Ada sesuatu yang magis saat membandingkan
minyak wangi arab dan parfum Barat—keduanya punya cara bercerita yang berbeda lewat aroma. Minyak wangi Arab cenderung tebal, resinous, dan hampir seperti lukisan minyak yang kaya warna; sering kali menonjolkan bahan-bahan tradisional seperti oud (agarwood), amber, musk, kemenyan (frankincense), dan bahan-bahan manis seperti vanila atau gula. Parfum Barat, di sisi lain, sering mengejar kesan segar, bersih, atau modern dengan top notes citrus, green, atau marine, lalu berkembang ke akord fougère, chypre, atau gourmand yang lebih ringan dan lebih “bersih” di hidung banyak orang.
Dari sisi komposisi, minyak wangi Arab biasanya menggunakan konsentrasi minyak yang tinggi dan basis minyak (bukan alkohol), sehingga aromanya hangat, melekat kuat, dan berlangsung lama di kulit atau pakaian. Karena carrier oil, transisi antara top, heart, dan base note terasa lebih lembut dan lambat berkembang—bahkan kadang top note langsung melompat ke heart dan base terasa hampir sepanjang waktu. Di ranah Barat, ada fokus kuat pada pembuatan struktur aroma yang jelas: top yang mengundang, heart yang berbunga atau herbal, lalu base yang mengikat. Selain itu, industri Barat banyak bereksperimen dengan molekul sintetik baru seperti calone untuk wangi laut atau ISO E Super untuk efek kayu transparan, yang memberi karakter modern berbeda dibandingkan aroma natural-resinous khas Timur Tengah.
Rasa manis dan spicy jadi pembeda besar. Minyak Arab suka menggabungkan rempah seperti kayu manis, kapulaga, saffron, bersama akord rose yang pekat—hasilnya wangi yang mewah dan kadang terasa hampir gourmand karena kandungan amber/vanilla yang kaya. Parfum Barat juga bisa manis, tapi cenderung menyeimbangkannya dengan elemen citrus atau green supaya terasa ringan. Selain itu, durasi dan sillage (jejak bau) biasanya lebih besar pada minyak wangi Arab; sedikit tetes saja bisa bertahan berjam-jam dan membentuk aura di sekitar pemakai. Budaya pemakaian juga berbeda: di Timur Tengah parfum sering dipakai untuk acara sosial, disebar ke pakaian, atau dilapis dengan bakhoor/incense untuk ruangan—jadi aroma besar itu bagian dari presentasi sosial. Di Barat penggunaan parfum bisa lebih pribadi, lebih subtle, dan kadang sengaja “dipakai tipis” agar tidak mengganggu orang di sekitar.
Untuk penggemar, kedua tradisi itu menyenangkan karena menawarkan pengalaman berbeda. Kalau mau sesuatu yang memeluk hangat dan dramatis, minyak wangi Arab hampir tak tertandingi; kalau cari sesuatu yang bisa dipakai santai, mudah layer dengan fashion yang berbeda, parfum Barat sering lebih fleksibel. Aku suka gimana keduanya saling melengkapi—kadang ingin terasa megah dan memikat, kadang ingin segar dan ringan—dan itulah yang bikin eksplorasi aroma nggak pernah membosankan bagi pecinta wangi.