Sidang Terakhir Sebelum Menjadi Ibu

Sidang Terakhir Sebelum Menjadi Ibu

last updateLast Updated : 2026-05-21
By:  BellaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
8
1 rating. 1 review
4Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Nadira tidak pernah membayangkan hidupnya berubah secepat itu. ia justru harus menyembunyikan kenyataan pahit bahwa dirinya hamil oleh lelaki yang pernah berjanji akan bertanggung jawab. Namun semua janji itu hilang begitu saja. Lelaki yang menghamilinya memilih menikah dengan perempuan lain. Hidupnya tetap tenang, bahagia, dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara Nadira harus menanggung sendiri rasa malu, cibiran, kehilangan mimpi, dan beban menjadi seorang ibu di usia yang belum siap. Di tengah sidang kuliah terakhirnya, Nadira berdiri di antara pilihan: menyerah pada keadaan atau memperjuangkan hidup untuk dirinya dan bayi yang tidak pernah salah dilahirkan. Ini bukan hanya tentang pengkhianatan. Ini tentang seorang perempuan yang dipaksa menjadi kuat karena kesalahan seseorang yang hidupnya masih bisa damai sampai hari ini. *“Dia melanjutkan hidupnya tanpa rasa bersalah. Sedangkan aku harus bertahan dengan luka yang dia tinggalkan.”*

View More

Chapter 1

BAB 1 Gadis Kecil dan Kota yang Terlalu Besar

Hujan turun pelan di kota kecil itu.

Bukan hujan deras yang membuat orang berlarian mencari tempat berteduh, melainkan gerimis panjang yang membuat udara terasa dingin dan sepi. Dari jendela kamar sempitnya, Nadira memandangi jalanan depan rumah yang mulai basah. Beberapa anak kecil masih bermain bola tanpa peduli pakaian mereka penuh lumpur.

Nadira tersenyum kecil.

Kadang ia rindu menjadi anak-anak seperti mereka. Tidak memikirkan uang sekolah. Tidak memikirkan masa depan. Tidak memikirkan bagaimana caranya keluar dari hidup yang serba kekurangan.

Namun hidup tidak pernah benar-benar memberi Nadira kesempatan untuk menjadi anak kecil terlalu lama.

Sejak ayahnya pergi dengan memilih menikah lagi, semuanya berubah.

Ibunya harus bekerja sendiri.

Dan Nadira belajar memahami bahwa hidup bisa sangat kejam bahkan sebelum seseorang cukup dewasa untuk mengerti dunia.

“Nadira!”

Suara ibunya terdengar dari dapur.

“Iya, Bu!”

“Berangkat sekolahnya jangan telat!”

Nadira segera meraih tas lusuhnya yang sudah dipakai hampir tiga tahun terakhir. Resleting bagian sampingnya rusak dan warnanya mulai memudar, tetapi Nadira selalu menjaganya tetap bersih.

Ia keluar kamar dan menemukan ibunya sedang membungkus nasi goreng sederhana ke dalam kotak makan.

“Ini buat makan siang.”

“Ibu enggak makan?”

“Ibu nanti makan di warung.”

Nadira tahu itu bohong.

Ibunya sering bilang sudah makan padahal belum.

Perempuan itu bekerja sebagai pencuci baju. Kadang menerima pesanan baju sekolah, kadang hanya memperbaiki celana sobek milik tetangga. Penghasilannya tidak menentu, tetapi ibunya selalu berusaha membuat Nadira merasa cukup.

Nadira duduk di kursi kayu kecil dekat dapur.

“Ibu capek?”

Ibunya tersenyum sambil mengusap kepala Nadira.

“Kalau lihat kamu sekolah rajin begini, capeknya hilang.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Nadira terasa hangat sekaligus sesak.

Ia tahu ibunya menggantungkan harapan terlalu besar padanya.

Dan Nadira takut mengecewakannya.

“Kata Bu Rina hari ini pengumuman beasiswa keluar.”

Ibunya langsung menoleh cepat.

“Yang universitas itu?”

Nadira mengangguk pelan.

Beasiswa itu adalah satu-satunya jalan agar Nadira bisa kuliah.

Tanpa itu, mustahil bagi mereka membayar biaya hidup di kota besar.

Ibunya menggenggam tangan Nadira perlahan.

“Kamu pasti bisa.”

“Aku takut gagal, Bu.”

“Kamu udah berjuang sejauh ini.”

Tatapan ibunya begitu lembut.

“Kadang Tuhan kasih jalan buat orang yang enggak berhenti berusaha.”

Nadira tersenyum kecil walau dalam hatinya kegelisahan terus tumbuh.

---

Sekolah SMA Negeri Harapan Bangsa berdiri di pinggir kota kecil yang bahkan jarang muncul di peta wisata. Bangunannya sederhana. Cat temboknya mulai pudar dan beberapa kipas kelas tidak lagi berfungsi.

Namun bagi Nadira, sekolah itu adalah tempat yang menyimpan semua mimpinya.

Ia bukan murid paling kaya.

Tetapi hampir semua guru mengenalnya.

Nadira selalu datang paling pagi.

Rajin mengikuti organisasi sekolah.

Aktif dalam kegiatan sekolah

Teman-temannya sering bertanya kenapa ia tidak pernah terlihat bermain seperti remaja lain.

Jawabannya sederhana.

Karena Nadira tidak punya kemewahan untuk gagal.

Saat jam istirahat, beberapa siswa berkumpul di depan kelas membicarakan pengumuman beasiswa nasional yang akan keluar hari itu.

“Aku yakin yang lolos pasti Nadira.”

“Iya, nilai dia paling tinggi.”

“Dia juga aktif banget.”

Nadira yang sedang membaca buku hanya tersenyum kecil mendengar mereka.

Namun di balik wajah tenangnya, tangannya dingin.

Ia gugup.

Sangat gugup.

Sahabatnya, Sinta, duduk di sebelahnya sambil membawa dua gelas es teh.

“Nih.”

“Makasih.”

“Kamu tegang ya?”

“Kelihatan?”

“Banget.”

Nadira tertawa kecil.

“Aku takut terlalu berharap.”

Sinta menggeleng cepat.

“Kalau kamu enggak lolos, berarti sistemnya yang salah.”

“Kamu bisa aja.”

“Serius, Nadira.”

Sinta menatapnya yakin.

“Kamu tuh beda.”

Nadira tidak menjawab.

Ia tidak pernah merasa spesial.

Ia hanya seseorang yang terlalu takut hidup miskin selamanya.

Bel sekolah berbunyi nyaring.

Jam pelajaran berikutnya dimulai.

Namun baru beberapa menit guru matematika menjelaskan, suara langkah sepatu terdengar dari luar kelas.

Bu Rina, wali kelas mereka, berdiri di depan pintu sambil membawa map biru.

“Permisi sebentar.”

Semua murid langsung menoleh.

Bu Rina terlihat tersenyum.

“Nadira, bisa keluar sebentar?”

Jantung Nadira langsung berdegup keras.

Tangannya gemetar saat berdiri.

Sinta langsung menggenggam lengannya pelan.

“Tenang.”

Nadira mengangguk walau napasnya terasa sesak.

Ia mengikuti Bu Rina menuju ruang guru.

Lorong sekolah terasa lebih panjang dari biasanya.

Pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.

Bagaimana kalau ia gagal?

Bagaimana kalau semua perjuangannya belum cukup?

Sesampainya di ruang guru, Bu Rina memintanya duduk.

Perempuan paruh baya itu membuka map biru di tangannya perlahan.

“Nadira…”

Suara beliau terdengar lembut.

“Ibu bangga sama kamu.”

Nadira menatapnya bingung.

Lalu Bu Rina menyerahkan sebuah lembar pengumuman resmi dengan logo universitas besar di bagian atas.

Mata Nadira langsung mencari kalimat inti di tengah halaman.

Dan dunia terasa berhenti ketika ia membacanya.

**Selamat. Anda dinyatakan lolos program beasiswa penuh Universitas Nasional Jakarta.**

Nadira membeku.

Matanya langsung panas.

Ia membaca ulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Takut kalau semua itu hanya halusinasi.

“Saya… lolos?”

Bu Rina tersenyum haru.

“Kamu lolos, Nadira.”

Air mata langsung jatuh tanpa izin.

Tangannya menutup mulut menahan tangis.

Ia benar-benar lolos.

Beasiswa penuh.

Sampai lulus.

Artinya…

Ia bisa kuliah.

Ia bisa mengejar mimpi yang selama ini terasa terlalu jauh.

Bu Rina memegang tangan Nadira lembut.

“Kamu pantas mendapatkannya.”

Nadira menangis kecil sambil tertawa.

“Terima kasih, Bu…”

“Ibumu pasti bangga sekali.”

Kalimat itu justru membuat tangis Nadira semakin pecah.

Karena yang pertama kali terlintas di kepalanya memang ibunya.

Perempuan yang selama ini bekerja siang malam agar dirinya bisa tetap sekolah.

---

Berita itu menyebar cepat di sekolah.

Beberapa guru datang memberi selamat.

Teman-temannya memeluknya bergantian.

“Nanti jangan lupa sama kita kalau udah sukses!”

“Keren banget, Nadira!”

“Jakarta loh!”

Nadira hanya bisa tersenyum malu.

Sore itu ia pulang lebih cepat.

Langkahnya hampir seperti berlari kecil sepanjang jalan menuju rumah.

Dadanya penuh kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

“Ibu!”

Nadira membuka pintu rumah dengan napas terengah.

Ibunya yang sedang menjahit langsung terkejut.

“Kenapa?”

Nadira tidak langsung bicara.

Ia menyerahkan surat pengumuman itu dengan tangan gemetar.

Ibunya membaca perlahan.

Lalu diam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Nadira…”

“Aku lolos, Bu.”

Suaranya pecah.

“Aku dapat beasiswa penuh.”

Ibunya langsung berdiri dan memeluk Nadira erat sekali.

Tangis perempuan itu pecah di pundaknya.

“Alhamdulillah…”

Nadira ikut menangis.

Rumah kecil itu mendadak terasa penuh harapan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Mereka merasa hidup mungkin benar-benar akan berubah.

---

Malam itu mereka makan dengan lauk sederhana.

Tempe goreng.

Sayur bening.

Dan sambal buatan ibu.

Namun rasanya jauh lebih istimewa dibanding makanan mahal mana pun.

Ibunya terus tersenyum sepanjang makan malam.

Mereka memang jarang membicarakan ayahnya karena terlalu menyakitkan.

Ayah Nadira menikah lagi ketika Nadira didalam kandungan

Sejak saat itu ibunya berubah menjadi perempuan paling kuat yang pernah Nadira kenal.

“Aku cuma pengen hidup kita lebih baik, Bu.”

Ibunya menggenggam tangannya.

“Kamu enggak punya kewajiban memperbaiki semuanya sendirian.”

“Tapi aku mau.”

Suasana mendadak hening.

Nadira tahu hidup mereka tidak mudah.

Ia sering melihat ibunya menjahit sampai larut malam demi membayar listrik dan uang sekolah.

Kadang mereka harus menghemat makan di akhir bulan.

Kadang ibunya pura-pura kenyang agar Nadira bisa makan lebih banyak.

Karena itu Nadira belajar satu hal sejak kecil.

Ia tidak boleh menyerah.

---

Hari-hari berikutnya dipenuhi persiapan keberangkatan.

Tetangga mulai berdatangan ke rumah.

“Anaknya Bu Ratna hebat ya.”

“Kuliah di Jakarta katanya.”

“Pasti nanti jadi orang sukses.”

Ibunya hanya tersenyum rendah hati setiap kali mendengar pujian itu.

Namun Nadira tahu perempuan itu diam-diam sangat bangga.

Di kamar kecilnya, Nadira mulai membereskan barang-barang.

Bajunya tidak banyak.

Sebagian bahkan sudah lama.

Tetapi ia tidak peduli.

Yang penting ia bisa berangkat.

Malam sebelum keberangkatan, listrik rumah sempat mati karena hujan deras.

Nadira dan ibunya duduk di ruang tengah ditemani cahaya lilin kecil.

“Aku takut, Bu.”

Ibunya menoleh.

“Takut apa?”

“Kota besar pasti beda.”

Ibunya tersenyum lembut.

“Takut boleh.”

“Tapi jangan sampai berhenti melangkah.”

Nadira memandang nyala lilin kecil di depan mereka.

“Aku janji bakal jaga diri.”

Ibunya mengusap rambutnya perlahan.

“Kamu anak baik.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa membuat mata Nadira kembali panas.

Karena selama ini…

Menjadi anak baik adalah satu-satunya hal yang selalu ia jaga.

Ia tidak pernah merokok.

Tidak pernah pulang malam.

Tidak pernah bergaul sembarangan.

Tidak pernah membuat ibunya malu.

Nadira percaya kalau ia hidup dengan benar, maka hidup juga akan memperlakukannya dengan baik.

Ia belum tahu…

Bahwa kadang luka terbesar justru datang saat seseorang tidak melakukan kesalahan apa pun.

---

Hari keberangkatan tiba.

Terminal bus ramai oleh suara kendaraan dan pedagang kaki lima.

Ibunya berkali-kali membetulkan kerudung Nadira walau sebenarnya sudah rapi.

“Uangnya disimpan baik-baik.”

“Iya, Bu.”

“Kalau sakit langsung bilang.”

“Iya.”

“Jangan gampang percaya orang.”

Nadira tertawa kecil.

“Ibu ngomongnya dari tadi itu terus.”

“Ya habis Ibu khawatir.”

Nadira memeluk ibunya erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, mereka akan berjauhan.

Dan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada yang Nadira bayangkan.

Bus mulai dipanggil.

Nadira naik perlahan sambil menahan tangis.

Dari jendela, ia melihat ibunya berdiri sendirian sambil melambaikan tangan.

Kecil.

Rapuh.

Tetapi penuh cinta.

Bus mulai berjalan meninggalkan terminal.

Nadira menoleh ke luar jendela sampai sosok ibunya tidak lagi terlihat.

Air matanya jatuh diam-diam.

Namun di balik rasa sedih itu, ada harapan besar yang tumbuh dalam dadanya.

Ia akan kuliah di kota besar.

Ia akan mengejar mimpinya.

Ia akan mengubah hidup mereka.

Dan Nadira sama sekali tidak tahu…

Bahwa perjalanan menuju masa depan itu juga akan membawanya pada seseorang yang perlahan menghancurkan hidupnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

thiasayu354
thiasayu354
ditunggu eps selanjutnya
2026-06-19 20:36:12
0
0
4 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status