Chapter: 125. DUNIA PENUH CINTA TANPA BATAS (ENDING)Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: 124. ISTRI CEMBURUNada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: 123. TIDUR DI LUARMelody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: 122. PERTENGKARAN PERTAMAMelody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Chapter: 121. KEJUTAN DI PAGI HARIMelody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Chapter: 120. DURIANSelama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-15
Chapter: 97. MENCEKAMMax masih berdiri tegak di tengah aula, posturnya sama sekali tidak menunjukkan tanda terdesak. Tatapannya justru tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Sorot mata itu membuat beberapa pemegang saham tanpa sadar menelan ludah.“Apa kau yakin stempel dan berkas itu asli?” tanya Max santai, seolah mereka sedang membicarakan kontrak kecil, bukan kepemilikan seluruh keluarga Gregory.Rosetta mendengus, dagunya terangkat penuh percaya diri. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu membawa barang palsu ke hadapan semua orang.”Max terkekeh pelan. Suara tawanya pendek, namun sarat ejekan.“Kau memang licik,” ucapnya, lalu menatap Rosetta lurus-lurus, “tapi rupanya licik tidak selalu sejalan dengan cerdas.”Suasana aula langsung menegang. Beberapa orang saling berpandangan, bingung dengan perubahan arah percakapan ini.“Bermain dengan orang sepertimu,” lanjut Max dengan senyum miring, “tentu aku harus lebih licik lagi. Kau benar-benar berpikir aku akan menyimpan barang sepenting itu di rumah,
Terakhir Diperbarui: 2026-01-23
Chapter: 96. PERANG DIMULAILangkah Max menggema begitu ia memasuki aula utama perusahaan Gregory. Suasana yang semula riuh mendadak menegang. Beberapa orang spontan menoleh, sebagian menahan napas, sebagian lain saling bertukar pandang. Di sisi lain ruangan, Rosetta berdiri dengan tenang, diapit beberapa pria berpakaian hitam—pengawalnya. Tak jauh darinya, beberapa pemegang saham senior terlihat berdiri di belakang Rosetta, jelas menunjukkan keberpihakan mereka.“Kau cepat sekali datang, Max,” sapa Rosetta, nada suaranya ringan, nyaris mengejek.Max melangkah maju tanpa tergesa. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh, amarah dan kecemasan berkelindan, namun ia memaksa semuanya tetap tersembunyi.“Aku sudah tahu permainan licik yang kau mainkan,” ucapnya dingin. “Sekarang katakan di mana Athena.”Rosetta tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon. “Wah, di saat seperti ini kau malah lebih mementingkan wanita itu.” Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Hebat juga pengaruhny
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: 95. KUDETAAthena duduk di sisi ranjang Hans, jemarinya menggenggam tangan ayahnya yang terasa lebih hangat dibanding terakhir kali ia sentuh di rumah sakit. Mereka kini berada di sebuah vila tersembunyi milik Rosetta, jauh dari kota, dikelilingi pepohonan tinggi dan penjagaan ketat. Tempat itu sunyi, terlalu sunyi, seolah dunia luar tak pernah ada.Hans masih tertidur karena efek obat penenang, napasnya teratur meski wajahnya tampak jauh lebih pucat. Athena menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan ayahnya.“Pa… akhirnya kita lepas,” bisiknya lirih, suaranya bergetar. “Kali ini Max tidak akan bisa menemukan kita.”Janji Rosetta ternyata bukan omong kosong. Hans benar-benar dibawa pergi, dijauhkan dari jangkauan Max. Dan kesadaran itu membuat dada Athena terasa sesak antara lega, bersalah, dan hancur bersamaan.Ketukan pelan terdengar di pintu.Athena menoleh. Pintu terbuka perlahan dan Athala masuk dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa.“Nyonya Rosetta menunggumu,” u
Terakhir Diperbarui: 2025-12-31
Chapter: 94. HILANG TANPA JEJAKMax tiba di perusahaan Harrington dengan langkah tergesa, rahangnya mengeras sejak kaki pertama menginjak lantai lobi. Nalurinya berteriak ada sesuatu yang salah. Ia bahkan tak sempat menyapa siapa pun, langsung menuju lantai atas, ruang kerja Athena.Namun begitu pintu terbuka, ruangan itu kosong. Tidak ada Athena. Tidak ada suara ketikan. Tidak ada aroma kopi yang biasa menemani perempuan itu bekerja.Max berhenti tepat di ambang pintu.“Di mana Athena?” tanyanya dingin, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.Norah yang berdiri tak jauh darinya tampak terkejut. “Nyonya tidak ada, Tuan.”“Apa maksudmu tidak ada?” Max berbalik tajam. “Sejak kapan?”Norah menelan ludah. “Tadi siang Nyonya masih di sini. Beliau meminta saya keluar sebentar untuk membelikan minuman. Tapi saat saya kembali, kantor ini sudah kosong.”Dada Max terasa mengencang. “Kau tidak melihat dia pergi?”Norah menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Saya juga heran. Biasanya Nyonya akan memberi tahu jika hendak kelua
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29
Chapter: 93. SEMUA JELASIa memejamkan mata, namun bayangan itu tak mau pergi. Wajah Max yang tersenyum samar di tengah tragedi. Keheningan yang disengaja. Penantian sampai nyawa benar-benar hilang.Ia berharap, sungguh berharap bahwa kecelakaan itu hanyalah kecelakaan yang diperintahkan oleh orang lain, permainan kotor bisnis, atau tangan pihak lain. Ia masih bisa menerima itu. Masih bisa berdamai.Tapi ini. Ini adalah Max.Pria yang ia peluk semalam. Pria yang berjanji memulai segalanya dari awal. Pria yang berkata membenci pengkhianat.Athena tertawa kecil di sela isaknya, tawa pahit yang terdengar rapuh. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Bukan hanya karena kehilangan tapi karena pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.Hatinya remuk. Kepercayaannya hancur. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Athena menyadari satu hal yang membuat tubuhnya menggigil ketakutan bahwa pria yang ia cintai adalah monster yang sesungguhnya.Athena menghapus sisa air matanya denga
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29
Chapter: 92. FAKTA MENGERIKANAthala.Nama itu membuat Athena terdiam sejenak.Ia menoleh saat pintu ruang kerjanya terbuka, dan benar saja Athala berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Athena segera berdiri, menyembunyikan keterkejutannya, lalu memberi isyarat halus agar Norah tidak masuk.“Masuk,” ucap Athena tenang. “Duduklah.”Athala melangkah masuk tanpa basa-basi, duduk di kursi di depan meja Athena. Tatapannya tajam, seolah sedang menimbang setiap gerak-gerik wanita di hadapannya.“Ada apa kau ke sini?” tanya Athena, suaranya terkendali meski dadanya terasa mengencang.Athala tidak langsung menjawab. Ia menautkan jarinya, lalu menatap Athena lurus-lurus.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya akhirnya. “Apa benar kau sudah berbaikan dengan Tuan Max?”Pertanyaan itu membuat Athena terdiam. Ia menunduk perlahan. Bukan karena takut melainkan karena ia tahu, pertanyaan itu memang harus dijawab. Ini di luar rencana. Di luar skema yang selama ini ia bangun bersama Rosett
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29