LOGIN"Mas belum siap. Tolong mengertilah, Dek!" Hanum tidak tahu apa yang salah dengan dirinya sehingga sang suami selalu menolak untuk menyentuhnya. Sejak awal pernikahan hingga setahun lamanya, Bagas selalu mempunyai alasan hingga tak benar-benar mau untuk mereguk indahnya kehalalan bersama sang istri. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sedang Bagas sembunyikan dari Hanum?
View MoreAku lelah! Sungguh. Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan untukku? Bertubi-tubi tanpa henti. Rasanya belum sempat aku menarik napas akibat kecurigaanku pada Mas Bagas tempo hari. Hari ini, aku duduk di sini dalam keadaan yang menyedihkan. Kondisiku sekarang tentu akan menyusahkan banyak orang, terutama keluargaku sendiri. Aku memerlukan mereka. Mereka adalah pengganti penglihatanku. Terutama Ibu, wanita kuat yang menjadi tongkatku saat aku terpuruk. Ibu tak lelah membantu saat aku tertatih menghadapi kenyataan pahit yang kuterima. Ibu selalu ada dalam suka dan duka. Menghapus setiap tetes air mata yang tak henti mengalir. Hari bergulir begitu cepat. Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun terkadang masih sering menangisi diri sendiri, akan tetapi aku sudah bisa lebih mandiri. Ibu mengutarakan jika ia ingin pulang. "Kasihan Bapak. Nggak ada temennya." Begitu alasan Ibu saat aku melarangnya. Aku meminta Ibu untuk bertahan beberapa minggu lagi, akan tetapi ia menolak dengan l
Dua minggu kemudian. Di dalam kamar, aku sedang menenangkan Hanum. Sejak satu jam lalu dia tak henti menangis. Hanum belum bisa menerima kondisinya saat ini. Meski dokter telah menjelaskan jika kebutaan yang dialami hanya sementara, akan tetapi Hanum tetap histeris. Sejak sadarkan diri satu minggu lalu, aku kewalahan menenangkan istriku. Untung saja Ibu mau diajak tinggal untuk sementara waktu bersama kami. Menemani Hanum selama aku bekerja. Sementara Bapak harus pulang, dan akan kembali jika urusan peternakannya sudah selesai. Ya, Bapak mempunyai beberapa perternakan sapi di daerahnya."Sudah, Sayang, jangan nangis terus. Nanti kepalamu sakit." Aku mencoba menenangkan kembali. Hanum masih terisak di sampingku. Matanya terbuka dan sesekali berkedip. Namun, penglihatannya sama sekali tak bisa berfungsi. Penyebab kebutaan Hanum adalah karena benturan yang terjadi saat kecelakaan. Terdapat peradangan dan pembengkakan di dalam mata sehingga menekan saraf-saraf penglihatan. Ada dua opsi
Tuhan ... Apa yang kulakukan? Aku telah mencelakai Hanum. Dia terluka. Kenapa aku bisa sampai lengah dan menuruti amarah? Berulang kali Hanum melarang, akan tetapi sama sekali tak kuindahkan. Sayang, maafkan aku. Mas salah. Semua terjadi karena kelalaianku. Kupandangi istriku yang terbaring di ruang ICU. Dia belum sadarkan diri sejak kemarin. Kondisinya buruk dan sedang ditangani dengan serius oleh dokter. Rasa bersalahku terus membuncah, apalagi saat melihat air mata ibu mertua yang tumpah ruah. Di sisi kanan kamar ICU ada Sarah serta suaminya. Mereka baru saja tiba. Sarah tak henti menenangkan ibu mertuaku. Wanita paruh baya itu tampak lemah dan terpukul. "Bagas, sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar kami yang jaga di sini." Irfan suami Sarah menegurku. Entah kapan dia mendekatiku, padahal baru saja aku melihatnya duduk di dekat Sarah. "Iya. Tapi aku ngga bisa istirahat. Pikiranku tak tenang, Fan," ucapku seraya menekan kesedihan yang terus menggedor rongga jiwa. "Kamu juga terl
Aku setuju untuk bertemu dengan Anita. Seperti kata Sarah, setiap permasalahan harus diselesaikan, bukan dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian. Aku sudah menguatkan hati, apa pun yang aku dengar nantinya, setidaknya aku sudah menyiapkan diri untuk kuat. Kami menunggu Anita di sebuah kafe tak jauh dari apartemen yang kutempati sementara. Mas Bagas duduk di sampingku. Dia tampak sibuk dengan smartphone-nya. Aku juga tak banyak bicara, sesekali kusedot minuman, kemudian mengaduk-aduk kembali menggunakan sedotan. "Ngobrol, dong. Jangan diem aja." Mas Bagas membuka percakapan. Aku melirik sekilas, lalu kembali asik dengan gelas berisi jus jeruk dingin kesukaanku. "Mau ngobrol apa? Mas aja asik sendiri dengan HP." Aku berkata jutek. Mas Bagas meletakkan ponselnya di atas meja. Sesekali layar ponsel menyala kemudian padam dengan sendirinya. "Itu dia," ujar Mas Bagas. Aku melihat ke arah pintu masuk. Seorang wanita yang memiliki postur tinggi semampai datang menghampiri kami. Dia ada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews