Mag-log inMenjadi pelatih olahraga privat untuk para istri milliarder, dan dikejar kejar oleh para nyonya besar itu bukanlah cita citaku. Tapi siapa sangka, profesi itu merubah hidupku seratus delapan puluh derajat. Bahkan kehadiranku mampu menguak rahasia besar yang tidak terduga, di balik glamornya kehidupan para milliarder.
view moreDalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,
Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik
Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya."Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur."Len, tolong dengerin ka
Ciiiiiittttt!Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan."Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak.""Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru
Suasana di dalam kamar utama yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Reno. Wangi aromaterapi melati yang lembut kini justru terasa seperti kabut yang mencekik paru-parunya. Reno tetap berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja dikunci oleh Winda, kedua tangannya mengepal erat di s
Suasana di ruang tengah yang megah itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran aroma parfum mahal. Ketegangan terpancar jelas dari garis wajah Winda yang mulai mengeras. Ia melepaskan rangkulannya dari lengan Reno, lalu berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap kedua temannya dengan tatapa
Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perinta
“Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.