MasukDi usia 53 tahun, seorang ibu tunggal dihadapkan pada dilema pelik: bagaimana menjalani sisa hidupnya. Anak pertamanya telah menikah dengan wanita kaya raya, menuntut sang ibu untuk menjadi "mertua kalah" agar tak terusir, demi menjaga kesempatan tinggal sementara atau dukungan. Sementara itu, anak keduanya hidup pas-pasan di kontrakan bersama istri dan dua anaknya, dan tidak mampu menampungnya. Ibu ini berjuang untuk tetap menjadi "ibu hebat" bagi kedua anaknya yang sering salah paham, sambil menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus mencari jalan sendiri di tengah konflik internal dan eksternal, berbekal tekad untuk bertahan dan menemukan arti kebahagiaan dan sebuah 'rumah' yang sejati di usia senja.
Lihat lebih banyakTok tok.Suara ketukan itu pelan. Ragu-ragu.Di dalam kamar, Bu Ratna yang baru selesai melipat mukena menoleh ke arah pintu.“Ya, sebentar.”Ia berjalan pelan membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, Nita berdiri di sana.Masih dengan pakaian kerja. Blazer krem mahal yang belum sempat diganti. Rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang sekali terlihat pada dirinya. Di tangannya ada ponsel dan sebuah map tipis.Wajahnya tampak lelah.“Boleh masuk?” tanyanya pelan.Bu Ratna sedikit terkejut, tapi tetap mengangguk.“Masuklah, Nit.”Nita merasa canggung berada berdua dengan mertuanya sendiri.Biasanya selalu ada jarak.Jarak yang tidak terlihat, tapi nyata.Bu Ratna yang lebih dulu membuka suara.“Dio sudah tidur?”Nita mengangguk kecil.“Baru tadi.”“Demamnya?”“Udah turun sedikit.”Bu Ratna menghela napas lega.“Alhamdulillah.”Sunyi lagi.Nita memainkan ujung map di tangannya. Jemarinya
Rendy mengantar Bu Ratna sampai ke depan kamar.Pintu kamar itu sudah terbuka sejak tadi. Lampunya menyala hangat. Di dalam, semuanya sudah rapi. Tempat tidur besar dengan seprai putih, lemari, meja kecil dengan vas bunga segar.Bu Ratna berdiri sebentar di ambang pintu sebelum masuk.Rendy memperhatikan wajah ibunya diam-diam. “Ibu capek?” tanyanya pelan.Bu Ratna tersenyum kecil.“Lumayan.”Rendy masuk menyusul. Menutup pintu pelan di belakangnya.Sunyi beberapa detik.Bu Ratna meletakkan tas kainnya di kursi.Tas yang sama. Tas lusuh yang selalu ia bawa ke kedai.Rendy menatap tas itu lama.Entah kenapa dadanya kembali sesak.“Ibu…” panggilnya.“Hm?”“Kenapa Ibu tinggal di sini?”Bu Ratna berhenti bergerak.Tangannya yang tadi hendak membuka lemari perlahan turun lagi.Rendy menatap punggung ibunya.“Aku tahu Ibu nggak betah di rumah ini.”Bu Ratna tersenyum tipis tanpa membalik badan.“Kamu sekarang
Bu Ratna berdiri di depan gerbang rumah itu. Tangan tuanya menggenggam besi dingin. Satu langkah lagi ke dalam… dan ia tahu, hidupnya tidak akan sama. Di luar, ia adalah perempuan yang berjalan dengan kakinya sendiri. Di dalam… ia harus kembali menyesuaikan diri. Perlahan, gerbang itu ia dorong. Terbuka. Ia melangkah masuk. Halaman luas itu sunyi. Rapi. Terlalu rapi. Langkahnya pelan, seolah takut meninggalkan jejak. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan berdiri di sana. “Ibu… kamarnya sudah disiapkan, Nyonya.” Bu Ratna hanya mengangguk kecil. “Terima kasih…” Tapi ia tidak langsung ke kamar. “Rendy sama keluarganya di mana?” Pelayan itu menunjuk ke arah lorong. “Di kamar tamu sebelah, Bu.” Bu Ratna berjalan ke sana. Setiap langkahnya terasa berat. Ia berhen
Pintu kamar tertutup pelan.Suara langkah Rian menjauh di lorong. Lalu sunyi.Di dalam kamar itu, semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu bersih. Seprai putih tanpa lipatan, lemari tertutup rapat, lantai dingin mengilap.Mira berdiri di dekat pintu, tangannya masih memegang tas kecil. Matanya menyapu ruangan itu pelan, seolah takut menyentuh apa pun.Rendy duduk di tepi ranjang.Dio sudah rebah, kepalanya yang masih dibalut perban tenggelam di bantal empuk. Rafa tertidur di sebelahnya, napasnya pelan, tubuh kecilnya meringkuk nyaman.Anak-anak itu… terlihat damai.“Mas…” suara Mira pelan, hampir seperti bisikan. “Mbak Nita… marah ya kita ke sini?”Rendy tidak langsung menjawab.Tatapannya tertuju ke Dio. Tangannya bergerak pelan, merapikan selimut anaknya.“Iya,” jawabnya akhirnya, pendek.Mira menelan ludah.“Aku takut, Mas…”Rendy menarik napas panjang.“Kamu
Ibu terbangun dini hari. Sisa air mata semalam masih terasa kering di pipinya. Dingin AC menusuk kulit. Aroma pewangi ruangan yang mahal terasa asing. Ia merindukan bau tanah basah dan suara ayam berkokok dari kontrakan lamanya. Tidak, aku tidak bisa di sini, pikirnya. Ia memutuskan hari ini unt
Ibu berjalan menyusuri jalanan lebar. Pepohonan rindang berjajar rapi. Udara di sini terasa berbeda, lebih bersih, namun juga lebih dingin. Bus berhenti di depan gerbang tinggi, megah. Apakah kali ini akan berbeda? Dia mendorong gerbang besi ukir. Taman luas terhampar, rumputnya hijau terawat. Ad
Pagi itu, Ibu terbangun dengan perasaan hampa. Seluruh sendi di tubuhnya terasa nyeri, seperti dihimpit beban tak kasat mata. Ia menatap kosong keluar jendela kamarnya yang sempit. Cahaya matahari pagi merayap masuk, tapi tidak membawa kehangatan yang berarti.Sudah 53 tahun, Ibu membatin. Sisa umu
Sebuah guncangan kecil melanda hati Ibu, mengancam untuk meruntuhkan kedamaian yang baru ia temukan. Bagaimana jika Rian atau Nita mengetahuinya? Pertanyaan itu menggantung di udara kamar, dingin dan membekas. Dia menatap uang hasil keringatnya yang tergenggam erat. Uang ini terasa panas, seperti b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak