LOGINMenjadi pelatih olahraga privat untuk para istri milliarder, dan dikejar kejar oleh para nyonya besar itu bukanlah cita citaku. Tapi siapa sangka, profesi itu merubah hidupku seratus delapan puluh derajat. Bahkan kehadiranku mampu menguak rahasia besar yang tidak terduga, di balik glamornya kehidupan para milliarder.
View More“Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa kulit mahal, membiarkan matanya yang tajam dan lapar menelusuri setiap jengkal tubuh atletis Reno. Reno tersentak, jakunnya naik turun saat ia menelan ludah dengan susah payah. Angka yang disebutkan wanita itu terasa tidak nyata di telinganya. "Se... sepuluh juta, Nyonya? Anda tidak sedang bercanda, kan?" tanya Reno dengan suara yang nyaris tak keluar. Wajahnya yang lugu menampakkan keterkejutan yang murni. Dia adalah seorang mantan atlet yang kini sedang dihimpit kesulitan finansial hingga berada titik terendah, seketika merasa dunia seakan berhenti berputar sejenak usai mendengarkan tawaran menggiurkan itu. Reno memiliki segudang prestasi di bidang olahraga pada beberapa tahun lalu. Tapi kini, dia terpaksa menjadi tukang parkir di depan sebuah minimarket karena sulitnya mencari pekerjaan di kota metropolitan. Hingga tiba saat itu, dimana dia mendapat tawaran pekerjaan yang mengejutkan dari salah satu member minimarket tersebut, yang tidak lain adalah Winda. Tanpa Reno sadari, rupanya selama ini Winda sudah memperhatikan dirinya. Winda juga sering memberikan uang parkir dengan nominal yang besar pada Reno, karena diam diam Winda menyukainya. Hingga akhirnya pada hari itu, perempuan kaya tersebut nekat menawarkan pekerjaan gila pada Reno. "Apa aku terlihat seperti sedang melucu, Reno? Tentu saja itu serius. Bagiku, uang segitu tidak ada artinya dibandingkan kenyamanan yang bisa kamu berikan saat melatihku. Eh maksudnya kenyamanan untuk kesehatanku,” ucap Winda. Jemari lenturnya dengan berani menyentuh lengan Reno, meraba otot bisepnya yang keras di balik kaus tipis yang dikenakannya. Reno mundur selangkah, merasa rikuh dengan sentuhan yang terlalu akrab itu. "Tapi, Nyonya... saya harus tahu detailnya. Maksud saya, tugas apa saja yang harus saya lakukan? Dan jam berapa saya harus mulai? Jujur saja, saya tidak memiliki peralatan atau sertifikat fisioterapi yang lengkap jika Anda membutuhkannya,” cemas Reno mengutarakan kebimbangannya untuk menerima tawaran itu. Winda kembali mendekat, mengikis jarak yang sengaja dibuat oleh Reno. "Tugasmu sederhana. Cukup pastikan tubuhku tetap kencang, temani aku di gym pribadi, dan... yah, mungkin memberikan pijatan relaksasi jika aku merasa lelah setelah latihan. Waktunya? Kapan pun aku menelepon, kamu harus datang. Privat artinya aku tidak mau ada orang lain yang tahu,” terang Winda dengan nada suara yang lembut. Matanya menatap tajam ke arah Reno. Reno terdiam, guratan kecemasan makin muncul di dahinya yang polos usai mendengar penjelasan tersebut. "Nyonya, mohon maaf sebelumnya. Yang saya tahu, suami Anda adalah seorang Jenderal Polisi yang sangat terhormat. Jika saya datang ke sana di jam-jam yang tidak menentu, saya takut akan timbul fitnah. Saya takut... saya takut terseret kasus jika ada yang salah paham. Dan saya takut di penjara Nyonya,” ucap Reno dengan jujur. Winda tertawa lagi, kali ini lebih keras, seolah ketakutan Reno adalah hal paling lucu sedunia. "Suamiku? Mas Reno yang ganteng, suamiku itu lebih mencintai tugasnya daripada istrinya sendiri. Dia jarang pulang, dan semua orang di rumah ini adalah orang-orangku. Kamu aman di bawah perlindunganku,” sahut Winda dengan santai. Reno menunduk, menatap lantai marmer yang mengkilap. Logikanya berteriak untuk lari, tapi nuraninya berteriak lebih keras tentang keadaan di rumah. Ia teringat wajah adik perempuannya yang masih sekolah, yang kini terancam diambil oleh rentenir kejam karena utang mendiang ayahnya yang menumpuk. Rentenir itu memberi tenggat waktu hanya satu bulan, atau adiknya akan dijual untuk melunasi bunga utang yang menggila. "Sepetinya aku harus Terima tawaran ini,” gumam Reno dalam hati. "Kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Winda, seolah bisa membaca pikiran Reno. Ia mengelus pipi Reno dengan punggung tangannya. Reno sejenak memejamkan mata. Tidak bisa dia pungkiri, bahwa dia memang membutuhkan uang itu. “Iya Nyonya. Saya butuh uang untuk bayar hutang keluarga. Jika tidak, adik saya akan dijual oleh rentenir. Dan waktunya hanya satu bulan,” terang Reno dengan jujur. "Terima tawaran ini, dan aku bisa berikan uang muka sekarang juga. Kamu hanya perlu patuh padaku, Reno. Kamu mengerti?” Reno kembali memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ketakutan adiknya jika dia gagal.Dan akhirnya, dengan berat hati dan perasaan yang berkecamuk, ia mengangguk pelan. "Baik, Nyonya. Saya... saya terima pekerjaannya." Winda tersenyum penuh kemenangan. Matanya berkilat puas melihat mangsa barunya telah masuk ke dalam jaring yang ia bentangkan. "Pilihan yang cerdas, Reno. Mari kita buat jadwal latihan pertama kita... yang sangat privat,” bisik Winda tepat di telinga Reno. Reno merasakan sensasi dingin menjalar dari tengkuk hingga ke tulang belakangnya saat mendengar bisikan Winda yang begitu dalam. Tubuhnya memang kekar, bahunya lebar, dan tinggi badannya jauh melampaui wanita di hadapannya ini. Namun, di balik fisik yang tangguh itu, Reno belum memiliki pasangan.Ia belum pernah menjalin hubungan serius, apalagi berhadapan dengan wanita sekelas Winda yang aura agresivitasnya terasa begitu menekan. Winda melangkah memutari tubuh Reno, seolah sedang memeriksa kualitas barang belanjaan yang baru saja ia beli dengan harga mahal. "Kamu tegang sekali, Reno? Santai saja. Aku tidak menggigit... kecuali kalau kamu yang memintanya," ucap Winda dengan tawa kecil yang terdengar sangat berani di telinga Reno. Reno memalingkan wajah, berusaha menjaga pandangannya tetap pada vas bunga mahal di sudut ruangan daripada menatap garis leher pakaian Winda yang terlalu rendah. "Maaf, Nyonya. Saya hanya... saya hanya ingin memastikan jadwalnya agar tidak berbenturan dengan urusan lain," jawab Reno terbata-bata. "Urusan lain apa? Pacar?" Winda berhenti tepat di depan Reno, menatap lurus ke dalam matanya yang tampak gugup. "Saya tidak punya pacar, Nyonya," aku Reno jujur, sebuah kejujuran yang kemudian ia sesali karena melihat binar di mata Winda semakin terang. "Oh? Baguslah. Itu artinya konsentrasimu tidak akan terbagi," Winda mengulurkan tangan, merapikan kerah kaus Reno yang sedikit miring. Jari-jarinya yang dingin sengaja berlama-lama menyentuh kulit leher Reno. "Besok jam sepuluh pagi. Datanglah ke ruang olahraga di lantai dua. Aku sudah meminta pelayan untuk tidak mengganggu kita selama dua jam,” lanjut Winda sebelum percakapan mereka berakhir. "Baik, Nyonya. Saya permisi dulu,” jawab Reno hanya bisa mengangguk kaku. Sepanjang perjalanan pulang dengan motor tuanya, pikiran Reno berkecamuk. Angin malam yang menerpa wajahnya tidak mampu mendinginkan kepalanya yang panas. Bayangan tentang ruang olahraga yang tertutup, hanya ada dia dan Winda dalam jarak yang sangat dekat, melakukan gerakan-gerakan fisik yang pasti akan melibatkan sentuhan... itu semua membuat jantungnya berdegar tidak keruan. “Ingat Reno! Ini hanya kerja! Kamu harus profesional! Semua ini demi hutang keluarga Reno, demi Reni!” tegur Reno pada dirinya sendiri di dalam hati sambil mencengkeram stang motornya lebih erat. Ia mencoba menanamkan sugesti pada jiwanya yang polos. Ia tahu dirinya laki-laki normal, dan Winda adalah wanita yang sangat cantik meski usianya jauh di atasnya. Namun, ia tidak boleh goyah. Begitu sampai di depan rumah kontrakan kecilnya, ia melihat Reni sedang duduk di teras dengan tumpukan buku pelajaran di pangkuannya. Wajah adiknya yang tampak kelelahan namun tetap berusaha tersenyum menyambutnya adalah pengingat yang paling tajam. "Kak Reno baru pulang? Sudah makan?" tanya Reni lembut. "Sudah, Ren. Kamu jangan tidur terlalu malam. Kakak sudah dapat pekerjaan bagus. Bulan depan, kakak pastikan orang-orang itu tidak akan datang lagi ke sini untuk mengancammu,” jawab Reno sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang. “ Serius kak?” “Iya.” Reni tampak lega, meski ia tidak tahu pekerjaan apa yang sebenarnya diambil oleh kakaknya. Reno masuk ke dalam rumahnya yang sempit, merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Ia menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur. Besok adalah hari pertamanya. Ia harus menyiapkan mental. Ia harus menganggap Winda hanyalah klien biasa, bukan seorang wanita yang haus akan perhatian. Namun, jauh di lubuk hatinya, Reno tahu bahwa menghadapi Winda akan jauh lebih berat daripada mengangkat beban seratus kilogram di gym. Pemuda perjaka itu memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan senyum predator milik Nyonya Winda yang terus menghantuinya sebelum ia terlelap.Suasana yang semula tegang dan penuh intimidasi itu mendadak luruh, hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Reno, yang sudah bersiap menerima amarah atau pengusiran, justru terpaku saat melihat bahu Winda mulai berguncang hebat. Sebutir air mata jatuh melintasi pipi mulus berhias riasan mahal itu, disusul isakan pelan yang menyayat keheningan ruang tengah yang megah.Reno panik luar biasa. Tangannya terangkat di udara, bingung harus melakukan apa. Dia belum pernah menghadapi wanita yang menangis sedu-sedan seperti ini, apalagi wanita itu adalah majikan yang baru saja menggodanya dengan agresif."Nyonya... Nyonya Winda? Kenapa? Saya... saya mohon maaf jika kata-kata saya terlalu kasar. Tolong jangan menangis," ucap Reno terbata-bata, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang tulus.Winda tidak berhenti. Ia justru menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air matanya ramai ramai berjatuhan.Isakannya kini berubah menjadi tangisan yang lebih dalam, seolah ada bendungan
Suasana di dalam kamar utama yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Reno. Wangi aromaterapi melati yang lembut kini justru terasa seperti kabut yang mencekik paru-parunya. Reno tetap berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja dikunci oleh Winda, kedua tangannya mengepal erat di sisi paha, berusaha mencari kekuatan dari permukaan kulit celana kargo yang ia kenakan. Di depannya, Winda bergerak dengan keanggunan yang berbahaya. Tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa canggung, wanita itu menanggalkan blus sutranya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai marmer bagaikan kelopak bunga yang layu. Kini, ia hanya mengenakan singlet berbahan spandeks yang sangat tipis dan celana olahraga pendek yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang terawat hasil perawatan puluhan, mungkin ratusan jutaan rupiah. Winda kemudian melangkah menuju tempat tidur king-size dengan sprei sutra berwarna emas. Ia duduk di tepian kasur, menyilangkan kakinya yang jenjang, dan menumpukan kedu
Suasana di ruang tengah yang megah itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran aroma parfum mahal. Ketegangan terpancar jelas dari garis wajah Winda yang mulai mengeras. Ia melepaskan rangkulannya dari lengan Reno, lalu berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap kedua temannya dengan tatapan yang bisa membekukan air."Erma, Helen... kurasa gelas kalian sudah kosong. Dan sopir kalian pasti sudah bosan menunggu di depan. Aku punya jadwal latihan khusus malam ini dengan Reno. Jadi aku harus fokus. Tidak mau terganggu!” seru Winda dengan nada bicara yang ditekan, sebuah pengusiran halus yang dibungkus dengan ketegasan seorang istri jenderal. Erma, yang tampak paling bersemangat, justru menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa beludru, kakinya yang jenjang menyilang dengan angkuh. "Ayolah, Win. Jangan pelit begitu. Kita sudah berteman bertahun-tahun. Apa salahnya berbagi pelatih? Lagipula, tubuh Reno yang besar ini pasti sanggup menangani kita bertiga sekaligus, kan?" Erma
Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perintah dari Nyonya Winda. Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, layar ponselnya tetap gelap. Tak ada pesan masuk. Reno duduk di kursi kayu ruang tamu, berpura-pura sibuk memeriksa tali sepatunya yang sebenarnya sudah rapi. Ia mengenakan kaus polo hitam yang paling layak ia miliki, yang mencetak jelas lekuk otot dadanya yang bidang. Ia ingin terlihat profesional, meski jiwanya yang polos terus-menerus dirundung kecemasan.Reni, yang baru saja pulang sekolah, duduk mendekat ke sisi kakaknya. Gadis itu kemudian bertanya."Kak Reno... katanya hari ini mulai kerja?" Reno tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia memaksakan senyum tipis yang tampak kaku. "Iya, Ren. Ini... kak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.