Chapter: 8: Calon Menantu IdamanSuasana di ruangan CEO terasa jauh lebih tenang dibanding keributan di luar beberapa menit yang lalu. Hujan yang tiba-tiba turun terlihat dari balik dinding kaca besar, sementara aroma kopi hangat memenuhi ruangan luas milik Tuan Hans. Nathan duduk di sofa panjang dekat jendela dengan posisi santai, satu kaki menyilang di atas lutut lainnya. Kemeja hitam yang ia kenakan membuat sosoknya terlihat semakin mencolok, terlebih dengan eyepatch hitam yang menutupi mata kanannya. Di hadapannya, Leon duduk sambil terus memperhatikan Nathan dari atas sampai bawah seperti sedang menilai barang langka. Luna yang duduk di samping Nathan mulai merasa tidak nyaman melihat tatapan kakaknya itu. "Kak, jangan menatap orang seperti itu," tegur Luna pelan. Leon langsung menyeringai jahil. "Apa kamu tidak tau, aku sedang menunjukkan rasa kagum ku padanya." ucapnya sambil menunjuk Nathan dengan dagunya. "Berapa tahun tidak bertemu, banyak sekali perubahan dalam dirimu." Nathan mengangkat sebelah
Dernière mise à jour: 2026-05-13
Chapter: 7 : Ancaman Nathan"Brengsek, lepaskan!" teriak Aldo sambil menahan tangan Nathan yang mencengkram pergelangan tangannya. Cengkraman Nathan pada pergelangan tangan Aldo semakin kuat. Tatapannya dingin, tetapi aura yang keluar dari dirinya jauh lebih mengerikan daripada amarah biasa. Di balik wajah tenang itu, ada sesuatu yang gelap dan menyesakkan sampai membuat beberapa orang di sekitar tanpa sadar mundur beberapa langkah. Luna yang sejak tadi berdiri kaku akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia menoleh cepat ke arah Nathan, matanya membulat polos. "Nathan? Kamu di sini?" tanyanya tidak percaya. Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terkunci pada Aldo yang berusaha melepaskan tangannya. "Kalau aku tidak datang tepat waktu, mungkin sekarang tamparanmu sudah mendarat di wajahnya," ucap Nathan rendah. Aldo menggeram kesal, lalu menarik tangannya kasar dari cengkeraman Nathan sekuat tenaga. Ia menatap pria asing di hadapannya dari atas sampai bawah dengan sorot penuh kebencian. "Luna,"
Dernière mise à jour: 2026-05-12
Chapter: 6 : Awal Mula Kehancuran AldoAldo tiba di kantor seperti biasa. Namun langkahnya terhenti begitu melihat beberapa kardus besar berisi barang-barangnya tergeletak di depan pintu gedung. Jas, dokumen, foto-foto, hingga barang pribadinya tercampur berantakan di dalam kotak-kotak itu. Kening Aldo berkerut tajam. Dadanya langsung dipenuhi amarah. Ia mendongak ke arah gedung megah XIA EMPIRE, perusahaan milik keluarga Luna, tempat selama ini ia menjabat sebagai wakil direktur. "Apa-apaan ini?" geramnya. Aldo berjalan cepat masuk ke dalam, tetapi dua satpam segera menghadangnya. "Maaf, Tuan Aldo. Anda tidak boleh masuk." Aldo menatap mereka tajam. "Maksud kalian apa? Minggir, biarkan aku masuk!" Salah satu satpam merentangkan sebelah tangannya, menghalangi Aldo. "Kami hanya menjalankan perintah, Anda tidak diijinkan masuk ke dalam perusahaan ini." "Berani sekali kalian bersikap begini padaku? Aku ini menantu atasan kalian. Memangnya siapa yang memberi kalian perintah, hah?" bentak Aldo. "Perintah, Presdir
Dernière mise à jour: 2026-04-16
Chapter: 5 : Kebenaran Yang Terungkap"Perlu aku temani?" tanya Nathan saat melihat Luna bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Luna menggeleng sambil terkekeh. "Aku bukan anak kecil, Nathan. Lagipula jarak rumahku dan rumahmu hanya beberapa meter saja, jadi aku bisa pulang sendiri." "Kalau begitu aku antar sampai depan gerbang. Aku tidak tega membiarkanmu pulang sendirian." Luna mengangguk. "Baiklah, sepertinya aku tidak akan menang berdebat dengan orang yang sangat keras kepala." ujarnya. Luna dan Nathan berjalan beriringan menuju gerbang tinggi yang menjulang di depan sana. Namun langkahnya terhenti begitu melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman depan rumahnya. Mobil itu begitu familiar. Bahkan tanpa perlu mendekat, Luna sudah tahu siapa yang datang. Nathan moleh padanya. "Sepertinya kamu kedatangan tamu." Luna mengangguk singkat, dia menatap Nathan yang berdiri tenang di sampingnya , tangan pria itu dimasukkan ke saku celana dan dia menatap ke arah yang sama. "Itu orang tuaku yang datang. Sepertinya
Dernière mise à jour: 2026-04-16
Chapter: 4 : Rahasia Apa Yang Kamu Sembunyikan Dariku?Nathan menepis lembut tangan Luna yang terangkat ke arah wajahnya sambil memalingkan muka. "Mungkin hanya kebetulan saja," ucap Nathan pelan. "Bukan hal yang perlu kamu pikirkan." Luna menatapnya dengan tatapan yang sulit di tebak. Dadanya yang tadi mulai tenang kembali sesak, bukan karena nyeri, melainkan karena sesuatu yang berputar liar di kepalanya. Bekas luka di pergelangan tangan Nathan. Mata kanan yang tidak lagi melihat, kenapa Nathan juga memiliki luka yang sama seperti yang dimiliki oleh Aldo? "Tidak mungkin cuma kebetulan, kan?" bisik Luna lebih ke diri sendiri. Nathan berdiri membelakanginya, lalu merapikan alat-alat medis di meja kecil dekat ranjang. "Kamu terlalu lelah. Pikiranmu sedang kacau. Sebaiknya istirahat saja." Luna menggigit bibir bawahnya. "Nathan, jawab aku. Apa kamu menyembunyikannya sesuatu dariku?" Nathan terdiam cukup lama. Punggungnya menegang, tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?" tanya L
Dernière mise à jour: 2026-04-16
Chapter: 3 : Luka Yang SamaKeheningan menyelimuti ruangan, ucapan Nathan membuat Luna tersentak. "Ba-bayi susu katamu. A-a-aku ti...""Sudah, ini demi keselamatanmu. Sekarang, izinkan aku membuka bajumu..." Nathan langsung ambil tindakan cepat.Luna menahan pergelangan tangan Nathan sambil menggeleng, "Nat-Nathan, i-ini terlalu ta....""Kamu masih percaya padaku sebagai dokter, kan?" Nathan mengelus rambut Luna, kemudian menurunkan tubuhnya di tepi ranjang.Perlahan, kancing itu dibuka, satu per satu, hingga akhirnya Luna panik dan menutup bagian dadanya."Luna, mengertilah, ini demi nyawamu..." Nathan berujar pelan, terlihat sekali wajahnya begitu khawatir dengan kondisi Luna sekarang. "Rileks ya, biar tidak terlalu sakit."Saat bibir Nathan mulai menyentuh ujung dadanya, detik itu juga tubuh Luna memegang. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat sambil mencengkram seprei Nathan menarik napas pelan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap wajah Luna. Ada rona merah di pipinya yang pucat, jelas Luna tidak te
Dernière mise à jour: 2026-04-16