Istilah 'Strawberry Generation' pertama kali muncul dari Taiwan dan sering digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap rapuh seperti strawberry—mudah 'rusak' atau 'terluka' saat menghadapi tekanan. Tapi menurutku, label ini terlalu menyederhanakan kompleksitas generasi ini. Justru banyak anak muda sekarang yang kreatif dan berani menantang norma lama. Mereka mungkin lebih peka terhadap isu mental health, tapi itu bukan kelemahan—justru evolusi cara manusia memandang diri sendiri.
Budaya pop sering memparodikan konsep ini lewat karakter seperti Shoko Komi di 'Komi Can’t Communicate' yang canggung sosial tapi punya kedalaman emosi. Atau di game 'Life is Strange', protagonisnya labil secara emosional tapi punya kekuatan untuk mengubah takdir. Stereotip 'strawberry' gagal menangkap nuansa ini.
Pembahasan tentang Strawberry Generation di media sosial sebenarnya adalah cermin dari kegelisahan generasi muda terhadap ekspektasi sosial yang kadang tidak realistis. Aku sendiri sering melihat thread panjang di Twitter atau TikTok yang membandingkan ketahanan mental 'kids zaman now' dengan generasi sebelumnya. Bukan sekadar meme atau ledekan, tapi lebih ke diskusi serius tentang tekanan akademik, tuntutan karir instan, dan standar kesuksesan yang terus bergeser.
Yang menarik, label 'strawberry' (mudah hancur) justru sering dipakai sebagai alat refleksi. Banyak anak muda yang memposting pengalaman burnout atau anxiety sambil tertawa getir, 'Iya deh aku strawberry, tapi lihat dulu gimana sistemnya yang toxic.' Ini jadi semacam pembalikan narasi—daripada malu, mereka memakai istilah itu untuk menyoroti akar masalahnya.
Ada beberapa film yang bisa membantu memahami fenomena Strawberry Generation dengan baik, dan salah satu favoritku adalah 'The Social Network'. Film ini menggambarkan generasi muda yang ambisius namun rapuh, mirip dengan karakteristik Strawberry Generation. Konflik antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin menunjukkan bagaimana tekanan sosial dan tuntutan kesempurnaan bisa menghancurkan hubungan.
Selain itu, 'Eighth Grade' juga layak ditonton karena menggambarkan kegelisahan remaja di era digital. Karakter utamanya, Kayla, mewakili generasi yang terlihat percaya diri di media sosial tetapi sebenarnya sangat rentan. Film ini menyoroti gap antara ekspektasi dan realita yang sering dihadapi Strawberry Generation.
Aku sering mendiskusikan topik generasi ini dengan teman-teman di forum online, dan menarik melihat bagaimana Millennial (kelahiran 1981-1996) tumbuh dengan transisi teknologi yang drastis. Kami mengalami masa sebelum smartphone merajalela, tapi harus beradaptasi dengan media sosial dewasa ini. Yang unik, banyak Millennial terjepit antara tuntutan profesional dan krisis finansial global 2008.
Sementara Strawberry Generation (Gen Z kelahiran akhir 1990-an-2010) lahir langsung di era digital penuh. Mereka dianggap 'rapuh seperti stroberi' karena dinilai kurang tahan tekanan, tapi sebenarnya mereka justru lebih mahir mengatur work-life balance dibanding generasi sebelumnya. Aku mengagumi cara Gen Z berani menolak budaya overtime dan lebih terbuka membicarakan kesehatan mental.
Novel-novel kontemporer seringkali menyentuh fenomena Strawberry Generation dengan menggambarkan protagonis yang rapuh secara emosional namun penuh idealisme. Salah satu contoh menarik adalah 'Dilan 1990' karya Pidi Baiq, diila Milea digambarkan sebagai sosok muda yang mudah terluka oleh kritik tapi memiliki semangat membara untuk mempertahankan prinsipnya.
Yang menarik, penulis biasanya tidak sekadar menyajikan karakter ini sebagai bahan kritik, tapi juga menyelipkan empati terhadap tekanan generasi ini. Di 'Rectoverso', Dee Lestari bahkan menunjukkan bagaimana lingkungan sosial dan tuntutan zaman membentuk kerapuhan ini. Adegan-adegan konflik dengan orang tua atau atasan sering menjadi medium untuk mengeksplorasi gap generasi ini.