Chapter: Bab 105Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 104Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 103Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya."Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur."Len, tolong dengerin ka
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Bab 102Ciiiiiittttt!Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan."Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak.""Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: Bab 101Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang."Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Bab 100Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 38Suasana di ruang tamu yang sempat tegang itu kini benar-benar melunak. Setelah mendapatkan kepastian tentang mobil baru dan buaian janji manis, wajah Mira kembali berseri-berseri. Rasa puas terpancar jelas dari binar matanya, seolah-olah kehinaan yang diucapkannya di depan Diva beberapa menit lalu telah menguap tanpa sisa.Kevin melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum pendek sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit."Sayang, sudah makin siang," tutur Kevin lembut seraya membelai jemari Mira. "Ayo kita berangkat kerja sekarang. Nanti kalau kita terlambat, karyawan lain bisa makin banyak bergosip."Mira mengangguk manja. Ia berdiri, merapikan gaun kerjanya dan memoles ulang lipstik merah di bibirnya. "Iya, Mas. Ayo."Marni yang berdiri di dekat meja menyunggingkan senyum lebar. "Hati-hati di jalan ya, Pak Kevin, Mira. Jangan lupa besok janji mobil barunya!""Tentu, Bu Marni," sahut Kevin terkekeh pelan sebelum melangkah keluar merangkul
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: Bab 37Kevin yang menyadari raut wajah Mira memerah padam dan siap meledak, segera memutar otak. Kehilangan jabatan di kantor pusat adalah mimpi buruknya, tetapi kehilangan Mira juga akan meruntuhkan egonya sebagai pria. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengikis jarak di atas sofa, lalu berusaha meraih kedua jemari Mira yang gemetaran dan masih terkepal erat."Sayang, tolong... Jangan menatapku seperti itu," bisik Kevin dengan nada memelas yang dipaksakan sehalus mungkin. "Kamu harus paham situasiku."Mira menepis tangan Kevin dengan kasar, membuang mukanya ke arah dinding. "Tahu apa aku tentang situasimu, Mas?!""Mira, tolong dengarkan aku dulu..." desak Kevin, mencoba memegang bahu selingkuhannya."Jangan sentuh aku!" bentak Mira melengking, matanya menyalang penuh amarah yang berkilat-kilat. "Mas sebut aku karyawan centil! Mas bilang di depan istri Mas kalau wanita bawahan seperti aku ini murahan, tidak ada apa-apanya, dan tidak sebanding sedikit pun dibanding Diva yang berkelas! Sakit
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: Bab 36Membaca rentetan kalimat dingin di layar ponselnya, seluruh persendian Kevin seolah lolos dari tempatnya. Wajahnya yang semula memancarkan percaya diri seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ponsel mahal di genggamannya bergetar hebat mengikuti jemarinya yang mendadak gemetaran. Posisinya sebagai pimpinan di kantor cabang, seluruh fasilitas mewah, hingga impian untuk menguasai harta keluarga istrinya seketika terancam punah dalam satu kedipan mata.Mira yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah selingkuhannya mengerutkan dahi tajam. Senyum manja yang tadinya mengembang di bibirnya memudar, berganti dengan riak kecurigaan."Mas... Kenapa?" tanya Mira, meraih lengan Kevin yang terasa dingin membeku. "Ada apa? Kok mukanya sampai pucat begitu?"Kevin menoleh pelan, menatap Mira dengan mata membelalak penuh ketakutan yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya. "D-Diva, Mir... Diva mengancamku...""Mengancam bagaimana maksud Mas?!" desak Mira, suaranya meninggi dipenuhi k
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 35Di ruang tamu yang penuh dengan kebohongan itu, Kevin terus melancarkan segala jurus rayuannya. Ia menggenggam erat kedua tangan Mira, menatap wanita itu dengan binar mata yang memelas penuh penyesalan buatan."Mira, tolonglah... Maafkan aku soal semalam," bujuk Kevin lembut, merendahkan suaranya sehalus mungkin. "Aku tahu kamu kecewa harus bersembunyi di bawah meja. Tapi percaya padaku, itu satu-satunya cara supaya posisi kita tetap aman. Di hatiku cuma ada kamu, Sayang."Mira memalingkan wajahnya, pura-pura bersikap jual mahal meski hatinya sudah melumer. "Mas bilang cinta sama aku, tapi di depan istri Mas... Mas malah puji-puji dia! Mas ingat kan rincian percakapan ranjang kalian semalam?!""Demi Tuhan, Mira! Semua yang kuscucapkan kemarin itu cuma omong kosong!" seru Kevin berapi-api demi meyakinkan selingkuhannya. "Diva itu wanita yang membosankan! Dia kaku, dingin, dan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding kamu. Aku cuma bersikap manis supaya dia tidak curiga dan tidak m
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 34Deru mesin mobil yang tak asing kembali memecah keheningan di depan gerbang. Sebuah mobil dinas kantor cabang berhenti tepat di pelataran rumah. Kevin keluar dari pintu pengemudi dengan kemeja yang sedikit kusut dan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan.Melihat kedatangan Kevin, Marni langsung menyenggol lengan putrinya seraya berbisik panik namun antusias. "Mir! Tuh kan, Pak Kevin datang! Cepat pasang muka mahalmu!"Mira dengan cepat mengubah raut wajahnya. Amarah akibat ulah Adam tadi seketika ia sembunyikan rapat-rapat, berganti dengan topeng kekecewaan yang dingin. Ia bersedekap dada, membuang muka saat langkah kaki Kevin bergegas mendekati teras rumah."Mira..." panggil Kevin halus, suaranya terdengar begitu merasa bersalah. "Maafkan aku soal semalam. Aku benar-benar tidak ada pilihan lain."Mira tidak bergeming. Ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa membalas tatapan Kevin, sengaja mengabaikan pria itu agar rasa bersalahnya makin memuncak.Kevin mengekor di be
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 33Adam mengancingkan jas rapinya dengan gerakan tenang yang sengaja diperlambat. Manik matanya berganti menatap wajah Mira dan Marni yang kini pucat pasi, membeku bagaikan patung di tengah ruang makan. Bibir mereka menganga lebar, tak sanggup mengucap sepatah kata pun saat menyaksikan seorang sopir berbusana rapi membungkuk hormat di hadapan Adam.Inilah momen yang selama bertahun-tahun selalu diimpikan Adam. Momen di mana keangkuhan istri dan mertuanya hancur berkeping-keping di balik kenyataan yang memukul telak kesombongan mereka. Rasa bangga yang sempat terkubur kini merayap naik, menegakkan dadanya yang selama ini selalu membungkuk akibat tindasan."Terima kasih, Pak. Saya siap," ucap Adam tegas kepada sopir dinasnya.Namun, baru saja Adam mengayunkan kaki untuk melangkah menuju pintu keluar, sebuah suara lembut menghentikan geraknya."Pak Adam, tunggu sebentar!"Alya melangkah keluar dari arah dapur dengan gerakan anggun namun santun. Di kedua tangannya, ia memegang sebuah ta
Last Updated: 2026-09-01