LOGINBangun dalam tubuh pangeran bengis, tugasku berubah ketika tahu bahwa dia punya lima istri. Aku harus apa sekarang? Tugasku, hanya untuk menyucikan nama baik Pangeran yang selama ini dihina dan direndahkan!
View MoreSaat terbangun, tiba-tiba Cakra melihat seorang gadis cantik sedang berada di sisinya!
“Kanda Cakrabuana, kenapa kamu masih belum sadar?”
Teriakan heboh itu menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Cakra saat kelopak matanya perlahan terbuka. Pemuda itu mengerjap beberapa kali, dan berusaha mencerna sekelilingnya. Ia berada di kamar luas beraroma melati, berbaring di atas ranjang kayu jati berukir, dan ada seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya dengan wajah terkejut sekaligus geli.
“Kanda kenapa bisa secepat itu?” Ratih menutup mulutnya sendiri, matanya masih membelalak nggak percaya. “Aku bahkan belum apa-apa, tau-tau udah selesai duluan!”
“Hah?” Cakra mengerutkan dahi, kepalanya masih terasa berat dan telinganya berdenging. “Apa maksudmu?”
“Ih, Kanda ini pura-pura lupa, ya?” Ratih terkikik, sembari menyeka tangannya sendiri dengan ujung selimut.
Cakra semakin bingung. Kepalanya berdenyut, dan dia sama sekali tidak punya ingatan tentang apa yang baru saja terjadi.
“Aku ... Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan,” gumamnya, seraya mencoba bangkit untuk duduk.
Namun, tubuh pangeran yang masih terasa asing dan lemas ini justru membuat gerakannya oleng tak beraturan. Kaki Cakra tersangkut lipatan selimut tebal, hingga badannya tergelincir jatuh ke tepi ranjang.
Gubrak!
“Argh!" erangnya.
Punggung dan tengkuknya menghantam lantai kayu dengan keras. Pelipis kanannya terbentur keras pada ukiran kaki ranjang, memicu rasa ngilu yang langsung membuat kepalanya serasa berputar-putar.
Dentingan tajam itu seketika menarik kesadaran Cakra ke dalam pusaran memori mengerikan. Hawa sejuk kamar beraroma melati mendadak lenyap, berganti menjadi hawa dingin di bawah guyuran hujan gerimis.
Sebelum kematiannya, tangan Cakra diikat dan dua petugas berseragam hitam menyeret langkah kakinya yang tersaruk-saruk menuju sebatang tiang pancang kayu.
“Saya difitnah! Sumpah, saya nggak pernah naruh racun di botol infus pasien itu!” pekik Cakra histeris menatap kerumunan wartawan.
“Saya nggak bersalah! Lepaskan!"
Jeritan putus asanya sama sekali tidak digubris oleh para algojo. Tubuhnya diikat rapat pada tiang kayu, tepat di depan lima moncong senapan laras panjang yang membidik lurus ke dadanya.
Di detik-detik paling mencekam itu, Cakra memejamkan mata rapat-rapat seraya mengucapkan doa terakhir.
"Tuhan, kalau Engkau tahu aku tidak bersalah, tolong beri aku satu kesempatan hidup lagi untuk membuktikan semuanya!”
Dor!
Tepat saat peluru itu menembus kepalanya, seketika ia terkejut dan terbangun dalam posisi seperti ini. Entah bagaimana caranya, ia bisa transmigrasi ke tubuh Pangeran Cakrabuana.
Ratih sudah berlutut tepat di sampingnya sambil menatap bingung. “Kanda kenapa malah diam saja di lantai?”
Cakra masih terpaku kaku sambil mencengkeram lantai. Napasnya memburu cepat, mencoba mencerna perpindahan tempat gila yang baru saja dialaminya.
Melihat suaminya tidak berkutik, Ratih justru menyunggingkan seringai nakal.
“Oh, aku tahu, Apa kanda mau aku puaskan lagi? Biasanya kan kanda sangat tahan lama. Pasti tadi itu belum puas.”
Wajah Cakra sontak memerah mendengar itu.
Selama ini, sang pangeran terkenal bertubuh beringas, kasar, dan sanggup bertahan sangat lama di ranjang.
Sedangkan tubuh Cakra yang asli ini rupanya punya kelemahan. Miliknya gampang keluar, karena dia memang tak pernah seperti ini, di kehidupan aslinya.
“Ti … tidak usah.” Pemuda itu menggeleng cepat dan menyandarkan kepalanya ke kaki ranjang dengan tatapan kosong menatap langit-langit.
“Kanda, kenapa kok melamun begitu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Ratih dengan nada polos tanpa dosa.
Pikiran wanita itu mendadak diliputi kebingungan besar. Kejadian suaminya ambruk secepat kilat sambil melamun itu sungguh belum pernah terjadi seumur hidup.
Tepat saat rasa malu itu masih membakar pipinya, kepala Cakra berdenyut kencang. Ratusan kepingan ingatan asing mendadak menerobos masuk memenuhi isi kepalanya.
Berbagai memori sang pangeran Kerajaan Wanapura seketika terhampar jelas di depan mata. Cakra langsung mengenali siapa pemilik tubuh ini, sekaligus lima istri sahnya.
Ada Ratu Kencana Wulan sang permaisuri utama yang dingin, Dyah Anjani si gadis tomboi jago pedang, Putri Andini yang pendiam, Sari Kembang sang mantan penari yang penakut, serta Ratih si wanita pedagang yang kini duduk melongo di hadapannya.
Kebiasaan buruk Pangeran Cakrabuana seperti menenggak arak, menumpuk utang judi, dan memukuli pelayan kediaman juga ikut terbongkar di kepalanya.
Ingatan Cakra kemudian tertuju pada kejadian semalam sebelum dirinya berpindah raga. Pangeran Cakrabuana ternyata ambruk mencengkeram dadanya di tengah pesta judi sehabis meminum secawan arak tuak.
Berbekal keahliannya sebagai mantan perawat rumah sakit, Cakra segera mengangkat tangan kanannya ke depan mata. Pandangannya tertuju lurus pada kuku jarinya yang tampak kebiruan.
Tanda kebiruan semacam ini menunjukkan adanya racun mematikan yang merusak pernapasan seluler. Mabuk minuman keras biasa tidak akan pernah menimbulkan perubahan warna kuku seperti itu.
Maka dari itu, Cakra yakin bahwa Pangeran Cakrabuana sebenarnya mati diracun di rumah judi semalam. Rahasia besar ini harus disimpan rapat-rapat sampai situasinya benar-benar terkendali.
Belum sempat Cakra berpikir lebih jauh, pandangannya beralih menatap Ratih yang duduk di sampingnya dengan kain kebaya sedikit longgar di bagian bahu, sisa dari kesibukannya tadi. Hati nuraninya merasa tidak enak melihat wanita itu duduk begitu saja tanpa dirapikan.
Cakra meraih selendang yang tergeletak di sudut ranjang, lalu menyampirkannya ke pundak Ratih hingga kain kebayanya kembali tertutup rapat. Tindakan penuh perhatian semacam ini belum pernah dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana seumur hidupnya.
Sambil menundukkan pandangan karena canggung, Cakra berucap lirih.
“Maafkan aku, Ratih, aku minta maaf sudah merepotkanmu pagi-pagi begini.”
Ratih terdiam membisu menatap sosok suaminya dengan mulut setengah terbuka. Telinganya terasa asing mendengar kata maaf meluncur dari bibir pria yang biasanya selalu bersikap arogan.
Keheningan aneh itu bertahan selama beberapa detik.
Ratih meremas ujung selendangnya, lalu mendadak meloncat berdiri dengan wajah pucat kebingungan.
Sejurus kemudian, dengan langkah tergesa-gesa, wanita itu berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari kamar tidur sambil mengenakan pakaiannya yang berantakan. Suara ketukan sandal kayunya menggema keras di sepanjang lantai lorong serambi.
Cakra hanya bisa mengelus dada sambil menghela napas panjang melihat kepanikan sang istri kedua. Suara cempreng Ratih mendadak melengking lantang memecah ketenangan pagi kediaman.
Dari ujung lorong luar, Ratih berteriak heboh memanggil para pelayan.
“Dayang-dayang, cepat ke sini! Kanda Pangeran sudah bangun!”
BAB 6"Berdirilah, Mbok. Bangun, jangan terus bersujud seperti ini," pinta Cakra dengan suara memohon. Mendengar permintaan itu, Mbok Darmi justru semakin gemetar hebat. Wanita paruh baya itu menekan keningnya lebih rapat ke tanah seraya memegangi betis putrinya yang membisu. "Ampun, Pangeran! Mohon jangan murka, hamba bersumpah anak hamba tidak berniat lancang!" ratap Mbok Darmi dengan suara serak bercampur tangis. Semakin disuruh berdiri, wanita tua itu tampak semakin ketakutan setengah mati. Cakra menghela napas panjang, menyadari bahwa keramahannya justru dianggap sebagai awal dari amarah besar sang pangeran bajingan. Pada akhirnya, ia mengalah demi meredakan kepanikan tersebut. "Sudahlah, Mbok, aku ke sini hanya karena merasa haus." "A-air, Gusti?" tanya Mbok Darmi seraya mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah basah air mata."Iya, tolong ambilkan aku segelas air tempayan," ucap Cakra seraya tersenyum ramah. Mbok Darmi buru-buru menyikut pinggang anak perempuannya. "Sek
Bab 5Cakra berlutut di atas lantai papan serambi yang dingin. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh pundak kurus Sari Kembang untuk membantunya berdiri.Namun, baru saja jemarinya menyentuh kain kebaya wanita itu, Sari Kembang tersentak dan meringis kesakitan. Lengan baju batiknya tersingkap sedikit ke atas siku, memperlihatkan gurat luka cambukan panjang yang telah mengering menghitam di kulit putihnya. Seketika itu juga, sekelebat ingatan kelam menyengat kepala Cakra.Malam itu turun hujan lebat, dan sang pangeran asli baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat selepas menelan kekalahan besar di meja judi. Pria keji itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menyabetkan sabuk kulit tebal berkali-kali ke tubuh Sari Kembang yang meringkuk di sudut kamar. “Dasar bajingan!" geram Cakra.Rasa mual yang amat pekat mendadak menekan ulu hatinya. Dia menarik tangannya kembali seraya melangkah mundur dengan napas tertahan, merasa jijik pada perbuatan biadab pemilik raga ini. Melihat sua
"Mmhh." Cakra sudah hilang kendali, begitu larut sampai-sampaitak sadar jika masih ada Anjani dan Andini di dalam kamar yang sama.Mata Andini bahkan sampai membelalak melihat adegan itu. Wajahnya terasapanas. Kedua tangannya saling meremas sisi gaun dengan gemetar."Ehem! Gimana, Kanda? Enak kan?"Suara deheman Anjani membuat Cakra tersentak kaget. Kesadarannya punakhirnya kembali, mengambil alih pikirannya yang semula sudah kacau."Astaga, Ratih!" Cakra membuka mata lebar-lebar. Dia buru-burumelepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita itu menjauh. Wajah Cakra sudahmerah padam saat dia rapatkan selimut ke tubuhnya."Jangan di sini, Ratih! Ada Anjani sama Andini! Buat aku malusaja," sungut Cakra kesal."Tapi tadi Kanda sudah ketagihan kan? Enak kan, Kanda?" Ratihtertawa puas, seraya mengancingkan kembali kebayanya."Itu … itu …." Cakra tergagap."Lagipula justru asyik kalau ada saksi," potong Ratih sambilterkikik. "Kanda nggak biasanya malu-malu begini. Padahal dulu Kandapa
Cakra baru saja selesai meminta seorang pelayan mengambilkan air ketikaseorang wanita lain muncul dari balik pintu.“Kanda.” Suara lembut itu membuat Cakra menoleh.Seorang gadis dengan kebaya biru muda berjalan perlahan memasuki kamar.Rambut panjangnya tersanggul sederhana, wajahnya tenang, kedua tangannyamembawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap tipis. Ingatan Cakrabuana pun langsung mengenalinya.Itu Putri Andini si istri keempat, putri Kerajaan Sagara yang dinikahkandengannya sebagai bagian dari perjanjian damai.“Kanda sudah sadar,” ucap Andini dengan senyum tipis, menyerahkanmangkuk itu. “Ini ramuan penghangat badan. Cobalah.”“Terima kasih." Cakra menerimanya. Aroma jahe dan kencur memenuhi hidung. Sebagai mantanperawat IGD, dia terbiasa memperhatikan kondisi pasien.Tubuh ini baru saja mengalami sesuatu yang mencurigakan, jadi diamengendus ramuan itu lebih lama dari wajar sebelum akhirnya menyeruputnya.Rasanya normal. Pedas dan hangat seperti pada umumnya.“Ap
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.