author-banner
Aulia Yolanda
Author

Nobela ni Aulia Yolanda

Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan

Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan

Sebuah kejadian tak terduga di Museum membawa Alea pada dunia yang tak pernah ia kenal, Keraton Mataram di abad ke-16. Terjebak dalam peran yang bukan miliknya, Alea harus bertahan di tengah intrik keraton, rahasia yang terkubur, dan masa lalu yang perlahan mengikat hatinya. Di antara dua sosok yang hadir dalam hidupnya, serta bayangan pengkhianatan yang kian nyata, Alea dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan. Karena ada ikatan yang tak mudah dilepaskan bahkan oleh waktu.
Basahin
Chapter: 110 - Penyerangan Lagi
Nawang berhenti di dekat pohon. Napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran. "Gusti Rara! Berhenti! Mengapa kau kabur seperti pencuri! Memalukan saja!" Teriak Kenanga dari belakang. Dan akhirnya ia pun berhasil menyusul Nawang. Keduanya terengah-engah. "Gusti Rara... kau... membuatku malu... di hadapan... para raden..." kata Kenanga. Napasnya belum stabil. "Maafkan aku, Kenanga. Aku panik dan malu karena mendadak ketemu mereka." Kenanga melengos kesal. Lirikkannya tajam seperti siap menerkam Nawang kapanpun. Dan Nawang hanya bisa cengegesan. "RARA NAWANG!" suara lantang Raden Rangga menyentak Nawang dan Kenanga. Mereka berdua menoleh ke belakang dan mendapati Rangga berlari menyusul mereka. "Kenapa mereka ngejar?!" Panik Nawang. "Semua ini karena kau, Gusti!" Gertak Kenanga. Pertama kalinya Kenanga terlihat tak lemah lembut di hadapan Nawang. Raden Rangga berhasil menyusul mereka dan menghentikan Nawang yang baru saja ingin melarikan diri lagi. "Mengapa.
Huling Na-update: 2026-04-03
Chapter: 109 - Kepergok Raden
Para raden kini sedang beristirahat di sebuah gubuk tepi ladang. Patih Singaranu sedang bicara berdua dengan Bekel dan pemilik ladang. Hari sudah mulai mendekati sore, para pekerja di ladang satu-persatu membubarkan diri. Mereka bisa melihat peluh keringat lelah dari setiap wajah yang ada di sana. "Pasti mereka kesulitan bekerja dengan lahan seperti ini. Tetapi, semangat mereka tidak padam." Ujar Raden Purbaya. "Benar, Kangmas. Rakyat di desa ini belum menyerah. Untung saja laporan itu segera sampai ke keraton." Sahut Wiraguna. "Hei, kalian. Lihatlah disana. Apa yang dua orang gadis muda itu lakukan di ladang seperti ini?" Ketiga saudaranya sontak menatap ke arah yang sama. Mereka melihat dua gadis dengan pakaian kebaya yang sangat sederhana dan kepala yang tertutup selendang. Wajah mereka tidak begitu jelas karena posisi yang hampir membelakangi para raden. Sementara itu... "Kenapa tanah ini tampak berantakan sekali?" Ujar Nawang dengan heran melihat tampilan ladang y
Huling Na-update: 2026-03-19
Chapter: 108 - Putri Yang Jenuh
"Kenanga? Apa kamu nggak pernah bosan berada di dalam keraton ini setiap hari?" Tanya Nawang. Mereka kini berada di taman kecil yang ada ayunan milik Nawang. Nawang duduk di ayunan itu, sementara Kenanga duduk di atas sebuah batu. "Bosan?" Kenanga mengulang kata yang tak ia pahami itu. "Maksudnya... jenuh. Kamu nggak jenuh?" "Hmmm. Sedikit, Gusti. Kenapa? Apa kau sedang merasa jenuh?" "Ya. Aku pengin jalan-jalan keluar keraton. Lihat rakyat, dan pemandangan diluar sana. Aku juga ingin melihat laut Lasem dengan jelas." Ujar Nawang sembari mengayunkan kakinya pelan. "Tapi... Kanjeng Nyai dan Kanjeng Adipati Agung sepertinya tidak akan merestui, Gusti." "Tapi aku bosan banget!" "Kalaupun diizinkan, kau perlu dikawal prajurit, Gusti." "Dikawal? Ah, males banget. Aku cuma mau jalan-jalan normal aja." Keduanya terdiam sejenak. Hening, hingga tiba-tiba seseorang datang dari belakang. Kenanga segera menangkap kehadirannya. Seketika ia bersimpuh dan menunduk. Nawang meng
Huling Na-update: 2026-03-09
Chapter: 107 - Desa Tegalpandan
Di dalam Balairung Agung, suasana rapat pagi hari itu semula tenang. Panembahan Senopati duduk bersila di atas singgasananya, sementara para raden serta Patih Singaranu berjajar dengan sikap hormat. “Kanjeng Panembahan,” ucap Patih sembari menyembah, “hamba membawa laporan dari para priyayi bawahan. Dari Bekel Tegalpandan, diteruskan kepada Wedana, lalu Bupati, hingga akhirnya sampai kepada hamba.” Panembahan mengangguk pelan, memberi isyarat agar Patih melanjutkan. “Desa Tegalpandan sedang mengalami masa paceklik,” sambung Patih. “Musim yang tak menentu menyebabkan gagal panen. Banyak dari rakyat kecil yang kehilangan tanah pribadi akibat sisa pergolakan dengan Pajang tempo hari. Beberapa yang tersisa pun rusak dan tak dapat digarap seperti sediakala.” Para raden saling pandang, sebagian mulai mengerutkan dahi. “Selain itu,” Patih menunduk sekali lagi, “telah banyak keluhan tentang kerja rodi. Warga yang sudah lanjut usia masih dilibatkan, sementara tenaga muda mereka tak
Huling Na-update: 2026-03-04
Chapter: 106 - Sahabat
"Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k
Huling Na-update: 2026-03-02
Chapter: 105 - Waktu Pun Berlalu
"Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant
Huling Na-update: 2026-02-28
Maaari mong magustuhan
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status