MAWAR
ucap Nico, sembari mencium kepala Mawar berulang-ulang.
Mawar mengerjap beberapa kali, sebelum memberontak. "Lepaskan! Kau cabul sekali,"
Nico memutar kedua bola matanya, lalu dengan terpaksa dia melepaskan pelukannya. "Ayo katakan, aku ingin mendengar pendapatmu tentangku di masa lalu,"
Mawar terkekeh lalu bersedekap tangan, "kau ingin mendengar kebusukan mu, kebrengsekan, kebodohan dan ke arogansian mu tuan Nico yang terhormat?"