Chapter: Malam yang membuat Nadira lelah Hujan turun sejak sore.Suara rintiknya memukul genteng kontrakan kecil tempat Nadira tinggal bersama tujuh perempuan lain yang sama-sama merantau untuk kuliah di kota itu. Malam biasanya menjadi waktu paling tenang bagi Nadira. Setelah seharian kuliah, ia hanya ingin mandi air hangat, memakai piyama longgar, lalu berbaring sambil menonton drama dari ponselnya.Namun beberapa bulan terakhir, malam tidak lagi terasa menenangkan.Semenjak berpacaran dengan Gerry, hidup Nadira perlahan berubah.Awalnya semuanya terlihat normal.Gerry perhatian, lucu, dan selalu membuat Nadira merasa dibutuhkan. Lelaki itu sering menjemputnya pulang kuliah, membawakan makanan favoritnya, bahkan menghafal jadwal menstruasi Nadira agar bisa mengingatkannya membeli obat saat perutnya sakit.Nadira pikir ia menemukan seseorang yang tulus.Seseorang yang bisa menjadi tempat pulang.Tetapi semakin lama, perhatian Gerry berubah menja
Última actualización: 2026-05-21
Chapter: Bab 3 — Awal yang Tak DisangkaMalam di kota itu turun perlahan. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan warna kekuningan di aspal yang masih basah setelah hujan sore. Nadira duduk di teras kos sambil memegang gelas kopi hangat. Angin malam membawa aroma tanah basah yang entah kenapa selalu membuatnya merasa tenang.“Dir, kenalin dong sama temanku,” suara zayn memecah lamunannya.Nadira menoleh. Di samping zayn berdiri seorang laki-laki dengan jaket hitam dan senyum tipis di wajahnya.“Ini Gery. Satu kampus sama kita, anak fakultas teknik,” kata zayn santai.“Eh, halo,” ucap Nadira sambil sedikit canggung.“Halo juga,” jawab Gery. “Kayaknya aku sering lihat kamu di kampus deh.”Nadira tersenyum kecil. “Mungkin aja.”Obrolan singkat malam itu ternyata terasa menyenangkan. Gery tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya terasa hangat dan mudah membuat Nadira nyaman. Sampai akhirnya Rani baru menyadari sesuatu.“Eh iya! Kos kalian tuh
Última actualización: 2026-05-21
Chapter: BAB 2 Kota Baru, Langkah BaruBus yang ditumpangi Nadira akhirnya memasuki Jakarta saat langit masih berwarna abu pucat.Matanya langsung terpaku ke luar jendela.Gedung-gedung tinggi berdiri memenuhi sisi jalan. Kendaraan bergerak tanpa henti. Lampu kota masih menyala meski pagi mulai datang.Jakarta terasa hidup.Terlalu hidup.Nadira menggenggam tas ranselnya erat di pangkuan. Perasaannya campur aduk antara kagum, takut, dan tidak percaya.Ia benar-benar sampai di kota impiannya.Kota yang selama ini hanya ia lihat lewat televisi dan internet.“Neng, terminal terakhir.”Suara kernet membuyarkan lamunannya.Nadira buru-buru berdiri sambil membawa koper kecil berwarna biru tua miliknya. Koper itu sudah cukup tua karena sebenarnya barang bekas pemberian tetangga.Namun Nadira tetap menjaganya baik-baik.Begitu turun dari bus, udara Jakarta langsung terasa berbeda. Panas, padat, dan bising.Orang-o
Última actualización: 2026-05-21
Chapter: BAB 1 Gadis Kecil dan Kota yang Terlalu Besar Hujan turun pelan di kota kecil itu. Bukan hujan deras yang membuat orang berlarian mencari tempat berteduh, melainkan gerimis panjang yang membuat udara terasa dingin dan sepi. Dari jendela kamar sempitnya, Nadira memandangi jalanan depan rumah yang mulai basah. Beberapa anak kecil masih bermain bola tanpa peduli pakaian mereka penuh lumpur. Nadira tersenyum kecil. Kadang ia rindu menjadi anak-anak seperti mereka. Tidak memikirkan uang sekolah. Tidak memikirkan masa depan. Tidak memikirkan bagaimana caranya keluar dari hidup yang serba kekurangan. Namun hidup tidak pernah benar-benar memberi Nadira kesempatan untuk menjadi anak kecil terlalu lama. Sejak ayahnya pergi dengan memilih menikah lagi, semuanya berubah. Ibunya harus bekerja sendiri. Dan Nadira belajar memahami bahwa hidup bisa sangat kejam bahkan sebelum seseorang cukup dewasa untuk mengerti dunia.
Última actualización: 2026-05-21