Ellipsis
Fahrizon Ilmar Al-Farisy
10 Dan di balik kacamata Gucci hitamnya, aku dapat melihat mata merah dan sembap yang bersembunyi dalam diamnya.
Usai meletakkan tas dan paket bawaannya, Audrey segera duduk di hadapanku. Ia tersenyum. Tapi, aku tahu sulit baginya untuk mengukir lengkungan manis itu di bibirnya. Ia memang selalu seperti itu. Ia tidak pernah mau terlihat sedih saat berada di dekatku. Tidak sekalipun.
“Maaf, aku baru bisa membesukmu. Aku baru saja tiba dari Bonn semalam,” kata Audrey membuka percakapan. Ada semacam penyesalan yang tersirat dalam kalimatnya.