Ibu Kost yang menggoda
Ravika adalah seorang janda muda berparas cantik dan mempesona yang tinggal sendiri dan mengelola rumah kos sederhana peninggalan suaminya. Di balik senyum tipis dan sikap tenangnya, Ravika menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh—dan rahasia gelap yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Hingga suatu hari, datanglah Arven, anak kos baru yang tampan, dingin, dan cerdas. Kehadirannya membawa angin segar sekaligus badai yang tak terduga. Perlahan, interaksi antara Ravika dan Arven mulai melintasi batas antara ibu kos dan penyewa. Ketegangan semakin terasa di balik dinding kamar kos yang sempit—tatapan yang terlalu lama, sentuhan yang tak sengaja, dan percakapan yang terlalu dalam.
Namun Arven tak datang hanya untuk menyewa kamar. Ia punya tujuan tersembunyi... dan masa lalu Ravika mungkin lebih berbahaya dari yang terlihat.
Mampukah mereka menahan godaan yang terus membara? Ataukah semuanya akan berakhir dengan kehancuran yang tak terhindarkan?
---
Read
Chapter: Pelan-pelan Menjadi Pasti Pagi itu terasa lebih ringan. Bukan karena ada sesuatu yang berubah di luar. Kos masih sama. Lorong masih sempit. Suara pintu kamar masih terdengar satu per satu. Dan dapur masih penuh dengan aroma kopi dan mie instan seperti biasanya. Tapi di dalam diri Ravika… ada sesuatu yang sedikit berbeda. Ia bangun tanpa rasa berat. Tidak seperti kemarin yang penuh pikiran. Hari ini terasa lebih… tenang. Ia duduk di tepi kasur sebentar, lalu tersenyum kecil. “Pelan-pelan aja,” gumamnya pada diri sendiri. Ia berdiri dan membuka pintu kamar. Di dapur, Arven sudah lebih dulu ada. Seperti beberapa hari terakhir. Ia sedang menuang air panas ke dalam dua gelas. “Pagi,” katanya saat melihat Ravika. “Pagi.” Ravika berjalan mendekat. “Kopi lagi?” Arven mengangguk. “Iya.” Ravika mengambil gelasnya. Masih hangat. Pas. “Lo hafal ya takarannya,” kata Ravika. Arven tersenyum. “Belajar dari yang ahli.” Ravika mendengus pelan. Mereka duduk di teras seperti biasa. Dua gelas kopi.
Last Updated: 2026-03-23
Chapter: Pertanyaan yang Mulai Nyata Pagi itu tidak terlalu ramai. Setelah hari Sabtu yang cukup hidup kemarin, kos kembali ke ritme yang lebih tenang. Beberapa penghuni bangun lebih siang. Lorong tidak seramai biasanya. Ravika sudah duduk di teras dengan secangkir kopi di tangannya. Ia tidak langsung melakukan apa-apa. Hanya duduk. Menatap halaman kecil di depannya. Pikirannya masih tertinggal di percakapan kemarin sore. Tentang “lebih dari sekadar kos”. Tentang “rumah”. Tentang sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah berani ia pikirkan. Langkah kaki terdengar dari dalam. Arven keluar sambil menguap ringan. “Pagi,” katanya. “Pagi.” Arven duduk di kursi sebelahnya. “Kopi lagi?” “Iya.” Arven mengangguk. Ia mengambil gelas dari meja. Beberapa detik mereka diam. Lalu Arven berkata pelan, “Kamu masih kepikiran ya?” Ravika tidak menoleh. “Iya.” Arven tidak kaget. Ia sudah menduga. Angin pagi berhembus pelan. Beberapa daun jatuh ke halaman. Suasana terasa tenang. Ravika akhirnya berkata, “Ven.”
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: Hal yang Mulai Dipikirkan Pagi itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Bukan karena ada masalah. Tapi karena hampir semua penghuni kos bangun lebih awal. Hari Sabtu memang sering seperti itu. Ada yang mencuci pakaian. Ada yang bersih-bersih kamar. Ada juga yang hanya duduk di teras sambil main ponsel. Ravika berdiri di dapur, memotong sayur untuk dimasak siang nanti. Pisau bergerak pelan di atas talenan. Sementara di sampingnya, Arven sedang mencuci beras. Air mengalir pelan. Suara-suara kecil itu bercampur dengan obrolan dari luar. “Bu Kos lagi masak ya?” suara Bima terdengar dari teras. “Iya,” jawab Ravika tanpa menoleh. “Masaknya banyak nggak?” Ravika berhenti memotong sebentar. “Kenapa?” “Kalau banyak, aku mau ikut makan.” Arven langsung tertawa. Ravika menggeleng. “Cuci piring dulu baru boleh ikut.” Bima menghela napas panjang. “Kenapa syaratnya selalu itu sih…” Arven menoleh ke arah pintu. “Karena kamu paling jarang cuci piring.” Bima pura-pura tidak dengar. Dapur terasa lebih hi
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Ketika Mulai Terasa "kita" Pagi itu datang dengan langit yang lebih cerah dari beberapa hari terakhir. Tidak ada hujan. Tidak ada mendung tebal. Cahaya matahari masuk dari sela-sela pagar depan kos, memantul ke lantai teras yang masih sedikit basah sisa kemarin. Ravika sudah duduk di teras sejak pagi. Di tangannya ada secangkir teh hangat. Hari ini ia tidak buru-buru melakukan apa pun. Hanya duduk. Menikmati pagi. Dari dalam dapur, terdengar suara piring. Lalu langkah kaki. Arven keluar membawa dua roti bakar di piring kecil. “Nih.” Ravika menoleh. “Bikin sendiri?” “Iya.” Ravika mengambil satu. “Lo makin rajin.” Arven duduk di sebelahnya. “Biar kamu nggak kelaparan.” Ravika tersenyum kecil. Hal-hal seperti ini sekarang terasa… biasa. Padahal dulu, tidak pernah terjadi. Beberapa menit mereka makan dalam diam. Suasana pagi terasa santai. Sampai akhirnya Ravika berkata, “Ven.” “Hm?” “Lo sadar nggak…” “Sadar apa?” “Kita sekarang sering banget bareng.” Arven mengangguk. “Iya.” “Dari
Last Updated: 2026-03-20
Chapter: Hari yang Sedikit Berbeda Pagi itu dimulai dengan suara hujan yang masih tersisa dari semalam. Bukan hujan deras, hanya rintik-rintik kecil yang jatuh pelan di atap seng, seperti sisa cerita yang belum benar-benar selesai. Ravika sudah bangun lebih awal. Kali ini bukan karena kebiasaan, tapi karena tidurnya memang tidak terlalu lelap. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, menatap lantai. Lalu menarik napas panjang. “Hari ini… apa lagi ya,” gumamnya pelan. Tidak ada jawaban. Tentu saja. Ia berdiri, merapikan rambut seadanya, lalu keluar kamar. Lorong masih sepi. Lampu masih menyala karena langit di luar belum benar-benar terang. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti kemarin— Ada kopi. Sudah siap. Ia berhenti sejenak. Menatap gelas itu. Senyum kecil muncul tanpa sadar. “Udah kebiasaan ya dia,” gumamnya. Ia mengambil gelas itu. Hangat. Pas. Ketika Ravika keluar ke teras, Arven sudah duduk di sana. Bukan menyapu. Bukan memperbaiki sesuatu. Hanya duduk,
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: Hal Kecil yang Mulai Berarti Pagi itu datang tanpa banyak suara. Tidak ada teriakan Bima. Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada kejadian aneh seperti gas habis atau air mati. Aneh justru karena semuanya terasa terlalu tenang. Ravika bangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Jam menunjukkan hampir pukul tujuh ketika ia akhirnya keluar kamar dengan rambut masih setengah basah setelah cuci muka. Lorong terlihat sepi. Beberapa kamar sudah kosong—penghuninya pasti sudah berangkat kerja lebih dulu. Ravika berjalan ke dapur. Di sana, ada satu hal yang langsung membuatnya berhenti. Di atas meja, sudah ada dua gelas kopi. Masih hangat. Uap tipis naik perlahan. Ravika menatapnya beberapa detik. “Ven?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Ia mengambil satu gelas. Masih hangat. Berarti belum lama dibuat. Dari arah teras, terdengar suara sapu. Ravika berjalan ke sana. Arven sedang menyapu halaman seperti biasa. Kali ini dengan kaos abu-abu dan celana pendek, terlihat santai seperti pagi-pagi sebelumnya. “Lo
Last Updated: 2026-03-18