Se connecterKisah ini diambil secara dokumenter dari seorang pemuda bernama Fadil Raksa Dinata—biasa disapa Fadil. Usianya baru 23 tahun. Ia mahasiswa baru yang mengambil Fakultas Psikologi di tanah Pasundan—Jawa Barat. Hidupnya sederhana, lahir dari keluarga biasa di sebuah desa terpencil yang masih diselimuti kabut pagi dan cerita-cerita lama. Namun, sejak kecil Fadil sudah merasa ada yang “aneh” dalam dirinya. Ia terlalu sensitif terhadap hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika. Kadang ia melihat, mendengar, bahkan merasakan sesuatu yang orang lain tidak. Mungkin itu sebabnya ia memilih belajar psikologi—untuk memahami pikirannya sendiri. Tapi semakin dalam ia mempelajari manusia, semakin samar batas antara akal dan hal gaib yang mengitarinya. Dan semua berawal… dari sebuah tongkrongan malam yang tak pernah benar-benar biasa.
Voir plusKeesokan harinya. Tok! Tok!! “Dil… Fadil…” Gua refleks terbangun. Kepala masih kleyengan, sampai mata gua harus mengerenyit. Suara itu terdengar lagi. Tok! Tok!! “Dil…” Gua langsung nyaut. Suara itu sangat familiar. “Iya, Buk… bentar.” Gua mencoba bangun perlahan dari kasur. Setiap gerakan tubuh terasa berat, disertai gumaman refleks. “Aduh… astagfirullah…” Gagang pintu gua putar, lalu gua buka pelan. Engsel pintu berderit, disusul suara triplek kayu bagian bawah yang menggesek lantai. Baru saja pintu terbuka, suara ibu langsung menyambut. “Kamu nggak kuliah?” tanyanya dengan wajah cemas. Gua masih lesu, setengah mengantuk. Pandangan terasa berat. Dengan nada malas gua menjawab, “Emang sekarang jam berapa?” “Udah jam setengah delapan,” jawab ibu. Gua langsung melirik jam. Biasanya gua masuk kuliah jam tuju
Sampai juga gue di halaman 150. Gue membalik kertas pelan-pelan—tapi begitu halaman itu terbuka, udara sekeliling mendadak terasa berat. Keringat tipis mengalir dari pelipis, menetes pelan ke sisi telinga. Gue menelan ludah, jantung berdebar lebih cepat. Mata gue menatap halaman itu, nggak percaya sama apa yang gue lihat. Di sana—ada foto ilustrasi dokumenter penulis buku. Hitam putih, tapi memori gue langsung menembus kejadian di rumah duka almarhum Mang Sarmin. Sosok pria berpakaian serba hitam berdiri tegap, di belakangnya sosok siluman harimau putih, tubuhnya kekar seperti manusia. Ilustrasi itu persis seperti yang gue lihat sendiri—sosok Mang Sarmin berpose sama. Gue menohok gambar itu dengan jari gemeter, keringat tipis makin terasa. Mata gue menyusuri setiap detail, sambil membaca narasi di bawahnya. Ternyata, sosok itu bernama Raja Arga Dinata, dan harimau putih di belakangnya adalah pembantu setianya. Gue mencoba menafsirkan secara rasional—mungkin macan itu hanya si
Semakin dekat hansip itu ke semak-semak. Gua masih di belakangnya, jaga jarak setengah meter dari punggung dia. Udara mulai berat. Gua nahan napas. Pohon kecil itu masih bergerak—padahal senter udah hampir nempel ke batangnya. Gua nelen ludah. Dahi gua mengkerut. Mata gua mantengin tiap gerak halus semak-semak itu, nunggu sesuatu nongol. Si hansip masih merunduk, lalu sempet-sempetnya ngambil ranting kecil di tanah, gak jauh dari situ. Tanpa banyak ngomong, dia langsung ngerogoh semak-semak itu pelan-pelan. Ujung kayu dikibas halus, nyibak dedaunan yang gelap dan lembab. Gua ngikutin tiap gerakannya—dan tiba-tiba… Braakkk! Seekor kucing hitam langsung loncat keluar dari semak itu, nyeruduk tepat ke arah muka hansip! Refleks, hansip langsung mental ke belakang sambil teriak, “Gobloooogggg!!!” Dia jatuh duduk keras di tanah, senter kebanting ke tanah, nyorot ke arah kaki gua. Ranting yang tadi dipake langsung kelempar jauh. Gua bengong sepersekian detik—ter
Saat mata gua udah kebuka lebar, dari kejauhan—sekitar empat langkah dari tempat gua berdiri—gua nangkep sosok bayangan yang megang senter. Cahaya senter itu langsung ngarah kegua. Terus dari sana, kedenger suara teriakan: “Jang, naonan didinya! Wey!” Suara itu jelas, suara lelaki dewasa. Tapi yang gua liat cuman bayangan tubuhnya doang, soalnya sekeliling masih gelap gulita. Rasa khawatir gua langsung agak reda. Takut gua yang tadi udah numpuk, mendadak turun pas denger suara itu. Gua jawab, gugup tapi nyoba santai, “E—kagak kok, mang!” Dia nyaut lagi, nada heran tapi tegas, “Ehhh… naonan sosoranganan didinya!” Sambil jalan pelan, gua nyamperin dia, “kagak kok, mang!” Pas udah deket, baru kelihatan jelas—seragam hansip lengkap, sama topi bundarnya. Ternyata dia lagi patroli malam, dan kebetulan nyenter ke arah kebon kosong, terus nemuin gua berdiri sendirian di situ. “Bapak lagi patroli, ya?” tanya gua nahan gugup. “Heeuh,” jawabnya, rada cetus tapi perhatian. “
Di sela riuhnya langkah gua—gua lagi-lagi kudu melintasi jalan setapak yang kiri kanannya kebon kosong. Gua berhenti di ujung jalan. Napas gua berat, mata gua lurus ke depan. Jalan itu panjang, gelap, jelek bebatuan. Tapi gak ada jalan lain—cuma ini satu-satunya jalan pulang ke rumah. Firasat
Dan di situ… Gua liat Mang Sarmin berdiri di lorong dapur. Di belakangnya, ada sosok besar—siluman macan putih. Tubuhnya kekar, sorot matanya tajam. Mereka berdua natap gua. Sangar. Dingin. Gua terkejut, spontan nyentak kain penutup wajah. Rani langsung jongkok nyentuh gua. Napas gua gak
Malam Jum’at itu, gua keluar rumah. Suara engsel pintu berderit pelan, kulit pintu bagian bawah udah mulai sobek. Gua keluar dengan tujuan sederhana—mau baca buku sambil ngerjain tugas kuliah. Sarung sholat masih gua pake, soalnya baru aja abis Isya. Malam itu jam setengah sembilan kurang. Gua be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.