
Mahkota Darah Sang Permaisuri Yang Terbuang
Di kehidupan masa lalu, Shen Qingge berakhir tragis di Istana Dingin yang kumuh. Setelah mengorbankan segalanya demi membantu sang kekasih, Mo Yuan, naik takhta, ia justru dikhianati secara keji. Kakinya dilumpuhkan, bayinya yang baru lahir dihabisi dengan kejam, dan seluruh keluarga besar Jenderal Shen dimusnahkan tanpa sisa atas konspirasi licik Mo Yuan dan adik tirinya yang munafik, Shen Ruxue. Qingge tewas secara menyedihkan setelah dipaksa meminum racun yang melelehkan organ dalamnya.
Namun, langit mendengar sumpah darahnya. Qingge terlahir kembali ke masa lalu, terbangun di tubuhnya saat masih berusia delapan belas tahun. Di kehidupan kedua ini, ia bukan lagi gadis naif yang bisa dimanipulasi oleh cinta buta. Berbekal ingatan masa lalu dan hati yang sedingin es, Qingge mengambil alih kendali papan catur takdir untuk melindungi keluarganya sekaligus menghancurkan musuh-musuhnya.
Satu per satu intrik busuk ia rancang untuk membalikkan keadaan. Langkah pertamanya dimulai dengan menjebak balik Mo Yuan di arena Perburuan Kerajaan serta menyingkirkan parasit di kediamannya sendiri. Untuk memuluskan misi balas dendam skala besar ini, Qingge menjalin aliansi berdarah dengan Chu Canglan, Pangeran Wangsa Utara yang dikenal sebagai "Dewa Perang Berwajah Iblis".
Bersama Chu Canglan, Qingge mulai mengikis sisa-sisa kekuasaan Mo Yuan, merebut takhta kekaisaran, dan memastikan setiap orang yang telah menumpahkan darah klan Shen merasakan siksaan neraka dunia yang sesungguhnya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah sang mimpi buruk abadi kalian!
Read
Chapter: Skenario Kematian dan Sandiwara SempurnaBau anyir darah bercampur hangus sisa-sisa panah berapi menyelimuti Lembah Tengkorak. Dataran pasir yang semula putih abu-abu kini berubah warna menjadi merah pekat, menyerap ribuan nyawa prajurit suku asing yang tewas dalam hitungan jam. Pembantaian sepihak itu menyisakan keheningan yang mencekam, hanya diinterupsi oleh deru angin malam perbatasan yang membawa debu kering.Shen Qingge berdiri diam di samping jasad Gula yang matanya masih mendelik setengah terbuka. Di tangannya, selembar kain sutra tipis yang tadinya bersih kini telah ternoda oleh tinta hitam dan beberapa tetes darah. Ia memandangi tulisan tangan yang sengaja ia buat menyerupai gaya tulisan kasar komandan intelijen perbatasan."Nona Shen, semua sisa pasukan barbar yang mencoba melarikan diri melalui celah tebing telah dibersihkan tanpa sisa," Wakil Jenderal Qiang melangkah mendekat, zirah hitamnya basah oleh darah musuh. Ia memberi hormat dengan meletakkan kepalan tangan di dada. "Sesuai dengan perintah Anda, kami men
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Deru Angin di Perbatasan BaratPerjalanan menuju perbatasan Barat memakan waktu lima hari lima malam tanpa henti. Rombongan kereta kuda Kediaman Jenderal Shen bergerak di bawah kawalan ketat lima ribu pasukan berkuda elit Wangsa Utara yang dikirim oleh Chu Canglan. Prajurit-prajurit berbaju zirah hitam itu bergerak dalam formasi senyap namun mematikan, menciptakan barikade yang tak tertembus bahkan oleh mata-mata paling terlatih sekalipun.Di dalam kereta kencana yang dilapisi kain beludru tebal, Shen Qingge duduk dengan punggung tegak. Di pangkuannya, sebuah wadah kayu kecil berisi berbagai botol porselen berukuran mini tertata rapi. Ia sedang mencampurkan beberapa bubuk tanaman herbal langka dengan cairan pekat berwarna ungu tua."Nona, kita akan memasuki wilayah perbatasan dalam beberapa jam lagi," A-Zhu berbisik dari sudut kereta, matanya sesekali melirik ke luar jendela yang memperlihatkan lanskap gersang berdebu. "Udara di sini sangat kering, dan hamba bisa merasakan ketegangan dari para prajurit di luar."Qi
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Menari di Atas Bara ApiTiga minggu berlalu dalam ketenangan yang semu. Bagi mata orang awam, Ibu Kota Kekaisaran Jing tampak kembali tenteram setelah badai besar yang menimpa Pangeran Ketiga, Mo Yuan. Namun, di bawah permukaan yang tenang itu, arus konspirasi mengalir semakin deras dan mematikan.Di Paviliun Anggrek, Shen Qingge duduk di depan meja rendahnya, meneliti sebuah peta topografi perbatasan Barat yang digelar lebar. Di tangannya, sebuah kuas tinta hitam bergerak dengan presisi, melingkari sebuah titik mati yang dikenal sebagai Lembah Tengkorak—sebuah celah sempit di antara dua tebing raksasa yang menjadi rute tercepat bagi suku asing jika ingin menembus pertahanan lini depan."Nona, surat umpan yang kita tukar melalui kurir rahasia Selir Agung Qi telah sampai ke tangan pemimpin suku perbatasan," A-Zhu masuk dengan langkah terburu-buru, membawa secangkir teh krisan hangat. "Mata-mata kita di luar kota melaporkan bahwa pergerakan logistik palsu yang Anda rancang telah membuat pasukan barbar mulai me
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: Jaring yang Mulai MenjeratMalam semakin larut ketika Shen Qingge kembali ke Paviliun Anggrek. Gerakan tubuhnya yang lincah dan tanpa suara membuatnya tampak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam. Ia melompat melewati pagar belakang kediaman Jenderal, mendarat dengan mulus di atas rerumputan yang basah oleh embun malam.Begitu ia mendorong daun jendela kamarnya dan melangkah masuk, sosok A-Zhu langsung menyambutnya dengan wajah yang luar biasa pucat. Napas pelayan setia itu memburu, dan kedua tangannya saling meremas dengan cemas."Nona! Syukurlah Anda sudah kembali," bisik A-Zhu dengan suara yang bergetar. Ia segera mengunci jendela dan memeriksa sekeliling paviliun untuk memastikan tidak ada pasang mata yang mengintai. "Beberapa saat setelah Anda pergi, pengawal dari kediaman menteri bagian dalam datang membawa titipan pesan. Suasana di kota luar sangat kacau, Nona. Kabar tentang kejatuhan Pangeran Ketiga telah menyebar ke seluruh penjuru ibu kota seperti api yang menyiram minyak."Qingge berja
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Negosiasi Berdarah di Menara Paviliun GiokMenara Paviliun Giok berdiri anggun di tengah danau buatan yang tenang, terisolasi dari hiruk-pikuk ibu kota. Di lantai teratas menara, angin malam berembus bebas membawa aroma hio cendana yang menenangkan namun pekat.Shen Qingge melangkah masuk dengan jubah hitam ringkasnya. Gerakannya seringan hantu, nyaris tanpa suara. Di dalam ruangan yang hanya diterangi beberapa batang lilin itu, seorang pria sedang duduk menyamping sambil menuangkan arak ke dalam cawan perak.Chu Canglan. Sang Dewa Perang tetap memancarkan aura penindas yang luar biasa bahkan saat ia sedang bersantai."Kau terlambat lima tarikan napas, Rubah Kecil," suara Chu Canglan berat, memecah keheningan malam tanpa menoleh ke arah Qingge.Qingge menurunkan penutup wajah hitamnya, menampilkan wajah cantiknya yang tenang namun menyimpan ketegasan yang dingin. "Menghindari mata-mata sisa faksi Mo Yuan di luar sana membutuhkan sedikit waktu, Yang Mulia. Tapi aku yakin, Pangeran Wangsa Utara yang agung tidak akan mempermasala
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Pembersihan Di Kediaman JendralPenyelidikan Pengawal Emas Istana berlangsung secepat kilat. Bukti-bukti yang dibeberkan oleh Shen Qingge terbukti kebenarannya secara mutlak. Di kediaman Mo Yuan, ditemukan pembukuan rahasia beserta sisa racun "Napas Kematian". Kasim Li yang tidak tahan dengan siksaan di ruang bawah tanah istana akhirnya mengaku bahwa saputangan Jenderal Shen sengaja dicuri atas perintah Mo Yuan untuk menjebak klan mereka.Murka, Kaisar Tua langsung mencopot semua gelar kekaisaran Mo Yuan, menyita seluruh kekayaannya, dan menjatuhkan hukuman tahanan rumah tanpa batas waktu di istana yang terasing. Pangeran Ketiga yang dulunya agung kini tidak lebih dari seorang tahanan cacat yang tak lagi punya masa depan.Namun, bagi Shen Qingge, itu belum cukup. Itu baru satu duri yang tercabut. Sekarang, saatnya ia membersihkan halaman rumahnya sendiri.Di aula utama Kediaman Jenderal Shen, atmosfer terasa begitu mencekam hingga udara seolah membeku. Jenderal Besar Shen duduk di kursi utama dengan wajah badai, tan
Last Updated: 2026-06-01