author-banner
Pita
Pita
Author

Novels by Pita

Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota

Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota

Dikhianati keluarga. Ditinggalkan oleh orang tua. Disingkirkan dari takhta. Dan tetap berdiri demi cinta serta balas dendam. Pangeran Mahkota Jagatra Eduardo Batistuta adalah pewaris sah Kerajaan Aethelgard Silvanus. Namun tujuh saudaranya, bahkan Raja dan Ratu sendiri, merencanakan segala cara untuk menyingkirkannya. Mereka ingin Kaesar, anak kesayangan, menjadi raja berikutnya. Selama bertahun-tahun Jagatra buta akan kebencian keluarganya. Sampai akhirnya, di usianya yang ke-25, semua topeng tersingkap dan darah pertama tertumpah. Saat balas dendam mulai ia jalankan, hidupnya dipenuhi dilema. Ia jatuh cinta pada Audina, gadis sederhana dari rakyat jelata. Namun cinta mereka dipenuhi duri fitnah, perbedaan kasta, hingga hadirnya putri dan pangeran lain yang mencoba merebut hatinya. Mampukah Jagatra bertahan dari pengkhianatan demi pengkhianatan? Akankah ia berhasil membalaskan dendam, merebut takhta, sekaligus mempertahankan cintanya? Satu hal yang pasti hanya darah dan cinta sejati yang akan menobatkannya sebagai Raja.
Read
Chapter: bab 285 kaesar menjadi bayangan hitam.
Malam perlahan turun di atas Kerajaan Aethelgard.Cahaya matahari menghilang di balik pegunungan utara.Kabut tipis mulai turun.Dan seluruh istana sibuk mempersiapkan keberangkatan esok pagi.Persiapan kuda.Bekal.Peta.Perlengkapan perjalanan.Namun...suasana tetap dipenuhi kegelisahan.Karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang menunggu mereka di balik Gerbang Utara.Di penjara bawah tanah...lorong-lorong batu kembali sunyi.Sejak seluruh gelar Kaesar dicabut...tidak ada lagi bangsawan yang datang menjenguknya.Tidak ada pelayan.Tidak ada pengawal pribadi.Tidak ada penghormatan.Yang tersisa hanya sebuah sel batu.Dan seorang mantan pangeran yang kini hidup tanpa nama.Kaesar duduk bersandar pada dinding.Tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...ia
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: bab 284 cristian yang dikenang rakyat.
Fajar berikutnya menyapa Aethelgard dengan langit yang cerah. Namun...tidak seorang pun di istana benar-benar merasa tenang. Surat misterius itu masih berada di meja kerja Jagatra. Cincin milik Ellisha masih tersimpan rapi di dalam kotak kayu kecil. Dan keberangkatan menuju wilayah utara... tinggal menunggu waktu. Meski demikian... kehidupan kerajaan tidak bisa berhenti. Laporan tetap berdatangan. Persidangan tetap berjalan. Rakyat tetap membutuhkan pemimpinnya. Menjelang siang. Jagatra keluar dari istana untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Bukan untuk memimpin pasukan. Bukan pula untuk menghadiri sidang. Melainkan meninjau pemulihan kota. Lucas. Justin. Rionaldo. Audina. Mereka
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: bab 283 Ellisha datang sekali lagi.
Siang mulai bergeser menuju sore.Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tinggi ruang kerja kerajaan berubah menjadi lebih hangat.Jagatra masih duduk di balik meja.Audina tetap berada di sampingnya.Sesekali ia membantu memilah laporan yang telah selesai dibaca.Ruangan terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.Namun...ketenangan di Aethelgard kini selalu terasa rapuh.Karena semua orang tahu...musuh mereka belum benar-benar memperlihatkan wajahnya.TOK.TOK.TOK.Seorang pengawal masuk tergesa-gesa."Paduka!"Jagatra mengangkat pandangan."Ada apa?"Pengawal itu berlutut."Kami menerima kiriman dari gerbang utama."Lucas yang baru kembali dari ruang arsip langsung menoleh."Kiriman?"Pengawal itu mengangguk."Sebuah peti kayu."Justin mengernyit.
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: bab 282 audina mendampingi.
Pagi di Aethelgard berjalan lebih sibuk dari biasanya. Kabar bahwa Raja William secara terbuka mengakui kepemimpinan Jagatra telah menyebar ke seluruh istana. Para pejabat berlarian membawa laporan. Para komandan keluar masuk ruang pertemuan. Dan di tengah semua itu... Jagatra hampir tidak memiliki waktu untuk bernapas. Ruang kerja kerajaan yang baru kini dipenuhi tumpukan dokumen. Laporan pencarian Ellisha. Laporan hilangnya Rafka. Laporan tentang simbol penghapusan. Dan puluhan surat dari wilayah-wilayah yang sedang dipulihkan pascaperang. Lucas duduk sambil memijat pelipisnya. Justin sudah mengeluh selama lima belas menit. Rionaldo memeriksa perlengkapan perjalanannya ke utara. Sementara Jagatra membaca satu dokumen demi dokumen tanpa berhenti. Sampai akhirnya... BRAK. Justin menjatuhkan tubuhnya ke kursi. "Gue nyerah."
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: bab 281 jagatra duduk di takhta.
Fajar perlahan menyelimuti Aethelgard.Langit yang semalam dipenuhi kegelisahan kini berubah menjadi warna keemasan yang pucat. Namun cahaya matahari tidak mampu mengusir bayangan yang menggantung di atas kerajaan.Ellisha hilang.Rafka hilang.Lucas perlahan terhapus.Dan sekarang...Rionaldo bersikeras menuju wilayah terlarang utara.Di ruang kerja kerajaan, tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa tenang.Justin berdiri sambil menyilangkan tangan.Lucas masih menatap peta.Jagatra berdiri dekat jendela.Sementara Rionaldo sedang mempersiapkan perlengkapannya.Sunyi.Lalu tiba-tiba...TOK.TOK.TOK.Ketukan terdengar dari luar.Seorang pelayan masuk dengan wajah tegang."Paduka."Jagatra menoleh."Ada apa?"Pelayan itu menundukkan kepala."Raja William meminta kehadiran Paduka di Balai Takhta."Ruangan langsung terdiam.Lucas mengangkat alis."Raja?"Pelayan itu mengang
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: bab 280 Rionaldo berkorban.
Malam itu...Aethelgard kembali kehilangan arah,karena seseorang menghilang begitu saja.Rafka.Tidak ada jejak.Tidak ada saksi.Tidak ada petunjuk selain secarik kertas tua yang meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.Ruang kerja kerajaan tetap menyala hingga dini hari.Tidak ada seorang pun yang tidur.Jagatra berdiri di depan peta besar.Lucas membaca ulang seluruh catatan kuno yang tersisa.Justin mondar-mandir seperti binatang yang terkurung.Sementara Rionaldo...hanya diam.Sangat diam.Dan itu justru membuat semua orang mulai memperhatikannya.Karena biasanya...Rionaldo adalah orang pertama yang mengumpat.Orang pertama yang marah.Orang pertama yang memecahkan sesuatu.Tapi malam ini tidak.Lucas akhirnya mengangkat kepala."Lo kenapa?"Rionaldo tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada kalimat di atas meja.Yang dihapus tidak pernah sendirian.B
Last Updated: 2026-06-27
Cinta Di Balik Tanda Tangan

Cinta Di Balik Tanda Tangan

Baginya,Aluna hanya alat. Bagi Aluna, Leonard adalah kutukan. Tapi siapa sangka, tanda tangan yang dipaksakan justru membuka pintu menuju cinta tak terduga. Saat hidup Aluna yang sederhana berubah drastis karena harus menikah dengan Leonard Alvaro — seorang CEO muda yang dingin, arogan, dan menyimpan luka masa lalu — ia tak pernah menyangka akan terseret ke dunia penuh intrik, penghinaan, dan rahasia keluarga yang gelap. Leonard tidak menginginkannya. Bagi Leonard, Aluna hanyalah gadis miskin yang terpaksa ia nikahi demi menyelamatkan warisan dan reputasi keluarga. Ia memperlakukannya tanpa hati, tanpa simpati. Tapi, di balik sikap dinginnya, tersembunyi luka lama yang belum sembuh. Aluna mencoba bertahan. Ia tak meminta cinta, hanya sedikit penghargaan. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat ikatan yang tanpa sadar tumbuh di antara mereka. Ketika kebencian perlahan berubah menjadi perhatian... Ketika pernikahan palsu mulai terasa nyata... Dan ketika kebenaran masa lalu terbongkar, apakah cinta bisa menjadi penyelamat... atau justru penghancur?
Read
Chapter: bab 150 Ending:Tempat pulang yang menetap.
Pagi datang dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan. Leonard bangun lebih dulu,karena kebiasaan baru: memastikan hari dimulai tanpa tergesa. Ia menoleh. Aluna masih tidur, napasnya teratur, wajahnya damai. Leonard tersenyum kecil.Beberapa bulan terakhir berjalan seperti itu. Tidak ada lompatan besar, tidak ada perayaan yang direncanakan. Hanya hari-hari yang dipilih untuk tinggal. Hingga suatu pagi, Aluna memanggilnya dari dapur dengan suara yang berbeda.“Leonard,” katanya pelan, “kita perlu bicara.”Leonard datang dengan tenang. Di meja, ada secangkir teh yang sudah mendingin dan selembar kertas kecil. Aluna tidak menunggu lama untuk menjelaskan. Ia hanya menggeser kertas itu ke arah Leonard.Dua garis tipis,Leonard menatapnya beberapa detik,cukup lama untuk memahami, cukup singkat untuk yakin. Ia mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu, dan di sana tidak ada ketakutan yang dulu sering muncul. Yang ada hanya rasa hadir yang utuh.
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: bab 149 hari yang dipilih untuk tinggal.
Pagi setelah itu tidak membawa pengumuman apa pun,tidak ada perubahan besar yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal. Leonard bersiap seperti biasa, Aluna merapikan hal-hal kecil yang sempat tertinggal. Namun ada satu perbedaan yang tidak perlu dicari,keduanya bergerak tanpa beban yang dulu tak pernah benar-benar pergi.Leonard berangkat ke kantor dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, ia tidak lagi memeriksa ulang pikiran sendiri di sepanjang jalan,tidak ada dialog batin yang menimbang kemungkinan terburuk. Ia tiba, bekerja, berbicara seperlunya, dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.Di tengah hari, Leonard berhenti sejenak di depan jendela ruangannya. Kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing- masing,ia tidak merasa harus mengatur semuanya agar tetap berada di jalur aman. Ia membiarkan hidup berjalan dan ikut berjalan di dalamnya.Sore datang tanpa drama. Leonard pulang tepat waktu, membaw
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: bab 148 yang tidak lagi ragu
Pagi datang dengan cahaya yang lebih bersih. Hujan semalam menyisakan udara dingin yang menenangkan, seolah dunia baru saja dibasuh tanpa diminta. Leonard bangun lebih awal, kali ini tanpa jeda panjang,karena tubuhnya siap. Di dapur, Aluna sudah lebih dulu terjaga. Ia menata dua piring sarapan sederhana,tidak ada menu khusus,tidak ada usaha untuk membuat pagi terasa istimewa,namun justru di sanalah keistimewaannya tinggal. “Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Aluna sambil menuang air hangat. Leonard duduk. “Karena aku tidak membawa apa pun dari kemarin.” Aluna mengangguk. Mereka makan tanpa terburu, tanpa percakapan panjang. Sendok bertemu piring, pagi berjalan apa adanya. Hari itu, Leonard tidak langsung ke kantor. Ia mengambil waktu setengah hari,keputusan yang dulu selalu ia timbang berulang kali. Kini, keputusan itu hadir tanpa debat di dalam kepala. Ia dan Aluna berjalan keluar rumah, menyu
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: bab 147 hal yang mulai mengakar.
Hari-hari berikutnya tidak membawa perubahan yang bisa ditunjuk dengan jelas, namun ada sesuatu yang mulai mengendap,seperti tanah yang perlahan memadat setelah lama diguyur hujan. Leonard merasakannya saat ia bangun pagi tanpa dorongan untuk segera berdiri. Aluna merasakannya ketika ia menata hari tanpa perlu memastikan apa pun pada siapa pun.Pagi itu, Aluna menyiapkan sarapan dengan menu yang sama seperti kemarin,tidak ada niat untuk variasi, dan tidak ada rasa bosan. Leonard memperhatikannya dari kursi makan, menyadari bahwa pengulangan kini terasa aman, bukan menjemukan.“Kita sudah beberapa hari begini,” kata Leonard, lebih seperti pengamatan.Aluna mengangguk. “Dan tidak ada yang terasa tertinggal.”Leonard tersenyum kecil. Ia berangkat kerja dengan pikiran yang tidak lagi memantul ke banyak arah. Di kantor, satu proyek lama akhirnya memasuki fase akhir,tanpa drama, tanpa perayaan besar. Ia menandatangani berkas terakhir dan menyerahkannya
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: bab 146 arah yang dibiarkan tumbuh.
Pagi berikutnya terasa sama, namun tidak pernah benar-benar serupa. Leonard membuka mata dengan kesadaran yang pelan: hari tidak berulang, ia hanya bergerak dengan cara yang lebih lembut. Aluna sudah bangun lebih dulu, duduk di dekat jendela dengan selimut tipis di bahunya, menatap halaman yang masih basah oleh sisa embun.Leonard mendekat tanpa suara. Ia berdiri di belakang Aluna beberapa detik, lalu duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi kursi. Tidak ada sapaan. Tidak ada kebutuhan menandai momen.“Ada hari-hari,” ucap Aluna akhirnya, “yang dulu akan membuatku gelisah.”Leonard mengangkat kepala. “Sekarang?”“Sekarang justru membuatku ingin diam lebih lama.”Leonard tersenyum kecil. Ia memahami pergeseran itu,dari ingin memastikan, menjadi ingin merasakan.Di kantor, Leonard menjalani hari tanpa agenda yang penuh. Beberapa hal diserahkan sepenuhnya pada tim. Ia hadir jika diminta, mundur jika tidak diperlukan. Tidak a
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: bab 145 hari yang tidak ditahan.
Pagi itu datang dengan suara biasa,air mengalir di kamar mandi, langkah pelan di lantai, bunyi cangkir bertemu meja, Leonard dan Aluna bergerak seperti kemarin, dan entah bagaimana, itu terasa cukup.Leonard berangkat sedikit lebih siang, karena tidak ada alasan untuk berangkat lebih awal. Di perjalanan, lampu lalu lintas memaksanya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengeluh. Ia memandang keluar, melihat orang-orang menyeberang dengan langkah masing-masing. Tidak ada satu pun yang tampak salah.Di kantor, sebuah diskusi kecil berlangsung di ruang terbuka. Leonard ikut duduk, mendengar tanpa memotong. Ketika pendapatnya diminta, ia menjawab singkat, tidak menutup kemungkinan lain. Diskusi itu berakhir tanpa kesimpulan final dan tidak ada yang gelisah karenanya.“Besok kita lanjut,” kata salah satu dari mereka.Leonard mengangguk. “Baik.”Menjelang siang, Brayen mengirim pesan singkat: Makan bareng?Leonard membalas: Nant
Last Updated: 2026-02-13
You may also like
Sang Menantu Perkasa
Sang Menantu Perkasa
Historical · Abimana
424.1K views
Selir Adipati
Selir Adipati
Historical · Esi Apresia
401.0K views
Dimadu Saat Hamil
Dimadu Saat Hamil
Historical · jannahsaid
211.9K views
Hurt ! Mr Duke
Hurt ! Mr Duke
Historical · Sayonk
118.3K views
Lelaki Tanpa Kasta Mengguncang Dunia
Lelaki Tanpa Kasta Mengguncang Dunia
Historical · Neliwati Nelisaja
110.8K views
KEJUTAN UNTUK SUAMIKU
KEJUTAN UNTUK SUAMIKU
Historical · Siti Aisyah
65.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status