author-banner
goresan pena amatir
goresan pena amatir
Author

Novels by goresan pena amatir

Ibu Kost yang menggoda

Ibu Kost yang menggoda

Ravika adalah seorang janda muda berparas cantik dan mempesona yang tinggal sendiri dan mengelola rumah kos sederhana peninggalan suaminya. Di balik senyum tipis dan sikap tenangnya, Ravika menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh—dan rahasia gelap yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Hingga suatu hari, datanglah Arven, anak kos baru yang tampan, dingin, dan cerdas. Kehadirannya membawa angin segar sekaligus badai yang tak terduga. Perlahan, interaksi antara Ravika dan Arven mulai melintasi batas antara ibu kos dan penyewa. Ketegangan semakin terasa di balik dinding kamar kos yang sempit—tatapan yang terlalu lama, sentuhan yang tak sengaja, dan percakapan yang terlalu dalam. Namun Arven tak datang hanya untuk menyewa kamar. Ia punya tujuan tersembunyi... dan masa lalu Ravika mungkin lebih berbahaya dari yang terlihat. Mampukah mereka menahan godaan yang terus membara? Ataukah semuanya akan berakhir dengan kehancuran yang tak terhindarkan? ---
อ่าน
Chapter: Menghitung Hari Sekali Lagi
Setelah keputusan itu dibuat, semuanya terasa berbeda.Aneh.Padahal Arven masih ada di kos.Masih berangkat kerja dari tempat yang sama.Masih duduk di teras setiap malam.Masih membuat teh saat hujan turun.Namun sekarang—ada tanggal keberangkatan yang terus mendekat.Dan tanpa sadar,Ravika kembali melakukan kebiasaan lama.Menghitung hari.Pagi itu ia berdiri di depan kalender yang menempel di dinding dapur.Matanya berhenti pada satu tanggal yang sudah diberi lingkaran kecil.Dua minggu lagi.Hanya dua minggu."Kenapa lihat kalender terus?"Suara Arven membuatnya menoleh."Nggak kenapa-kenapa.""Bohong.""Sedikit."Arven tersenyum kecil.Karena sekarang ia sudah cukup mengenal Ravika.Kalau jawabannya "sedikit", biasanya artinya "banyak".Mereka akhirnya sarapan bersama seperti biasa.Namun kali ini Ravika lebih banyak diam.Bukan karena sedih.Lebih karena sedang berpikir.Tentang dua minggu yang tersisa.Tentang waktu yang terasa terlalu cepat.Dan tentang semua hal yang belum
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-21
Chapter: Jawaban Untuk Massa Depan
Dua hari berlalu sejak pembicaraan itu. Dua hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi Ravika. Bagi Arven. Dan entah kenapa— juga bagi Bima yang sama sekali tidak terlibat. "Aku ikut stres." katanya pagi itu. "Kenapa?" tanya Ravika. "Karena suasana kos kayak nunggu hasil ujian nasional." "Itu lebay." "Tapi bener." Dan untuk sekali ini— tidak ada yang membantah. Karena memang benar. Sebuah keputusan sedang menunggu. Dan semakin lama ditunda— semakin berat rasanya. Siang hari itu Arven dipanggil kembali oleh atasannya. Bukan rapat panjang. Bukan evaluasi. Hanya satu pertanyaan sederhana. "Sudah dipikirkan?" Arven duduk diam beberapa saat. Lalu mengangguk. "Sudah." "Dan?" Untuk sesaat— bayangan banyak hal melintas di kepalanya. Kos. Ruang tengah. Teras malam hari. Ravika yang selalu menunggunya pulang. Bima yang berisik setiap pagi. Dan juga masa depan yang sedang menunggu di depan sana. Arven menarik napas perlahan. "Saya terima." Kalimat itu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-20
Chapter: Beberapa Hari untuk Memutuskan
Setelah malam ketika Arven menceritakan tawaran penugasan itu, suasana kos berubah sedikit.Tidak ada yang mengatakannya secara terang-terangan.Namun semua orang tahu.Ada sebuah keputusan besar yang sedang menunggu.Dan keputusan itu bukan hanya akan memengaruhi Arven.Tapi juga Ravika.Dan sedikit banyak—seluruh kehidupan di kos.Pagi hari datang seperti biasa.Ada suara motor.Ada aroma kopi dari dapur.Ada Bima yang entah bagaimana sudah membuat keributan sebelum jam delapan.Namun kali ini—bahkan Bima pun terlihat lebih tenang."Jadi..."Ia duduk di depan Arven sambil membawa roti."Udah mutusin?""Belum."jawab Arven."Masih mikir."Bima mengangguk.Untuk ukuran dirinya—itu respons yang mengejutkan.Karena biasanya ia akan langsung mengeluarkan teori aneh.Namun kali ini tidak.Mungkin karena ia tahu masalahnya memang serius.Ravika yang sedang membuat teh hanya diam mendengarkan.Dan justru itulah yang membuat Arven semakin sulit membaca isi pikirannya.Karena sejak malam k
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-19
Chapter: Tiga Bulan yang Terasa Sangat Lama
Malam itu terasa berbeda. Biasanya setelah Arven pulang kerja, suasana teras dipenuhi obrolan ringan dan candaan receh. Namun sekarang— kata-kata "tiga bulan" terus berputar di kepala Ravika. Tiga bulan. Kalau dipikir-pikir, itu tidak lama. Tapi kalau dijalani? Bisa terasa sangat panjang. "Di kota mana?" tanya Ravika pelan. Arven menyebut nama kotanya. Tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh beberapa jam perjalanan. Namun tetap saja— itu berarti Arven tidak akan pulang setiap malam. Dan itu adalah hal yang selama ini menjadi pegangan Ravika. Selalu ada kepastian bahwa seberapa sibuk pun Arven— ia akan pulang. Sekarang? Belum tentu. "Aku belum jawab." kata Arven. Ravika menoleh. "Belum?" Arven menggeleng. "Mereka kasih waktu beberapa hari buat mikir." Sunyi. Entah kenapa mendengar itu membuat Ravika sedikit lega. Karena artinya keputusan belum diambil. Namun di saat yang sama— itu juga berarti akan ada pembicaraan yang sulit.
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-18
Chapter: Kabar yang Tidak Terduga
Beberapa minggu setelah itu, kehidupan kembali berjalan dalam ritmenya sendiri.Arven mulai semakin nyaman dengan pekerjaannya.Ravika semakin terbiasa mengelola kos tanpa terlalu bergantung pada bantuan Arven.Dan penghuni kos tetap sama berisiknya seperti biasa.Terutama Bima.Suatu pagi, suasana dapur sudah ramai bahkan sebelum jam delapan.Ada yang membuat kopi.Ada yang menggoreng telur.Ada yang terburu-buru berangkat kerja.Dan di tengah semua keramaian itu—Bima masuk sambil membawa ponsel dengan wajah panik."KABAR BURUK!"Semua langsung menoleh."Apa lagi?"tanya Ravika.Bima menunjuk layar ponselnya."Motor gue mogok."Sunyi.Lalu semua kembali melanjutkan aktivitas masing-masing."Itu bukan kabar buruk."kata seseorang."Itu kabar biasa.""Kurang ajar."Tawa langsung pecah.Namun beberapa menit kemudian—justru Arven yang menerima sebuah kabar yang benar-benar tidak terduga.Ponselnya bergetar saat sedang sarapan.Awalnya ia hanya membaca pesan itu sambil lalu.Lalu ekspre
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-17
Chapter: Ketakutan yang Datang Diam-diam
Hari-hari terus berjalan.Dan tanpa sadar—Arven mulai semakin terbiasa dengan pekerjaannya.Jam pulangnya mulai lebih teratur.Wajahnya tidak selelah minggu pertama.Dan sesekali ia bahkan masih punya tenaga untuk bercanda panjang di ruang tengah.Semua terlihat membaik.Namun justru di situlah—ketakutan baru mulai muncul diam-diam di hati Ravika.Karena semakin Arven terbiasa dengan dunia barunya—semakin Ravika takut dirinya tidak lagi terlalu dibutuhkan.Perasaan itu sebenarnya tidak masuk akal.Arven tetap perhatian.Tetap mencari Ravika sepulang kerja.Tetap meluangkan waktu.Namun hati manusia kadang memang aneh.Kadang ketakutan muncul bukan karena ada tanda nyata.Melainkan karena terlalu banyak memikirkan kemungkinan.Malam itu Ravika sedang duduk sendirian di teras.Hujan baru saja berhenti.Udara terasa dingin dan jalan depan kos terlihat basah oleh lampu jalan.Dari dalam ruang tengah terdengar suara Arven dan beberapa penghuni lain tertawa.Biasanya Ravika akan langsung
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-16
Janda Cantik, Ibu Kosku

Janda Cantik, Ibu Kosku

Bimo mahasiswa yang baru pindah kos, tidak menyangka akan bertemu dengan Rara, ibu kosnya yang cantik dan penuh pesona . awalnya hanya hubungan ibu kos dan penghuni kos saja, tapi perlahan-lahan mereka terjebak dalam pesona satu sama lain, terlibat dalam hubungan rahasia yang penuh dengan gairah dan drama dibawah atap kos yang sama.
อ่าน
Chapter: Kabar Bahagia yang Tak Disangka
Dua minggu berlalu sejak Pak Hadi diperbolehkan pulang ke rumah dan beristirahat total. Badai terasa sudah benar-benar berlalu, meski sisa rasa lelahnya masih terasa jelas di setiap tulang kami. Seluruh tabungan yang kami kumpulkan berbulan-bulan lamanya memang habis tak bersisa, kami bahkan sempat berutang sedikit pada tetangga baik, tapi rasa syukur di hati jauh lebih besar dari segala kekurangan itu. Setiap malam kami berbaring saling berpelukan, hanya berucap alhamdulillah karena orang yang kami sayangi selamat dan sehat kembali.Namun belakangan ini, aku melihat ada sesuatu yang berubah dari diri Rara. Wanita yang biasanya bangun paling pagi, lincah mengurus segala hal dari dapur sampai halaman, kini sering kali terlihat lemas sekali. Ia sering kali tiba-tiba mual hebat hanya karena mencium bau masakan atau bau minyak tanah, nafsu makannya hilang sama sekali, dan matanya selalu tampak berat ingin terus tidur. Awalnya kami berdua sama-sama mengira itu hanya akibat kelelahan luar b
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-21
Chapter: Saat Beban Bersama Semakin Berat
Hampir empat bulan kami menjalani hari sebagai suami istri. Segala sesuatunya berjalan tenang dan teratur. Setiap bulan kami selalu menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung, perlahan namun pasti, dengan cita-cita sederhana: suatu saat nanti bisa membeli tanah dan membangun rumah sendiri yang benar-benar milik kami berdua selamanya. Kami pikir, setelah melewati segala rintangan untuk bersatu, sisa perjalanan akan berjalan lebih landai. Namun kami lupa, bahwa rumah tangga tidak hanya diisi kebahagiaan, tapi juga ujian kesabaran dan kekuatan yang datang tanpa diundang.Malam itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang. Baru saja kami hendak beristirahat, tiba-tiba telepon genggam Rara berdering kencang dari Kak Lina. Dari seberang sana terdengar suara yang gemetar dan panik bukan main, menyampaikan kabar yang seketika membekukan darah kami berdua: Pak Hadi tiba-tiba jatuh pingsan di teras rumah, sudah dibawa ke rumah sakit daerah, dan menurut dokter ada penyumbatan pada pe
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-20
Chapter: Ujian Kepercayaan yang Datang Tanpa Diduga
Sudah hampir tiga bulan kami membangun rumah tangga dengan damai dan penuh kebahagiaan. Rutinitas berjalan lancar, hubungan dengan tetangga makin akrab, dan kami semakin paham satu sama lain. Namun, seperti kata pepatah, angin sejuk sering kali datang tanpa diduga, membawa awan kelabu yang menguji keteguhan hati kami.Suatu sore, saat aku pulang kerja agak terlambat karena harus menyelesaikan tugas mendesak, aku mendapati Rara sedang duduk diam di ruang tengah. Wajahnya tidak seperti biasa yang menyambutku dengan senyum hangat; ia tampak murung, matanya menunduk dalam, dan suasananya terasa berat seketika aku melangkah masuk.“Sayang? Ada apa?” tanyaku sambil meletakkan tas dan segera mendekatinya. “Ada yang sakit atau ada masalah?”Rara mengangkat wajah perlahan, dan aku terkejut melihat matanya yang sembab. Ia menatapku dengan pandangan yang campur aduk—sedih, ragu, dan sedikit terluka.“Mas… tadi ada seseorang datang ke sini,” ucapnya pelan, suaranya bergetar. “Seorang wanita muda,
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-19
Chapter: Awal Kehidupan Berumah Tangga
Hari-hari pertama sebagai suami istri terasa seperti mimpi yang perlahan menjadi kenyataan. Rumah kecil yang kami tempati tidak luas, dindingnya sederhana, dan perabotannya pun tidak banyak—namun setiap sudutnya terasa hangat, penuh makna, dan menjadi tempat yang paling aman bagi kami berdua.Kami mulai membangun kebiasaan baru, saling menyesuaikan ritme hidup masing-masing. Pagi hari, aku bangun lebih awal untuk bersiap berangkat kerja, sementara Rara sudah terlebih dahulu menyiapkan sarapan dan menyiapkan perlengkapanku. Tidak ada lagi tergesa-gesa atau keributan; semuanya berjalan dengan tenang dan teratur.“Mas, hati-hati di jalan ya. Nanti pulang jangan terlalu malam, saya tunggu di rumah,” ucap Rara setiap pagi sambil mencium pipiku lembut sebelum aku melangkah keluar.Kata-kata itu terasa seperti penyemangat terbesar. Dulu aku pulang ke kamar kos yang sunyi, tapi sekarang ada seseorang yang menungguku, ada suara yang menyambutku, dan ada kehangatan yang menyelimuti begitu aku m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-18
Chapter: Hari Pernikahan yang Sederhana Namun Penuh Berkah
Hari yang paling dinanti akhirnya tiba. Pagi itu, langit terlihat bersih dan cerah, seolah ikut merayakan momen bersejarah bagi kami berdua. Tidak ada keramaian besar, tidak ada pesta mewah yang mengundang perhatian, hanya suasana tenang, sakral, dan penuh kehangatan yang menyelimuti rumah keluarga Rara.Semua persiapan sudah selesai sejak malam sebelumnya. Aku mengenakan pakaian pengantin yang sederhana namun rapi, ditemani Ayah, Ibu, dan beberapa kerabat dekat. Jantungku berdegup kencang—bukan karena gugup semata, tapi karena rasa haru dan syukur yang meluap-luap. Seluruh perjuangan, air mata, dan kesabaran selama ini terasa terbayar lunas hari itu.Saat tiba di tempat acara, aku disambut dengan hormat oleh keluarga Rara. Di ruang tengah yang sudah dihias seadanya namun terasa indah, terlihat Pak Hadi, Bu Siti, dan Kak Lina yang sudah menunggu dengan senyum tulus di wajah mereka. Semua ketegangan dan perbedaan pandangan yang pernah ada sudah lenyap, digantikan oleh rasa persatuan da
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-17
Chapter: Menghitung Hari Menuju Hari Bahagia
Dua bulan menuju hari pernikahan terasa berjalan cepat namun terasa sangat berharga. Setiap hari terasa penuh dengan persiapan, percakapan, dan rasa bahagia yang perlahan tumbuh semakin besar di hati kami berdua.Kami sepakat untuk menggelar acara pernikahan secara sederhana saja, tidak mewah dan tidak mengundang banyak orang—hanya keluarga inti dan kerabat dekat. Tujuannya agar tetap terjaga kenyamanan, serta menghindari perhatian berlebih yang bisa memicu omongan tidak perlu seperti yang sudah kami alami sebelumnya.Setiap akhir pekan, aku dan Rara bertemu untuk menyelesaikan satu per satu kebutuhan. Mulai dari mengurus berkas administrasi di kantor kelurahan, menyiapkan tempat tinggal baru, hingga memilih perlengkapan rumah tangga. Kami melakukan semuanya bersama-sama, sehingga tidak ada beban yang dipikul sendirian.Suatu sore, saat kami sedang menyusun perabotan di rumah kecil yang sudah kami sewa untuk tempat tinggal nanti, Rara tiba-tiba berhenti bergerak. Ia memegang gagang le
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-16
บางทีคุณอาจจะชอบ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status