Share

3. Tongkat Sakti

Bimantara berjalan tertatih dengan tongkatnya melewati perkampungan. Beberapa penduduk kampung melihatnya dengan heran. 

"Lihat saja! Bagaimana mau menjadi pendekar!"

"Impiannya terlalu tinggi! Yang bisa berguru di perguruan Matahari hanya orang-orang yang memiliki bakat kesaktian saja! Kalau dia?!"

Bimantara menahan kekesalannya pada umpatan penduduk yang didengarnya. Dia yakin kalau mereka yang mendorongnya ke lautan lah yang memberitahukan hal itu pada mereka hingga ejekan datang padanya. Dia selalu ingat pesan kakek Sangkala bahwa kesabaran akan memberinya kekuatan. Tiap kali dia bersabar maka kekuatan akan datang dari tiap cacian yang dia terima.

Saat hampir sampai di gubuk reyotnya, dia melihat ayahnya sedang menjemur bakul-bakul yang baru selesai dianyamnya. Bimantara segera berjalan ke arahnya dengan tongkat lalu memeluknya dengan erat.

"Maafkan aku, ayah!" Isak Bimantara.

Amarah di diri Naga Wali mendadak padam mendengar tangisan anak lelakinya. Bimantara semakin sesenggukkan dalam pelukannya karena kasihan dengan nasib ayahnya yang baginya sangat menderita. Kalau saja kakek Sangkala tidak menceritakan semuanya, dia tak akan sesedih itu melihat ayahnya yang dikhianati dan dibuang dari perguruan Matahari oleh sahabatnya sendiri.

"Lelaki sejati pantang untuk menangis! Hapus air matamu!" pinta Naga Wali yang mulai melunak.

Bimantara melepas pelukannya dan menghapus air matanya dengan tangannya.

"Benda di dalam peti itu adalah benda keramat. Jika dibuka, ayah khawatir akan ada musibah! Ayah tak bisa menyembunyikannya sembarangan!" 

Bimantara hanya menggangguk. Dia tak ingin memberitahunya kalau dia sudah tahu semuanya tentang misteri dibalik isi dalam peti itu.

"Berhentilah menangis, ayah sudah memaafkanmu. Akan tetapi jangan diulangi lagi," pinta ayahnya sekali lagi.

"Iya, ayah," jawab Bimantara.

"Temuilah Tuan kepala kampung, dia sudah menunggumu untuk mengembalakan domba-dombnya."

"Iya, ayah."

Bimantara pun pergi dari sana. Sesaat kemudian suara gemuruh terdengar bersama teriakan-teriakan penduduk. Bimantara terkejut saat melihat angin puting beliung yang berputar bagai gasing menarik atap jerami rumah-rumah warga. Apakah ini yang dimaksud ayahnya yang khawatir ada musibah jika membuka peti itu? Jika memang benar, apa hubungannya? Bimantara bertanya-tanya dalam hatinya bercampur panik.

"Bimantara! Kemarilah!" teriak Naga Wali dengan panik.

Bimantara segera berlari ke arah ayahnya, namun angin puting beliung yang besar itu menarik ayahnya hingga membawanya ke atas bersama benda-benda yang hancur. 

"Ayah! Ayah!" teriak Bimantara dengan sedih.

Angin puting beliung itu berputar menjauh, membawa ayahnya ke arah lautan. Bimantara mengejarnya dengan tongkatnya sambil berteriak-teriak.

"Ayah! Ayah!"

Kini angin puting beliung itu tiba di sisi jurang, lalu dengan cepat berbutar ke arah lautan. Bimantara terduduk di sisi jurang. Air matanya mengalir deras. Puting beliung itu telah membawa ayahnya pergi. 

"Ayah!!!"

***

Bimantara menangis di dekat makam ayahnya. Kakek Sangkala berdiri di dekatnya, berusaha menahan kesedihannya.

"Ini semua salahku, Kek. Harusnya aku tidak membuka peti itu. Ayah bilang kalau peti itu dibuka akan terjadi petaka," Isak Bimantara.

"Ini bukan salahmu. Angin puting beliung tak ada hubungannya dengan peti itu," ucap kakek Sangkala menenangkannya.

Bimantara berdiri dengan tongkatnya sambil menatap wajah kakeknya.

"Ajari aku berenang, Kek! Ajari aku dasar-dasar bela diri! Aku yakin aku bisa meski hanya dengan kaki satu ini," isak Bimantara.

Kakek Sangakala bingung. Dia teringat kalau mendiang ayah remaja itu pernah mendatanginya untuk meminta bantuan mengawasi Bimantara agar jangan sampai terpengaruh untuk menjadi murid di Perguruan Matahari. Kemarin dia memang pernah menawarkan itu.

"Maaf, sekarang Kakek tidak bisa mengajarimu."

Bimantara heran, "Katanya kemarin mau mengajariku, Kek?"

Kakek Sangkala pergi meninggalkannya. Bimantara heran. Esoknya Bimantara kembali datang saat Kakeknya sedang sibuk membelah kayu bakar.

"Kek, tolong ajari aku, Kek!" pinta Bimantara dengan memelas.

Kakek Sangkala cuek saja.

"Sekali Kakek bilang tidak akan tetap tidak," jawab kakek Sangkala.

Esoknya Bimantara datang lagi dengan wajah memelas. Kakeknya geram.

"Kau ini memang susah! Jika menginginkan sesuatu harus sampai dapat! Jika penasaran sesuatu harus tahu jawabannya!"

"Makanya ajari aku, Kek. Kalau kakek tidak mau mengajari aku, aku akan selalu memohon ke kakek sampai kakek mau mengajariku," ancam Bimantara.

Kakeknya menghela napas pasrah. Akhirnya mengangguk juga. Mungkin hanya itu yang bisa membuat cucunya tenang dari kematian ayahnya. Kakek Sangkala tahu kalau cucunya tak akan pernah bisa menjadi murid di perguruan Matahari. Semalam dia sudah merenunginya lama. Bimantara tak memiliki bakat kesaktian. Tak ada tanda-tanda yang terlihat dari dirinya. Meski ayahnya dulu seorang pendekar. Karena jalan menuju perguruan itu adalah bakat yang diberikan oleh alam. Bimantara pasti tak akan mampu menyeberangi lautan walau dia sudah bisa berenang. Jadi, jika dia belajar pun tak akan bisa membuatnya untuk menjadi murid di sana. 

Akhirnya kakek Sangkala mengajari Bimantara dasar-dasar ilmu bela diri di atas bukit sana. Kadang membawanya ke sungai untuk melatihnya berenang. Satu rahasia lagi yang belum dibongkar kakek padanya. Dahulu kakeknya pernah menjadi murid di perguruan Matahari. Dia hanya menguasai tiga tingkatan ilmu. Dia dikeluarkan dari perguruan karena melakukan pelanggaran di sana. Dia pun dikembalikan lagi ke kampung dan tidak bisa menyelesaikan belajar ilmu bela diri sampai tingkat ke tujuh.

"Kau harus menyatu dengan tongkatmu jika mau menguasai dasar-dasar ilmu bela diri ini," ucap kakek Sangkala pada Bimantara. Mereka sedang latihan di halaman gubuk reyotnya di atas bukit.

"Maksudnya, Kek?" tanya Bimantara bingung.

"Jadikan tongkatmu menjadi bagian dari tubuhmu. Kau harus menjaga tongkatmu dari lawan sama seperti kau menjaga kakimu yang satu," jawab kakeknya.

"Oh begitu!" ucap Bimantara yang sudah mengerti.

"Sekarang ikuti kakek! Kakek akan mengajarkan jurus kuda-kuda. Jadikan tongkat itu sebagai kakimu yang sebelah!"

"Baik, Kek!" ucap Bimantara dengan semangat.

Kakek Sangkala pun mencontohkan gerakan kuda-kuda silang belakang, silang depan, kuda-kuda belakang, tengah, samping dan depan.

"Sekarang ikuti kakek!"

"Siap, Kek!"

Bimantara pun mencoba menjadikan tongkatnya sebagai pengganti kaki kirinya yang tiada. Namun karena susah, dia kerap terjatuh dan mencobanya berkali-kali, namun sampai senja tiba, Bimantara belum juga berhasil menyatukan tongkatnya dengan dirinya. Kakek Sangkala menyuruhnya pulang dan memintanya untuk melanjutkan esok hari.

Malamnya Bimantara datang lagi ke gubuk kakeknya. Kakek Sangkala heran.

"Kenapa malam-malam begini ke sini?"

"Mau lanjut belajar ilmu bela diri, Kek," jawab Bimantara sambil tersenyum.

Kakek Sangkala geram, "Kan sudah kakek bilang, belajarnya besok pagi!"

"Aku tidak bisa tidur kalau belum menguasai menyatu dengan tongkat itu, Kek," jawab Bimantara.

Kakek Sangkala meraih balok kayu lalu bersiap memukulnya. Bimantara lari terbirit-birit dengan takutnya.

"Dasar cucu nakal! Kalau Kakek bilang besok ya besok!

Bimantara sudah menghilang dari pandangan matanya. Kakek Sangkala menghela napas. Bimantara akhirnya latihan sendiri di depan gubuk reotnya ditemani api yang menyala dari kayu bakar yang sengaja dinyalakannya untuk penerangan. 

"Ayo tongkat! Kau harus menyatu denganku! Kau bagian dari tubuhku. Tentu kau akan mengerti bagaimana menjadi diriku!" ucap Bimantara pada tongkatnya dengan penuh semangat.

Komen (4)
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
cerita yang keren
goodnovel comment avatar
Nabila Salsabilla Najwa
Bagus ceritanya
goodnovel comment avatar
Cedar Karamy
Deuh ayahnya cepet bgt pergi. Tapi justru kepergian ayahnya yang menjadi motivasinya semakin berlapis
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status