MasukDijuluki "Ratu Es" di sekolah, Yuna menyembunyikan luka kelam: hidupnya disedot perlahan demi menjadi donor abadi sang kakak. Saat keluarga yang diagungkan publik ternyata bertopeng iblis, hadir Ken yang mengusik benteng pertahanannya. Ini bukan cerita tentang seorang laki-laki yang datang menyelamatkan perempuannya, melainkan keberanian seorang perempuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Lihat lebih banyakSinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kaca ruang makan keluarga Wandi. Aroma gurih mentega yang dipanggang beradu dengan wangi adonan kacang tanah yang manis, memenuhi seluruh sudut rumah berlantai satu itu.Di dapur, Arumi tampak sibuk. Dengan celemek bermotif bunga yang terikat rapi di pinggangnya, wanita paruh baya itu dengan sangat hati-hati mengeluarkan loyang aluminium dari dalam oven kecil di sudut meja dapur. Asap tipis membumbung, membawa aroma kue kacang hangat yang baru saja matang sempurna."Nah, akhirnya matang juga batch terakhirnya," gumam Arumi penuh kepuasan. Senyum tulus terukir di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus usia.Ken melangkah masuk ke dapur dengan seragam putih abu-abu yang sudah terpasang rapi di tubuhnya. Tas sekolahnya disampirkan santai di satu bahu. Pemuda itu mengendus udara pagi dalam-dalam, lalu mendekati meja dapur dengan mata berbinar."Wah, wangi banget, Ma! Ini khusus buat Yuna kan?" tanya Ken sambil me
Jalanan komplek perumahan mewah itu begitu lengang ketika Yuna melangkah keluar dari gerbang rumahnya. Malam makin larut, namun rasa enek dan mual di perutnya bekas pengambilan darah kemarin masih menyisakan keinginan aneh. Ia ingin makan kue kacang. Hanya ada satu toko kue di ujung jalan komplek yang menjual kue kacang dengan rasa gurih manis yang pas di lidahnya—kue kacang buatan pemasok lokal yang selalu ia beli hampir setiap hari.Yuna berjalan dengan kedua tangan terbenam di saku jaketnya. Langkah kakinya yang tenang membawanya menuju toko kue mungil berlampu hangat di sudut perempatan jalan.Kring!Lonceng di atas pintu berbunyi saat Yuna mendorong pintu kaca toko. Suasana di dalam cukup sepi. Di depan etalase kaca, tampak seorang wanita paruh baya berpenampilan bersahaja sedang merapikan beberapa nampan kosong bersama seorang pemuda tinggi yang sangat familiar.Arumi dan Ken.Arumi yang sedang memasukkan sisa kemasan kue ke dalam tas kardus menoleh saat mendengar suara lonceng.
Mobil sedan hitam yang dikendarai Pak Joko berhenti tepat di depan pelataran rumah bergaya modern klasik itu. Yuna turun dari mobil tanpa bersuara, menyampirkan tas sekolahnya di satu bahu, lalu melangkah menyusuri lorong menuju pintu utama.Suasana dalam rumah megah itu selalu terasa sepi dan dingin, terlepas dari deretan lampu kristal mahal yang menerangi ruang tamu. Begitu menapakkan kaki di area ruang tengah, langkah Yuna mendadak terhenti.Di atas sofa kulit berwarna krem, duduk seorang pemuda dengan pakaian santai yang tampak kebesaran di tubuh kurusnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan lingkaran hitam terlihat sangat jelas di bawah kedua matanya.Yuda. Kakaknya itu rupanya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sore ini.Yuda memutar kepalanya perlahan begitu mendengar langkah kaki. Begitu pandangannya bertabrakan dengan Yuna, pemuda itu membetulkan posisi duduknya dengan sedikit bersusah payah."Yun..." panggil Yuda, suaranya pelan dan serak. "Kakak boleh ngomong
Bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring. Ratusan murid berhamburan keluar dari gedung sekolah menuju area parkiran. Di sudut parkiran khusus sepeda yang cukup sepi dan berdebu, Hana sedang menuntun sepeda onthel tuanya yang berwarna hitam pudar.Langkah kaki Hana terhenti ketika sosok Sinta bersama dua orang temannya mendadak menghadang jalan. Sinta bersedekah tangan, menatap sepeda tua Hana dengan raut wajah penuh penghinaan."Aduh, hari gini masih ada ya yang ke sekolah naik sampah besi kayak begini?" ejek Sinta dengan suara sengaja dikencangkan agar didengar murid-murid lain yang melintas. "Pantesan bau matahari dari tadi. Anak beasiswa di sekolah elit tapi malah bikin turun kelas sekolah kita aja!"Hana tidak membalas. Ia menundukkan kepala, mempererat genggamannya pada stang sepeda. Sejak awal menerima beasiswa di sekolah ini, Hana sudah memprediksi bahwa hal-hal seperti ini akan terjadi. Ia sudah menanamkan dalam hatinya untuk selalu tebal telinga d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.