
Sang Miliarder Yang Terlahir Kembali
DramaMiliarderPetaniBeraniReinkarnasiPenyesalanPenebusan
Arkan Renata,pria berusia 80 tahun sekaligus konglomerat nomor satu pemilik Renata Group,meninggal dunia dalam kesendirian di ruang VVIP rumah sakit.
Di balik kekayaannya yang melimpah, hidup Ren dipenuhi penyesalan mendalam atas dosa masa lalunya
ia pernah menjadi suami yang kasar, pemabuk, dan penjudi yang menganiaya serta merampas uang berobat istrinya, Alya, hingga wanita itu mengakhiri hidupnya 50 tahun lalu.
Namun, saat hembusan napas terakhirnya berembus, sebuah keajaiban terjadi. Ren tersentak dan mendapati jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, terbangun di tubuh mudanya yang berusia 22 tahun di sebuah rumah kontrakan kayu yang sederhana.
Begitu bertemu kembali dengan Alya yang masih hidup dan bernapas, Ren menyadari bahwa ia kembali ke titik waktu sebelum dirinya terjerumus ke dalam lingkaran pergaulan buruk dan penderitaan.
Mengantongi memori penyesalan, mentalitas baja, serta penguasaan ilmu bisnis tingkat tinggi dari kehidupan masa depannya, Ren bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Ia bertekad untuk melindungi Alya sepenuh hati dan membangun kembali kejayaannya tanpa pernah mengorbankan wanita yang paling dicintainya.jadi mampukah Ren kembali berdiri di posisinya yang sebelumnya?.
Lesen
Chapter: bab 7 : awal mula perubahan besarJono dan Didik refleks melompat berdiri, wajah mereka pucat pasi. Bang Jarwo menyipitkan mata, tangannya secara otomatis meraih sebuah alu kayu penumbuk padi yang bersandar di dekat meja. Pak Karsa buru-buru menyapu tumpukan uang di atas meja dan memasukkannya ke dalam sarung di pangkuannya dengan tangan gemetar. Alya bergeser mendekat, memeluk lengan kiri Ren dengan erat. "Ren..." bisiknya penuh rasa takut. Hanya Ren yang tetap duduk tenang. Ia tidak terkejut. Otak analisanya yang telah memprediksi pergerakan musuh justru tersenyum tipis di dalam hati. 'Surya... kalkulasi reaksimu persis seperti yang kubayangkan. Terlalu cepat emosi, dan terlalu dangkal dalam melangkah.' "Buka pintunya, Karsa!! Atau kami rubuhkan rumah reotmu ini!!" teriak sebuah suara berat dan kasar dari luar, diiringi teriakan riuh beberapa orang pria yang memukul-mukul dinding papan rumah. "Itu... itu suara Rusdi!" desis Bang Jarwo dengan raut wajah sangat serius. Ia
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-21
Chapter: bab 6:pembagian hasil Sinar bulan separuh menggantung di langit malam Karangrejo, menyemburkan pendar perak redup yang menembus celah-celah dedaunan pohon nangka di samping rumah Pak Karsa. Udara malam pedesaan terasa menggigit kulit, membawa aroma embun dingin dan wangi tanah basah yang mulai mengendap. Suara jangkrik bersahut-sahut dari arah semak belukar, menyatu dengan gemericik air irigasi yang mengalir pelan di tepi jalan makadam. Di dalam rumah ber dinding papan kayu jati tua milik Pak Karsa, suasana terasa begitu hangat sekaligus mencekam oleh rasa antisipasi. Sebuah lampu petromax gantung berjelaga tipis tergantung di tiang utama ruang tengah, memancarkan cahaya kuning keemasan yang bergetar lembut setiap kali angin malam menyelusup lewat celah jendela. Di sekeliling meja kayu jati persegi panjang yang permukaan plitur-nya sudah terkelupas di banyak tempat, duduk lima orang dengan raut wajah yang bervariasi. Pak Karsa duduk di ujung meja, jemari tangannya yang dipenuh kapalan tebal saling be
Zuletzt aktualisiert: 2026-09-20
Chapter: Bab 5: Transaksi yang berhasil Deru mesin diesel truk engkel Bang Jarwo bergetar konstan, beradu dengan gesekan roda pada aspal kasar menuju pusat Kota Kabupaten. Angin pagi yang kian menghangat berembus menembus celah kaca depan yang retak sehalus benang. Di dalam kabin, kesunyian yang tegang perlahan melunak. Bang Jarwo sesekali melirik Ren dari sudut matanya, seolah-olah pria muda di sampingnya ini bisa berubah menjadi monster kapan saja. "Ren..." Jarwo akhirnya memecah keheningan, suaranya parau seraya membetulkan posisi topi rimbanya. "Soal cerita Pak Broto, Charoen Pokphand, denda penalti puluhan juta... itu semua benar-benar gertakan kosong?" Ren yang sejak tadi memandangi hamparan sawah di luar jendela menoleh pelan. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Delapan puluh persen kebohongan, dua puluh persen fakta, Bang." "Hah? Maksudmu bagaimana?" Jarwo mengerutkan dahi, tangan kekarnya memegang erat lingkar kemudi. "Krisis pasokan pakan ternak dan nama PT Charoen Pokphand itu nyata," jawa
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-10
Chapter: Bab 4: Konfrontasi di Batas DesaKabut tipis masih menggantung rendah di atas atap-atap daun rumbia Desa Karangrejo ketika semburat merah fajar mulai merekah di ufuk timur. Udara pagi terasa menggigit kulit, membawa aroma embun yang bercampur dengan wangi tanah basah sisa hujan semalam. Di dalam dapur kecilnya, Ren berdiri di dekat meja kayu sambil mengancingkan kemeja flanel pudar miliknya. Di depannya, Alya sedang sibuk membungkus beberapa potong singkong rebus dan sambal terasi ke dalam daun pisang. "Sayang, singkongnya jangan lupa dimakan nanti kalau kamu lapar di jalan, ya," ucap Alya lembut. Tangannya yang cekatan mengikat bungkusan itu dengan tali serat pelepah pisang, lalu memasukkannya ke dalam tas anyaman bambu kecil. Ren tersenyum, melangkah mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Alya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu istrinya, menghirup aroma sabun mandi yang menenangkan. "Singkong buatanmu selalu jadi menu bintang lima untukku," bisik Ren, membuat Alya terkekeh pelan
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-08
Chapter: BAB 3: Negosiasi Di Warung KopiSengatan matahari siang di atas ladang jagung Pak Karsa mulai meredup, berganti pendar jingga yang membakar ufuk barat. Bau tanah hangat yang mengepulkan sisa panas berpadu dengan aroma manis kulit jagung basah yang menumpuk di tepi ladang.Ren menyapu keringat di dahinya menggunakan lengan kaus oblong birunya. Otot-otot lengan dan bahunya yang berusia dua puluh dua tahun terasa pegal, namun ada kehangatan yang memuaskan di dalam dadanya. Tubuh muda ini masih prima, belum digerogoti oleh penuangan sel, dahak rokok mahal, atau penyakit akibat stres bertahun-tahun di ruangan ber-AC."Dua puluh delapan karung..." Pak Karsa menghela napas panjang sambil mengikat simpul serat jerami pada karung goni terakhir. Tangannya yang dipenuhi kapalan tebal gemetar pelan. Pria tua itu terduduk di atas tanah, memegangi lututnya yang mulai ngilu. "Kalau digabung dengan panen besok pagi, totalnya bisa mencapai empat puluh karung lebih. Sekitar dua setengah ton..."Jono dan Didik ambruk di rumput
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-06
Chapter: BAB 2 : Ladang JagungAsap tipis dari tungku kayu bakar membumbung pelan, membawa aroma khas jelaga yang bercampur dengan uap air mendidih. Di dalam dapur berukuran tiga kali empat meter itu, Ren berdiri kaku di depan sebuah talenan kayu yang sudah menipis di bagian tengahnya.Di tangannya, sebuah pisau dapur bersarung kayu dengan mata pisau yang sedikit terkelupas lapisan hitamnya terasa begitu asing.Sebagai pria yang selama lima puluh tahun terakhir hanya perlu menjentikkan jari untuk menikmati hidangan kualitas bintang lima dari koki pribadi berpaspor Prancis, memegang pisau dapur karat untuk mengiris bawang merah adalah sebuah ujian keterampilan yang tak terduga."Sayang, memotong bawangnya jangan terlalu tebal. Nanti saat ditumis bersama tempe rasanya jadi aneh," bisik Alya dari balik punggungnya. Ia sedang sibuk mengaduk adonan tepung terigu encer di dalam mangkuk seng. Ren berkedip, memfokuskan pandangannya pada biji bawang merah kecil di atas talenan. Otaknya yang memuat rumus kalkulus eko
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-05