Chapter: 425. Penyerahan diriSemua orang diam, membeku seolah napas mereka dicabut dari dada masing-masing.Lamina berdiri di tengah keheningan itu, wajahnya pucat, matanya redup oleh kesadaran yang terlambat. Ia mengusap lengannya sendiri, seakan hawa dingin baru saja menyusup hingga ke tulang.“Bulan darah…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. “Adalah bulan purnama yang berwarna merah.”Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, seolah takut kata-katanya sendiri. “Setelah aku mengingat kembali… bulan depan adalah waktunya.”Tak ada satu pun yang menyela. Semua mata tertuju padanya.“Dan yang dia maksud dengan menyentuh gunung,” Lamina mengangkat tangannya sedikit, menggambarka
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 424. Hidup abadiLamina membeku.Cangkir di tangannya nyaris terlepas sebelum ia meletakkannya perlahan di atas meja. Jay menoleh dari Lamina ke Dirian, merasakan perubahan suasana meski tidak sepenuhnya mengerti maknanya.Lamina menatap Dirian lama, lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu di matanya kejutan, kewaspadaan, dan sedikit… ketakutan.“Dia menyebutkan itu padamu?” tanya Lamina pelan.Dirian mengangguk singkat. “Dia ingin menikah saat bulan darah menyentuh gunung,” katanya. “Dan di danau dengan pantulan bulan.”Keheningan kembali turun, kali ini jauh lebih berat.Lamina menarik napas perlahan, lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendeka
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 423. Bulan darah menyentuh gunungPertanyaan itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa paksaan justru itulah yang membuatnya terasa berat. Morvena berdiri di hadapannya, kali ini lebih dekat. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan lurus yang tajam, seolah ia sedang menagih sebuah janji, bukan sekadar bertanya.Dirian membeku.Lorong itu kembali terasa terlalu sempit. Cahaya obor memantul di dinding batu, membuat bayangan mereka saling bertumpuk, menyatu lalu terpisah lagi. Untuk sesaat, Dirian tidak langsung menjawab. Ia menatap Morvena, lalu mengalihkan pandangan, seolah mencari celah di udara untuk bernapas.“Aku…” suaranya terhenti.Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seperti seseorang yang sedang menahan runtuhnya sesuatu di dalam dirinya.
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 422 Kesepakatan ayah dan anakDirian mematung dengan ucapan itu, diapun berlutut.Ia tidak bergerak, tidak pula berdiri, seolah jika ia mengubah posisi sedikit saja, jarak yang baru saja ia jembatani akan kembali runtuh. Tinggi mereka kini sejajar, bukan sebagai duke dan pewaris, bukan pula sebagai pria dewasa dan dua anak kecil melainkan sebagai seorang ayah yang sedang diadili oleh darah dagingnya sendiri.Di belakang mereka, dua ibu pengasuh berdiri kaku. Mereka saling melirik, menahan napas, sadar betul bahwa apa pun yang terjadi setelah ini bukan lagi wilayah mereka untuk ikut campur."Apa yang membuat kalian marah padaku?" tanya Dirian berhati hati."Ayah akan mmbunuh kami." Jawab Divrio tanpa ragu."Benar!
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 421. KesayangankuMereka melangkah berdampingan menuju ruang makan. Langkah kaki mereka beradu pelan dengan lantai marmer, menghasilkan bunyi yang teratur namun terasa janggal seperti irama yang dipaksakan untuk berjalan seiring. Selene berjalan di sisi Morvena, sementara Viviene sedikit tertinggal di belakang, tatapannya tenang namun penuh perhitungan.Keheningan itu terlalu panjang untuk dibiarkan.Selene akhirnya membuka suara, nadanya lembut namun tajam di ujungnya. “Morvena,” katanya tanpa menoleh, “apakah kau benar-benar mencintai Dirian?”Morvena tersenyum kecil, seakan pertanyaan itu menghiburnya. Ia memiringkan kepala, rambut merahnya berkilau di bawah cahaya lampu. “Apakah kau tidak menyukainya?” balasnya ringan, hampir menggoda.Selene menggeleng pelan.
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 420. Tiga wanitaSelene mengerjap sekali. Hanya sekali, namun cukup untuk menahan gelombang emosi yang tiba-tiba naik ke dadanya. Ia menatap Viviene dengan sorot mata waspada, seolah satu kata yang salah bisa membuat semuanya runtuh.“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti permukaan air sebelum badai.Viviene menyeringai. Senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.“Aku akan membantumu,” katanya pelan namun penuh keyakinan. “Aku akan memastikan kau tetap berada di posisimu. Di tempat yang aman. Masa depan anak-anakmu akan terjamin.”Selene menatapnya tajam.Viviene berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun aku membutuhkamu.”
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 142. Kebenaran“Apa saja yang dikatakan Viona pada Anda?”Nada suaranya tenang, namun justru ketenangan itu yang membuat udara di sekitar mereka terasa menegang. Viona, yang berdiri sedikit di belakang Viscount Katris, refleks mengangkat kepala. Bibirnya terbuka, seolah ingin menjelaskan atau mungkin membela diri.Namun sebelum satu kata pun keluar, Elyse mengangkat tangannya.Gerakan itu tidak kasar. Tidak juga terburu-buru. Hanya satu isyarat sederhana, namun cukup untuk membuat Viona terdiam sepenuhnya. Elyse tidak menoleh. Tatapannya tetap terkunci pada Viscount, seolah dunia di sekelilingnya sudah tidak lagi penting.Viscount memperhatikan itu semua dengan saksama. Ia menghela napas perlahan, lalu menggeleng.“Viona tidak mengat
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 141. Lady EUcapan Elyse menggantung lama di udara, seperti membuka kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.Semua orang terdiam, bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena ingatan itu datang terlalu jelas.Saat di mana dua keluarga besar itu pernah berdiri di sisi yang sama, mereka memiliki hubungan kerja sama antara keluarga Leclair dan Katris dibangun dengan harapan, ambisi, dan janji keuntungan besar.Dan saat di mana semuanya runtuh.Kebangkrutan bisnis Count Leclair datang lebih dulu, disusul kehancuran bisnis Viscount Katris. Sejak hari itu, tudingan saling dilemparkan, kepercayaan berubah menjadi kebencian, dan hubungan yang dulu erat terpecah oleh rasa bersalah yang tak pernah benar-benar diakui.Padahal… Orang yang mendo
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 140. Dua keluargaLangit di luar mansion tampak muram, seolah ikut menekan suasana di dalam ruangan itu. Elyse masih berdiri di dekat pintu, tubuhnya kaku, ketika kalimat Countess Leclair terus terngiang di kepalanya.Tertangkap basah tidur di kamar yang sama.Kata-kata itu belum sempat ia cerna sepenuhnya ketika pintu mansion kembali terbuka dengan keras, nyaris menghantam dinding.BRAK!Semua kepala menoleh.Viscount Katris masuk dengan langkah panjang dan berat, wajahnya merah padam. Di belakangnya, Viscountess Katris menyusul, biasanya anggun dan tenang, namun kali ini rautnya retak dan mata tajamnya menyimpan campuran amarah, kekecewaan, dan ketakutan yang mendalam.“Viona.” Suara Viscount rendah n
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 139. Delapan mingguDyall menatap Elyse tanpa berkedip. Seolah dunia di sekelilingnya menghilang, seolah hanya ada wajah wanita itu pucat, bingung, dan masih berusaha memahami kenyataan yang baru saja dijatuhkan kepadanya.“Jadi…” suara Dyall terdengar lebih rendah dari biasanya, serak namun jelas, “istriku hamil.”Semua orang di ruangan itu menahan napas. Para pelayan tidak berani mengangkat kepala. Dokter berdiri kaku. Elyse merasakan dadanya mengencang ketika tatapan Dyall kembali padanya tatapan yang berbeda dari yang pernah ia lihat sebelumnya. Tidak dingin. Tidak tajam. Ada sesuatu yang bergetar di sana.“Benar, Yang Mulia,” jawab dokter akhirnya. “Usianya kurang dari delapan minggu.”Dyall mengangguk pelan, seolah menghitung sesuatu di dala
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: 138. MengandungTanpa banyak bicara, Dyall benar-benar menepati ucapannya. Ia mengangkat tubuh Elyse dan membawanya pergi, menjauh dari keramaian, dari cahaya kembang api, dari bisik-bisik yang tak pernah memberi ruang bernapas. Tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan hanya langkah yang pasti, seolah keputusan itu sudah lama diambil.Elyse mengikutinya begitu saja. Suara pesta perlahan memudar di belakang mereka, digantikan oleh desir angin malam dan derap langkah yang teratur. Ia bahkan tidak sempat berpikir ke mana mereka akan pergi, yang ia tahu hanyalah perasaan lega yang pelan-pelan merayap di dadanya.Perjalanan berlangsung dalam diam. Kereta kuda melaju menembus malam, dan Elyse menatap keluar jendela, membiarkan gelap menelan sisa-sisa gemerlap yang masih terbayang di matanya. Dyall duduk di seberangnya, tenang seperti biasa, namun kehadirannya terasa lebih nyata,
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 137. Kembang apiSeolah satu kalimat itu cukup untuk membekukan udara.Percakapan di sekitar mereka terhenti. Tawa, bisikan, bahkan suara gelas yang beradu mendadak lenyap. Semua mata tertuju pada Elyse.Wajah Elyse seketika memerah, panasnya menjalar hingga ke telinga. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk seolah lantai jauh lebih menarik daripada tatapan orang-orang. Jantungnya berdetak terlalu cepat, campuran malu, kesal, dan perasaan asing yang tak ingin ia akui.Ivanka membeku. Senyum tipis di wajahnya mengeras, lalu perlahan retak. Ia membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak satu pun kata keluar. Untuk pertama kalinya, ia kehabisan respon.Jester terdiam, tangannya mengepal tanpa sadar. Viona menahan napas, sementara Ector mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak m
Last Updated: 2026-01-10