author-banner
goresan pena amatir
goresan pena amatir
Author

Novel-novel oleh goresan pena amatir

Janda Cantik, Ibu Kosku

Janda Cantik, Ibu Kosku

Bimo mahasiswa yang baru pindah kos, tidak menyangka akan bertemu dengan Rara, ibu kosnya yang cantik dan penuh pesona . awalnya hanya hubungan ibu kos dan penghuni kos saja, tapi perlahan-lahan mereka terjebak dalam pesona satu sama lain, terlibat dalam hubungan rahasia yang penuh dengan gairah dan drama dibawah atap kos yang sama.
Baca
Chapter: Kesederhanaan adalah Kemewahan yang Tak Bisa dibeli Dengan Uang
Beberapa waktu setelah Bima menjadi ketua desa, banyak orang menasihatinya agar mengubah penampilan dan gaya hidup. Ada yang berkata agar ia membeli rumah yang lebih besar, pakaian yang mewah, dan kendaraan baru, supaya terlihat berkuasa dan dihormati warga.Suatu sore Bima datang ke teras tempat aku dan Rara duduk. Ia membawa majalah dan beberapa contoh pakaian mewah, wajahnya tampak bingung.“Kakek, Nenek… banyak warga menyarankan agar saya hidup lebih mewah. Mereka bilang kalau penampilan saya tetap sederhana, orang‑orang tidak akan takut dan tidak menghormati jabatan saya. Apakah benar begitu?”Aku berdiri perlahan, lalu mengambil dua buah kendi. Satu kendi terbuat dari keramik berhias warna‑warni mengkilap, ukirannya indah, harganya mahal. Yang lain kendi tanah liat biasa, tampak kusam tanpa hiasan apa‑apa. Keduanya aku isi dengan air dari mata air yang sama.“Coba minum dari keduanya Nak,” pintaku.Bima minum bergantian, lalu menggeleng. “Rasanya sama saja Kakek. Airnya jernih d
Terakhir Diperbarui: 2026-11-01
Chapter: Kerendahan Hati adalah Puncak Ketinggian Manusia
Bima kini telah tumbuh menjadi pemuda yang dihormati di desanya. Kata-katanya didengarkan, nasihatnya dimintai, dan keberhasilannya dikenal jauh ke luar desa. Namun semakin ia dihargai orang, semakin ia merasa perlu belajar tentang satu hal yang sering kali tergelincir tanpa disadari: kerendahan hati.Suatu hari ia pulang dengan wajah sedikit berbinar namun ada bayang kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. “Kakek… tadi di pertemuan desa semua orang menunjuk saya sebagai ketua baru. Mereka bilang saya orang paling bijak dan paling mampu memimpin di antara semua warga. Rasanya saya bangga sekali, seakan saya berdiri di atas bukit dan semua orang melihat ke arah saya.”Aku tersenyum lembut, lalu mengajaknya berjalan ke halaman belakang tempat tumbuh dua batang tanaman padi yang sedang berbuah. Yang satu batangnya tegak lurus ke atas, daunnya menjulang tinggi menantang angin, tapi isinya hampa ringan, buahnya kecil kering. Yang lain batangnya sedikit melengkung ke bawah, menunduk lembut,
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: Menghormati Tamu adalah Cermin Kemuliaan Tuan Rumah
Pagi itu hujan turun deras, membasahi bumi yang sudah lama menanti air. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu depan. Saat aku membukanya, berdiri seorang lelaki asing berpakaian basah kuyup, rambutnya meneteskan air hujan, wajahnya tampak lelah dan malu-malu.“Maaf mengganggu di pagi hari yang hujan ini,” ucapnya dengan suara rendah. “Saya tersesat dan kebetulan lewat di sini. Bolehkah saya berteduh sebentar sampai hujan reda? Saya tidak butuh apa-apa, hanya tempat berlindung sebentar saja.”Sebelum aku menjawab, Bima yang kebetulan ada di dekatku segera menyambutnya dengan senyum hangat. “Silakan masuk Bapak! Jangan berdiri di pintu, nanti kehujanan. Silakan duduk di sini, dekat api unggun kecil supaya hangat badan Bapak.”Ia segera mengambil handuk bersih, menyodorkannya dengan kedua tangan. Lalu ia menyajikan segelas air hangat dan sepiring pisang rebus yang baru saja matang. Tidak ada pertanyaan mencurigakan, tidak ada ragu di wajahnya, tidak ada penilaian dari penampilan tam
Terakhir Diperbarui: 2026-09-28
Chapter: Hati yang Tenang adalah Surga Dunia yang Sejati
Senja itu berwarna jingga keemasan, langit bersih tanpa awan, angin berhembus lembut menyentuh kulit. Aku dan Rara duduk di kursi rotan tua di teras, menikmati ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Arka dan Bima pulang dari ladang dengan langkah ringan, wajah mereka berseri namun terlihat lelah. Mereka duduk di hadapan kami sambil menghela napas panjang.“Kakek, Nenek,” ucap Bima pelan, “kami sudah memiliki rumah yang layak, makanan yang cukup, keluarga yang sehat, dan rezeki yang selalu tercukupi. Namun entah mengapa, kadang hati kami masih merasa gelisah. Pikirannya sering berpacu: besok bagaimana? Bagaimana kalau panen gagal? Bagaimana kalau sakit datang? Rasanya damai itu selalu terasa jauh, seakan tak pernah bisa digenggam.”Aku tersenyum lembut, lalu menunjuk ke arah sebuah mangkuk kaca bening yang berisi air keruh dan berdebu di atas meja. “Lihatlah air ini Nak. Saat dikocok, ia keruh dan tak bisa memantulkan bayangan apa pun. Tapi kalau kau diamkan sebentar, de
Terakhir Diperbarui: 2026-09-15
Chapter: Waktu Ibarat Pedang, Jangan Sampai Terbuang Sia-sia
Sore itu matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang perlahan meredup. Cahayanya seakan berpacu dengan waktu, menghilang sedikit demi sedikit tanpa bisa ditahan sedikit pun. Aku duduk di kursi teras yang sudah lama menjadi tempatku berpikir, menatap bayanganku yang makin memanjang dan perlahan tertutup kegelapan. Arka dan Bima berdiri di sampingku, ikut menatap matahari yang akhirnya sepenuhnya tenggelam di balik perbukitan.“Lihatlah matahari itu Nak,” ucapku pelan sambil menunjuk ke arah ufuk barat yang kini mulai kelabu. “Matahari sudah pergi untuk hari ini. Dan percayalah… ia tidak akan pernah kembali lagi ke hari yang sama, ke jam yang sama, ke menit yang sama persis seperti tadi. Yang akan datang esok hanyalah matahari yang baru, tapi waktu yang berlalu tadi telah hilang lenyap selamanya, tak bisa ditebus, tak bisa diputar ulang, tak bisa dibeli dengan harta seberapa pun melimpahnya.”Aku mengambil sebilah pisau belati yang terbuat dari baja terbaik, lalu m
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua adalah Kunci Pembuka Segala Pintu Rezeki
Waktu bagai sungai yang terus mengalir tanpa pernah kembali. Tubuhku dan Rara kini sudah mulai menunduk dimakan usia. Langkah kami perlahan menjadi pelan, pendengaran kami mulai berkurang tajam, dan rambut kepala serta janggut kami sudah seputih kapas tertiup angin. Meski demikian, hati kami merasa damai dan penuh syukur, karena melihat Arka dan Bima tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti dan penuh kasih sayang kepada kami.Suatu sore yang hangat dan cerah, aku duduk di kursi goyang kayu di teras, ditemani Rara di sampingku. Arka pulang dari ladang membawa hasil panen yang melimpah, wajahnya tampak cerah berseri-seri. Di belakangnya Bima berjalan memegang sebungkus obat-obatan dan makanan kesukaan kami, langkahnya ringan dan penuh hormat. Mereka berdua mendekat perlahan, lalu duduk di lantai rendah tepat di hadapan kami, tak pernah sekalipun berani duduk lebih tinggi dari kami.“Bagaimana hasil panen hari ini Nak?” tanyaku pelan dengan suara yang sudah sedikit bergetar.Arka tersenyum
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08
Ibu Kost yang menggoda

Ibu Kost yang menggoda

Ravika adalah seorang janda muda berparas cantik dan mempesona yang tinggal sendiri dan mengelola rumah kos sederhana peninggalan suaminya. Di balik senyum tipis dan sikap tenangnya, Ravika menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh—dan rahasia gelap yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Hingga suatu hari, datanglah Arven, anak kos baru yang tampan, dingin, dan cerdas. Kehadirannya membawa angin segar sekaligus badai yang tak terduga. Perlahan, interaksi antara Ravika dan Arven mulai melintasi batas antara ibu kos dan penyewa. Ketegangan semakin terasa di balik dinding kamar kos yang sempit—tatapan yang terlalu lama, sentuhan yang tak sengaja, dan percakapan yang terlalu dalam. Namun Arven tak datang hanya untuk menyewa kamar. Ia punya tujuan tersembunyi... dan masa lalu Ravika mungkin lebih berbahaya dari yang terlihat. Mampukah mereka menahan godaan yang terus membara? Ataukah semuanya akan berakhir dengan kehancuran yang tak terhindarkan? ---
Baca
Chapter: Awal Dari Selamanya
Pagi itu, matahari bersinar lebih hangat dari biasanya.Udara yang masuk melalui jendela membawa aroma bunga melati dari halaman kos.Ravika membuka pintu depan lebih awal dari biasanya.Ia menyapu teras seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi.Tidak ada yang berbeda.Namun kini, setiap kali ia menoleh ke arah halaman, selalu ada seseorang yang sedang membantunya.Arven."Biar aku saja."katanya sambil mengambil sapu dari tangan Ravika.Ravika tersenyum."Kalau semua kamu yang kerjakan, aku ngapain?""Duduk.""Temenin aku."Ravika tertawa kecil."Kamu ya..."Hari-hari kembali berjalan seperti semula.Arven kembali bekerja di kantor cabang di kota mereka.Ravika kembali mengurus kos dengan semangat.Namun ada satu perbedaan besar.Kini mereka tidak lagi dipisahkan oleh jarak.Tidak ada lagi panggilan video hingga larut malam.Tidak ada lagi hitungan mundur menuju kepulangan.Setiap pagi mereka bisa menikmati sarapan bersama.Setiap sore mereka duduk di teras sambil berbincang.Dan s
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: Langkah Baru Bersama
Pagi pertama setelah Arven kembali terasa begitu berbeda.Tidak ada lagi suara alarm yang terburu-buru.Tidak ada lagi jadwal panggilan video sebelum berangkat kerja.Yang terdengar hanyalah kicauan burung dari halaman kos dan aroma teh hangat yang dibuat Ravika di dapur.Arven membuka jendela kamarnya.Sinar matahari pagi masuk perlahan, menerangi ruangan yang sudah sangat ia rindukan.Ia menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, ia benar-benar bangun di tempat yang ia anggap sebagai rumah.Di dapur, Ravika sedang menyiapkan sarapan."Nasi gorengnya jangan gosong, ya."godanya ketika melihat Arven masuk.Arven tertawa."Tenang.""Aku kan sudah belajar masak selama di luar kota.""Oh ya?""Iya.""Lihat nanti hasilnya."Tak lama kemudian Bima muncul sambil menguap lebar."Wah...""Hari pertama Mas Arven pulang udah langsung pamer.""Aku cuma bantu masak.""Boleh."kata Bima."Asal jangan lupa jatah tester."Suasana dapur kembali dipenuhi tawa.Setelah sarapan ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: Surat Untuk Masadepan
Malam mulai turun perlahan.Suasana kos yang sejak pagi dipenuhi tawa akhirnya kembali tenang.Lampu-lampu hias yang dipasang para penghuni masih menyala, memberikan cahaya hangat di sepanjang teras. Bekas acara penyambutan mulai dirapikan bersama-sama. Piring-piring kotor dibawa ke dapur, kursi dikembalikan ke tempat semula, sementara balon-balon yang masih utuh dibiarkan menghiasi ruang tengah.Arven ikut membantu membereskan semuanya."Udah, istirahat aja."kata Bima."Baru sampai juga.""Nggak apa-apa."jawab Arven sambil mengangkat kardus bekas."Kalau semuanya kerja, aku masa cuma nonton.""Masih aja nggak enakan."celetuk Bima."Tiga bulan di luar kota ternyata nggak ngubah sifatmu."Semua orang tertawa.Setelah semuanya selesai, para penghuni satu per satu berpamitan kembali ke kamar masing-masing."Mas Arven, besok ngobrol lagi ya.""Siap.""Jangan kabur lagi.""Insyaallah nggak."Tak lama kemudian halaman kembali lengang.Hanya tersisa Arven, Ravika, Bima, Pak Hendra, dan Bu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Akhir dari Penantian
Mobil yang dikendarai Pak Hendra melambat ketika memasuki jalan kecil menuju kos.Jalan itu tidak berubah sedikit pun.Warung kopi di sudut gang masih buka sejak pagi.Penjual gorengan yang dulu sering didatangi Arven masih sibuk melayani pembeli.Bahkan pohon mangga di depan rumah warga masih berdiri kokoh, hanya saja kini daunnya tampak lebih rimbun.Arven memandangi semuanya tanpa berkedip.Rasa rindu yang selama ini hanya menjadi bayangan kini benar-benar berubah menjadi kenyataan."Masih ingat semua?"tanya Pak Hendra sambil tersenyum."Masih, Pak.""Jangankan lupa.""Sampai lubang di jalan depan warung itu juga masih hafal."Pak Hendra dan Bu Sari tertawa."Berarti memang sudah seperti rumah sendiri."Arven mengangguk pelan."Iya.""Karena memang rumah."Beberapa meter sebelum gerbang kos, Pak Hendra sengaja menghentikan mobil."Kenapa berhenti, Pak?"Pak Hendra mematikan mesin mobil."Kita jalan kaki saja.""Biar lebih terasa."Arven tersenyum.Ia mengambil koper dari bagasi, s
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Pertemuan di Terminal
Langit masih diselimuti warna kebiruan ketika bus yang ditumpangi Arven mulai memasuki kota.Ia membuka tirai jendela perlahan.Jalan-jalan yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel kini kembali berada tepat di depan matanya.Deretan toko yang sudah dikenalnya.Jembatan kecil yang selalu dilewati menuju kos.Warung nasi yang dulu sering menjadi tempat makan siang.Semuanya masih sama.Namun entah mengapa, semuanya terasa jauh lebih indah.Mungkin karena kali ini...ia pulang."Sepuluh menit lagi sampai terminal."Suara kondektur membuat beberapa penumpang mulai bersiap.Arven mengambil tas ranselnya, memastikan dompet, ponsel, dan amplop dari kantor pusat masih tersimpan rapi di dalamnya.Ia kemudian menarik napas panjang.Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.Tiga bulan.Penantian selama tiga bulan akhirnya benar-benar berakhir.Bus berhenti perlahan di terminal.Pintu terbuka.Satu per satu penumpang turun.Arven ikut melangkah keluar sambil menarik kopernya.Udara p
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Selamat Datang Kembali
Fajar baru saja menyingsing ketika alarm di kamar Arven berbunyi.Ia langsung terbangun.Hari ini bukan lagi hari kerja.Hari ini adalah hari kepulangan.Beberapa detik ia hanya duduk di tepi tempat tidur, memandangi kamar apartemen yang kini nyaris kosong.Dinding yang dulu terasa asing kini menyimpan banyak kenangan.Di sinilah ia belajar hidup sendiri.Di sinilah ia melewati malam-malam ketika rasa rindu begitu berat.Di sinilah ia belajar bahwa sebuah hubungan tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kepercayaan dan komunikasi.Arven berdiri, menarik napas panjang, lalu tersenyum."Sudah waktunya pulang."Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia memeriksa kamar untuk terakhir kalinya.Lemari sudah kosong.Laci meja tidak lagi berisi apa pun.Dapur kecil juga sudah dibersihkan.Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan tambahan bagi penghuni berikutnya.Sebelum keluar, Arven menoleh sekali lagi."Terima kasih."ucapnya pelan.Lalu ia menutup pintu apartemen.Bunyi klik dari kunci itu se
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14
Anda juga akan menyukai
Baby, oh Baby!
Baby, oh Baby!
Romansa · Zenny Arieffka
189.4K Dibaca
Jerat Ambisi Cinta sang Dokter
Jerat Ambisi Cinta sang Dokter
Romansa · Selfie Hurtness
188.6K Dibaca
Simpanan Istri Pejabat
Simpanan Istri Pejabat
Romansa · agneslovely2014
186.8K Dibaca
DENDAM LUKA LAMA
DENDAM LUKA LAMA
Romansa · Lis Susanawati
186.0K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status