LOGINRunala adalah satu-satunya manusia di Demura. Hidup di desa terpencil yang menjadi sarang para penjahat werewolf itu melatih Runala untuk terbiasa hidup di dekat maut. Dia harus menyamarkan bau tubuhnya agar tidak berakhir menjadi mangsa para predator yang lapar. Akan tetapi, ancaman terbesar Runala bukan hanya kematian, melainkan rahasia yang terjahit di balik kulitnya sendiri. Sepasang taring emas yang terus berdenyut nyeri setiap kali dia berdekatan dengan Solvatar, sang Alpha dingin yang menjadikannya sebagai "Luna Palsu". Kini Runala terjebak dalam sandiwara berbahaya. Di bawah tatapan posesif Solvatar yang mulai menuntut lebih, Runala harus memilih untuk terus menahan perih dari luka atau membiarkan sang Alpha membongkar rahasia di dalam sana. Meski itu berarti kematian bagi mereka berdua.
View MoreDi dunia yang dipenuhi predator, aroma adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Bagi Runala, aroma adalah vonis mati yang harus gadis itu sembunyikan setiap detik.
Runala menembus rimbunnya hutan di pinggiran Desa Demura. Dengan sengaja menghindari jalan utama desa yang kini sesak oleh prajurit kerajaan.
Kabarnya, ada kepala desa baru yang datang. Belum ada yang mampu bertahan mengatur tempat ini. Semua akan pergi sebelum purnama berikutnya.
Begitulah yang terjadi pada para pendahulu yang berusaha mengatur desa ini.
Demura bukanlah sekadar desa buangan. Tempat ini serupa dengan lubang hitam bagi para penyamun dan kriminal kelas kakap.
Mereka tidak lagi diterima oleh desa mana pun. Di sini, hukum rimba menjadi satu-satunya aturan.
Desa yang menjadi tempat para pendosa paling kejam bersembunyi di balik bayang-bayang kemiskinan dan debu.
Udara di sekitarnya lembap, berbau tanah basah dan lumut. Hingga paru-paru Runala terasa seperti terbakar oleh setiap tarikan napas yang dia paksakan.
“Jangan berlari terlalu kencang, Runala.” Suara lembut Margreta sang ibunda terngiang. Kepingan memori usang yang selalu menghantuinya. “Detak jantung manusia adalah musik yang paling ingin didengar oleh taring mereka. Jadilah bayangan, atau kau akan menjadi mangsa.”
Runala mempererat genggaman pada seikat akar Silver-Lace. Tanaman berbunga perak itu berlumuran tanah.
Garon sedang kritis di gubuknya. Werewolf tua adalah satu-satunya yang peduli setelah ibunya tiada.
Dia tidak akan membiarkan penyakit paru-paru perak merenggut pria itu.
“Runala ... sudahlah... jangan merepotkan dirimu,” gumam Garon tadi pagi di sela batuk darahnya. “Kau hanya seorang Omega kecil berhati baik. Jangan bersusah payah hanya demi orang tua sepertiku yang sudah tinggal menunggu ajal.”
Runala tidak akan berhenti. Tidak untuk Garon.
Langkah kaki Runala menghantam dedaunan kering. Hingga terdengar gemeresik yang terlalu keras di kesunyian hutan. Runala tahu ini berbahaya. Namun, setiap detik adalah nyawa.
Tidak jauh dari jalur yang sedang ditempuh Runala, Solvatar duduk di atas batang pohon tumbang. Jubah kebesarannya tersampir. Kakinya menjulur di tanah yang lembap.
Lelaki itu butuh ruang.
Tempat busuk ini merupakan hinaan bagi indra penciuman Solvatar. Namun, setidaknya di sini tenang dan damai.
Jauh dari wajah-wajah ketakutan penduduk desa dan tatapan mata-mata yang dikirim ayahnya dalam kedok pasukan pengawal.
Kekuatan Alpha yang bergejolak di dalam dada selalu terasa seperti api yang ingin membakar segalanya jika dia terlalu lama berada di dekat kerumunan yang lemah.
Perlahan, Solvatar memejam. Dengan indra pendengaran, dia menyaring kebisingan hutan. Suara burung gagak, gesekan dahan pohon dan sesuatu yang lain.
Langkah kaki.
Suaranya sangat ringan, tetapi ritmenya kacau. Bukan langkah kaki pemburu, juga bukan langkah kaki prajurit. Seseorang sedang berlari dengan keputusasaan yang jelas.
Solvatar bergeming. Derap itu makin dekat ke arahnya. Dia justru sengaja menghalangi jalur sempit di antara semak-semak duri dengan kaki kirinya.
Hanya karena ingin tahu siapa werewolf yang cukup bodoh untuk berlari tanpa waspada di wilayah kekuasaannya.
Sementara itu, sedikit lagi, Runala mencapai jalur tikus di balik pepohonan tua. Jalur yang akan membawanya langsung ke belakang gubuk Garon.
Paling penting, di tidak harus berpapasan dengan satu pun prajurit dari istana.
Akan tetapi, di tengah fokusnya pada jalan di depan, sebuah benda perak berkilau menyilaukan.
Di bawah cahaya matahari yang menembus celah pohon, sepatu bot baja menghentikan langkahnya.
Runala tidak sempat mengerem. Dia menjerit ketika tubuhnya terpelanting, menghantam akar pohon yang keras. Seikat akar obat di tangannya terbang ke udara.
Lalu mendarat di atas tanah yang lembap. Gadis itu jatuh tersungkur. Sehingga jubah merah kumalnya tersingkap. Napasnya seolah-olah dicabut paksa tatkala hawa dingin yang menindas tiba-tiba menyelimuti seluruh tempat itu.
Jelas, itu bukan sekadar aura prajurit. Itu adalah tekanan dari seorang Alpha yang begitu kuat. Sangat kuat. Hingga membuat bulu kuduk meremang dan perut Runala seperti diaduk-aduk.
Runala membeku di atas tanah, tidak berani langsung mendongak. Di depannya, berdiri sepasang kaki terbalut pelindung baja yang sangat bersih. Terlalu bersih untuk tempat menjijikkan seperti ini.
Glabela Solvatar berkerut pada jeritan itu. Suara yang kecil dan melengking. Seorang perempuan. Dia mengenakan jubah merah kumal yang baunya sangat mengganggu. Seperti campuran belerang, lumpur, dan tanaman busuk.
Hingga membuat hidung Solvatar berkedut tidak nyaman. Gadis itu terlihat seperti Omega rendahan yang baru saja merangkak keluar dari lubang tambang.
Akan tetapi, saat dia membeku di bawah kaki Solvatar, atmosfer di sekitar mereka seolah-olah berubah.
Jantung Runala berhenti berdetak sejenak. Dia menelan ludah. Sekarang fokusnya adalah kembali ke gubuk Garon tanpa terlibat masalah apa pun.
Tatkala Runala mengangkat wajah, hal pertama yang dia lihat adalah sepasang netra emas yang menatap dengan tatapan predator lapar.
Di detik yang sama, luka jahitan di pahanya tiba-tiba berdenyut membara seolah-olah bereaksi pada kehadiran lelaki di hadapannya.
Solvatar bangkit lantas melangkah maju, tetapi tiba-tiba makhluk itu berteriak.
“Jangan diinjak!” pekik Runala seraya memungut seikat bunga dari tanah yang sebagian tertahan bot Solvatar. “Aku mohon.”
Di antara helai rambut merah kecokelatan yang berantakan, Solvatar melihat sepasang netra yang melebar ketakutan. Saat itulah, insting serigalanya meraung.
Sebuah reaksi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Di bawah bau belerang busuk dan lumpur amis, ada sebuah aroma yang menyelinap masuk ke paru-paru.
“Kau memohon,” ulang Solvatar dengan nada datar. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang aneh menempel di telapak botnya. “Hanya untuk tanaman?”
“I-ini obat.” Runala menelan saliva. “Seseorang sedang sekarat.”
Solvatar menarik napas panjang lagi. Sengaja, memenuhi paru-paru dengan wangi khas yang menguar dari gadis itu.
Wangi itu tipis, sangat halus, sekaligus begitu murni hingga membuat kepala Solvatar pening. Baunya seperti bunga liar yang mekar di tengah badai.
Anehnya, tidak ada jejak serigala di sana. Seolah-olah itu berasal dari makhluk yang tidak seharusnya ada di sini.
“Banyak orang sekarat di Demura.” Kendati berat hati, Solvatar menggeser kaki. Bukannya peduli, melainkan karena tanaman itu tidak cukup menarik untuk diinjak. “Itu bukan urusanku.”
Untuk sedetik, Solvatar berniat langsung pergi. Satu langkah sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan ini.
Akan tetapi, kakinya tidak bergerak. Seolah-olah pikiran Solvatar memberontak pada dirinya sendiri. Dia lantas membungkuk ke arah gadis berkulit pucat itu.
“Hei.” Suara Solvatar lebih keras dari yang dia inginkan. “Angkat wajahmu.”
Solvatar mencengkeram dagu Runala dengan kasar, hingga tatapan mereka bertemu.
Di detik yang sama, tatkala kulit mereka bersentuhan, sebuah kejutan listrik yang tajam menghantam layaknya sengat petir yang menjalar dari ujung jari langsung ke jantung.
Solvatar melepaskan sentuhan. Anehnya, kulit gadis itu terasa sangat dingin. Namun, di titik sentuhan itu, Solvatar merasa seperti menyentuh besi panas.
“Kau—” Solvatar tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Keterkejutan Solvatar dilihat sebagai kesempatan bagi Runala. Gadis itu bergegas menyambar tas, bangkit dengan sisa tenaga.
“Berhenti!” perintah Solvatar begitu berhasil menguasai diri. “Berlutut sekarang juga di tempatmu!”
Runala mengabaikan itu. Dia menghilang ke dalam rimbunnya hutan sebelum Solvatar sempat menyadari bahwa serigala dalam dirinya baru saja melolong dalam keheningan.
Sebuah pengakuan pada pasangan sejati yang seharusnya tidak mungkin ada.
Sengatan petir beberapa detik lalu, bergema di benak Solvatar. Diikuti ucapan peramal kerajaan.
“Pangeran ke-19 akan hidup sendirian. Tanpa pernah punya pasangan. Selamanya.”
Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. “Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah mematikan.Solvatar mendampingi
Kesunyian kembali menguasai kamar setelah Solvatar memberikan perintah cepat pada prajuritnya. Dalam beberapa menit, beberapa tangkai tanaman daun Silver-Lace lengkap dengan akarnya sudah diantar ke dalam kamar sang kepala desa. Kini, di atas meja, Runala bekerja dengan gerakan cepat yang terampil, menghancurkan kelopak hingga menjadi pasta berwarna biru terang. Tangannya gemetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena sisa waktu Garon hampir habis.Di bawah pengawasan tajam Solvatar, Runala meraih selembar perkamen kecil dan mulai menuliskan instruksi dosis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Pengetahuan literasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Omega rendahan yang tinggal di desa terpencil.Setelah kurir suruhan Solvatar pergi membawa obat itu, udara di dalam kamar terasa makin berat. Runala masih berdiri di balik pintu, bahunya tegang, menatap papan baja yang tertutup seolah-olah ingin menembusnya.“Duduklah, Rabbit.” Suara Solvatar memecah keheningan, rendah dan me
Lampu obor yang berkedip di dinding menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Sehingga siluet Solvatar di atas tempat tidur tampak dua kali lebih besar.Runala berdiri terpaku di dekat pintu. Tangan gadis itu terkepal di sisi tubuh. Paha kanannya terasa panas. Benjolan di kulit pahanya itu berdenyut kencang dan menimbulkan nyeri hebat. Seperti ada puluhan tawon menyengat bersamaan. “Mendekatlah.” Suara Solvatar rendah, serak, dan penuh otoritas yang tidak terbantahkan.Runala melangkah maju setapak demi setapak dengan kepala tertunduk. Dia bisa mencium aroma Solvatar yang mirip bau hutan pinus terbakar matahari. Entah bagaimana, itu membuatnya merasa pening.“Angkat wajahmu, Rabbit,” perintah Solvatar lagi.Saat Runala mendongak, ia mendapati sepasang netra emas itu sedang menatapnya. Solvatar meraih tas kulit kusam milik Runala yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke lantai berlapis permadani.Glabela Runala berkerut. Dia menandai itu sebagai tindakan
Seminggu berlalu sejak insiden di hutan. Runala mulai percaya bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Lelaki bernetra emas itu telah melepaskannya dengan tatapan hina yang paling dia syukuri seumur hidup. Jika menilai dari tatapannya yang tampak terkejut sekaligus muak, mungkin kehadiran Runala merusak selera makan sang kepala desa. “Kau beruntung dia sedang dalam suasana hati yang baik, Runala,” ujar Garon lirih. Suaranya sudah jauh lebih kuat kendati napasnya masih terdengar berat. “Seorang pimpinan dari pusat kerajaan biasanya akan merobek leher siapa pun yang berani melintasi jalurnya. Apalagi, kudengar yang datang kali ini adalah seorang pangeran.”Runala hanya mengangguk kecil sambil mengaduk sisa ramuan di lumpang kayu. “Dia tidak akan peduli pada Omega sepertiku, Kakek Garon. Baginya, aku hanya debu di bawah sepatu botnya.”“Semoga saja begitu,” harap Garon. Sepertinya werewolf tua itu sangat mengkhawatirkan nasib Runala karena bertemu dengan kepala desa yang baru. Runal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.