Chapter: 6. Mau Bercinta Dimana Saja?BAB 6"Berdirilah, Mbok. Bangun, jangan terus bersujud seperti ini," pinta Cakra dengan suara memohon. Mendengar permintaan itu, Mbok Darmi justru semakin gemetar hebat. Wanita paruh baya itu menekan keningnya lebih rapat ke tanah seraya memegangi betis putrinya yang membisu. "Ampun, Pangeran! Mohon jangan murka, hamba bersumpah anak hamba tidak berniat lancang!" ratap Mbok Darmi dengan suara serak bercampur tangis. Semakin disuruh berdiri, wanita tua itu tampak semakin ketakutan setengah mati. Cakra menghela napas panjang, menyadari bahwa keramahannya justru dianggap sebagai awal dari amarah besar sang pangeran bajingan. Pada akhirnya, ia mengalah demi meredakan kepanikan tersebut. "Sudahlah, Mbok, aku ke sini hanya karena merasa haus." "A-air, Gusti?" tanya Mbok Darmi seraya mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah basah air mata."Iya, tolong ambilkan aku segelas air tempayan," ucap Cakra seraya tersenyum ramah. Mbok Darmi buru-buru menyikut pinggang anak perempuannya. "Sek
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-25
Chapter: 5. Siapa Gadis Itu?Bab 5Cakra berlutut di atas lantai papan serambi yang dingin. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh pundak kurus Sari Kembang untuk membantunya berdiri.Namun, baru saja jemarinya menyentuh kain kebaya wanita itu, Sari Kembang tersentak dan meringis kesakitan. Lengan baju batiknya tersingkap sedikit ke atas siku, memperlihatkan gurat luka cambukan panjang yang telah mengering menghitam di kulit putihnya. Seketika itu juga, sekelebat ingatan kelam menyengat kepala Cakra.Malam itu turun hujan lebat, dan sang pangeran asli baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat selepas menelan kekalahan besar di meja judi. Pria keji itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menyabetkan sabuk kulit tebal berkali-kali ke tubuh Sari Kembang yang meringkuk di sudut kamar. “Dasar bajingan!" geram Cakra.Rasa mual yang amat pekat mendadak menekan ulu hatinya. Dia menarik tangannya kembali seraya melangkah mundur dengan napas tertahan, merasa jijik pada perbuatan biadab pemilik raga ini. Melihat sua
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21
Chapter: 4. Membuktikan Keperkasaan Pangeran"Mmhh." Cakra sudah hilang kendali, begitu larut sampai-sampaitak sadar jika masih ada Anjani dan Andini di dalam kamar yang sama.Mata Andini bahkan sampai membelalak melihat adegan itu. Wajahnya terasapanas. Kedua tangannya saling meremas sisi gaun dengan gemetar."Ehem! Gimana, Kanda? Enak kan?"Suara deheman Anjani membuat Cakra tersentak kaget. Kesadarannya punakhirnya kembali, mengambil alih pikirannya yang semula sudah kacau."Astaga, Ratih!" Cakra membuka mata lebar-lebar. Dia buru-burumelepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita itu menjauh. Wajah Cakra sudahmerah padam saat dia rapatkan selimut ke tubuhnya."Jangan di sini, Ratih! Ada Anjani sama Andini! Buat aku malusaja," sungut Cakra kesal."Tapi tadi Kanda sudah ketagihan kan? Enak kan, Kanda?" Ratihtertawa puas, seraya mengancingkan kembali kebayanya."Itu … itu …." Cakra tergagap."Lagipula justru asyik kalau ada saksi," potong Ratih sambilterkikik. "Kanda nggak biasanya malu-malu begini. Padahal dulu Kandapa
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21
Chapter: 3. Lemah Syahwat?Cakra baru saja selesai meminta seorang pelayan mengambilkan air ketikaseorang wanita lain muncul dari balik pintu.“Kanda.” Suara lembut itu membuat Cakra menoleh.Seorang gadis dengan kebaya biru muda berjalan perlahan memasuki kamar.Rambut panjangnya tersanggul sederhana, wajahnya tenang, kedua tangannyamembawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap tipis. Ingatan Cakrabuana pun langsung mengenalinya.Itu Putri Andini si istri keempat, putri Kerajaan Sagara yang dinikahkandengannya sebagai bagian dari perjanjian damai.“Kanda sudah sadar,” ucap Andini dengan senyum tipis, menyerahkanmangkuk itu. “Ini ramuan penghangat badan. Cobalah.”“Terima kasih." Cakra menerimanya. Aroma jahe dan kencur memenuhi hidung. Sebagai mantanperawat IGD, dia terbiasa memperhatikan kondisi pasien.Tubuh ini baru saja mengalami sesuatu yang mencurigakan, jadi diamengendus ramuan itu lebih lama dari wajar sebelum akhirnya menyeruputnya.Rasanya normal. Pedas dan hangat seperti pada umumnya.“Ap
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21
Chapter: 2. Kecurigaan Sang RatuBAB 2Jeritan cempreng Ratih masih terngiang di telinga Cakra, disusul suara grasak-grusuk puluhan sandal pelayan dari arah serambi.Dan yang lebih memalukan lagi, suara wanita itu dengan riang menceritakan detail ranjang mereka kepada siapa pun yang mau dengar.“Ya ampun. Bikin malu aja,” gerutu Cakra sambil buru-buru merapikan kain sarungnya, wajahnya masih panas mengingat kejadian barusan.Belum sempat dia mencerna bagaimana caranya mati lalu terbangun di zaman kerajaan, sekarang dia harus menghadapi lima istri seorang pangeran. Dan satu di antaranya baru saja mengumumkan urusan ranjang mereka ke seantero paviliun.Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di ambang pintu. Cakra mengangkat wajah, menatap asal suara itu.Seorang wanita bergaun ungu bersulam benang perak berdiri di sana, punggung lurus, dagu sedikit terangkat, menatap Cakra dari ujung kepala sampai kaki.“Salam hormat untuk Pangeran Cakrabuana,” ucapnya, menangkupkan kedua tangan di depan dada.Da
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21
Chapter: 1. Tubuh Pangeran Beristri LimaSaat terbangun, tiba-tiba Cakra melihat seorang gadis cantik sedang berada di sisinya!“Kanda Cakrabuana, kenapa kamu masih belum sadar?”Teriakan heboh itu menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Cakra saat kelopak matanya perlahan terbuka. Pemuda itu mengerjap beberapa kali, dan berusaha mencerna sekelilingnya. Ia berada di kamar luas beraroma melati, berbaring di atas ranjang kayu jati berukir, dan ada seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya dengan wajah terkejut sekaligus geli.“Kanda kenapa bisa secepat itu?” Ratih menutup mulutnya sendiri, matanya masih membelalak nggak percaya. “Aku bahkan belum apa-apa, tau-tau udah selesai duluan!”“Hah?” Cakra mengerutkan dahi, kepalanya masih terasa berat dan telinganya berdenging. “Apa maksudmu?”“Ih, Kanda ini pura-pura lupa, ya?” Ratih terkikik, sembari menyeka tangannya sendiri dengan ujung selimut. Cakra semakin bingung. Kepalanya berdenyut, dan dia sama sekali tidak punya ingatan tentang apa yang baru saja terjadi.“Aku .
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21