LOGINSebuah kejadian tak terduga di Museum membawa Alea pada dunia yang tak pernah ia kenal, Keraton Mataram di abad ke-16. Terjebak dalam peran yang bukan miliknya, Alea harus bertahan di tengah intrik keraton, rahasia yang terkubur, dan masa lalu yang perlahan mengikat hatinya. Di antara dua sosok yang hadir dalam hidupnya, serta bayangan pengkhianatan yang kian nyata, Alea dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan. Karena ada ikatan yang tak mudah dilepaskan bahkan oleh waktu.
View MoreCahaya remang menembus celah jendela kayu. Alea membuka mata pelan, kepala terasa berat, napasnya tersengal. Begitu matanya benar-benar terbuka, ia tersentak. Ruangan itu asing, dindingnya dari kayu jati, atapnya tinggi berukir, tirai-tirai tipis menjuntai. Tidak ada kipas angin, tidak ada lampu neon, apalagi suara lalu lintas.
"Eh... ini dimana?" gumam Alea serak, duduk dengan susah payah di ranjang berkelambu. Tiba-tiba pintu geser terbuka. Seorang gadis muda berbusana kebaya sederhana masuk sambil membawa nampan berisi kendi air. Matanya melebar. "Gusti Rara! Gusti Rara sampun wungu?!" terkejutnya, sekaligus terharu begitu melihat Alea terbangun. Alea melongo. "Eh, Mbak? Salah orang kali. Aku bukan Gusti Rara. By the way, aku dimana, nih? Ini syuting film kolosal ya? Kok tiba-tiba aku disini, sih, Mbak?" Dayang itu meletakkan nampan dengan terburu-buru, lalu mendekat dengan wajah penuh haru. Air matanya hampir menetes. "Duh, Gusti. Kulo ngira panjenengan mboten bade wungu malih." Sedihnya yang mengira Alea tak akan terbangun lagi. Alea makin bingung. "Panjenengan? Gusti Rara? Loh, namaku Alea, Mbak. Bukan Gusti Rara. Hello? Wake up! Ini mimpi kan? Paling juga bentar lagi kebangun di kasur. Hahaha! Eh, atau jangan-jangan, aku diculik terus dibawa ke tempat ini!" Ia mencoba untuk mencubit pipinya sendiri, meringis. "Aduh! Lho, kok sakit beneran?" Dayang itu makin panik, menatap Alea seperti melihat sesuatu yang aneh. "Gusti... njenengan... lali? Njenengan boten kelingan?" ia bertanya, apakah Alea lupa pada dirinya. Alea cengar-cengir, mencoba santai. "Lali? Wah iya, kayaknya aku lagi amnesia deh, kayak sinetron-sinetron itu. Jadi, aku ini siapa? Ratu? Putri Disney? Atau jangan-jangan, aku ketabrak isekai truck ya?" lanturnya. Dayang itu makin pucat, berlutut sambil menunduk. "Astaghfirullah! Gusti Rara, menawi kados mekaten, nopo kulo kedah ngaturi tabib?" dayang muda tersebut hendak memanggil seorang tabib. Alea menghela napas panjang, lalu meraih bantal dan memeluknya. "Ya ampun, ini beneran mimpi absurd banget. Tapi kalo mimpi, kenapa detail banget sih?" Ia melirik dayang yang masih berlutut. "Mbak, jangan nangis gitu dong. Aku juga bingung, tahu!" ujar Alea masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan mata kepalanya saat ini. Dayang itu menahan tangis, mengira Nawang benar-benar kehilangan ingatan. Dalam hatinya ia berdoa, semoga Tuan Putrinya diberikan kesadaran lagi. Sementara Alea hanya menatap sekeliling, masih setengah yakin kalau ia akan segera terbangun di kasurnya. "Hmmm. Dia kenapa bicara pakai bahasa Jawa segala, sih? Mana nunduk-nunduk mulu lagi." Gerutu Alea dalam hatinya sembari menatap malas pada dayang muda itu. Setelah mengoceh dalam hati, Alea turun dari dipan kayu jati itu. Berkeliling di ruangan ala-ala keraton itu untuk mencari cermin. Dayang muda itu tersentak kaget dan langsung mengekori Alea. "Kaca mana kaca?" Tanya Alea pada Dayang itu. "Ampun, Gusti. Menapa panjenengan nggoleki pangilon?" dayang itu bertanya apakah Alea mencari sebuah cermin. Alea mendengus kesal. Lalu berbalik menghadap dayang muda itu dengan melipat tangan di dada. Sebuah sikap aneh yang baru pertama kali dayang itu lihat dari Tuan Putrinya. Ia kaget tapi buru-buru menduduk karena takut. "Mbak. Pakai bahasa Indonesia aja, ya, ngomongnya. Aku lumayan bisa bahasa Jawa, sih. Tapi males aja. Jadi, nggak usah pakai bahasa jawa, oke? Agak pusing aku dengernya." "Nga-ngapunten, Gusti Rara. Kulo mboten ngertos maksud panjenengan nopo," tutur Sang Dayang yang tak memahami maksud perkataan Alea. "Hadeehhhh... begini... maksud aku, bicara seperti teman sebaya aja. Nggak usah pakai bahasa alus begitu aku jadi nggak nyaman. Lagipula, kamu kelihatan masih muda seumuran aku. Jadi nggak perlu alus-alus begitu. Paham, kan?" "Oh, nggih, Gusti Rara . Kulo... eh... saya mengerti." "Nah! Pinter!" Alea menepuk-nepuk pundak Dayang membuatnya terbelalak kaget. Tubuh Dayang itu hampir jatuh melihat gelagat diluar nalar Tuan Putrinya. "Jadi, dimana cerminnya? Mau ngaca ini. Oh, itu dia!" Alea langsung menghampiri sebuah cermin besar yang ternyata di samping kasur. Alea berdiri di depan pangilon besar berbingkai ukiran emas. Matanya membelalak, mulutnya setengah terbuka. Yang ia lihat bukan dirinya dalam pakaian casual santai seperti saat terakhir kali ia pakai di Museum, melainkan seorang gadis berbusana kebaya halus dengan selendang sutra menjuntai di bahu. Rambutnya masih terurai. "Astaga! ini siapa?!" Alea menunjuk pantulan dirinya di cermin. "Kok aku cosplay jadi putri keraton gini?!" Dayang yang berdiri di belakangnya terlonjak kecil. "Gusti Rara. Apakah Gusti tidak senang? Saya sudah memakaikan busana kesayangan Gusti." Alea berbalik, tangannya bertolak pinggang. "Mbak! Ini bukan bajuku! Terakhir aku pake baju casual, tahu! Lha, kok sekarang jadi kebaya ribet gini? Mana ada selendang segala. Aduh! panas banget lagi! Bisa balikin bajuku nggak?!" "Astaghfirullah, kenapa Gusti Rara jadi seperti ini?" Ucapnya lirih dan sedih. Sementara Alea masih ngoceh, petantang-petenteng di depan cermin. "Nih lihat, rambutku! Perasaan rambutku agak pendek. Kenapa sekarang jadi panjang banget? Warna rambutku juga agak cokelat. Baru aja disemir minggu lalu. Kenapa sekarang item semua?! Terus, ini apa? Ada make-up segala? Hello! Aku kan nggak pernah pake beginian, paling banter lip balm." Dayang mendekat, mencoba menenangkan. "Gusti Rara, kalau Gusti tidak berkenan, saya bisa menyiapkan busana lain." Alea mendesah panjang sambil menjewer sedikit kain selendangnya. "Aduuhhh! Baju kayak gini ribetnya minta ampun! Aku, tuh, biasa jalan ke kantin, naik ojek online, bukan jalan di keraton pake selendang segede gaban." Alea melempar selendangnya kesembarang tempat. Membuat dayang itu merasa takut dan bersalah. Dayang terdiam, wajahnya makin sedih. Ia menunduk, dan hampir menangis. Dalam hati mereka yakin, Tuan Putrinya benar-benar lupa akan dirinya sendiri. Sedangkan Alea hanya menatap lagi ke cermin, menepuk pipinya sendiri. "Please deh, Alea! Bangunlah dari mimpi absurd ini. Masa iya aku masuk drama kolosal? Nggak siap banget kalau harus naik naga terbang," celetuknya ngasal. ⏳️⏳️⏳️ Alea masih duduk di tepi ranjang kayu berkelambu tipis. Napasnya berat, pikirannya kacau. Belum selesai ia mencerna kehadiran dayang yang sibuk mengurusinya, kini seorang dayang senior masuk dengan langkah pelan namun mantap. Rambutnya sudah memutih, tubuhnya agak membungkuk, namun sorot matanya tajam penuh hormat. "Gusti Ayu, " suaranya berat, penuh wibawa. Ia menunduk dalam-dalam, kedua tangannya terkatup di depan dada. "Kawula sowan, nyuwun dawuh panjenengan, Gusti Ayu." Ucap dayang senior itu, menghaturkan hormatnya kepada Nawang. Alea terperanjat. Menatap kedatangan abdi dalem itu beserta rombongan para dayang lain di belakangnya. "Gusti Ayu? Hadeehhh! Namaku bukan gusti-gusti begitu! Terus ini kenapa tambah banyak orang yang datang? Syutingnya mau mulai, kah?" Alea menggerutu sekaligus heran, setengah pada dirinya sendiri, setengah pada mereka. Dayang-dayang hanya saling pandang, tidak berani menimpali. Dayang senior itu tetap menunduk khidmat, sama sekali tak tersentuh oleh nada kesal Alea. Tak tahan dengan suasana yang terasa menekan, Alea langsung berdiri. Ia menyingkap kain panjang yang menjuntai dari ranjang, lalu melangkah cepat menuju pintu. Dayang-dayang sontak bersuara, "Gusti Rara!" seru mereka kaget melihat Alea keluar dari kamarnya tiba-tiba. Begitu keluar dari kamar, Alea menghirup udara bebas. Dinding-dinding tinggi dengan ukiran halus dan lorong panjang yang dihiasi lampu minyak tampak membentang. Ia berjalan tanpa arah, sekadar ingin menjauh dari tatapan orang-orang yang terus memanggilnya dengan panggilan asing itu.Ratu Waskitajawi menjadi salah satu yang pertama mendekat, diikuti para wanita bangsawan lainnya. Namun di tengah suasana sakral itu, tatapan Raden Rara Nawang justru tampak kosong. Ia berdiri di antara para wanita keputren dengan wajah tenang seperti biasa. Tetapi jauh di dalam hatinya, bayangan penglihatan semalam masih terus menghantuinya.Tentang Wilakrama dan tentang hutan.Dan tentang sosok yang jatuh terkena anak panah. Nawang mencoba memusatkan perhatian pada jalannya upacara, namun setiap denting gamelan justru terasa seperti pertanda buruk yang semakin mendekat. Sementara itu, di sisi lain pendopo, Raden Rangga diam-diam memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Dan tersembunyi di balik lipatan kain sabuknya, tersimpan sebuah kotak kayu kecil berisi jamang emas yang belum sempat ia berikan.Ketika acara telah selesai total pada sore hari, Raden Rangga berniat untuk menghampiri gadis pujaannya itu. Tapi sayangnya, ia terpaksa harus memenuhi panggilan ke Pendopo Agung lagi. Ia ti
Di tempat lain, tepatnya di sebuah serambi di dalam Balewarna saat ini, Raden Rangga duduk sendirian sambil menengadahkan kepalanya ke arah rembulan malam yang terselimuti awan gelap. Rasanya aneh sekali baginya. Namun, Rangga tak menatapnya lama. Ia tak peduli mau bagaimana suasana langit saat ini. Di tangan kanannya tergenggam sebuah jamang kecil yang sudah ia simpan sejak setahun yang lalu. Niatnya ia ingin memberikan kepada Nawang ketika pertemuan di Pendopo Agung selesai. Tetapi ia malah tidak bertemu dengan gadis itu sama sekali. Ia mendapatkan jamang itu di pasar dekat Kotagede. Dibuat langsung oleh empu perhiasan langganan Keraton Mataram. Malam itu, dengan dikawal dua prajurit, Raden Rangga pergi diam-diam ke sebuah pasar dengan pakaian sederhana yang tidak terlaku mencolok. Deretan kios di dekat pasar Kotagede mulai sepi ketika Raden Rangga turun dari kudanya. Ia menyuruh dua prajuritnya untuk menunggu. Langkahnya berhenti di sebuah pendopo kecil beratap rendah milik seoran
Hari itu juga Wilakrama dibawa ke Keraton menggunakan kurungan dari bambu yang dibawa oleh seekor kuda biasa. Kaki dan tangannya masih terikat kuat. Sepanjang jalan, wajahnya tak ramah dan seolah dipenuhi dendam. Dan sepanjang perjalanan itu pula, pikiran Arya selalu tak tenang. Sebenarnya pun dulu ia sempat merasa curiga dengan Sekar Wangi. Tetapi ia tidak berani bicara atau mencari tahu. Hingga seiring berjalannya waktu, pikiran itu terlupakan. Tapi di titik ini ia malah mendapat semua kebenarannya. Melewati pemukiman rakyat, Wilakrama mendapat banyak teriakan kasar. Cemoohan, hinaan, bahkan sampai dilempari bebatuan. Namun Wilakrama tetap diam dengan memasang wajah bengisnya. Hingga akhirnya tibalah ia di Keraton Mataram. Kedatangannya ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh Panembahan Senopati, Ki Juru Martani, Ki Penjawi, Adipati Agung dan beberapa bangsawan lainnya, termasuk Tumenggung Prabasena. Begitu kuda yang menarik kurungan bambu Wilakrama berhenti, tatapan Wilakrama dan Pan
Pendopo agung Keraton Mataram hari itu juga masih dipenuhi suasana kemenangan. Tabuhan gamelan terus mengalun lembut mengiringi perjamuan para bangsawan dan senopati. Seluruh sentana dalem telah berkumpul. Para adipati duduk berjajar sesuai kedudukan mereka. Para senopati utama berada di sisi kanan pendopo, sedangkan keluarga inti keraton menempati bagian paling depan dekat singgasana Panembahan.Namun di tengah suasana hangat itu,Langkah kaki tergesa terdengar dari arah regol luar. Seorang prajurit membuka jalan cepat sebelum akhirnya sosok tinggi berpakaian kebesaran perang memasuki pendopo dan menghaturkan sembah dalam. Itu adalah Patih Singaranu."Pangapunten, Gusti Kanjeng Panembahan," ucapnya tegas dengan napas masih berat akibat perjalanan cepatnya. "Hamba membawa kabar penting."Suasana pendopo perlahan hening.Panembahan Senopati mengangkat pandangannya. "Sampaikan." Patih Singaranu menunduk lebih dalam. "Wilakrama berhasil ditangkap."Seketika seluruh pendopo gempar.Bisi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.