LOGINAREA DEWASA 21+ Melissa merasa hidupnya jungkir balik dalam semalam. Tiba-tiba dia terbangun di dalam sebuah kamar mandi bersama pria asing yang mengaku sebagai suaminya! Betapa terkejutnya Melissa bahwa ternyata dia secara ajaib berada di tubuh gadis bernama Alice, istri pria menakutkan itu. Parahnya, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah hubungan sandiwara karena 'suaminya' menikah dengan dirinya hanya untuk mendapat warisan. Bagaimana Melissa yang kini menghuni tubuh Alice menjalani semua kekacauan ini?
View MoreThe morning light filtering through the curtains felt like broken glass against my skin.
I opened my eyes slowly, every muscle in my body aching with a sweet exhaustion Iād never experienced before. The Blood Moon Festival. Last night had beenā¦
My breath caught as the memories flooded back.
Kieranās hands on my face, his usually cold gray eyes burning with something that looked dangerously like devotion. Asherās whispered promises against my neck, words Iād dreamed of hearing for six years. Dominicās fierce protectiveness as he held me like I was something precious, something worth keeping.
The mate bond.
Real. Undeniable. Ours.
I reached across the bed, searching for the warmth of their bodies, but my hand met only cold sheets.
āKieran?ā My voice came out rough, uncertain. The massive bedroom in the Alphaās private quarters was silent except for my own breathing.
āAsher? Dominic?ā
Nothing.
I sat up, clutching the silk sheet to my chest, and that was when I saw it.
A single piece of cream-colored paper lay on the pillow beside me, the Silver Crest pack seal pressed into red wax at the bottom.
My hands shook as I picked it up.
Sage Winters,
In accordance with pack law and for the good of Silver Crest, we formally reject the mate bond revealed during the Blood Moon Festival. This rejection is effective immediately and is irrevocable.
Do not attempt to contact us regarding this matter. What happened last night was a mistake that will not be repeated.
Kieran Modric, Alpha Prime
Asher Killian, Second Alpha
Dominic Stone, Third Alpha
The paper slipped from my fingers and drifted to the floor.
For a long moment, I simply sat there, my mind refusing to process the words Iād just read. This had to be a mistake. A cruel joke.
Last night, Kieran had looked at me like I was his entire world. Asher had traced the mate mark on my collarbone with trembling fingers, his voice breaking as he said heād waited years for this. Dominic had buried his face in my hair and whispered that heād never let me go.
But they were gone.
And the only thing theyād left behind was a rejection letter.
I forced myself to stand, ignoring the way my legs threatened to buckle. My clothes from last night were folded neatly on a chair. Someone had taken the time to do that but not to face me with this rejection in person. The thoughtfulness of it somehow made everything worse.
I dressed mechanically, my movements wooden and disconnected. The mate mark on my collarbone burned with every breath, a physical reminder of what Iād gained and lost in the space of one night. In the mirror, I looked exactly like what I was: a low-ranking wolf whoād been foolish enough to believe she could have something meant for someone better.
The walk through the pack house was a blur of shame. A few early risers glanced at me, their expressions ranging from pity to satisfaction. Word had clearly spread. Of course it had, nothing stayed secret in Silver Crest, especially not when it involved the Alphas.
I made it to my small quarters on the lower level before the first sob broke free.
Six years.
Iād been in love with them for six years, carefully hiding my feelings because I knew my place. I was Sage Winters, daughter of a deceased Beta whoād died in disgrace, barely clinging to my position in the pack through sheer determination and the goodwill of the few who remembered my father before his fall.
Kieran was the Alpha Prime, ruthless and brilliant, descended from one of the founding families. Asher came from a line of pack strategists, his political acumen legendary. Dominicās family had produced the packās fiercest warriors for generations.
And me?
I was nobody.
Iād accepted that. Built a life around that acceptance. Content to be their friend, grateful for whatever scraps of affection they threw my way.
Then the Blood Moon came, and the ancient magic didnāt care about rank or worthiness. It only cared about truth.
We were mates. The four of us, bound together in a way that happened maybe once in a century. A true triad bond, rare and powerful and right in a way that made my soul sing.
For one perfect night, Iād let myself believe.
Dia bahkan berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membuat Damian nyaman dengan dirinya."Sudah terlalu banyak rasa sakit, aku ingin melupakan semuanya dan bahagia hidup sendiri-sendiri," tutup Melissa.Dia benar-benar ingin melupakan segala hal tentang ibunya."Jadi? Kau pilih mana?""Tentu saja aku akan di sini, bersamamu. Bahkan jika tidak menjadi istrimu di masa depan, aku tetap akan memilih tinggal di sini."Melissa menjawab tanpa ragu, dalam hati, dia sudah mendedikasikan diri sebagai pembantu Damian yang paling setia, untuk membalas kebaikannya ini.Damian langsung memeluk dan mencium Melissa saat mendengar jawaban gadis tersebut."Terima kasih, aku benar-benar mengharapkan jawaban ini darimu, Melly."Kata-katanya terdengar begitu tulus. Damian lega karena Melissa lebih memilih berada di sisinya daripada pergi ke ibunya yang kini menjadi istri orang kaya setelah menjadi pelakor."Aku justru senang bisa mendapat tempat tinggal gratis, jangan khawatir, aku tidak akan merepotka
"T-tolong maafkan aku."Melissa segera menjatuhkan tubuhnya dan duduk bersimpuh di hadapan Damian, dia menunduk dalam menunjukkan bahwa sedang sangat menyesal atas nama ibunya.Namun, reaksi Damian di luar dugaan Melissa, dia yang tadi marah kini malah tertawa terbahak-bahak."Astaga, ekspresimu lucu sekali, Melly!" serunya dengan tatapan geli, membuat Melissa segera mendongak dengan pandangan bertanya.Tentu saja dia semakin kebingungan. Padahal beberapa detik lalu Damian terlihat marah, kenapa sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak?"A-apa maksudmu? Kau sedang menculik dan menyekapku karena kesalahan yang dilakukan ibu, 'kan? Jadi, kumohon, beri aku keringanan atas hukuman ini," ucap Melissa dengan ekspresi memohon.Damian mengulurkan tangannya, meminta Melissa menyambut uluran tangan tersebut dan membuat Melissa bangkit dari duduknya di lantai.Kini Damian duduk dan Melissa berdiri, mereka saling berpegangan tangan."Hmmm, bagaimana, ya? Kalau aku tidak mau, kau akan melakukan a
Melissa menutup wajah Damian yang begitu tampan memesona dengan kedua tangan, agar dia tak semakin tenggelam dalam jerat ketampanan majikannya tersebut."Sudahlah. Jangan lanjutkan lagi omong kosong ini, ayo kita tidur," ucap Melissa mengalihkan pembicaraan.Damian tertawa dengan suara rendah, meraih tangan Melissa di mukanya dan menaruh tangan gadis itu di pinggang Damian."Baiklah ayo kita tidur, calon istriku."Kini gantian Melissa yang tertawa mendengar ucapan Damian, lalu mengikuti pria itu untuk memejamkan mata.Setelah badai yang terjadi tadi malam, ini adalah saat terbaik semasa hidupnya.Berpelukan dengan Damian adalah hal yang membuat dirinya tenang sehingga bisa tidur dengan nyenyak tanpa teringat lagi ketakutan akan peristiwa beberapa jam lalu.Hari ini ditutup dengan sebuah kebahagiaan. Melissa merasa seperti ada beban besar yang terangkat dari tubuhnya.Dia bukan bayang-bayang Bu Yuna. Di mata Damian, dia adalah Melissa, seseorang yang begitu istimewa.'Kalau ini mimpi,
"Damian, apa yang kau lakukan?"Melissa bertanya dengan tenggorokan tercekat saat Damian membelai lembut bagian sensitifnya tersebut.Meskipun rasanya sedikit nyaman saat telapak tangan yang besar itu membelai bulu-bulu halus di vagina Melissa, karena baru saja dicukur, bulu-bulu yang baru tumbuh itu rasanya gatal bukan main sehingga kadang-kadang Melissa diam-diam menggaruknya."Omong-omong ... gatal tidak rasanya?"Pertanyaan Damian, yang menggesek jari-jarinya di sana, membuat Melissa seketika kena mental."A-apanya?"Melissa masih tak mau mengakui bahwa rasanya nyaman sekali saat Damian menggaruk tempat yang ditumbuhi bulu-bulu halus tersebut.Damian menepuk bagian sensitif Melissa tersebut sebagai isyarat."Ini, kau baru mencukurnya beberapa hari lalu, 'kan? Biasanya selesai dicukur akan sangat gatal saat sedang tumbuh seperti ini. Bukankah begitu?"Melissa memejamkan mata, menyembunyikan debar yang menggila saat Damian dengan lembut menggaruk bagian tubuhnya yang memang terasa s
Kemarahan Damian terasa sampai ubun-ubun melihat foto Melissa terpajang di aku media sosial Julia dan sedang melakukan open BO.Damian ingin bertanya langsung pada Melissa apakah dia benar-benar melakukan ini, atau hanya dijebak Julia.Namun, Damian tentu saja tak bisa menghubungi Melissa secara langs
Melissa menampik obat penurun panas yang diberikan Damian padanya dengan kening berkerut tak suka."Lalu bagaimana setelah aku meminum obat ini? Apakah setelah aku sembuh kau akan tetap menyiksa aku lagi? Kau tahu? Kemarahanmu tadi malam itu sangat tidak wajar."Melissa kembali mengungkit tentang keja
"T-Tuan Muda, bolehkah aku keluar dari bak mandi sekarang?"Melissa yang bibirnya sudah sedikit membiru dan telapak tangan keriput karena ber jam-jam disuruh Damian berendam dalam bak mandi setelah kepulangan mereka dari motel itu, bertanya dengan badan gemetar menahan dingin.Damian yang duduk di lua
Damian melakukan sesuatu yang tak terduga di tengah situasi menegangkan tersebut.Dia tiba-tiba menyingkir dari atas tubuh Melissa dan mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri."Aku sudah cukup puas dengan caramu berterima kasih, sekarang, ayo kita beristirahat."Damian mengatakan itu sambil


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore