author-banner
Freya
Author

Novel-novel oleh Freya

Mertua yang Harus Mengalah

Mertua yang Harus Mengalah

Di usia 53 tahun, seorang ibu tunggal dihadapkan pada dilema pelik: bagaimana menjalani sisa hidupnya. Anak pertamanya telah menikah dengan wanita kaya raya, menuntut sang ibu untuk menjadi "mertua kalah" agar tak terusir, demi menjaga kesempatan tinggal sementara atau dukungan. Sementara itu, anak keduanya hidup pas-pasan di kontrakan bersama istri dan dua anaknya, dan tidak mampu menampungnya. Ibu ini berjuang untuk tetap menjadi "ibu hebat" bagi kedua anaknya yang sering salah paham, sambil menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus mencari jalan sendiri di tengah konflik internal dan eksternal, berbekal tekad untuk bertahan dan menemukan arti kebahagiaan dan sebuah 'rumah' yang sejati di usia senja.
Baca
Chapter: Keputusan Ibu
Malam itu Ibu tidak bisa tidur.Lampu kamar sudah dipadamkan, menyisakan cahaya remang dari lampu taman yang menembus tirai tebal. Suara AC terus berdengung pelan, dinginnya menusuk sampai ke tulang, tapi tubuh Ibu justru terasa panas oleh sesak yang menumpuk di dada.Ia berbaring miring, memeluk selimut sampai ke dada, namun matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar yang tinggi.Ucapan Rian dan Nita masih berputar-putar di kepalanya.Rumah ini ada CCTV di mana-mana.Ibu nggak perlu ke mana-mana lagi mulai besok.Ibu harus mengikuti aturan rumah ini.Setiap kalimat itu seperti mengetuk kepalanya tanpa henti.Air mata yang tadi sempat reda kembali merembes pelan ke bantal.Kalau saja kontrakanku tidak digusur…Pikiran itu datang begitu saja.Membelah dadanya.Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan kontrakan lamanya muncul begitu jelas.Dinding papan yang mulai lapuk. Atap seng yang berisik saat hujan turun. Lantai semen dingin yang retak di beberapa sudut. Bau tanah basah se
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: Bayangan di Kamera
Malam itu rumah Rian terasa lebih sunyi dari biasanya.Lampu kristal di ruang keluarga memantulkan cahaya kekuningan ke lantai marmer yang mengilap. Pendingin ruangan berdengung halus, namun hawa di dada Ibu justru terasa panas.Ia baru saja masuk dari pintu samping, langkahnya pelan menahan pegal di kaki setelah seharian bekerja di kedai. Tas kain lusuhnya digenggam erat. Jemarinya masih terasa perih oleh sabun cuci piring.Baru dua langkah menuju kamar, suara Rian menghentikannya.“Ibu.”Suara itu datar.Bukan panggilan lembut yang biasa. Bukan suara anak yang khawatir.Lebih seperti teguran.Ibu menoleh.Rian berdiri di ruang keluarga dengan wajah tegang. Nita duduk di sofa, memangku laptop, tapi sorot matanya tajam mengarah pada Ibu.Ada sesuatu yang dingin dalam tatapan mereka.Jantung Ibu berdegup tak menentu.“Dari mana, Bu?” tanya Rian.Pertanyaan sederhana.Namun nadanya membuat tengkuk Ibu meremang.“Ibu… jalan-jalan sebentar, Nak,” jawabnya hati-hati.Rian menghela napas pa
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: Tangis di Kedai Kecil
Matahari siang menggantung terik di atas proyek bangunan. Debu semen beterbangan setiap kali sekop menghantam pasir. Suara besi beradu, mesin molen berputar, dan teriakan mandor bercampur menjadi hiruk-pikuk yang sudah akrab di telinga Rendy.Keringat mengalir dari pelipisnya, membasahi kerah kaus kusam yang penuh bercak semen. Tangannya pegal, telapak kasarnya memutih karena terlalu lama menggenggam besi.“Ren, istirahat dulu!” teriak Ujang, salah satu teman kerjanya, sambil menurunkan karung semen dari pundak.Rendy mengangguk, mengusap wajah dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya. Napasnya berat.“Yuk makan. Perut gue udah demo,” celetuk Jaya, membuat beberapa buruh lain tertawa kecil.Mereka berjalan keluar area proyek, menyusuri jalan sempit menuju deretan warung dan kedai sederhana yang biasa jadi tempat makan siang.Di ujung jalan, sebuah kedai kopi kecil berdiri dengan papan kayu sederhana. Aroma kopi hitam dan bawang goreng dari dapurnya menguar ke trotoar.“Di sini
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: Jejak Perjuangan Masa Lalu
Sebuah guncangan kecil melanda hati Ibu, mengancam untuk meruntuhkan kedamaian yang baru ia temukan. Bagaimana jika Rian atau Nita mengetahuinya? Pertanyaan itu menggantung di udara kamar, dingin dan membekas. Dia menatap uang hasil keringatnya yang tergenggam erat. Uang ini terasa panas, seperti bara yang bisa membakar rahasianya.Kelelahan menjalar di setiap ototnya. Ia meletakkan uang itu di bawah tumpukan pakaian di lemari, seolah menyembunyikan bukti kejahatan. Tubuhnya ambruk di tepi ranjang. Mata terpejam, mencoba mengusir bayangan tatapan Nita yang menghakimi, atau sorot kecewa Rian.Ketika matanya terbuka, tangannya tanpa sadar merogoh tas kain lusuh. Di dalamnya, terselip sebuah dompet kain tua. Dari dompet itu, ia mengeluarkan selembar foto. Agak buram, kertasnya sudah menguning. Foto itu menunjukkan dua bocah laki-laki kurus dengan senyum lebar, berdiri di sampingnya yang tampak jauh lebih muda, namun wajahnya sudah dihiasi guratan lelah. Rian dan Rendy kecil.Kalian tahu,
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: Mencari Martabat di Luar
Aku harus pergi dari sini.Kata-kata itu berputar dalam benak Ibu, mengusir sisa-sisa air mata. Ia tidak bisa lagi berdiam diri di ranjang empuk yang terasa seperti penjara. Fajar menyingsing, memulas langit dengan gradasi merah muda dan abu-abu. Ibu bangkit dari ranjang, tubuhnya terasa ringan oleh tekad baru.Ia menyelinap keluar kamar sebelum ada yang bangun. Suara deru AC yang terus-menerus kini terasa memuakkan. Dia melewati ruang tamu mewah yang gelap, melangkah hati-hati menghindari vas dan patung yang mungkin ia sentuh. Pintu depan terbuka sedikit. Udara pagi yang sejuk menyambutnya. Aroma embun dan tanah basah, bukan pewangi ruangan yang tajam.Dia pergi. Tanpa tujuan jelas, hanya dorongan untuk bergerak. Ia menyusuri trotoar, tas kain lusuh di tangannya.Apa yang harus kulakukan sekarang?Pikirannya melayang pada pekerjaan Rendy, pekerjaan serabutan yang kasar. Aku tidak sekuat itu lagi. Namun, ia harus melakukan sesuatu. Martabatnya menuntutnya.Ibu melangkah ke pusat keram
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Chapter: Salah Paham di Meja Makan
Ibu masih memeluk lututnya di ranjang besar itu saat Rian memanggil untuk makan malam. Suara panggilannya terdengar samar, teredam dinginnya AC. Ia menghela napas, mengusap sisa air mata yang mengering. Harus kuat, bisiknya pada diri sendiri.Dia melangkah keluar dari kamar. Aroma masakan tercium. Meja makan sudah tertata rapi. Nita dan Rian sudah duduk di tempat masing-masing."Mari, Bu, duduk," Nita menyambut dengan senyum tipis. Rian menggeser kursi untuknya.Ibu duduk. Di hadapannya, semangkuk sup krim asparagus mengepul. Ada juga potongan daging sapi dengan saus jamur, dan nasi putih yang ditata cantik. Semua terlihat mewah."Sup ini kelihatannya enak, Nita," Ibu berkomentar, mencoba mencairkan suasana."Resep dari majalah luar negeri, Bu," Nita menjawab, terdengar bangga. "Asisten saya yang memasaknya, tapi saya yang mengarahkan."Ibu mengangguk. Dia menyendok supnya. Rasanya memang enak, gurih dan creamy."Ini bumbu supnya enak sekali, Nita," kata Ibu lagi. "Tapi kalau Ibu dulu
Terakhir Diperbarui: 2026-03-08
Anda juga akan menyukai
Istri Dari Surga
Istri Dari Surga
Rumah Tangga · Nona Hujan
1.5K Dibaca
Istri Kedua Sang Duda
Istri Kedua Sang Duda
Rumah Tangga · Wiedy_wynk
1.5K Dibaca
Duka Pernikahan
Duka Pernikahan
Rumah Tangga · Queenazalea
1.5K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status