Suamiku Kuli Terhormat
Karyawati mempersilakan keduanya duduk di sebuah sofa, kemudian mendekatkan rak dessert pada mereka.
Mata Gea membesar. Seketika ia menelan ludah melihat potongan-potongan dessert cantik tersusun di rak bentuk tower.
“Silakan dicicipi, Pak, Nona. Saya mau ke dalam dulu.”
Karyawati berlalu. Gea masih menatap tower dessert itu. Kakek tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Kau putri Perusahaan Zurra. Memang bukan terbesar, tapi cukup lumayan. Tapi kenapa kamu …,” ucap Kakek sambil mengambil sepotong dessert dan menyerahkan pada Gea.