
CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang
"Aku tidak tahu siapa kau," kata-kata itu menghancurkan dunia Eliza Valentina dalam sekejap.
Satu kecelakaan menghapus semua—kehidupan sempurna, cinta yang membara, dan masa depan yang telah direncanakan. Damian Lesmana, CEO muda yang dulu menggenggam dunia di tangannya, kini tak lebih dari cangkang kosong dengan tatapan dingin yang tak mengenali wanita yang pernah ia bersumpah untuk mencintai selamanya.
Eliza bersumpah: cinta mereka terlalu berharga untuk dilupakan. Namun, perjalanan mengembalikan ingatan Damian berubah menjadi pertarungan hidup dan mati saat dua bayangan dari masa lalu muncul—Vianna, mantan asisten dengan dendam mematikan, dan Dani Sasongko, mantan kekasih Eliza yang tak pernah benar-benar melepaskannya. Bersama, mereka melihat amnesia Damian sebagai kesempatan sempurna untuk merebut semua yang mereka inginkan: perusahaan, kekuasaan, dan cinta.
Setiap kenangan yang kembali adalah kemenangan. Setiap sentuhan yang ditolak adalah luka baru.
Di tengah perang psikologis yang mempertaruhkan masa depan perusahaan dan hati yang nyaris remuk, Eliza harus melawan waktu dan manipulasi untuk membuktikan bahwa cinta sejati bukan hanya dapat bertahan—tapi mampu terlahir kembali dari ketiadaan.
Dalam bayang-bayang ingatan yang hilang dan pertarungan melawan mereka yang tak segan menghancurkan segalanya, akankah cinta sejati mampu menemukan jalannya kembali—atau akan selamanya terkubur dalam kegelapan amnesia dan pengkhianatan?
Baca
Chapter: Bab 80: Pintu Menuju Tiga TahunKlinik pribadi Adrian menempati satu lantai tersembunyi di sebuah gedung medis di Menteng—tempat yang sengaja dipilih karena tak ada satu pun nama Lesmana, GlobalPharm, atau DS Tech yang tahu keberadaannya. Dindingnya putih bersih, peralatannya berdenyut tenang, dan di tengah ruangan berdiri sebuah kursi pemulihan yang dikelilingi monitor.Damian melepas jasnya dan duduk. Adrian memasang sensor di pelipis dan dadanya, jari-jarinya cekatan tapi matanya serius.“Aku akan jujur sekali lagi,” kata Adrian, menyiapkan infus. “Nolembra bekerja dengan menghalangi konsolidasi ingatan—ia tidak menghapus apa pun, hanya mengunci pintunya. Selama tiga tahun, tubuhmu terus diberi dosis agar pintu itu tetap tertutup. Begitu kita keluarkan sisa senyawanya dan kuberi katalis ini, pintunya akan terbuka. Tapi tiga tahun ingatan yang tertahan akan kembali tidak berurutan, dan tidak lembut. Sebagian mungkin indah. Sebagian mungkin hal yang sengaja kau—at
Terakhir Diperbarui: 2026-06-19
Chapter: Bab 79: Rumah Kaca yang TerlupakanDamian tidak tidur malam itu. Foto dari Vianna tergeletak di meja kerja, dan satu kalimat berputar tanpa henti di kepalanya: Ada hal-hal tentang hari itu yang bahkan Eliza tidak berani kau ingat.Saat ia menanyakannya, Eliza hanya berkata pelan, “Rumah kaca itu tempat kita memulai segalanya. Aku akan menceritakannya—tapi biar kau yang melihatnya sendiri dulu. Aku tidak mau memberimu ingatan versiku. Aku ingin kau menemukan versimu sendiri.” Lalu ia pergi tidur dengan bahu yang terlalu tegang untuk orang yang mengaku tidak menyembunyikan apa pun.Maka pagi itu, alih-alih ke ruang CEO, Damian turun ke lantai sebelas—lantai yang sudah tiga tahun nyaris tak pernah ia sentuh. Lantai Inovasi. Lantai tempat HomeSense lahir.Pintu kaca terbuka, dan sekelompok insinyur muda mendongak terkejut. Mereka mengenal Damian sebagai CEO yang dingin dan jauh, bukan sebagai orang yang pernah duduk di lantai ini sambil menggambar di
Terakhir Diperbarui: 2026-06-19
Chapter: Bab 78: Reruntuhan Sebuah KemenanganBerita itu menyebar lebih cepat daripada yang Damian duga.Pukul tujuh pagi, layar ponselnya sudah penuh tajuk yang saling berebut: “Komisaris Senior LTI Diskors di Tengah Dugaan Konspirasi”, “Damian Lesmana Kembali Pegang Kendali Penuh”, “Drama Ruang Rapat Lantai Empat Puluh”. Foto-foto Gunawan keluar dari gedung dengan wajah tertunduk telah menjadi viral sebelum matahari benar-benar tinggi. Tiga tahun ia menanam racun perlahan; satu pagi cukup untuk merobohkannya.Namun di penthouse yang sunyi itu, Damian tidak merasa seperti pemenang.Rafi datang membawa laporan pagi seperti biasa, tetapi kali ini suaranya lebih hati-hati. “Dewan sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mosi dinyatakan batal demi hukum, dan mereka—” Rafi berhenti sejenak, hampir tersenyum, “—secara aklamasi menegaskan kembali posisimu sebagai CEO. Beberapa dari mereka bahkan mengantre minta maaf secara pr
Terakhir Diperbarui: 2026-06-19
Chapter: Bab 77: Palu yang BerbalikRafi menekan satu tombol di panel konferensi, dan suara seorang lelaki memenuhi pengeras suara ruangan—suara yang dikenali separuh isi meja.“Selamat pagi, Dewan. Ini Dani Sasongko.”Gumaman terkejut menyebar. Vianna kehilangan satu detak ketenangannya—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi padanya.“Aku tidak akan basa-basi,” suara Dani melanjutkan, tenang dan lelah. “Surat penunjukan wali yang baru saja dilempar Vianna ke meja kalian—akulah yang menyusun draf aslinya. Tiga tahun lalu. Atas perintahnya. Periksa metadata berkas digitalnya; properti dokumen, tanggal pembuatan, dan log revisinya tidak bisa dipalsukan semudah tinta di atas kertas. Nama Eliza ditulis di sana sebelum Damian bahkan sadar dari koma—jauh sebelum ada ‘tim Damian’ yang dituduhkan.”Damian meletakkan cetakan metadata itu di samping dokumen Vianna. Tanggal pembuatan file berkedip seperti tuduhan: tiga tahun lalu, dua hari sebelum Damian membuka mata di rumah sakit.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: Bab 76: Kebenaran yang Tak Bisa DitutupSelembar hasil laboratorium itu terbaring di tengah meja seperti pisau yang baru dicabut.“Silakan dibaca,” kata Damian. “Dr. Hendrik, kau ahli farmakologi. Mungkin kau bisa membantu dewan memahaminya.”Hendrik tidak menyentuh kertas itu. Wajahnya, yang tadi penuh wibawa medis, kini sepucat jasnya.“Dan dewan layak tahu satu hal lagi,” tambah Damian, suaranya dingin, “tentang ‘konsultan independen’ yang kalian percaya untuk menilai kewarasanku. Dr. Hendrik Santoso adalah Direktur Riset GlobalPharm—perusahaan yang menciptakan senyawa yang baru saja kalian dengar namanya. Independen dari apa, tepatnya?”Damian sendiri yang membacanya, suaranya jernih memenuhi ruangan. “Analisis toksikologi atas sampel darahku—diambil dan disimpan oleh Dr. Adrian Wijaya sejak hari pertama aku sadar dari koma, tiga tahun lalu. Hasilnya menunjukkan residu sebuah senyawa penekan konsolidasi memori berkode Nolembra. Produk riset rahasia GlobalPharm. Tidak ada di
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: Bab 75: Sidang di Lantai Empat PuluhPukul sembilan kurang lima, lift eksekutif membuka pintunya ke lantai empat puluh, dan Damian melangkah masuk ke ruang yang dirancang untuk menjatuhkannya.Ia tidak tidur dua malam terakhir. Bukan karena takut—rasa takut itu sudah lama ia bakar habis—melainkan karena ia menghabiskan setiap jam memutar ulang skenario ini di kepalanya bersama Rafi, Eliza, dan Adrian, mencari satu celah yang mungkin terlewat. Mereka menyebutnya “rapat eksekusi”; seluruh isi gedung yakin hari ini adalah hari Damian dijatuhkan secara terhormat. Hanya Damian yang tahu bahwa ia datang bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai algojo yang menyamar jadi terdakwa.“Apa pun yang mereka lempar,” bisik Eliza tadi pagi sambil merapikan dasinya di lobi, jemarinya bergetar tipis, “jangan terpancing lebih awal. Biarkan mereka membangun tiang gantungan mereka sendiri.” Damian mencium keningnya. “Tiang gantungan terbaik,” jawabnya, “adalah yang dibangun musuh untuk lehernya sendiri.”Ruang rapat u
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18