MasukDijuluki "Ratu Es" di sekolah, Yuna menyembunyikan luka kelam: hidupnya disedot perlahan demi menjadi donor abadi sang kakak. Saat keluarga yang diagungkan publik ternyata bertopeng iblis, hadir Ken yang mengusik benteng pertahanannya. Ini bukan cerita tentang seorang laki-laki yang datang menyelamatkan perempuannya, melainkan keberanian seorang perempuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Lihat lebih banyakMatahari pagi menyusup lembut menembus celah jendela kaca kamar Yuna di lantai dua kediaman keluarga Yudistira. Suasana di dalam kamar luas bernuansa minimalis itu tampak rapi dan sunyi seperti biasa. Di depan meja rias, Yuna berdiri tegak mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi yang terpasang rapi di kerah bajunya. Rambut panjangnya dikuncir satu dengan sangat teliti, memperlihatkan garis leher dan rahangnya yang tegas tanpa cela sedikit pun.Pergelangan tangan kiri Yuna masih dibalut rapi oleh plester medis berukuran kecil guna menutupi bekas tusukan jarum infus dari rumah sakit beberapa hari lalu. Gadis itu mengambil tas punggung berwarna hitam di atas kursi, menyampirkannya ke salah satu bahu, lalu bersiap melangkah keluar untuk memulai aktivitas paginya di sekolah.Tiba-tiba, pintu kamar yang tidak terkunci terdorong perlahan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan mengenakan seragam sekolah yang serupa, meski wajah pucatnya masih menyisakan sedikit kelelahan pasca pe
Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah ventilasi rumah sederhana keluarga Wandi. Udara Senin pagi terasa segar, berpadu dengan aroma kopi hangat dari dapur serta deru kendaraan bermotor yang mulai memadati jalanan komplek perumahan. Biasanya, suasana pagi di rumah ini diisi dengan rutinitas santai, obrolan ringan di meja makan, serta persiapan santai sebelum berangkat beraktivitas.Namun, kediaman keluarga Wandi pagi ini mendadak dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sama sekali tidak biasa.Jarum jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul enam lewat lima menit pagi. Pintu kamar utama terbuka perlahan saat Wandi dan Arumi keluar bersamaan dengan pakaian rumah yang masih santai. Di ruang tengah, mereka mendapati anak sulung mereka sudah berdiri tegap dengan seragam sekolah putih abu-abu yang disetrika sangat rapi. Tas ransel hitam berukuran besar sudah tersampir sempurna di kedua bahunya, lengkap dengan s
Keheningan kamar bertambah pekat saat sore merambat naik. Bayangan tirai memanjang di atas keramik, membingkai dua sosok bersaudara yang duduk di atas kasur berseprai putih. Yuda masih memandangi pergelangan tangan Yuna yang menarik diri dari jangkauannya. Penyesalan yang menggantung di udara terasa kian mencekik tenggorokan, membuat suasana di dalam ruangan yang luas itu menjadi sangat berat dan menyesakkan dada.Yuna menatap lurus ke arah jendela luar. Iris mata cokelat gelapnya berair, memantulkan sinar jingga penutup hari. Ia menghembuskan napas pendek yang bergetar. Keheningan panjang berlalu sebelum akhirnya bibir pucat gadis itu kembali bergerak untuk menyuarakan rasa sakit yang terendap sekian lama di lubuk hatinya."Aku tahu kok, Kak," ucap Yuna pelan. Nada suaranya tak lagi sedingin batu, melainkan terdengar rapuh dan sangat tipis. "Aku tahu Kakak tidak punya niat. Aku tahu Kakak juga sakit. Aku juga enggak bisa benci sama Kakak... Karena Kakak juga korban."Pertahanan tembo
Mobil sedan hitam milik Yudistira berhenti di depan teras rumah megah bernuansa cermin dan semen itu pada Minggu siang. Yuna melangkah turun dari pintu penumpang belakang dengan gerakan lambat. Tubuhnya masih terasa lemas, dan pergelangan tangan kirinya tertutup kain jaket tipis untuk menyembunyikan bekas tusukan jarum yang memar.Yuna berjalan lurus menuju kamarnya di lantai dua tanpa menyapa siapa pun. Di dalam kamar yang luas namun sunyi itu, Bik Sum sudah bersiap merapikan tempat tidur dan menyiapkan segelas air hangat di meja samping.Yuna merebahkan tubuhnya di atas kasur, menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca balkon yang tertutup rapat. Bik Sum berdiri di samping meja, menatap anak asuhnya dengan rasa iba yang tak pernah pudar.Tiba-tiba, pintu kamar Yuna yang sedikit terbuka didorong pelan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan napas yang agak berat. Langkah kakinya perlahan, tangannya masih memegang area perut yang terasa sedikit






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.