dia seharian belanja pakaian. Apa nggak capek?'Sesuatu terasa mencengkeram erat hatiku. "Ya sudah. Ayo kita pulang."Ini adalah tahun kelimaku menikah dengan Theo. Lima tahun lalu, saat dia melamarku, dia berjanji akan memberiku yang terbaik dari segala hal.Waktu itu, aku merasa seperti gadis paling bahagia di dunia.Namun, setelah kami menikah, sikapnya kepadaku semakin lama semakin dingin.Awalnya, aku mengira dia hanya kelelahan karena pekerjaan dan sudah tidak punya banyak tenaga untukku. Jadi, aku berusaha menjadi istri yang pengertian, memikirkan be
Mehr lesen