Chapter: Bab:80"Violet?!" Pekik Livara kaget, tangannya refleks menutup mulutnya yang masih terbuka kecil. Ia bangkit dari kursinya dengan cepat.Violet yang mendengar pekikan itu hanya terdiam, kepalanya tidak juga ia dongakkan."Kamu mengenalnya?" Tanya Lucas dengan satu alis terangkat.Livara mendelik ke arah Lucas. "Dia sahabatku, Lucas." Ucapnya tegas.Lucas berdecih. "Apa? Sahabatmu?"Livara mengangguk cepat dengan senyum tipis, matanya sekilas melirik ke arah Violet. "Kamu tidak pernah menceritakan bahwa dia sahabatmu.""Itu karena kamu selalu sibuk, Lucas. Waktu itu kamu tidak pernah punya waktu untukku, makanya aku tidak pernah menceritakan tentang dia kepadamu." Jelas Livara, matanya kembali melirik Violet sebelum akhirnya ia melangkah lebar dengan perasaan senang yang tergambar jelas di wajah cantiknya.Violet masih menunduk, tidak bergerak."Ini benar-benar kamu, Violet?" Kata Livara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, kini berdiri tepat di hadapan Violet.Violet mend
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab:79 Akhirnya Violet bisa bernapas lega setelah melewati kerumunan karyawan Lucas di lobi yang tadi membuatnya begitu canggung. Hampir semua orang melirik ke arahnya, berbisik satu sama lain, entah membicarakan apa. Violet tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, namun ia cukup yakin bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan mereka, entah itu hal yang baik maupun sebaliknya. Yang terpenting, ia tidak perlu mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kini dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang terlihat luas dan tertata rapi. Sementara Lucas sudah fokus dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja kerja, Violet duduk di sofa dengan Azura dalam dekapannya, menyusuinya dengan dot setelah tadi sempat menangis. Kini Azura sudah mulai tenang. "Bagaimana?" Mendengar itu, Violet menoleh ke arah Lucas yang kini mengenakan kacamata, satu berkas kerja tergenggam di tangan kirinya. "Apanya, Tuan?" Tanya Violet bingung, tangannya masih memegang dot yang diisap
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Bab:78Setibanya di kantor, Violet yang masih duduk di dalam mobil terasa sedikit tegang ketika Lucas menyuruhnya untuk turun bersama.Violet tidak tahu harus bagaimana. Rasa canggung dan malu menyelimuti dirinya, apalagi di luar sana banyak karyawan Lucas yang pasti akan memandangi dirinya begitu ia keluar.Lucas berdeham pelan. "Kenapa kau diam? Aku menyuruhmu keluar, bukan menjadi hiasan di dalam mobil ini." Kata Lucas yang kini memegang handle pintu mobil yang terbuka sedikit.Violet melirik Lucas dengan bibir yang ia lipat ke dalam. "Maaf, Tuan. Aku rasa aku tidak bisa ikut Tuan masuk ke dalam." Kata Violet pelan, matanya sekilas melirik Azura yang kini asyik menarik-narik helai rambutnya.Lucas yang mendengar itu menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Kedua mata tajamnya melirik Jiver yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar keluar. Tanpa berpikir panjang, Jiver langsung turun dari mobil.Lucas mencondongkan tubuhnya ke arah Violet, membuat Violet langsung tersentak
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab:77"Sofia?"Sofia yang sedang sibuk dengan peralatan dapur kini tersentak kaget, mendengar panggilan tiba-tiba dari Violet yang langsung muncul di hadapannya dengan senyum lebar.Sofia berdecak pelan, melepaskan pisau yang ada di tangannya. "Violet, kamu ini bikin kaget saja." Ujar Sofia sambil mengelus dadanya.Violet terkikik kecil. "Maaf, kamu sedang sibuk ya?" Gumam Violet."Seperti yang kamu lihat, Violet. Aku kalau pagi-pagi begini pasti sibuk karena itu memang tugasku." Balas Sofia dengan mengangkat satu alisnya. "Lalu kamu ke sini ada perlu apa, ada yang bisa aku bantu?""Iya, Sofia. Aku mau kamu buatkan air panas, nanti simpan di termos kecil ini ya." Violet menyerahkan termos kecil yang ada di genggamannya."Siap, Violet." Seru Sofia sambil mengelap kedua tangannya di celemek. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia mengambil panci yang sudah terisi air."Sofia, aku juga mau bilang, kata Tuan Lucas pagi ini tidak usah membuat sarapan."Sofia yang baru saja menyalakan kompor kini
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab:76Violet mengedipkan kedua matanya tanpa disadarinya. Ia masih terpaku dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Lucas, membuat dirinya terdiam seribu bahasa.Lucas hanya diam, tangannya bergerak membuka bungkus rokok yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Violet masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.Lucas berdeham pelan. Suara itu membuat Violet tersadar dari lamunannya, dan dalam gerakan kecil yang tak disengaja, kedua mata mereka bertemu.Bibir Violet bergerak kecil, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya."Jika kau tidak mau, itu hakmu." Suara Lucas terdengar datar dan dingin.Violet membeku, sedikit tersentak. "Tidak, Tuan?!" Ucap Violet terputus, napasnya naik turun.Ia melangkah kecil ke arah Lucas yang kini mendongak ke arahnya, jari-jarinya mendorong batang rokok masuk ke dalam mulutnya."Apakah yang Tuan ucapkan itu benar?" Tanya Violet dengan nada penuh harap.Lucas menghembuskan asap rokok, lalu berdeham p
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: Bab:75 Violet terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya, jari-jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar amarah. "Jawab, Violet apa kau ingin membalas dendam kepada mantan suamimu itu?" tukas Lucas. Violet menoleh ke samping. Kedua matanya masih sedikit sembab, namun di balik tatapan sayu itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih keras sesuatu yang sudah lama ia pendam dan belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Ia menatap Lucas dengan perasaan yang kacau, karena mengingat semua itu terasa seperti membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. "Jika aku bilang iya, apa Tuan ingin membantuku?" suara Violet terdengar dingin, napasnya sedikit memburu. Lucas terdiam. Wajahnya datar, namun matanya menatap Violet dengan kedalaman yang tidak biasa. "Jadi kau memang ingin membalas dendam." Lucas menatap lekat wajah Violet yang kini juga menatap balik tanpa memalingkan diri. Violet tersenyum tipis, senyum yang terasa terlalu sayu untuk disebut sen
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Bab 45Serena masih terbaring di sofa. Tatapannya tertuju pada langit-langit apartemen dengan pandangan kosong. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, terutama tentang sampai kapan ia harus berada di tempat ini. Ares bahkan mengambil ponselnya, membuatnya tidak bisa menghubungi siapa pun atau sekadar mencari kesibukan untuk mengusir rasa bosan.Serena mengembuskan napas pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berdiam diri di sofa sambil menunggu waktu berlalu.“Bosan banget,” gerutu Serena pelan.Tiba-tiba, Serena tersentak ketika mendengar suara pintu kamar Ares terbuka.Ia langsung memejamkan mata dan kembali berpura-pura tidur sebelum Ares sempat menyadari bahwa dirinya sudah terbangun sejak tadi.Tak lama kemudian, Ares keluar dari kamar dengan langkah santai. Pria itu hanya mengenakan celana pendek, sementara satu tangannya sibuk menggosok rambutnya yang sedikit berantakan.Tatapannya langsung tertuju pada Serena yang masih berbaring di sofa. Ia memperhatikan gadis i
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: Bab 44 Malam harinya, sekitar pukul delapan lewat, Ares kembali ke apartemennya setelah menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Begitu masuk, ia mendapati apartemennya gelap. Ares sempat berpikir bahwa Serena mungkin sudah kabur. Namun, ia merasa gadis itu tidak mungkin pergi begitu saja. Serena tidak memiliki kartu akses apartemennya, dan tidak mungkin juga gadis itu nekat melompat dari balkon hanya untuk melarikan diri. Ares mencari sakelar, lalu menyalakan lampu. Pandangannya langsung tertuju pada Serena yang tertidur pulas di sofa panjang. Mochi duduk di atas perut gadis itu sambil menjilati bulunya sendiri. Ares terdiam sejenak, menatap Serena. Ada sedikit rasa iba yang muncul, tetapi ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kedua kaki Serena yang berada di ujung sofa. Kulitnya tampak kemerahan, bahkan beberapa bagian terlihat melepuh akibat kuah bakso yang tumpah tadi. Ares baru menyadari hal itu. Ares mendekat, lalu
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: Bab 43 Ares terus menarik Serena memasuki apartemennya tanpa memedulikan protes gadis itu sama sekali. Cengkeramannya pada lengan Serena tetap erat saat ia membawanya melewati lobi, memasuki lift, hingga menyusuri koridor menuju unit apartemennya. Serena terus berusaha melepaskan diri, tetapi Ares sama sekali tidak menggubrisnya. Begitu tiba di depan pintu apartemennya, Ares segera membukanya dan menarik Serena masuk dengan kasar. Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya, membuat tubuh mungil Serena oleng hingga terjatuh ke sofa. Serena spontan berpegangan pada dudukan sofa, lalu mendongak menatap Ares dengan wajah tegang dan tatapan penuh kebencian. “Aku udah bilang aku nggak mau di sini. ARES!” bentak Serena dengan suara yang meninggi. “Kenapa? Kenapa, hah?! Apa karena kejadian semalam itu? Iya?” tanya Ares dengan suara yang tak kalah tinggi. Tatapannya tertuju tajam pada Serena. Ada kemarahan yang jelas terpancar dari wajahnya, berbeda dari sikap dingin yang biasa diperlihatkannya
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: Bab 42 “Serena, kamu kenapa?” tanya Virgo panik. Virgo kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria yang berdiri di hadapan mereka. Ia tidak mengenal pria itu, tetapi dari tatapan tajamnya dan reaksi Serena yang terlihat ketakutan, Virgo bisa merasakan bahwa kedatangan pria tersebut membawa masalah. Siapa dia? Mengapa Serena sampai ketakutan seperti itu? Sementara itu, Ares hanya tersenyum tipis dengan tatapan yang semakin tajam. “Kenapa kamu di sini?” tanya Serena ketus, meskipun bibirnya masih bergetar. Ares mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? Memang nggak boleh?” balasnya datar. “Katanya kerja, ternyata malah sibuk makan berduaan sama pria simpanan.” Mendengar itu, rahang Serena mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Maksud kamu apa, hah? Berani-beraninya kamu bilang dia pria simpanan!” seru Serena yang mulai emosi. “Dia itu teman aku, Ares! Teman kerja aku!” bentaknya. “Lagian, kenapa kalau aku lagi makan berdua dengannya? Pria lain, memangnya kenapa?” Se
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: Bab 41 Di dalam mobil, Ares sedang mengemudi bersama Bianca. Mereka tengah menuju mal atas permintaan Bianca yang sejak tadi ingin menghabiskan waktu bersama Ares. Sepanjang perjalanan, Ares lebih banyak diam dengan pandangan lurus ke depan. Sementara itu, Bianca sesekali mengajaknya berbicara, meskipun pria itu hanya menanggapi seperlunya. Mobil mereka akhirnya berhenti di persimpangan ketika lampu lalu lintas berubah merah. Sambil menunggu lampu kembali hijau, Bianca tanpa sengaja melirik ke luar jendela. Pandangannya tertuju pada sebuah warung bakso di seberang jalan. Namun, bukan warung itu yang membuatnya tertegun. Di sana, ia melihat Serena sedang duduk bersama seorang pria yang tidak dikenalnya. Keduanya tampak menikmati makanan mereka. Bahkan, Serena terlihat tertawa lepas mendengar sesuatu yang dikatakan pria di hadapannya. Bianca mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Setelah yakin, ia segera menoleh ke arah Ares. “Ares, itu bukannya Serena, y
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: Bab 40“Mana Serena?”Ares melontarkan pertanyaan itu begitu melihat Arga berada di salah satu sudut kampus, tak jauh dari gedung fakultas. Adik kembarnya itu sedang duduk di bangku taman sambil memainkan ponsel.Arga mengangkat wajah. Ia tampak sedikit heran mendengar pertanyaan tersebut.“Lah, kenapa nanyain Serena?”“Dia pergi sama kamu, kan?”“Iya, tadi pagi memang pergi sama aku. Tapi hari ini dia nggak masuk kuliah. Aku cuma nganterin dia ke tempat kerja.”Ares terdiam. Tak ada pertanyaan lain yang keluar dari mulutnya. Ia langsung berbalik, berniat meninggalkan tempat itu.“Mau ke mana?” seru Arga sebelum Ares benar-benar menjauh. “Mau nyusul Serena?”Ares menghentikan langkahnya sesaat, lalu menoleh dengan tatapan dingin.“Bukan urusan kamu.”Setelah mengatakan itu, Ares kembali melangkah pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun.Arga hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Tatapannya mengikuti kepergian kakak kembarnya itu hingga sosok Ares menghilang di balik gedung
Last Updated: 2026-10-25