LOGINDikhianati keluarga. Ditinggalkan oleh orang tua. Disingkirkan dari takhta. Dan tetap berdiri demi cinta serta balas dendam. Pangeran Mahkota Jagatra Eduardo Batistuta adalah pewaris sah Kerajaan Aethelgard Silvanus. Namun tujuh saudaranya, bahkan Raja dan Ratu sendiri, merencanakan segala cara untuk menyingkirkannya. Mereka ingin Kaesar, anak kesayangan, menjadi raja berikutnya. Selama bertahun-tahun Jagatra buta akan kebencian keluarganya. Sampai akhirnya, di usianya yang ke-25, semua topeng tersingkap dan darah pertama tertumpah. Saat balas dendam mulai ia jalankan, hidupnya dipenuhi dilema. Ia jatuh cinta pada Audina, gadis sederhana dari rakyat jelata. Namun cinta mereka dipenuhi duri fitnah, perbedaan kasta, hingga hadirnya putri dan pangeran lain yang mencoba merebut hatinya. Mampukah Jagatra bertahan dari pengkhianatan demi pengkhianatan? Akankah ia berhasil membalaskan dendam, merebut takhta, sekaligus mempertahankan cintanya? Satu hal yang pasti hanya darah dan cinta sejati yang akan menobatkannya sebagai Raja.
View MoreJustin berdiri di ruang peta saat matahari tenggelam. Lilin-lilin dinyalakan satu per satu, memantulkan cahaya pada garis-garis rute, gudang, dan pos jaga. Ia tidak menggeser pin. Ia mengganti urutan membaca.“Mulai dari barat,” katanya pada perwira yang menunggu. “Lewati selatan.”“Perubahan mendadak?” tanya perwira itu hati-hati.“Penyesuaian,” jawab Justin. “Kita menguji elastisitas.”Perwira itu mengangguk dan pergi. Justin menunggu sampai pintu tertutup, lalu mengeluarkan catatan kecil dari saku mantel. Bukan miliknya,tapi ulisan orang lain. Pesan yang sama-sama mereka pahami tanpa perlu tanda tangan.Justin tersenyum tipis. “Waktu,” gumamnya. “Selalu yang paling murah, sampai habis.” Ia berjalan ke lorong lain, mengetuk satu pintu. Di dalam, dua pejabat duduk dengan map terbuka, wajah mereka tegang.“Beri tahu mereka,” kata Justin, “bahwa penundaan ini atas namaku.”“Jika ditanya alasan?” tanya salah satu.
Michael melintasi lorong-lorong sempit di sisi utara kota, mengenakan mantel gelap yang terlalu biasa untuk dicurigai, terlalu rapi untuk disebut pengemis. Langkahnya terukur, Ia tahu ke mana ia pergi, dan lebih penting lagi, ia tahu apa yang akan ia tinggalkan.Di sebuah rumah minum kecil dekat pelabuhan darat, lampu digantung rendah,Michael duduk di meja sudut, punggungnya ke dinding. Ia memesan air hangat. Beberapa menit kemudian, seorang pria duduk di depannya tanpa permisi. Wajahnya biasa. Terlalu biasa. Jenis wajah yang mudah dilupakan setelah berpaling.“Kau terlambat,” kata pria itu.“Waktu di istana tidak pernah lurus,” jawab Michael tenang. “Ia selalu berbelok.”Pria itu tersenyum singkat. “Dan kau membawa apa?”Michael mengeluarkan sebuah kertas lipat dari dalam mantel,tidak diserahkan,hanya dibuka setengah,cukup untuk memperlihatkan tanda tangan, cukup untuk menunjukkan nilai. Denah rotasi penjagaan. Jadwal pergantia
Di pasar selatan, keramaian sudah menggeliat sejak fajar. Pedagang membuka lapak dengan gerakan yang sama seperti kemarin,namun bisikan di antara mereka berbeda,tentang penjagaan yang berubah, tentang pejabat yang tak lagi muncul, tentang pertanyaan kecil yang kini dibiarkan hidup. Lucas berdiri di bawah kanopi kain sederhana, jubahnya polos, tanpa lambang. Ia tidak menonjol. Ia juga tidak bersembunyi. Ia berada di posisi yang tepat: cukup dekat untuk didengar, cukup jauh untuk tidak dicurigai. “Air di sumur barat keruh lagi,” keluh seorang perempuan tua. “Keruh bukan karena hujan,” sahut pria di sebelahnya. “Katanya jalurnya dialihkan.” Lucas menoleh sedikit, seolah baru menyadari percakapan itu. “Dialihkan?” tanyanya ringan, nada suaranya seperti orang yang hanya ingin tahu. “Bukankah jalur lama masih aman?” Pria itu mengangkat bahu. “Aman untuk siapa?” Lucas tersenyum tipis. “Biasanya, yang
Pagi itu, pengumuman-pengumuman kecil dibacakan berurutan, di lorong-lorong yang biasa dilalui pejabat menengah. Rotasi penjagaan. Penyesuaian anggaran. Penunjukan koordinator baru untuk “stabilitas internal.” Tidak ada satu pun yang terdengar besar. Namun jika disusun, pola itu membentuk dinding. Kaesar berdiri di ruang strategi, peta terbentang di hadapannya. Beberapa pin telah dipindahkan sejak malam,titik-titik yang mengunci jalur masuk, memendekkan rantai komando, dan memusatkan laporan. Ia tidak tersenyum. Ia tidak perlu. “Wilayah abu-abu?” tanyanya tanpa menoleh. Seorang perwira menjawab cepat. “Mulai condong, Yang Mulia. Namun belum terbuka.” “Biarkan,” kata Kaesar. “Tekanan terlalu cepat membuat orang memilih sisi yang salah.” Ia menunjuk satu garis tipis di peta. “Perketat di sini. bukan dengan penjaga tapi dengan izin Perwira itu mengangguk. “Administratif.” “Yang paling efektif,” sa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.