LOGINLuna hancur setelah kehilangan bayinya akibat ulah mantan suaminya. Luka batin dan tekanan membuat tubuhnya bereaksi aneh. ASI terus keluar tanpa henti, membuat payudaranya membengkak dan terasa nyeri. Di tengah keputusasaan, Nathan hadir. Bagi Luna, Nathan bagaikan malaikat yang datang di saat paling gelap dalam hidupnya. Dengan kesabaran, Nathan tak hanya berusaha menyembuhkan kondisi fisik Luna, tetapi juga perlahan merajut kembali hatinya yang patah. Di antara rasa sakit dan harapan, hubungan mereka mulai tumbuh, membawa cahaya baru dalam kehidupan Luna.
View More"Aldo, kita cerai saja. Pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi!" ujar seorang wanita sambil melemparkan sebuah map coklat ke atas meja. "Jadi, segera tandatangani surat perceraian itu, lalu angkat kakimu dari rumah ini."
Aldo yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung menoleh ke arah Luna, istrinya. "Apa maksudmu?" tanyanya singkat. Luna tersenyum sinis. "Apa telingamu bermasalah sampai-sampai tidak mendengar apa yang aku katakan?" jawab Luna sinis. Aldo bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekat. "Apa ini karena kejadian kemarin? Kamu terlalu membesar-besarkan hal kecil, Luna, lagipula aku sudah memberimu penjelasan kalau Elisa itu cuma sekretaris tidak lebih." Luna menghela napas. "Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan wanita itu, karena itu bukan urusanku. Dan alasanku ingin bercerai bukan semata-mata karena orang ketiga, lebih dari itu." "Lalu apa alasanmu ingin bercerai, Luna?" Luna menutup matanya sejenak sambil menarik napas panjang. "Kamu ingin tau alasanku ingin bercerai?. Aldo, aku capek jika terus pura-pura semuanya baik-baik saja." Aldo mendengus kasar. "Jangan mulai, Luna, aku sudah minta maaf." "Kamu pikir kata maaf saja cukup? Jika kata maaf bisa menyelesaikan masalah, maka tidak akan ada orang yang dipenjara. Lagipula keputusanku untuk bercerai sudah bulat, meskipun kamu berlutut dan menangis darah aku tidak akan mengubah keputusanku.," ujar Luna panjang lebar. Aldo terdiam, rahangnya mengeras. "Luna, jangan egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu itu terlalu sensitif. Dia cuma sekretarisku, bukan siapa-siapa." Luna tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, lebih seperti sisa-sisa kewarasan yang memang dipaksakan. "Iya. Sekretaris yang kamu ajak makan malam, kamu antar pulang, kamu telepon tengah malam." Aldo tidak menjawab, dia memalingkan muka sambil mengepalkan tangannya. Luna menatap Aldo lurus-lurus, lalu melanjutkan. "Sekretaris yang kamu pilih dibandingkan aku, orang yang selalu ada di sisimu selama beberapa tahun ini." Wajah Aldo berubah merah, ia tidak langsung membantah. Dan itu sudah cukup bagi Luna untuk menemukan jawabannya. "Aku tidak butuh penjelasan lagi," lanjutnya pelan. "Dan keputusanku sudah bulat." Aldo berjalan mondar-mandir, gelisah jelas terlihat di raut mukanya. Kemudian dia mengambil vas bunga diatas meja kecil samping tempat tidur mereka dan membantingnya ke lantai. Amarah terlihat jelas di matanya. "Jadi kamu mau hancurkan rumah tanggamu sendiri cuma karena perasaan konyolmu itu?" Luna menutup mata pelan saat vas itu berserakan di lantai, tangannya mengepal kuat, tubuhnya sedikit gemetar. "Aldo, asal kamu tau saja, rumah tangga ini sudah hancur dari lama, kamu saja yang tidak menyadarinya." Hening lagi. Suasana terasa lebih berat dari sebelumnya. Luna menggenggam ujung bajunya, mencoba menahan getaran di tangannya. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, tapi bukan itu yang paling menyakitkan. "Aku kehilangan anak kita, Aldo, dan itu karena dirimu." suara Luna sedikit meninggi, ada amarah tertahan di balik tatapannya. Dia mendorong meja yang penuh dengan barang-barang Aldo seperti laptop dan beberapa berkas penting. Emosi Luna mulai tidak terkontrol. Dia menyambar pecahan vas yang ada di lantai dan mendekati Aldo dan berdiri beberapa langkah di depannya. "Sebulan lalu aku keguguran, dan jika bukan karena dirimu aku tidak mungkin kehilangan janinku. Demi wanita lain, kamu rela mengorbankan darah dagingmu sendiri tanpa ada rasa bersalah sedikitpun." teriak Luna sambil mengarahkan pecahan vas itu ke wajah Aldo dan melukai pipinya. Aldo membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. "Waktu aku berjuang antara hidup dan mati, kamu tidak ada. Saat dokter bilang semuanya sudah tidak bisa diselamatkan aku juga sendirian." Napas Luna mulai tidak teratur, emosinya meledak-ledak. "Kamu bilang lagi lembur." Matanya yang basah menatap lurus ke arah Aldo. "Tapi aku tau kamu berbohong, dan aku tahu kamu di mana malam itu." Aldo menunduk, wajahnya menegang. "Luna, aku—" "Cukup," potong Luna cepat, suaranya melemah. "Aku sudah tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari mulutmu, Aldo." Luna menyeka air matanya, lalu berjalan pelan menuju kamarnya di lantai dua. "Aku akan urus semuanya. Kamu tidak perlu khawatir," katanya tanpa menoleh. Sontak Aldo menoleh, dan menatapnya tajam. "Luna! Kamu pikir setelah ini hidupmu akan lebih baik? Jangan bermimpi, aku akan membuat hidupmu seperti di neraka. Ingat, tanpa darahku, kamu sudah mati sejak lama. Jika bukan karena menyelamatkanmu, aku tidak akan kehilangan salah satu mataku!" Luna terdiam, tangannya terkepal kuat. Lalu ia menjawab dengan lirih, "Setidaknya, tidak ada lagi parasit yang menempel di hidupku. Perihal hutang Budi itu, aku rasa sudah lunas. Kamu sudah mendapatkan hakmu, jadi tidak ada lagi hutang diantara kita. Pergilah, rumah ini tidak bisa menerimamu lagi. Dan semua barang-barangmu, bisa kamu ambil besok." Luna mendorong Aldo keluar dengan paksa. Pintu kamar tertutup rapat, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan serta Aldo yang berdiri membeku di depan pintu. BRAKKKK.... Aldo menendang pintu kamar Luna dengan keras. "LUNA, AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL!". kemudian dia berbalik dan pergi begitu saja. Hubungan antara Luna dan Aldo terjadi karena hutang Budi. Luna pernah mengalami kecelakaan yang sangat fatal dan hampir merenggut nyawanya, berkat darah dan pertolongan Aldo, dia bisa bertahan dan sembuh total. Sehingga Luna dan keluarganya memiliki hutang budi pada Aldo. Dan Aldo memanfaatkan hal itu untuk mendapatkan keuntungan besar, dia menolak uang yang diberikan oleh keluarga Luna meskipun jumlahnya sangat besar. Aldo ingin Luna menikah dengannya, dan dengan berat hati akhirnya semua setuju dengan permintaan Aldo termasuk Luna. ***** Malam itu hujan turun dengan derasnya. Luna duduk di tepi ranjang, sambil memeluk kedua lututnya. Lampu kamar sengaja tidak dinyalakan. Ia membiarkan gelap mengisi ruangan, sama seperti isi kepalanya. Dadanya terasa nyeri sejak sore tadi. Awalnya hanya seperti ditekan pelan, tapi semakin lama semakin mengganggu. Ia meringis, menahan sakit yang datang bergelombang. "Tidak sekarang… aku mohon," bisiknya pelan. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menghadapi hal lain. Tapi rasa sakit itu justru semakin menjadi. Menyebar cepat di dada ,membuat napasnya terasa berat. Ia menunduk, mencoba mengatur ritme napas supaya tetap stabil, tapi sia-sia. Pikirannya kacau. Kenangan, luka, dan kesepian bercampur jadi satu. Dan itu adalah pemicu utama dari rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Tanpa sadar, satu nama muncul di benaknya. Nathan. Luna memejamkan matanya sejenak. Sudah lama ia tidak berhubungan dengan pria itu. Sejak semuanya berubah, sejak hidupnya berputar ke arah yang tak pernah ia bayangkan. Nathan sendiri adalah sahabat yang merangkap sebagai cinta pertamanya, tetapi hubungan mereka renggang sejak kemunculan Aldo. Luna yang saat itu tidak memiliki pilihan, akhirnya memutuskan untuk menjauh dari Nathan. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu dan berhubungan lagi, bahkan rumah Nathan yang terletak di sebelah rumahnya juga kosong. Dan kabar terakhir yang Luna dengar, Nathan pergi ke luar negeri untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter yang hebat. Baru satu bulan yang lalu, mereka bertemu kembali dalam situasi yang rumit dan Nathan sudah menjadi dokter hebat. Kemudian dia kembali ke rumah lamanya, tapi tetap saja Luna tidak pernah bertemu dengannya. Tapi Luna tau Nathan ada di rumah itu. Luna memejamkan matanya. Dengan sisa tenaga yang ada, dia bangkit dari posisinya. Kakinya sempat goyah, tapi ia memaksakan diri untuk tetap berdiri. Luna meraih cardigan tipis yang ada di atas tempat tidurnya, lalu berjalan keluar rumah. Hujan langsung menyambut tubuhnya, rasa dingin serasa menusuk ke tulang-tulangnya. Tapi tidak sedingin yang ia rasakan di dalam hatinya. Langkahnya tertatih menyusuri jalan yang sudah sangat ia kenal. Rumah itu… masih di tempat yang sama. Tidak pernah berubah. Dan sesampainya di depan pintu, Luna mengangkat tangannya. Ragu sejenak, antara harus mengetuk atau tidak. Lalu— Tok… tok… tok… "Nathan… buka pintunya…," panggilnya lemah. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih kuat, berharap Nathan keluar dan membuka pintu rumahnya. "Nathan!" panggil Luna, kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya. Tenaganya hampir habis. Tubuhnya mulai goyah, pandangannya berkunang-kunang. Dan pintu itu akhirnya terbuka, bahkan Luna tidak sempat melihat jelas wajah pria di hadapannya. Tubuhnya ambruk ke depan, tepat di pelukan pria itu yang pastinya adalah Nathan. Mata Nathan membelalak, refleks dia menyebut nama wanita itu dengan penuh keterkejutan. "Luna!" ***** BersambungSuasana di ruangan CEO terasa jauh lebih tenang dibanding keributan di luar beberapa menit yang lalu. Hujan yang tiba-tiba turun terlihat dari balik dinding kaca besar, sementara aroma kopi hangat memenuhi ruangan luas milik Tuan Hans. Nathan duduk di sofa panjang dekat jendela dengan posisi santai, satu kaki menyilang di atas lutut lainnya. Kemeja hitam yang ia kenakan membuat sosoknya terlihat semakin mencolok, terlebih dengan eyepatch hitam yang menutupi mata kanannya. Di hadapannya, Leon duduk sambil terus memperhatikan Nathan dari atas sampai bawah seperti sedang menilai barang langka. Luna yang duduk di samping Nathan mulai merasa tidak nyaman melihat tatapan kakaknya itu. "Kak, jangan menatap orang seperti itu," tegur Luna pelan. Leon langsung menyeringai jahil. "Apa kamu tidak tau, aku sedang menunjukkan rasa kagum ku padanya." ucapnya sambil menunjuk Nathan dengan dagunya. "Berapa tahun tidak bertemu, banyak sekali perubahan dalam dirimu." Nathan mengangkat sebelah
"Brengsek, lepaskan!" teriak Aldo sambil menahan tangan Nathan yang mencengkram pergelangan tangannya. Cengkraman Nathan pada pergelangan tangan Aldo semakin kuat. Tatapannya dingin, tetapi aura yang keluar dari dirinya jauh lebih mengerikan daripada amarah biasa. Di balik wajah tenang itu, ada sesuatu yang gelap dan menyesakkan sampai membuat beberapa orang di sekitar tanpa sadar mundur beberapa langkah. Luna yang sejak tadi berdiri kaku akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia menoleh cepat ke arah Nathan, matanya membulat polos. "Nathan? Kamu di sini?" tanyanya tidak percaya. Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terkunci pada Aldo yang berusaha melepaskan tangannya. "Kalau aku tidak datang tepat waktu, mungkin sekarang tamparanmu sudah mendarat di wajahnya," ucap Nathan rendah. Aldo menggeram kesal, lalu menarik tangannya kasar dari cengkeraman Nathan sekuat tenaga. Ia menatap pria asing di hadapannya dari atas sampai bawah dengan sorot penuh kebencian. "Luna,"
Aldo tiba di kantor seperti biasa. Namun langkahnya terhenti begitu melihat beberapa kardus besar berisi barang-barangnya tergeletak di depan pintu gedung. Jas, dokumen, foto-foto, hingga barang pribadinya tercampur berantakan di dalam kotak-kotak itu. Kening Aldo berkerut tajam. Dadanya langsung dipenuhi amarah. Ia mendongak ke arah gedung megah XIA EMPIRE, perusahaan milik keluarga Luna, tempat selama ini ia menjabat sebagai wakil direktur. "Apa-apaan ini?" geramnya. Aldo berjalan cepat masuk ke dalam, tetapi dua satpam segera menghadangnya. "Maaf, Tuan Aldo. Anda tidak boleh masuk." Aldo menatap mereka tajam. "Maksud kalian apa? Minggir, biarkan aku masuk!" Salah satu satpam merentangkan sebelah tangannya, menghalangi Aldo. "Kami hanya menjalankan perintah, Anda tidak diijinkan masuk ke dalam perusahaan ini." "Berani sekali kalian bersikap begini padaku? Aku ini menantu atasan kalian. Memangnya siapa yang memberi kalian perintah, hah?" bentak Aldo. "Perintah, Presdir
"Perlu aku temani?" tanya Nathan saat melihat Luna bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Luna menggeleng sambil terkekeh. "Aku bukan anak kecil, Nathan. Lagipula jarak rumahku dan rumahmu hanya beberapa meter saja, jadi aku bisa pulang sendiri." "Kalau begitu aku antar sampai depan gerbang. Aku tidak tega membiarkanmu pulang sendirian." Luna mengangguk. "Baiklah, sepertinya aku tidak akan menang berdebat dengan orang yang sangat keras kepala." ujarnya. Luna dan Nathan berjalan beriringan menuju gerbang tinggi yang menjulang di depan sana. Namun langkahnya terhenti begitu melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman depan rumahnya. Mobil itu begitu familiar. Bahkan tanpa perlu mendekat, Luna sudah tahu siapa yang datang. Nathan moleh padanya. "Sepertinya kamu kedatangan tamu." Luna mengangguk singkat, dia menatap Nathan yang berdiri tenang di sampingnya , tangan pria itu dimasukkan ke saku celana dan dia menatap ke arah yang sama. "Itu orang tuaku yang datang. Sepertinya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.