LOGINSetelah kehilangan putranya, Violet menerima sebuah tawaran yang tak pernah ia bayangkan: menjadi babysitter sekaligus ibu susu bagi putri kecil seorang mafia paling kejam di Arvenzia. Tawaran itu menyelamatkannya dari rumah sakit—namun menyeretnya ke dunia yang jauh lebih berbahaya. Lucas William Maverick, pria dingin yang ditakuti banyak orang, juga menyimpan luka yang sama: kehilangan istri yang ia cintai. Demi putrinya, ia membutuhkan Violet. Namun kehadiran wanita itu perlahan meruntuhkan dinding yang selama ini ia bangun. Di tengah dunia mafia yang penuh rahasia dan ancaman, batas antara kewajiban dan perasaan mulai kabur. Ketika cinta tumbuh di tempat yang salah, pilihan apa yang harus diambil? Karena dalam dunia Lucas, cinta bukan perlindungan—melainkan kelemahan.
View MoreButiran air mata terus mengalir membasahi wajah Violet. Ia tengah memandangi makam putra semata wayangnya. Ia berdiri terdiam dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan dalam hidup Violet. Bayi yang telah lama ia nantikan kehadirannya itu lebih dahulu diambil Tuhan kembali. Violet bahkan belum sempat mengenal buah hatinya dengan baik. Lutut Violet melemas dan ia pun jatuh terduduk di atas tanah. Rasa sakit fisik tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kepedihan yang merobek jiwanya. “Nak, kenapa kamu secepat ini meninggalkan mama?” ucapnya dengan suara bergetar. Isakan pecah dari bibir pucatnya saat ia memeluk erat nisan kecil itu, seolah – olah batu dingin itu adalah tubuh mungil sang buah hati. Violet tak sempat memeluk putranya. Ini karena Marko, suaminya, telah melarangnya menggendong putra mereka, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pun tak bisa. Violet enggan menandatangani surat warisan dari mendiang ayahnya. Kemudian Marko menjadi marah besar sehingga melarang Violet untuk menyentuh putranya sekali pun. Kekejaman itu kembali menikam hatinya. Marko sama sekali tidak menunjukkan kesedihan atas kematian anak mereka. Violet ingat bagaimana suaminya itu tidak meneteskan air mata sedikit pun. Bahkan ia tidak hadir dalam pemakaman ini. Terlebih lagi, Marko telah mengusirnya dari rumah hari ini. Ia diusir tanpa dasar kesalahan yang diperbuat. Jari – jari Violet kembali menelusuri nama yang terukir di nisan, sementara air mata kembali memburamkan pandangannya. Ia telah kehilangan segalanya anak, pernikahannya, rumahnya. Masa depan yang pernah ia impikan hancur menjadi debu dalam satu hari. “Maafkan Mama yang tidak bisa melindungimu, Nak,” bisiknya pada itu. “Mama sangat menyesal.” Langit kemudian mulai menggelap, awan kelabu berkumpul, terlihat akan segera turun hujan. Namun Violet tetap tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih dalam posisi yang sama, menangis dalam diam. Tiba – tiba, ia merasakan nyeri yang menusuk di dadanya. Violet secara refleks menekan area tersebut dengan lembut sambil meringis menahan sakit. “Apa yang terjadi?” gumamnya pelan sambil menggigit bibir bawahnya kuat – kuat. Ini pertama kalinya ia merasakan nyeri seperti ini-sensasi penuh, panas, dan tekanan yang tidak nyaman di payudaranya. Ia mengerutkan dahi, kemudian menyadari kemungkinan penyebabnya. Tentu saja. Ia tidak pernah berkesempatan menyusui anaknya, menyebabkan dadanya sesak karena asi yang tidak pernah dikeluarkan. Tubuhnya telah mempersiapkan diri untuk menjadi ibu, namun tidak ada bayi yang akan ia susui. “Aku harus ke rumah sakit,” bisiknya sambil perlahan bangkit berdiri. Sebelum pergi, Violet menatap dalam – dalam nisan kecil di hadapannya. Matanya kosong, hampa, namun penuh dengan kesedihan. Setelah itu, ia berbalik dan melangkah meninggalkan pemakaman anaknya dengan langkah gontai. Di sudut lain pemakaman, di bawah pohon besar yang rindang, terdapat area pemakaman eksklusif untuk keluarga – keluarga berkuasa. Di sanalah Lucas William Maverick berdiri. Lucas, seorang mafia berdarah dingin yang memiliki kekayaan berlimpah dan kekuasan yang tersebar tidak hanya di Negara ini, tetapi juga di berbagai Negara lain. Lucas dikenal sebagai mafia paling kejam yang pernah ada. Namun, tidak ada yang benar – benar mengetahui sosok asli dirinya. Tidak seperti mafia lain yang dengan sombong memamerkan identitas mereka, Lucas selalu bergerak dalam bayang – bayang. Kini ia berdiri di depan makam istrinya yang baru saja dimakamkan. Seorang ajudan dengan setia memayunginya, melindunginya dari gerimis yang mulai turun. Di sekeliling, puluhan pria berbaju serba hitam berdiri tegap-semuanya adalah anak buahnya, berjaga dalam keheningan yang penuh hormat. Lucas menatap nisan sang istri dengan tatapan kosong. Ekspresi wajahnya dingin, tidak terbaca. Tidak ada yang bisa menebak apakah ia sedang berduka atau tidak. Wajahnya seperti topeng sempurna-tidak menempakkan emosi apa pun. Dari kejauhan, Violet yang sedang berjalan keluar dari area pemakaman tanpa sengaja melihat sosok Lucas. Ia berhenti sejenak, menatap pria itu dari kejauhan. Tatapan kosong pria itu membuat Violet merasa terlihat di dunia. Ada orang lain yang sama berdukanya hari ini. Meski hanya dari kejauhan dan tak saling mengenal, Violet tidak merasa sendiri. Violet lantas melanjutkan langkahnya. Dadanya semakin nyeri. Ia harus pergi dari tempat ini. Sementara hujan mulai turun lebih deras, dua jiwa yang hancur itu terpisah oleh jarak dan keadaan – namun terikat oleh kesedihan yang sama mendalam. ****** “Jadi, ini hal yang normal untuk seorang ibu yang telah melahirkan?” tanya Violet, masih terdengar ragu setelah mendengar penjelasan dokter wanita di hadapannya. Dokter itu tersenyum tipis, penuh pengertian. “Ya, Bu Violet. Rasa nyeri itu memang akan datang,” jawabnya dengan lembut. Violet menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?” “Ibu Violet bisa mendonorkan ASI. Seperti saran yang telah saya jelaskan tadi,” sahut sang dokter. Ia kemudian menatap Violet. “Bu Violet bisa memompa ASI, kemudian silakan menuju meja administrasi di luar untuk proses pendataan donor ASI.” Violet mengangguk, ia memompa ASI-nya terlebih dahulu. Setelah selesai dan nyeri di dada berangsur hilang, ia lantas berjalan ke luar ruangan. Perasaannya masih begitu campur aduk sekarang. Nyeri di dada yang ternyata berhubungan dengan kematian putranya membuat hatinya meringis. Lamunan Violet dipecah dengan suara beberapa perawat yang bercengkrama. “Apa mereka belum menemukan seorang wanita yang menyusui untuk putrinya?” bisik perawat satu. “Aku rasa belum.” sahut perawat lainnya. Violet terdiam, pikirannya tiba-tiba berkecamuk. Apa sebaiknya ia menawarkan diri? Tanpa pikir panjang, Violet memberanikan diri untuk menghampiri perawat-perawat itu. “Maaf, saya tidak sengaja dengar… Apakah ada pasien yang membutuhkan ASI untuk anaknya?” Kedua perawat itu menoleh. “Apakah ibu ingin mendonorkan ASI?” tanya salah satu perawat. “Ya, saya baru saja bertemu dokter dan diarahkan untuk mendonorkan ASI.” “Kalau begitu,” kata perawat itu sambil mengarahkan jalan menuju meja administrasi. “Ibu bisa mendonorkan ASI ke pasien ini.” Sang perawat memberikan kertas berisi sebuah alamat. “Pasien ini juga membutuhkan seorang babysitter. Jika berkenan, ibu dapat pergi ke sana langsung untuk informasi lanjutan,” jelas sang perawat lagi. Violet terdiam mendengarnya. Ia menimbang-nimbang. Bekerja menjadi babysitter tidak terdengar buruk. Ia dapat merasakan menjadi seorang ibu. Lebih dari itu, pekerjaan itu bisa menjadi jalan baginya untuk bertahan hidup. Sekarang ia tidak memiliki apa – apa lagi setelah diusir oleh Marko. Tidak ada rumah, tidak ada uang, tidak ada tempat tujuan. Pekerjaan itu mungkin satu – satunya harapannya. Violet pun mengangguk dan menerima kertas itu, melipatnya dengan hati – hati. Ia membaca nama yang tercantum di atas alamat itu. “Kediaman keluarga Maverick…”“Apa? Menikah?” ulang Lucas, masih tidak percaya. Wajahnya menegang, keterkejutan jelas tergambar di sana.Darren mengangguk pelan dengan senyum tipis. “Iya. Axel, adikmu, ingin menikahi wanita yang menjadi babysitter keponakannya sendiri,” ujarnya tenang seraya menyalakan rokok yang baru saja diambil dari saku jasnya.“Aku tidak menyangka putra keduaku jatuh cinta pada wanita rendahan itu. Padahal dia yang paling membenci perempuan seperti itu. Sekarang dia justru menelan ucapannya sendiri.” Darren tertawa kecil, sementara Lucas terdiam mematung.“Jadi itu alasan mengapa dia betah pergi ke mansion-mu, Lucas. Ternyata hanya untuk melihat wanita itu.”Kedua tangan Lucas mengepal kuat. Napasnya memburu, dadanya terasa membara ketika mengetahui Axel ingin menikahi Violet. Kedua telinganya terasa panas. Bukan semata karena Violet hanyalah seorang pengasuh anak—ada perasaan lain yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang sulit ia akui.Darren yang menyadari perubahan putra sulungnya itu mena
"Azura, kamu ini mirip siapa sih? Cantik sekali." Gumam Violet tersenyum ke arah Azura yang ia letakkan di atas kasur miliknya setelah memandikan bayi mungil itu. Azura yang mendengar suara Violet langsung memegang kedua jari telunjuknya dengan tangan mungilnya yang berbeda. Mulut mungil itu berceloteh tidak jelas, kaki kecilnya melengkung ke bawah dengan kedua kakinya sedikit terangkat. "Kamu itu mirip Tuan Lucas atau mama kamu ya, Azura?" tanya Violet seperti orang bodoh karena bertanya pada bayi yang belum sama sekali bisa melafalkan kata-kata. Violet tersenyum sambil memakaikan Azura sebuah dress kecil yang begitu mewah tanpa motif. "Tapi Bibi yakin kalau kamu itu pasti lebih mirip mama kamu, Sayang," celoteh Violet sambil mencubit hidung mancung Azura. Azura yang diperlakukan seperti itu tersenyum kecil dengan celotehan lucunya. "Nah, sekarang sudah cantik, Azura," pinta Violet setelah mengoles sedikit bedak di pipi gembul Azura. "Oh iya, Bibi lupa kasih kamu parfum." Vi
"Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—sebuah kebiasaan yang selalu Sofia lakukan saat ia merasa gugup atau tidak yakin. "Violet, Tuan Lucas kenapa?" tanya Sofia sambil langsung berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang Violet dengan gerakan yang hati-hati, berusaha tidak membangunkan Azura yang masih tertidur pulas di samping Violet. Violet menghela napas panjang, dadanya terasa berat dengan semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya. "Memangnya dia kenapa, Sofia?" ujar Violet sambil berbalik bertanya, mencoba terlihat tidak mengerti apa yang Sofia maksud, meskipun sebenarnya ia tahu persis apa yang akan Sofia tanyakan. "Tuan Lucas terlihat seperti sedang marah atau sangat kesal saat aku melihat ekspresinya keluar dari kamarmu
Pintu kamar Violet terbuka perlahan, membuat Violet yang tadinya hendak memejamkan mata kini membatalkan niatnya saat melihat Lucas memasuki kamar dengan wajah datar yang penuh ketegangan. Aura yang dibawa pria itu sangat berbeda dari biasanya—lebih gelap, lebih berbahaya, dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Violet artikan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya dengan santai, namun setiap langkahnya memancarkan kekuasaan dan dominasi yang sangat kuat. Lucas menarik kursi hias milik Violet dengan gerakan yang tenang namun penuh kepastian. Setelah itu, ia duduk di samping ranjang Violet dengan posisi yang sangat rileks, seolah ia adalah raja yang sedang duduk di singgasananya. "Apa kau tidak merasa sakit lagi?" tanya Lucas dengan nada basa-basi yang terdengar tidak biasa keluar dari mulutnya. Violet yang mendengar pertanyaan itu langsung mengambil posisi duduk dengan tubuh bersandar ke belakang, mencoba menciptakan jarak yang aman di antara mereka. Jantung
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews