Chapter: 187. Keputusan yang tidak bisa dirubah.Dregory tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah Kaisar pergi.Ia tetap berdiri di tempatnya sementara pintu barak perlahan tertutup, memutuskan suara langkah para pengawal dan pejabat istana yang mengikuti penguasa kekaisaran itu.Tidak ada seorang pun yang berbicara. Keheningan yang tersisa terasa jauh lebih menyesakkan daripada perdebatan sebelumnya.Grand Duke Rurich masih berada di sana.Pria itu memandang Dregory cukup lama, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Namun pada akhirnya, tidak banyak yang bisa disampaikan dalam keadaan seperti ini."Maaf." Suara itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang.Siera melihat rahang Felix mengeras. Isaac mengalihkan pandangannya ke sisi lain ruangan, sementara Hugo hanya berdiri diam dengan ekspresi yang tidak berubah.Permintaan maaf itu tidak mengubah apa pun, tidak menghapus sabotase yang terjadi dan tidak mengembalikan kehormatan Elvorn yang baru saja diinjak-injak.Dan tentu saja tidak mengubah
Dernière mise à jour: 2026-06-10
Chapter: 186. Sebelum Musim dingin.Meskipun Dregory sudah memintanya kembali ke tribun, Siera tetap mengikuti rombongan Elvorn. Ia berjalan beberapa langkah di belakang ayahnya bersama Felix dan Isaac, mengabaikan tatapan para pelayan maupun ksatria yang menyadari keberadaannya.Saat ini ia tidak peduli apakah dirinya seharusnya berada di arena sebagai penonton atau tidak. Yang ingin ia ketahui hanya satu hal.Apa yang sebenarnya sedang terjadi.Semakin banyak hal yang terjadi hari ini, semakin ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Mereka berjalan dengan tenang , namun semakin mendekat, penjagaan yang terlihat semakin ketat.Para ksatria istana berdiri di setiap sudut dengan tombak di tangan dan wajah tanpa ekspresi. Bahkan suasana di sekitar terasa berbeda, jauh lebih menekan dibandingkan keramaian arena yang baru saja mereka tinggalkan.Saat memasuki barak utama yang disiapkan untuk Kaisar, Siera langsung menyadari bahwa hampir semua orang penting sudah berada di sana.Kaisar berdiri di dekat meja panjang
Dernière mise à jour: 2026-06-10
Chapter: 185. SabotaseSemua mata tertuju pada Hugo.Pria berkacamata itu berdiri tenang di samping Dregory, tangannya terselip rapi di belakang punggung. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun setelah melontarkan dugaan bahwa ada pihak yang sejak awal tidak menginginkan kemenangan Elvorn.Ia tidak terlihat menantang, tidak pula meminta dukungan. Ia hanya menyampaikan kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.Dregory menghela napas pendek sebelum berkata datar, “Diamlah, Hugo. Kau selalu bicara tanpa memedulikan keadaan.”Hugo menundukkan kepala sedikit sebagai tanda menerima teguran, tetapi tidak menarik kembali ucapannya.Felix justru melangkah setengah langkah ke depan. “Tapi yang dikatakan Hugo benar, Yang Mulia.”Siera yang berdiri di luar barak bersama Mia tanpa sadar menguatkan perkataan itu dalam hati.Hugo memang bukan orang yang banyak bicara. Dalam kebanyakan rapat, ia lebih sering diam sambil mencatat daripada ikut berdebat.Namun setiap kali membuka mulut, kalimatnya biasanya langsung menyen
Dernière mise à jour: 2026-06-10
Chapter: 184. Bukan Kecelakaan.Keributan langsung pecah di seluruh arena.Para penonton yang sebelumnya duduk tenang kini serentak berdiri dari kursi mereka. Suara teriakan dan seruan kaget saling bersahutan memenuhi tribun. Beberapa orang bahkan berdesakan maju ke pagar pembatas, berusaha melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi di lintasan.Semuanya berlangsung terlalu cepat.Kuda yang ditunggangi Dregory berlari seperti kehilangan kendali. Tubuh besarnya menerjang lurus tanpa menghiraukan jalur perlombaan, menghamburkan debu dan rumput di belakangnya. Dalam hitungan detik, kuda itu keluar dari arena, melewati gerbang utama dengan kecepatan yang mengerikan, lalu menghilang dari pandangan semua orang.Keheningan yang aneh langsung menyelimuti arena. Begitu mendadak hingga suara-suara riuh sebelumnya seakan terputus begitu saja.Semua orang terpaku.Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang baru saja mereka saksikan.Bahkan para petugas pertandingan tampak saling memandang dengan wajah kebingungan. Beberapa d
Dernière mise à jour: 2026-06-10
Chapter: 183. Singa Emas.Hening.Seketika suasana arena berubah.Siera yang semula hanya memperhatikan arena dengan santai tanpa sadar mengangkat kepalanya. Matanya menyapu tribun yang dipenuhi ribuan penonton, berharap mendengar sorakan atau tepuk tangan seperti biasanya setiap kali nama keluarga besar diumumkan.Namun tidak ada, tidak terdengar satu pun sorakan dan tidak ada tepuk tangan yang menggema memenuhi arena.Bahkan bisikan-bisikan para bangsawan yang sebelumnya terus terdengar dari berbagai arah ikut menghilang begitu saja.Keheningan yang muncul terasa begitu mendadak hingga membuat Siera mengernyit.Beberapa saat yang lalu arena ini masih dipenuhi suara tawa, percakapan, dan teriakan para penonton yang menikmati pertandingan. Namun sekarang, setelah nama Elvorn dan Rurich disebut, suasana seolah membeku.Siera mengedarkan pandangannya perlahan.Para bangsawan yang duduk di tribun kehormatan tampak saling bertukar tatapan. Sebagian terlihat menegakkan tubuh mereka tanpa sadar, sementara yang lain
Dernière mise à jour: 2026-06-09
Chapter: 182. Nona bangsawan dan pelayan.Srak!Suara kursi yang bergeser keras membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh tanpa sadar. Roseth berdiri dengan wajah yang sudah tidak mampu lagi menyembunyikan kemarahannya.Tatapan tajam yang sejak tadi ia arahkan kepada Siera kini terasa jauh lebih terang-terangan. Sesaat wanita itu hanya berdiri diam, seolah masih menimbang apakah ia harus mengatakan sesuatu atau tidak. Tapi pada akhirnya, ia memilih berbalik tanpa sepatah kata pun.Clarisse yang masih duduk di sampingnya tampak menahan napas sesaat. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi kegagalan menyembunyikan kekecewaan di matanya membuat semua usaha itu sia-sia.Setelah menatap Siera beberapa detik, ia akhirnya ikut berdiri dan menyusul Roseth tanpa menambahkan apa pun.Siera memperhatikan punggung kedua wanita itu hingga menghilang di antara para bangsawan yang memenuhi tribun. Setelah itu ia justru terkekeh pelan. Rasanya benar-benar menggelikan.Sejak tadi mereka terus berbicara tentang kesopanan, tata krama
Dernière mise à jour: 2026-06-09
Chapter: 496. SelesaiKalimat itu membuat udara pagi terasa semakin sunyi.Jester tetap diam.Namun kali ini diamnya bukan karena dingin atau penolakan, melainkan karena kata-kata itu menyentuh sesuatu yang bahkan sejak tadi belum sempat ia hadapi.Memaafkan Ivanka.Jester menghela napas panjang. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya dari makam lalu menoleh ke samping dan tatapannya jatuh pada Azalea.Wanita itu berdiri di sisinya dengan tenang, wajahnya lembut, matanya memandang Jester dengan pengertian yang dalam.Tanpa berkata apa-apa, Jester mengulurkan tangan dan merengkuh Azalea ke dalam pelukannya.Pelukan itu erat.
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 495.Akhir dari segalanya.Pagi itu langit tampak kelabu.Awan tipis menggantung rendah di atas tanah pemakaman keluarga Bristov, membuat suasana terasa lebih dingin dan muram daripada biasanya. Embun masih menempel di ujung rerumputan, sementara tanah yang baru digali mengeluarkan aroma lembap yang khas, menegaskan bahwa hari ini benar-benar menjadi akhir bagi seseorang.Pemakaman Ivanka diadakan dengan sederhana.Tidak ada kemegahan seorang bangsawan. Tidak ada barisan panjang kereta keluarga terpandang. Tidak ada pula kerumunan besar yang datang membawa bunga dan belasungkawa.Ivanka bukan lagi bangsawan.Statusnya telah lama hilang bersama kehancuran keluarganya, dan kematiannya pun hanya menarik segelintir orang mereka yang mengenalnya, mereka yang pernah terliba
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 494. Tidak merasa puasKalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang sunyi, namun gelombangnya terasa menyebar ke seluruh halaman.Albert mengangkat wajah sedikit, keterkejutan samar terlihat di matanya. Bukan karena ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi karena mendengar Jester sendiri mengucapkannya membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.Ia segera kembali menunduk.“Baik, Yang Mulia.” Namun sebelum Albert berbalik, Jester kembali berbicara. “Tidak perlu menyembunyikan apa pun.”Suaranya datar, namun kelelahan yang dalam terdengar jelas.“Katakan apa adanya. Dia melompat setelah perdebatan kami.”Albert terdiam sesaat, lalu mengangguk lebih dalam.
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 493. Akhir yang tragisSuasana kastil yang tadi sunyi mendadak berubah kacau.Langkah kaki berlari dari segala arah, suara perintah para pengawal bercampur dengan kepanikan para pelayan yang mendengar teriakan Jester dari atas menara.Sementara di puncak sana, Jester masih berdiri membeku di dekat jendela.Dadanya naik turun.Napasnya terasa tercekat.Untuk sesaat, bayangan Ivanka kecil gadis yang dulu menggenggam tangannya di taman kastil, gadis yang dulu tertawa sambil memanggil namanya bercampur dengan sosok wanita yang baru saja menjatuhkan dirinya ke dalam kegelapan.Semuanya berbaur menjadi satu.Masa lalu dan kenyataan malam ini.
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 492. Tidak lagi mencintaimuJester membeku.Untuk sepersekian detik, bahkan udara di menara itu terasa berhenti bergerak.Ivanka menatapnya lurus, air matanya masih jatuh, namun kini ada kegilaan yang jelas di balik matanya.“Aku bisa menjadi istrimu,” lanjutnya, suaranya bergetar oleh obsesi yang selama ini ia sembunyikan. “Aku bisa kembali ke tempat yang seharusnya menjadi milikku.”Keheningan yang mengikuti terasa begitu berat.Jester memandang wanita di hadapannya seolah sedang melihat orang asing.Bukan Ivanka yang dulu pernah ia lindungi.Bukan gadis yang dulu menangis di balik punggungnya.
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 491. Aku bisa menggantikanyaLangkah Jester bergema berat di sepanjang tangga batu menara paviliun. Satu demi satu anak tangga ia naiki tanpa ragu, sementara angin malam yang masuk dari jendela-jendela sempit membawa hawa dingin yang menusuk. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sunyi suasana di sekitarnya, seolah seluruh kastil menahan napas menunggu apa yang akan terjadi di puncak sana.Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya.Tidak ada lagi penundaan.Yang tersisa hanya satu hal jawaban.Jawaban atas semua kebohongan, semua kekacauan, dan luka yang baru saja hampir merenggut nyawa Azalea.Saat ia akhirnya mencapai lantai paling atas, langkahnya melambat. Cahaya bulan yang jatuh dari jendela besar di ujung menara membentuk siluet seorang wanita yang berdiri membelakan
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: 820 Akhir dari segalanyaPemakaman itu berlangsung tanpa kemewahan.Tidak ada kerumunan pelayat, tidak ada doa panjang yang dilantunkan dengan suara khidmat. Hanya tanah yang digali, peti yang diturunkan perlahan, dan suara sekop yang menimbun kembali lubang itu dengan ritme yang sunyi.Segalanya terasa cepat.Seolah kehidupan seseorang benar-benar bisa berakhir begitu saja tanpa jejak selain nama yang tertinggal di atas batu nisan.Viviene dimakamkan di samping makam ibunya.Itu adalah permintaan Selene.Tidak ada yang mempertanyakannya.Dan kini, tiga makam berdiri sejajar dalam satu garis yang sama Count Moreau, Countess Wendy Moreau, dan Viviene. Tiga nama yang terukir rapi, namun menyimpan kisah yang jauh dari kata damai.Selene berdiri di hadapan mereka.Diam.Tatapannya tertuju pada deretan nisan itu tanpa berpindah, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam dirinya.Di sampingnya, Sylar menghela napas pelan.“Benar-benar… keluarga yang rukun,” ucapnya dengan nada ya
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: 819. Lebih dari sebuah penghinaanTidak ada seorang pun yang bisa mendekati Viviene.Ia berdiri di tengah lapangan eksekusi dengan tubuh terantai, kedua tangannya terikat, dan tubuhnya yang rapuh tampak hampir tidak mampu berdiri tegak. Para penjaga membentuk lingkaran rapat di sekelilingnya, membatasi jarak antara dirinya dan kerumunan yang datang berbondong-bondong hanya untuk menyaksikan akhir hidupnya.Bukan karena aturan semata.Melainkan karena terlalu banyak orang yang menginginkan momen itu.Terlalu banyak yang datang untuk melihat seorang pendosa menghadapi kematiannya.Sorakan mulai terdengar dari segala arah, menggema keras dan kasar, menyesakkan udara yang sudah dingin. Tuntutan demi tuntutan dilontarkan tanpa ampun, bercampur dengan hinaan yang tidak lagi disaring.“Cepat lakukan!”“Dia pantas mati!”“Jangan beri dia waktu lagi!”Suara-suara itu membentuk gelombang kebencian yang nyaris terasa nyata, menghantam tanpa henti ke arah sosok yang berdiri tak berdaya di tengahnya.Namun di antara semua itu, Sel
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: 818. Terakhir kali melihat VivieneDirian menarik napas panjang, lalu menatap Selene dengan sorot mata yang lebih dalam dari biasanya.“Sudahlah, Selene,” ucapnya pelan namun tegas. “Kau sendiri yang mengatakan Sylar berhak melakukan apa pun sekarang.”Ia berhenti sejenak, memastikan wanita di hadapannya memahami maksudnya.“Ayo masuk. Sidangnya akan dimulai.”Selene tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sesaat, lalu mengalihkan pandangan dan melangkah lebih dulu. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan di luar sana.Bersama Dirian dan Sylar, ia memasuki ruang sidang.Ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Deretan kursi dipadati bangsawan, pejabat, hingga mereka yang datang sebagai saksi atau korban. Udara di dalam terasa berat, dipenuhi ketegangan yang tidak disembunyikan.Di kursi tertinggi, Kaisar telah duduk.Wajahnya dingin dan tatapannya tajam. Tidak ada ruang untuk keraguan dalam dirinya hari ini.Sidang dimulai tanpa basa-basi.Dakwaan dibacakan satu per satu dengan suara lantang. Pembunuhan. Penipuan. Penggela
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: 817. Wanita yang sejak kecil kejamSaat tandu itu menghilang di balik gerbang luar, pelataran kastil tidak serta-merta kembali tenang. Orang-orang masih berdiri di tempat mereka, sebagian berpura-pura merapikan pakaian, sebagian lagi saling bertukar pandang dengan bisikan yang belum sepenuhnya reda. Udara malam terasa lebih dingin, seolah peristiwa barusan meninggalkan sesuatu yang menggantung dan belum benar-benar selesai.Di tengah suasana itu, Dirian dan Selene melangkah keluar dari dalam kastil.Cahaya obor menerangi wajah mereka yang kontras Dirian tetap tenang seperti biasa, sementara Selene terlihat lebih sunyi, lebih tertahan. Mereka bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika suara lain lebih dulu memecah keheningan.“Kau menyembunyikan wanita itu selama ini?”Kaisar berdiri tidak jauh dari mereka, tatapannya langsung tertuju pada Dirian. Tidak ada basa-basi, tidak ada nada halus dalam ucapannya. Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan yang sudah ia yakini sejak awal.Dirian tidak menunjukkan reaksi berarti
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: 816. Mendapatkan karmanyaNama itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa seperti sesuatu yang runtuh di dalam keheningan.Bisik-bisik kembali muncul, kali ini lebih jelas dan lebih cepat, menyebar di antara para tamu yang saling bertukar pandang. Tidak ada yang benar-benar berani bersuara keras, tetapi kegelisahan itu terasa mengalir di antara tatapan dan napas yang tertahan.Selene tidak bergerak.Tatapannya tertuju pada surat di tangan kepala keamanan itu, seolah berusaha memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan bukanlah kesalahan. Namun di dalam dirinya, sesuatu yang sempat tenang kini kembali retak. Bukan dengan suara keras, melainkan perlahan, dalam diam yang justru lebih menyakitkan.Dirian akhirnya bergerak.Ia mengambil surat itu dengan tenang, tanpa tergesa. Jari-jarinya membuka segel dengan satu gerakan ringan, lalu matanya langsung menelusuri isi di dalamnya. Tidak ada perubahan ekspresi yang mencolok, namun semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa isi surat itu bukanlah sesuatu yang sede
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: 815. PenahananPesta itu berlangsung dengan kemegahan yang nyaris sempurna, namun keindahannya bukan hanya terletak pada cahaya lampu kristal atau deretan hidangan yang tersaji rapi di sepanjang aula. Ada sesuatu yang lebih dalam mengisi ruangan itu sesuatu yang tidak terlihat, namun bisa dirasakan oleh setiap orang yang hadir.Aula utama kastil Leventis dipenuhi para bangsawan dan tamu undangan dari berbagai wilayah. Gaun-gaun indah berkilauan, jas-jubah formal tertata sempurna, dan suara musik mengalun lembut, menyatu dengan percakapan yang mengisi setiap sudut ruangan. Namun perlahan, semua itu mereda. Suara-suara mulai turun, percakapan terhenti satu per satu, hingga akhirnya perhatian seluruh aula terpusat ke bagian depan.Di sanalah mereka berdiri.Dirian berdiri tegap, seperti biasa tenang, dingin, dan tidak tergoyahkan. Wajahnya tidak menunjukkan banyak emosi, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk menahan seluruh ruangan dalam kendali tanpa perlu sepatah kata pun. Di sampingnya, Selene b
Dernière mise à jour: 2026-03-30