
Mahkota Darah Sang Permaisuri Yang Terbuang
Di kehidupan masa lalu, Shen Qingge berakhir tragis di Istana Dingin yang kumuh. Setelah mengorbankan segalanya demi membantu sang kekasih, Mo Yuan, naik takhta, ia justru dikhianati secara keji. Kakinya dilumpuhkan, bayinya yang baru lahir dihabisi dengan kejam, dan seluruh keluarga besar Jenderal Shen dimusnahkan tanpa sisa atas konspirasi licik Mo Yuan dan adik tirinya yang munafik, Shen Ruxue. Qingge tewas secara menyedihkan setelah dipaksa meminum racun yang melelehkan organ dalamnya.
Namun, langit mendengar sumpah darahnya. Qingge terlahir kembali ke masa lalu, terbangun di tubuhnya saat masih berusia delapan belas tahun. Di kehidupan kedua ini, ia bukan lagi gadis naif yang bisa dimanipulasi oleh cinta buta. Berbekal ingatan masa lalu dan hati yang sedingin es, Qingge mengambil alih kendali papan catur takdir untuk melindungi keluarganya sekaligus menghancurkan musuh-musuhnya.
Satu per satu intrik busuk ia rancang untuk membalikkan keadaan. Langkah pertamanya dimulai dengan menjebak balik Mo Yuan di arena Perburuan Kerajaan serta menyingkirkan parasit di kediamannya sendiri. Untuk memuluskan misi balas dendam skala besar ini, Qingge menjalin aliansi berdarah dengan Chu Canglan, Pangeran Wangsa Utara yang dikenal sebagai "Dewa Perang Berwajah Iblis".
Bersama Chu Canglan, Qingge mulai mengikis sisa-sisa kekuasaan Mo Yuan, merebut takhta kekaisaran, dan memastikan setiap orang yang telah menumpahkan darah klan Shen merasakan siksaan neraka dunia yang sesungguhnya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah sang mimpi buruk abadi kalian!
Read
Chapter: Makam di Bawah IstanaBatu-batu besar runtuh dari langit-langit.BOOM!BOOM!BOOM!Lorong rahasia berguncang hebat. Debu memenuhi udara, membuat pandangan hampir tidak terlihat.“Qingge!”Chu Canglan menarik rantainya sekuat tenaga.“Keluar dari sini!”Namun Shen Qingge tidak bergerak.Matanya justru tertuju pada dinding di belakang Perdana Menteri Xu.Dari balik dinding itu terdengar derap kaki.Banyak.Sangat banyak.“Jenderal Agung Shen…”Xu tersenyum puas.“Sudah tiba.”KREK!Sebuah bagian dinding batu bergeser.Di baliknya muncul lorong lain yang dipenuhi prajurit bersenjata lengkap.Mereka bukan pasukan Yan.Mereka mengenakan zirah Serigala Putih.Ribuan mata langsung tertuju pada Shen Qingge.“Permaisuri!”“Yang Mulia!”“Jangan bergerak!”Puluhan busur terangkat bersamaan.Shen Qingge berdiri di tengah lorong yang semakin sempit.Di belakangnya, batu-batu terus berjatuhan.Di depannya, ribuan prajurit mengepung.Dan di sampingnya…Chu Canglan masih dirantai.Untuk pertama kalinya malam itu, keadaan
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Kaisar yang Hilang“Yang Mulia!”Teriakan para pengawal mengguncang Aula Naga Emas.Asap putih masih menggantung di udara. Para penjaga batuk sambil berusaha membuka mata, sementara pecahan porselen dan kayu berserakan di lantai.Namun di tengah kekacauan itu, satu hal jauh lebih mengerikan daripada ledakan tadi.Singgasana kekaisaran kosong.“Periksa seluruh aula!”“Jangan biarkan siapa pun keluar!”“Temukan Yang Mulia!”Shen Qingge berdiri di tengah kepulan asap dengan wajah pucat.Matanya bergerak cepat.Singgasana.Jendela.Pintu samping.Langit-langit.Tidak ada jejak.Tidak ada darah.Tidak ada tanda perlawanan.Hanya ada satu benda di atas singgasana.Sebuah liontin giok hitam.Qingge langsung mengenalinya.Itu milik Chu Canglan.Tangannya mengepal.“Jangan panik.”Suara Qingge terdengar dingin.“Segel seluruh istana.”“Mulai sekarang, tidak seorang pun boleh masuk atau keluar.”Seorang jenderal berlutut.“Bagaimana dengan Yang Mulia?”Qingge menatap liontin di tangannya.“Dia masih hidup.”“Baga
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Bayangan di Balik ApiDentuman ledakan masih mengguncang langit ibu kota.Asap hitam membubung dari distrik timur dan selatan, menutupi semburat fajar yang baru saja muncul. Aroma mesiu bercampur kayu terbakar menyelimuti udara, membuat seluruh kota seolah berubah menjadi tungku raksasa.Di atas Menara Phoenix, para jenderal Wangsa Utara langsung menghunus pedang.“Yang Mulia! Izinkan kami membawa pasukan memadamkan api!”“Tidak.”Shen Qingge menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kobaran api.“Tapi gudang perbekalan—”“Itu bukan target mereka.”Semua orang terdiam.Qingge memejamkan mata sejenak.Lalu perlahan membukanya kembali.“Api itu hanya umpan.”Chu Canglan menoleh.“Maksudmu…”“Mereka sedang menarik pasukan kita keluar.”Tatapan Qingge berubah tajam.“Shen Zexian tidak pernah membuang bidak hanya untuk menghancurkan gandum.”“Kalau dia rela mengorbankan penyusup yang sudah bertahun-tahun disembunyikan…”“…berarti target sebenarnya jauh lebih berharga.”Belum selesai ia berbicara—Seorang Pengaw
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: Permainan Sang PemburuKeheningan menyelimuti Gerbang Perak.Seratus ribu pasukan Utara menahan napas. Bahkan embusan angin yang membawa serpihan salju terdengar begitu jelas di tengah sunyi yang menyesakkan.Ujung pedang Shen Zexian masih menempel di tenggorokan pria berzirah yang berlutut di hadapannya.“Tunjukkan bekas lukanya.”Suara Shen Zexian datar.Tidak keras.Namun cukup membuat semua orang merasakan tekanan yang mengerikan.Pria itu tidak bergerak.Tangannya yang mengenakan sarung besi perlahan mengepal.“Aku… tidak mengerti maksud Jenderal Agung.”Tatapan Shen Zexian langsung berubah dingin.“Tidak mengerti?”Senyumnya semakin tipis.“Kalau begitu…”“Matilah.”SRAAK!Pedangnya menusuk lurus ke depan.Namun, tepat sebelum bilah pedang menembus lehernya—CLANG!Pria berzirah itu tiba-tiba menghunus pedang pendek dari balik jubahnya dan menangkis serangan tersebut.Percikan api menyala di antara kedua bilah baja.Dalam satu gerakan, pria itu melompat mundur sejauh belasan langkah.“Musuh!”Teriakan
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: Kota yang Terlalu SunyiAngin dingin menyapu padang bersalju ketika derap seratus ribu kaki kuda mengguncang bumi. Obor-obor perang membentuk lautan cahaya yang membelah malam, sementara bendera Serigala Putih berkibar liar di bawah langit kelam.Di barisan terdepan, Shen Zexian menunggangi kuda hitam kesayangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Mata elangnya tak pernah lepas dari siluet tembok ibu kota Yan yang mulai terlihat di kejauhan.“Jenderal Agung.”Seorang wakil jenderal memacu kudanya mendekat.“Menurut laporan pengintai, tidak ada pergerakan besar di atas tembok kota.”Shen Zexian hanya mengangguk tipis.“Itu berarti Komandan Lin berhasil.”Wakil jenderal itu tersenyum lega.“Kalau begitu, kita benar-benar akan memasuki ibu kota tanpa perlawanan.”Namun entah mengapa…Hati Shen Zexian justru terasa semakin gelisah.Ia telah menghadapi puluhan perang sepanjang hidupnya.Ia tahu…Medan perang yang terlalu tenang jauh lebih mengerikan daripada ribuan anak panah yang beterbangan.Tatapannya menyipit.“K
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Sang Serigala Memasuki PerangkapDi benteng utama Perbatasan Utara, salju turun tipis menutupi halaman markas.Shen Zexian berdiri di depan meja peta sambil menatap jalur menuju ibu kota Kekaisaran Yan. Di belakangnya, para jenderal kepercayaannya menunggu dengan napas tertahan.Seekor merpati putih menerobos jendela yang terbuka.“Surat dari ibu kota!”Shen Zexian membuka tabung bambu di kaki burung itu.Hanya ada satu kalimat.Gerbang Perak telah dikuasai. Jalur menuju Istana Naga Emas aman. Permaisuri menunggu.Di sudut bawah surat itu terlukis lambang burung phoenix emas—sandi rahasia yang hanya diketahui oleh Komandan Lin.Tatapan Shen Zexian langsung berubah tajam.“Akhirnya…”Sudut bibirnya terangkat.“Chu Canglan… malam ini adalah malam kematianmu.”Ia mengepalkan surat itu hingga hancur menjadi serpihan.“Perintahkan seluruh pasukan!”“Seratus ribu prajurit bergerak malam ini!”“Taklukkan ibu kota sebelum matahari terbit!”“Ya!”Dentuman genderang perang mengguncang seluruh benteng.Puluhan ribu obor menyala
Last Updated: 2026-07-26