LOGINSebuah kejadian tak terduga di Museum membawa Alea pada dunia yang tak pernah ia kenal, Keraton Mataram di abad ke-16. Terjebak dalam peran yang bukan miliknya, Alea harus bertahan di tengah intrik keraton, rahasia yang terkubur, dan masa lalu yang perlahan mengikat hatinya. Di antara dua sosok yang hadir dalam hidupnya, serta bayangan pengkhianatan yang kian nyata, Alea dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan. Karena ada ikatan yang tak mudah dilepaskan bahkan oleh waktu.
View MoreRatu Waskitajawi menjadi salah satu yang pertama mendekat, diikuti para wanita bangsawan lainnya. Namun di tengah suasana sakral itu, tatapan Raden Rara Nawang justru tampak kosong. Ia berdiri di antara para wanita keputren dengan wajah tenang seperti biasa. Tetapi jauh di dalam hatinya, bayangan penglihatan semalam masih terus menghantuinya.Tentang Wilakrama dan tentang hutan.Dan tentang sosok yang jatuh terkena anak panah. Nawang mencoba memusatkan perhatian pada jalannya upacara, namun setiap denting gamelan justru terasa seperti pertanda buruk yang semakin mendekat. Sementara itu, di sisi lain pendopo, Raden Rangga diam-diam memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Dan tersembunyi di balik lipatan kain sabuknya, tersimpan sebuah kotak kayu kecil berisi jamang emas yang belum sempat ia berikan.Ketika acara telah selesai total pada sore hari, Raden Rangga berniat untuk menghampiri gadis pujaannya itu. Tapi sayangnya, ia terpaksa harus memenuhi panggilan ke Pendopo Agung lagi. Ia ti
Di tempat lain, tepatnya di sebuah serambi di dalam Balewarna saat ini, Raden Rangga duduk sendirian sambil menengadahkan kepalanya ke arah rembulan malam yang terselimuti awan gelap. Rasanya aneh sekali baginya. Namun, Rangga tak menatapnya lama. Ia tak peduli mau bagaimana suasana langit saat ini. Di tangan kanannya tergenggam sebuah jamang kecil yang sudah ia simpan sejak setahun yang lalu. Niatnya ia ingin memberikan kepada Nawang ketika pertemuan di Pendopo Agung selesai. Tetapi ia malah tidak bertemu dengan gadis itu sama sekali. Ia mendapatkan jamang itu di pasar dekat Kotagede. Dibuat langsung oleh empu perhiasan langganan Keraton Mataram. Malam itu, dengan dikawal dua prajurit, Raden Rangga pergi diam-diam ke sebuah pasar dengan pakaian sederhana yang tidak terlaku mencolok. Deretan kios di dekat pasar Kotagede mulai sepi ketika Raden Rangga turun dari kudanya. Ia menyuruh dua prajuritnya untuk menunggu. Langkahnya berhenti di sebuah pendopo kecil beratap rendah milik seoran
Hari itu juga Wilakrama dibawa ke Keraton menggunakan kurungan dari bambu yang dibawa oleh seekor kuda biasa. Kaki dan tangannya masih terikat kuat. Sepanjang jalan, wajahnya tak ramah dan seolah dipenuhi dendam. Dan sepanjang perjalanan itu pula, pikiran Arya selalu tak tenang. Sebenarnya pun dulu ia sempat merasa curiga dengan Sekar Wangi. Tetapi ia tidak berani bicara atau mencari tahu. Hingga seiring berjalannya waktu, pikiran itu terlupakan. Tapi di titik ini ia malah mendapat semua kebenarannya. Melewati pemukiman rakyat, Wilakrama mendapat banyak teriakan kasar. Cemoohan, hinaan, bahkan sampai dilempari bebatuan. Namun Wilakrama tetap diam dengan memasang wajah bengisnya. Hingga akhirnya tibalah ia di Keraton Mataram. Kedatangannya ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh Panembahan Senopati, Ki Juru Martani, Ki Penjawi, Adipati Agung dan beberapa bangsawan lainnya, termasuk Tumenggung Prabasena. Begitu kuda yang menarik kurungan bambu Wilakrama berhenti, tatapan Wilakrama dan Pan
Pendopo agung Keraton Mataram hari itu juga masih dipenuhi suasana kemenangan. Tabuhan gamelan terus mengalun lembut mengiringi perjamuan para bangsawan dan senopati. Seluruh sentana dalem telah berkumpul. Para adipati duduk berjajar sesuai kedudukan mereka. Para senopati utama berada di sisi kanan pendopo, sedangkan keluarga inti keraton menempati bagian paling depan dekat singgasana Panembahan.Namun di tengah suasana hangat itu,Langkah kaki tergesa terdengar dari arah regol luar. Seorang prajurit membuka jalan cepat sebelum akhirnya sosok tinggi berpakaian kebesaran perang memasuki pendopo dan menghaturkan sembah dalam. Itu adalah Patih Singaranu."Pangapunten, Gusti Kanjeng Panembahan," ucapnya tegas dengan napas masih berat akibat perjalanan cepatnya. "Hamba membawa kabar penting."Suasana pendopo perlahan hening.Panembahan Senopati mengangkat pandangannya. "Sampaikan." Patih Singaranu menunduk lebih dalam. "Wilakrama berhasil ditangkap."Seketika seluruh pendopo gempar.Bisi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.