Sweet Chaos
Dia pun membuka mulutnya, membiarkan Quin menyuapinya.
“Sudah. Selanjutnya makan sendiri,” kata Quin akhirnya. Sena bisa menghela napas lega. Walau tangan Quin tetap saja suka mencuri-curi kesempatan. Tawanya pagi ini juga begitu renyah. Entah berapa kali Quin tertawa selama sarapan. Padahal Sena yakin, tidak ada yang lucu.
“Kamu yang lucu,” jawab Quin saat Sena keheranan melihat Quin yang tertawa. “Semua yang ada di kamu, lucu di mataku.”