Chapter: BAB 13: AROMA MANIS DI PAGI HARISinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kaca ruang makan keluarga Wandi. Aroma gurih mentega yang dipanggang beradu dengan wangi adonan kacang tanah yang manis, memenuhi seluruh sudut rumah berlantai satu itu.Di dapur, Arumi tampak sibuk. Dengan celemek bermotif bunga yang terikat rapi di pinggangnya, wanita paruh baya itu dengan sangat hati-hati mengeluarkan loyang aluminium dari dalam oven kecil di sudut meja dapur. Asap tipis membumbung, membawa aroma kue kacang hangat yang baru saja matang sempurna."Nah, akhirnya matang juga batch terakhirnya," gumam Arumi penuh kepuasan. Senyum tulus terukir di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus usia.Ken melangkah masuk ke dapur dengan seragam putih abu-abu yang sudah terpasang rapi di tubuhnya. Tas sekolahnya disampirkan santai di satu bahu. Pemuda itu mengendus udara pagi dalam-dalam, lalu mendekati meja dapur dengan mata berbinar."Wah, wangi banget, Ma! Ini khusus buat Yuna kan?" tanya Ken sambil me
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-19
Chapter: BAB 12: KUE KACANG DAN RASA YANG ASINGJalanan komplek perumahan mewah itu begitu lengang ketika Yuna melangkah keluar dari gerbang rumahnya. Malam makin larut, namun rasa enek dan mual di perutnya bekas pengambilan darah kemarin masih menyisakan keinginan aneh. Ia ingin makan kue kacang. Hanya ada satu toko kue di ujung jalan komplek yang menjual kue kacang dengan rasa gurih manis yang pas di lidahnya—kue kacang buatan pemasok lokal yang selalu ia beli hampir setiap hari.Yuna berjalan dengan kedua tangan terbenam di saku jaketnya. Langkah kakinya yang tenang membawanya menuju toko kue mungil berlampu hangat di sudut perempatan jalan.Kring!Lonceng di atas pintu berbunyi saat Yuna mendorong pintu kaca toko. Suasana di dalam cukup sepi. Di depan etalase kaca, tampak seorang wanita paruh baya berpenampilan bersahaja sedang merapikan beberapa nampan kosong bersama seorang pemuda tinggi yang sangat familiar.Arumi dan Ken.Arumi yang sedang memasukkan sisa kemasan kue ke dalam tas kardus menoleh saat mendengar suara lonceng.
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-18
Chapter: BAB 11: DUA KORBAN DI BAWAH SUATU ATAPMobil sedan hitam yang dikendarai Pak Joko berhenti tepat di depan pelataran rumah bergaya modern klasik itu. Yuna turun dari mobil tanpa bersuara, menyampirkan tas sekolahnya di satu bahu, lalu melangkah menyusuri lorong menuju pintu utama.Suasana dalam rumah megah itu selalu terasa sepi dan dingin, terlepas dari deretan lampu kristal mahal yang menerangi ruang tamu. Begitu menapakkan kaki di area ruang tengah, langkah Yuna mendadak terhenti.Di atas sofa kulit berwarna krem, duduk seorang pemuda dengan pakaian santai yang tampak kebesaran di tubuh kurusnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan lingkaran hitam terlihat sangat jelas di bawah kedua matanya.Yuda. Kakaknya itu rupanya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sore ini.Yuda memutar kepalanya perlahan begitu mendengar langkah kaki. Begitu pandangannya bertabrakan dengan Yuna, pemuda itu membetulkan posisi duduknya dengan sedikit bersusah payah."Yun..." panggil Yuda, suaranya pelan dan serak. "Kakak boleh ngomong
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-17
Chapter: 10: PERCUKILAN DI PARKIRANBel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring. Ratusan murid berhamburan keluar dari gedung sekolah menuju area parkiran. Di sudut parkiran khusus sepeda yang cukup sepi dan berdebu, Hana sedang menuntun sepeda onthel tuanya yang berwarna hitam pudar.Langkah kaki Hana terhenti ketika sosok Sinta bersama dua orang temannya mendadak menghadang jalan. Sinta bersedekah tangan, menatap sepeda tua Hana dengan raut wajah penuh penghinaan."Aduh, hari gini masih ada ya yang ke sekolah naik sampah besi kayak begini?" ejek Sinta dengan suara sengaja dikencangkan agar didengar murid-murid lain yang melintas. "Pantesan bau matahari dari tadi. Anak beasiswa di sekolah elit tapi malah bikin turun kelas sekolah kita aja!"Hana tidak membalas. Ia menundukkan kepala, mempererat genggamannya pada stang sepeda. Sejak awal menerima beasiswa di sekolah ini, Hana sudah memprediksi bahwa hal-hal seperti ini akan terjadi. Ia sudah menanamkan dalam hatinya untuk selalu tebal telinga d
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-16
Chapter: BAB 9: BENTENG YANG MULAI RETAKPukulan cukup keras di bahu kanan mendadak membuyarkan lamunan Ken. Pemuda itu sedikit tersentak, mengalihkan pandangannya dari sudut belakang kelas menuju Bima yang sudah berdiri di samping kursinya dengan wajah heran."Woy! Ngelamun aja lo dari tadi!" tegur Bima sambil menarik kursi kosong di depan Ken dan duduk menghadapnya. Bima menyenggol lengan Ken pelan. "Kenapa lo bengong aja dari tadi ngelihatin si Yuna? Muka lo aneh banget, kayak orang yang habis ketiban wahyu."Ken tidak langsung menjawab. Senyum manis yang jarang ia perlihatkan perlahan mengembang di bibirnya. Matanya yang jernih menatap Bima dengan binar jahil yang membuat Bima makin curiga."Bim," panggil Ken pelan, suaranya mantap."Apaan?""Kayaknya gue mau coba deketin dia deh," ujar Ken santai sambil memiringkan kepalanya, menunjuk Yuna dengan dagunya.Bima terbelalak seketika. Mulutnya menganga lebar sampai minuman di tangannya hampir terlepas. "Lo gila! Dia itu Ratu Es, Ken! Enggak mungkin luluh lah sama cowok mode
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-12
Chapter: BAB 8: RELEKS SPONTAN DI UJUNG MEJABel Keributan kecil akibat aksi konyol Ken dan Renata baru saja mereda, namun suasana di koridor luar kelas 11 IPA 1 mendadak berubah tegang. Suara bentakan melengking terdengar keras dari arah pintu depan, menyedot perhatian beberapa murid yang ada di dalam ruangan. "Punya mata enggak sih lo?!" Hana berdiri gemetar di ambang pintu kelas. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak panik melihat sepatu kets putih milik seorang siswi yang kini basah kuyup tersiram air dari botol minumnya yang terlepas. Siswi yang membentak itu adalah Sinta, murid kelas 11 IPA 3 yang terkenal angkuh sekaligus putri dari kepala sekolah. Dengan gaya rambut yang selalu disisir rapi dan seragam yang disesuaikan secara ketat, Sinta selalu merasa berhak menguasai koridor sekolah. "Maaf... Maaf banget, aku benar-benar tak sengaja," ucap Hana terbata-bata. Suaranya bergetar hebat. Ia refleks berlutut, mencoba mengusap sepatu Sinta menggunakan sapu tangan lusuh dari saku seragamnya. "Aku tadi tak lihat kamu lewa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-05