Chapter: 79. Raut Wajah Tampak PahitUntuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri. Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya. “Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik mangkuk berisi sup. Dia menyendok sepotong umbi-umbian berwarna kuning dan jingga dan menyuapkannya ke arah Runala. Alih-alih membuka mulut, Runala malah menghidu uap hangat sup. Aroma tajam, segar, bercampur petrikor memenuhi indra penciumannya. “Ini sup apa?” tanyanya seraya menunjuk sendok yang dipegang Solvatar. “Apa ini juga dihidangkan pada raja dan ratu?”Glabela Solvatar berkerut mendengar dua pertanyaan beruntun. “Aku bisa memanggil koki istana supaya kau bisa bertanya, tapi sebaiknya
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: 78. Alis Terangkat HeranLima orang pelayan istana memandu jalan ke sisi timur istana. Sepanjang jalan, genggaman tangan Solvatar tidak pernah mengendur. Jemarinya menangkup tangan Runala begitu erat, seolah-olah jika dia lepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap seperti embun terkena matahari. Runala hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik dalam diam seraya tatapannya bergerak mengagumi kemegahan luar biasa yang terpampang di depan.Bangunan ini sungguh menakjubkan sekaligus terasa begitu ironis. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih yang memantulkan cahaya obor dinding laksana cermin. Pilar-pilar penyangga dilapisi ukiran emas membentuk sulur-sulur pohon kuno, dan panji-panji beludru bersulam benang perak bergambar serigala yang memamerkan taring tergantung anggun di setiap jarak sepuluh langkah. Udara di sini hangat dihiasi wewangian mahal menguar dari setiap sudut.Pikiran Runala mendadak melayang kembali ke Demura. Tempat itu berada di bawah langit yang sama, berdiri di atas tanah Wolfaer
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 77. Tidak Sulit untuk MenebakPintu tertutup dengan debum halus di belakang Runala, seketika memutus kehangatan yang tersisa dari kamar tidur raja dan ratu Wolfaern. Koridor istana menyambutnya dengan hawa dingin yang mencengkeram.Sebelum melangkah lebih jauh, Kanavar yang tadi mengantar, menghentikan langkahnya. Lelaki bertubuh tegap itu berbalik menghadap Runala, lalu melirik Ragnavar yang berdiri tidak jauh dari mereka.Kanavar membungkuk hormat kepada kakak tertuanya, menunjukkan kepatuhan istana. Ragnavar hanya mengangguk samar dengan senyum sumir yang elegan.Kanavar kemudian beralih menatap Runala. Ada binar ramah sekaligus sungkan di matanya. “Runala, maaf kita belum sempat berkenalan dengan layak karena situasi mendesak tadi. Sekarang aku perlu meminta pelayan istana untuk menyiapkan kamar untukmu dan Solvatar beristirahat nanti.”Runala buru-buru membungkuk hormat, menyunggingkan senyum santun. “Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pangeran Kanavar.”Kanavar mengangguk sekilas, lalu menepuk ringan b
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 76. Aroma Teh dari Cangkir“Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di atas lantai marmer. “Aku kira kau pulang secepat ini karena mendengar kabar itu. Mereka jatuh sakit secara mendadak tidak lama setelah kau pergi, Solvatar. Beberapa hari terakhir ini mereka benar-benar melemah hingga tidak bisa meninggalkan ranjang.”Solvatar tidak menyahut lagi. Namun, rahangnya makin mengeras. Jelas, ada maksud khusus bagi Ragnavar untuk menyembunyikan berita besar ini darinya. Padahal kakak sulungnya itu saling berkirim surat dengannya. Mereka bertiga berjalan membelah koridor panjang kastel yang megah tetapi terasa sunyi. Di sisi mereka, pilar-pilar batu tinggi menjulang, menumpu langit-langit yang dihiasi panji-panji berlukis wajah serigala yang memperlihatkan taring.
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 75. Hawa Dingin yang PekatDua hari berikutnya berlalu seperti embusan angin yang memburu waktu. Berkat peta rahasia dan petunjuk jalur yang diberikan oleh kawanan Yegor, perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima hari terpangkas secara ekstrem menjadi hanya tiga hari.Di batas hutan terakhir yang berbatasan langsung dengan jalan makadam menuju ibu kota, Yegor dan anak buahnya menarik diri. Mereka pamit untuk bergerak ke jalur berbeda, meninggalkan Solvatar, Runala, dan para pengawal setianya untuk melanjutkan sisa perjalanan dengan kereta kuda mereka.Perpisahan itu berlangsung singkat. Yegor bukan tipe yang menyukai basa-basi panjang. Kendati demikian, sebelum berbalik pergi, lelaki itu sempat mengangkat satu tangan sebagai salam perpisahan. Solvatar membalas dengan anggukan kecil penuh penghargaan. Tidak ada ucapan terima kasih berlebihan, tetapi keduanya memahami bahwa bantuan yang diberikan kawanan Yegor telah memperbesar peluang mereka untuk tiba di Volkara dengan selamat.Kini, kereta itu melaju manta
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: 74. Permainan yang Tidak Melibatkan PerasaanHening seketika mencekik kabin kereta yang terus bergerak membelah rimba. Kalimat yang baru saja diucap Runala menyisakan gema yang membekukan atmosfer di antara mereka. Solvatar tidak melepaskan dekapan, lamun tubuhnya menegang kaku. Sepasang netra emasnya menatap Runala dengan kilat tidak percaya. Ada luka yang coba dia sembunyikan di balik topeng ketegasan seorang Alpha.“Apa maksudmu?" Glabela Solvatar berkerut. Suaranya rendah dan bergetar oleh riak panik yang tertahan. “Setelah semua yang kita lalui, kau mendadak ingin mundur?”Runala menghela napas, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bertalu-talu. Dia menegakkan punggung, menciptakan jarak tipis di antara mereka agar bisa menatap Solvatar dengan sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya redup lampu minyak di dalam kereta.“Aku memikirkan kembali keputusanku, Solvatar. Aku merasa ... aku telah gegabah,” bisik Runala parau. Dia menunduk pada jemarinya yang masih gemetar di atas pangkuan. “Aku sempat menola
Last Updated: 2026-06-06