Chapter: 170 - Adipati AnomRatu Waskitajawi menjadi salah satu yang pertama mendekat, diikuti para wanita bangsawan lainnya. Namun di tengah suasana sakral itu, tatapan Raden Rara Nawang justru tampak kosong. Ia berdiri di antara para wanita keputren dengan wajah tenang seperti biasa. Tetapi jauh di dalam hatinya, bayangan penglihatan semalam masih terus menghantuinya.Tentang Wilakrama dan tentang hutan.Dan tentang sosok yang jatuh terkena anak panah. Nawang mencoba memusatkan perhatian pada jalannya upacara, namun setiap denting gamelan justru terasa seperti pertanda buruk yang semakin mendekat. Sementara itu, di sisi lain pendopo, Raden Rangga diam-diam memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Dan tersembunyi di balik lipatan kain sabuknya, tersimpan sebuah kotak kayu kecil berisi jamang emas yang belum sempat ia berikan.Ketika acara telah selesai total pada sore hari, Raden Rangga berniat untuk menghampiri gadis pujaannya itu. Tapi sayangnya, ia terpaksa harus memenuhi panggilan ke Pendopo Agung lagi. Ia ti
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 169 - PernikahanDi tempat lain, tepatnya di sebuah serambi di dalam Balewarna saat ini, Raden Rangga duduk sendirian sambil menengadahkan kepalanya ke arah rembulan malam yang terselimuti awan gelap. Rasanya aneh sekali baginya. Namun, Rangga tak menatapnya lama. Ia tak peduli mau bagaimana suasana langit saat ini. Di tangan kanannya tergenggam sebuah jamang kecil yang sudah ia simpan sejak setahun yang lalu. Niatnya ia ingin memberikan kepada Nawang ketika pertemuan di Pendopo Agung selesai. Tetapi ia malah tidak bertemu dengan gadis itu sama sekali. Ia mendapatkan jamang itu di pasar dekat Kotagede. Dibuat langsung oleh empu perhiasan langganan Keraton Mataram. Malam itu, dengan dikawal dua prajurit, Raden Rangga pergi diam-diam ke sebuah pasar dengan pakaian sederhana yang tidak terlaku mencolok. Deretan kios di dekat pasar Kotagede mulai sepi ketika Raden Rangga turun dari kudanya. Ia menyuruh dua prajuritnya untuk menunggu. Langkahnya berhenti di sebuah pendopo kecil beratap rendah milik seoran
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 168 -Kegelisahan NawangHari itu juga Wilakrama dibawa ke Keraton menggunakan kurungan dari bambu yang dibawa oleh seekor kuda biasa. Kaki dan tangannya masih terikat kuat. Sepanjang jalan, wajahnya tak ramah dan seolah dipenuhi dendam. Dan sepanjang perjalanan itu pula, pikiran Arya selalu tak tenang. Sebenarnya pun dulu ia sempat merasa curiga dengan Sekar Wangi. Tetapi ia tidak berani bicara atau mencari tahu. Hingga seiring berjalannya waktu, pikiran itu terlupakan. Tapi di titik ini ia malah mendapat semua kebenarannya. Melewati pemukiman rakyat, Wilakrama mendapat banyak teriakan kasar. Cemoohan, hinaan, bahkan sampai dilempari bebatuan. Namun Wilakrama tetap diam dengan memasang wajah bengisnya. Hingga akhirnya tibalah ia di Keraton Mataram. Kedatangannya ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh Panembahan Senopati, Ki Juru Martani, Ki Penjawi, Adipati Agung dan beberapa bangsawan lainnya, termasuk Tumenggung Prabasena. Begitu kuda yang menarik kurungan bambu Wilakrama berhenti, tatapan Wilakrama dan Pan
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 167 - Kisalan KematianPendopo agung Keraton Mataram hari itu juga masih dipenuhi suasana kemenangan. Tabuhan gamelan terus mengalun lembut mengiringi perjamuan para bangsawan dan senopati. Seluruh sentana dalem telah berkumpul. Para adipati duduk berjajar sesuai kedudukan mereka. Para senopati utama berada di sisi kanan pendopo, sedangkan keluarga inti keraton menempati bagian paling depan dekat singgasana Panembahan.Namun di tengah suasana hangat itu,Langkah kaki tergesa terdengar dari arah regol luar. Seorang prajurit membuka jalan cepat sebelum akhirnya sosok tinggi berpakaian kebesaran perang memasuki pendopo dan menghaturkan sembah dalam. Itu adalah Patih Singaranu."Pangapunten, Gusti Kanjeng Panembahan," ucapnya tegas dengan napas masih berat akibat perjalanan cepatnya. "Hamba membawa kabar penting."Suasana pendopo perlahan hening.Panembahan Senopati mengangkat pandangannya. "Sampaikan." Patih Singaranu menunduk lebih dalam. "Wilakrama berhasil ditangkap."Seketika seluruh pendopo gempar.Bisi
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 166 - WilakramaEnam hari perjalanan panjang akhirnya terbayar lunas ketika rombongan besar Kesultanan Mataram mulai memasuki wilayah inti Mataram menjelang sore hari. Suara gamelan dan tabuhan bedug terdengar menggema dari kejauhan. Panji-panji kerajaan berkibar megah di sepanjang jalan utama menuju keraton.Ratusan rakyat telah memenuhi sisi kanan dan kiri jalan sejak pagi hanya untuk menyaksikan kepulangan pasukan mereka. Dan saat sosok Panembahan Senopati mulai terlihat memimpin rombongan di garis paling depan, sorak sorai rakyat langsung pecah memenuhi udara."DAULAT PANEMBAHAN!""DAULAT MATARAM!""MATARAM MENANG!"Suasana menjadi begitu hidup. Beberapa rakyat sampai menitikkan air mata haru. Anak-anak kecil berlarian sambil melambaikan tangan. Para wanita melemparkan bunga ke jalan yang dilalui rombongan kerajaan. Karena mereka tahu, Mataram baru saja kembali membawa kemenangan besar.Derap kuda dan suara roda kereta terus bergerak memasuki kawasan keraton yang hari itu dipenuhi suasana perayaa
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: 165 - KemenanganSetelah perlawanan panjang yang mengguncang tanah lapang di depan benteng Kadipaten Madiun itu, pada akhirnya kemenangan jatuh ke tangan Kasultanan Mataram. Panji-panji Mataram kini berkibar gagah di berbagai sudut kadipaten. Asap tipis masih membumbung dari beberapa bangunan pertahanan yang rusak akibat perang.Tanah lapang berubah penuh jejak pertempuran darah, tombak patah, serta tubuh-tubuh prajurit yang telah gugur demi membela wilayah dan keyakinannya masing-masing. Pasukan Madiun akhirnya dipaksa mundur. Sebagian menyerah. Sebagian lain melarikan diri. Sementara gerbang besar Kadipaten Madiun kini telah sepenuhnya berada dalam kuasa Panembahan Senopati. Di pelataran utama kadipaten, para petinggi Mataram berkumpul menghadap sang Panembahan yang berdiri tegak dengan kesenopaten yang masih berlumur debu dan darah.Tatapannya tetap tenang. Namun wibawanya terasa semakin besar setelah kemenangan itu. Tak jauh di hadapan beliau, Retno Dumilah berdiri dalam diam. Meski Madiun kalah,
Last Updated: 2026-07-05