Chapter: 158 - Restu Ibu"Bagaimana kabarmu, Sekar?" Tanya Nyai Semangkin berbasa-basi. Melihat ekspresi Sekar yang kaku, Nyai Semangkin tahu bahwa gadis itu telah mendapat peringatan tajam dari sang ratu. "Hamba baik-baik saja, Gusti Nyai." "Aku tahu keresahanmu, Sekar. Tetaplah menjadi gadis yang tegar. Jika Ramamu memang tidak bersalah, kalian semua pasti akan baik-baik saja," nasihat sang nyai. "Nggih, Gusti Nyai. Hamba akan selalu mengingatnya." Nyai Semangkin tersenyum simpul. Ia menyentuh pundak Sekar sebelum melangkah melewatinya. Namun, saat Nyai Semangkin belum begitu jauh darinya, Sekar bisa mendengar Nyai Semangkin berbicara kepada abdi dalem senior.. "Putraku akan menemuiku. Tolong persiapkan sesuatu yang baik untuknya." "Sendika, Gusti Nyai," jawab salah seorang abdi dalem tersebut. Disitu, Sekar tampak berpikir. "Raden Rangga akan menemui Nyai Semangkin di Keputren ini? Ada apa? Tidak biasanya," gumamnya. ⏳️⏳️⏳️ Setelah mendapat restu dari Panembahan, Raden Rangga pun segera mela
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: 157 - Sekar dan Kanjeng Ratu "Gusti Rara? Apa yang tejadi?" Namun sang Gusti Rara tidak menjawab. Ia masih merasakan ketakutan. Hal ini tertangkap langsung dalam penglihatan Dyah Kusumawati. Sontak wanita itu bergerak cepat menghampiri sang putri. "Nawang? Ada apa denganmu? Apa kau kesakitan?" Cemasnya panik. "A-aku... hanya kelelahan saja, Ibu," kilahnya. Ia tak mungkin berterus terang mengenai penglihatannya tadi. "Kalau begitu, segeralah kembali ke kamarmu. Mbakyu, cepat antar Gusti Rata ke kamarnya," perintahnya pada dayang yang kini bertugas menggantikan mendiang Kenanga. "Sendika, Kanjeng Nyai." Dan segeralah Nawang dibawa pergi dari sana. Adipati Agung yang sempat menyaksikan keanehan itu langsung menghampiri istrinya. "Apa putri kita mengalami sesuatu?" "Sepertinya dia memang butuh perawatan yang ketat, Kakangmas. Tadi, dia terlihat cemas dan ketakutan entah karena apa." Adipati Agung menghela napasnya berat. "Dia tidak boleh melakukan kegiatan yang terlalu berat. Dan tidak boleh dibiark
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: 156 - Perasaan Lalu"Bagaimana jika akhirnya aku memilihmu?" Pertanyaan itu langsung keluar begitu saja dari mulut Wiraguna. "Lalu bagaimana dengan Sekar? Apakah dia baik-baik saja? Dan kau... apakah tidak akan tersiksa dengan pilihan itu? Ya, memang pada dasarnya pilihan itu jatuh demi nama kerajaan. Bukan karena hati," tatapan merekapun kembali bertemu. Wiraguna pun mendesahkan napas panjang hingga kemudian senyuman kecil namun terasa meremehkan tercetak di wajahnya. "Lalu bagaimana denganmu, Nawang? Jika kau akhirnya bersamaku, apakah kau juga akan tersiksa dengan pilihan itu? Karena... menikah adalah pilihan, tetapi mencintai adalah takdir. Sekuat apapun menghindari, dihati kita, nama dia akan selalu abadi. Artinya... kau menikahiku, tetapi hatimu hanya untuk Raden Rangga. Hanya dia yang abadi dalam hatimu. Benar, kan?" Balasan Wiraguna sukses membuat jantung Nawang berdetak cepat. Skakmat! Nawang langsung membuang muka. Enggan menatap Wiraguna. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Bola
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: 155 - Hadiah dari WiragunaKedua lututnya ditekuk erat ke dada, sementara jemarinya menggenggam lemah ujung kain yang menutupi sebagian kakinya. Pandangannya tetap lurus ke depan, menatap hamparan tanah sunyi yang dipenuhi batang-batang pohon besar menjulang tinggi. Burung-burung kecil berkicau bersahutan di antara ranting-ranting jati, seolah mencoba mengisi kehampaan yang sejak tadi menyelimuti tempat itu. Namun Nawang tetap membisu. Matanya kosong. Pikirannya entah berada di mana. Sampai tiba-tiba, sesuatu yang hangat terasa menyentuh kedua bahunya. Nawang tersentak kecil. Refleks ia menoleh cepat ketika sehelai kain besar bermotif batik halus tersampir rapi menutupi tubuhnya. Kain itu begitu indah, berwarna gelap dengan motif parang dan sulur keemasan yang tampak mahal bahkan hanya dari sekali pandang. Dan saat menoleh, ia langsung mendapati sosok Raden Wiraguna berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tampak tenang seperti biasa. Mengenakan beskap gelap sederhana tanpa terlalu banyak atribut kebangsawana
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: 154 - Pemakaman Kenanga"Aku lelah..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Aku benar-benar lelah, Ibu." Dan kalimat itu sukses membuat sorot mata Dyah Kusumawati bergetar kecil. Karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke Kadipaten Lasem, putrinya akhirnya mengakuinya. Mengakui bahwa ia tidak sekuat yang selama ini ia tunjukkan. Perempuan itu lalu menarik tubuh Nawang perlahan ke dalam pelukannya. "Kau tidak harus selalu kuat," bisik beliau lembut sambil membelai rambut putrinya. "Bahkan langit pun menangis melalui hujan." Gadis itu mencengkeram kain sang ibu erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat pulang yang masih ia miliki malam itu. "Aku merindukannya..." ucapnya terbata. "Aku sangat merindukan Kenanga." "Ibu tahu." "Rasanya sakit sekali," "Ibu tahu, Anakku." Dyah Kusumawati memejamkan mata sejenak, lalu kembali mengelus punggung putrinya perlahan. "Namun dengarkan satu hal ini baik-baik, Nawang," ujarnya pelan. "Selama kau masih hidup, maka orang-orang yang mencintaimu a
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: 153 - Tangisan NawangHarum bunga kenanga dan melati masih memenuhi seluruh ruangan keputren malam itu. Uap tipis dari air hangat pasiraman seolah masih melekat di kulit Raden Rara Nawang. Rambut hitam panjangnya yang setengah basah telah disanggul sederhana, dihiasi untaian melati yang menjuntai hingga bahunya. Kain batik halus bermotif parang berwarna gading membalut tubuhnya dengan anggun, sementara kebaya lembut berwarna nila tua membuat kulitnya tampak semakin pucat bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Sangat cantik. Persis seperti biasanya. Namun entah mengapa, malam ini semua terasa begitu asing. Sunyi dan hampa. Perlahan, Nawang mengangkat wajahnya menatap bayangan dirinya di cermin rias berukir emas tua di hadapannya. Matanya kosong. Tak hidup. Seolah perempuan di balik pantulan itu bukan dirinya lagi. Di meja kecil dekat cermin masih tersusun rapi, bokor berisi bunga setaman, sisir cendana, minyak rambut melati, serta botol kecil wewangian kesukaan Nawang. Biasanya... semua itu disent
Last Updated: 2026-06-06