HANYA ANAK PENGGANTI

HANYA ANAK PENGGANTI

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-19
Oleh:  tholeBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
13Bab
5Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Dijuluki "Ratu Es" di sekolah, Yuna menyembunyikan luka kelam: hidupnya disedot perlahan demi menjadi donor abadi sang kakak. Saat keluarga yang diagungkan publik ternyata bertopeng iblis, hadir Ken yang mengusik benteng pertahanannya. Ini bukan cerita tentang seorang laki-laki yang datang menyelamatkan perempuannya, melainkan keberanian seorang perempuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Lihat lebih banyak

Bab 1

BAB 1: BAYANG-BAYANG DI BALIK MEGAH

"Suara bel panjang berbunyi nyaring, memotong penjelasan guru kimia. Suasana kelas 11-4 yang tadinya hening langsung berubah bising. Kursi-kursi digeser kasar, obrolan bermunculan, dan beberapa siswa mulai merapikan buku.

"Oke, materi hidrokarbon kita lanjut Senin depan. Jangan lupa latihan soal halaman empat puluh dikerjakan," ujar Pak Bowo sambil memasukkan spidol ke tas. "Ketua kelas, tolong rapikan spidol warna di meja."

Ken yang duduk di barisan ketiga berdiri. "Siap, Pak."

Pak Bowo mengangguk lalu berjalan keluar. Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, suasana kelas makin riuh.

Seorang siswi bermuka ceria mendatangi meja sudut belakang dekat jendela—tempat Yuna duduk sendirian sejak jam pertama.

"Yuna! Kantin yuk? Hari ini menu baksonya lengkap, ada tahu baksonya juga. Keburu kehabisan," ajak Chika antusias.

Yuna tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada layar ponsel yang menyala di meja. Jemarinya diam.

"Yun? Dengar gue enggak? Hayu ke kantin, mumpung belum penuh," ulangnya sambil memegang tepi meja.

Yuna tetap diam. Wajahnya datar. Tidak ada gelengan kepala, tidak ada kata-kata. Ia seolah menganggap keberadaan Chika tidak pernah ada.

Chika menghela napas panjang lalu memutar bola mata. "Yaelah, dicuekin lagi. Ya udah deh kalau enggak mau."

Ia berbalik dan menghampiri rombongannya di depan pintu. "Gagal. Dingin banget dah, berasa ngomong sama tembok."

"Kan gue udah bilang, percuma ngajak dia," sahut temannya dari luar. "Yuk ah, keburu habis."

Di barisan tengah, Ken sedang mengumpulkan spidol warna-warni di dekat papan tulis. Matanya melirik ke sudut belakang, menatap Yuna dengan dahi berkerut.

Di kelas 10 dulu, Ken dan Yuna beda jurusan dan lantai. Ken cuma sering mendengar desas-desus tentang cewek itu dari anak-anak di lapangan basket—soal julukan 'Ratu Es', mobil mewahnya yang selalu parkir paling depan, atau ketidakmauannya ikut kerja kelompok. Baru di kelas 11 ini, karena pengacakan kelas, Ken benar-benar duduk di ruangan yang sama. Melihatnya dari dekat ternyata terasa aneh. Yuna bukan sekadar diam, tapi seperti sengaja membangun benteng di sekelilingnya.

Ponsel Yuna bergetar kencang. Layarnya menampilkan nama yang membuat jemari Yuna seketika menegak: Papa.

Yuna menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

"Halo, Pah," sapa Yuna pelan dan datar.

"Yuna, kamu di mana sekarang?" Suara pria setengah baya di ujung telepon terdengar terburu-buru dan sarat perintah. Suara Yudistira.

"Di sekolah. Masih jam istirahat kedua."

"Langsung keluar sekarang. Sopir sudah Papa suruh jemput di depan gerbang."

Yuna memejamkan mata sejenak. Tangannya yang memegang ponsel mengepal di pangkuan. "Ada apa lagi, Pah?"

"Kakakmu drop. Dokter bilang hasil analisis darah terakhirnya jelek banget. Kita butuh sampel dan donor kamu lagi hari ini."

Yuna mendengus pelan. Senyum sinis tipis muncul di sudut bibirnya. "Baru seminggu lalu, Pah. Masa butuh lagi?"

"Yuna!" Suara di telepon mendadak meninggi, penuh bentakan yang membuat Yuna refleks menjauhkan ponsel dari telinga. "Jangan mulai menawar! Ini soal nyawa Yuda! Kalau kamu terlambat dan Yuda kenapa-napa, Papa tidak akan maafkan kamu! Cepat keluar ke mobil!"

Klik.

Panggilan diputus sepihak.

Yuna menurunkan ponselnya perlahan. Ia tidak menangis, tidak juga terlihat kaget. Matanya hanya menatap kosong permukaan meja kayu yang tergores. Ia menghela napas pelan, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis.

Yuna berdiri tanpa merapikan buku-bukunya yang masih terbuka. Ia menyampirkan tas punggungnya dan melangkah menuju pintu.

"Eh, Yuna?"

Langkah Yuna terhenti. Ken berdiri di dekat pintu depan sambil memegang kotak spidol.

Yuna menatap Ken dingin, sama sekali tidak berniat merespons.

"Mau ke mana? Ini baru jam istirahat kedua. Jam berikutnya Pak Haryanto masuk, lho. Beliau ketat masalah absensi," kata Ken sambil maju melangkah. Bahasanya santai, khas ketua kelas.

"Bukan urusan lo," jawab Yuna singkat dan serak.

"Gue ketua kelas. Kalau lo keluar tanpa izin, gue yang ditanyain guru piket nanti," balas Ken. Ia memperhatikan raut wajah Yuna. Meski tatapannya galak, Ken bisa melihat garis lelah yang teramat sangat di bawah mata cewek itu.

"Tinggal bilang gue kabur. Beres, kan?" Yuna melangkah melewati Ken tanpa ragu.

"Bukan gitu cara kerjanya, Yuna," tegur Ken sambil berbalik menatap punggung Yuna yang sudah melangkah di koridor. "Kalau ada kepentingan keluarga atau sakit, minimal izin ke guru piket dulu!"

Yuna terus berjalan tanpa menoleh. Langkahnya cepat dan terburu-buru, seolah dikejar sesuatu yang memuakkan.

Ken berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung Yuna yang menghilang di belokan tangga.

"Ken! Ngapain lo bengong di situ?" tanya Bima, teman sekelasnya yang baru kembali dari kantin sambil memegang es teh. "Ngapain ngelihatin si Ratu Es?"

Ken berbalik menatap Bima. "Dia kenapa sih biasanya?"

"Siapa? Yuna?" Bima menyeruput es tehnya. "Ya begitu dari kelas sepuluh. Sombong, cuek, berasa paling kaya se-sekolah. Emang kenapa?"

"Kagak," jawab Ken pelan. Ia menyilangkan tangan di dada, mengingat ucapan Yuna di telepon yang sempat terdengar samar. 'Baru seminggu lalu...'

"Gue cuma ngerasa," gumam Ken pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Orang sombong biasanya nyari perhatian. Tapi dia... kayak orang yang lagi dikejar setan."

"Hah? Lo ngomong apa sih, Ken?" celetuk Bima bingung. "Udah ah, simpan spidolnya. Pak Haryanto sebentar lagi masuk. Ntar kita disuruh lari keliling lapangan kalau telat siapin proyektor."

Ken mengangguk tipis, meletakkan kotak spidol di meja guru, lalu berjalan ke bangkunya. Ia melirik ke sudut belakang kelas. Meja Yuna tampak berantakan. Buku catatan kimianya masih terbuka, dan sebatang pulpen tergeletak di atas kertas.

Ken berjalan ke meja Yuna, meraih pulpen yang hampir menggelinding jatuh, lalu merapikan buku kimia milik Yuna dan menutupnya dengan pelan.

 

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
13 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status