LOGINArkan Renata,pria berusia 80 tahun sekaligus konglomerat nomor satu pemilik Renata Group,meninggal dunia dalam kesendirian di ruang VVIP rumah sakit. Di balik kekayaannya yang melimpah, hidup Ren dipenuhi penyesalan mendalam atas dosa masa lalunya ia pernah menjadi suami yang kasar, pemabuk, dan penjudi yang menganiaya serta merampas uang berobat istrinya, Alya, hingga wanita itu mengakhiri hidupnya 50 tahun lalu. Namun, saat hembusan napas terakhirnya berembus, sebuah keajaiban terjadi. Ren tersentak dan mendapati jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, terbangun di tubuh mudanya yang berusia 22 tahun di sebuah rumah kontrakan kayu yang sederhana. Begitu bertemu kembali dengan Alya yang masih hidup dan bernapas, Ren menyadari bahwa ia kembali ke titik waktu sebelum dirinya terjerumus ke dalam lingkaran pergaulan buruk dan penderitaan. Mengantongi memori penyesalan, mentalitas baja, serta penguasaan ilmu bisnis tingkat tinggi dari kehidupan masa depannya, Ren bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia bertekad untuk melindungi Alya sepenuh hati dan membangun kembali kejayaannya tanpa pernah mengorbankan wanita yang paling dicintainya.jadi mampukah Ren kembali berdiri di posisinya yang sebelumnya?.
View MoreSuara derit konstan dari monitor detak jantung berdengung lemah di dalam ruangan VVIP Rumah Sakit Grand Medika.
Bau antiseptik yang tajam menyeruak, menusuk indra penciuman seorang pria tua yang terbaring kaku di atas ranjang bermotor paling canggih. Seprai sutra yang menyelimutinya terasa begitu dingin, dingin yang sama seperti jiwanya selama puluhan tahun terakhir. Di usianya yang ke delapan puluh, Arkan Renata,pria yang dikenal dunia sebagai 'Ren', orang terkaya nomor satu di kota itu, pemilik konglomerasi raksasa Renata Group meratapi kesendirian di hari tuanya. Di luar pintu kaca yang kedap suara, belasan pengacara berjas tebal, manajer aset, dan jajaran direksi berkumpul seperti burung pemakan bangkai. Mereka menantikan napas terakhirnya demi memperebutkan kekayaan yang nilainya sanggup membeli beberapa negara kecil. Namun, di dalam ruangan ini, tidak ada satu orang pun yang menangisinya dengan tulus. Ren memejamkan mata. Otaknya yang menyusut tidak lagi memikirkan saham, ekspansi pasar, atau armada jet pribadinya. Bayangan yang terus menari di balik kelopak matanya hanyalah sebuah gubuk kayu reyot di pinggiran desa kecil, dan sesosok wanita muda bergaun lusuh yang menatapnya dengan keputusasaan yang teramat sangat. Dan wanita itu bernama Alya. Alya Anindya. Istri muda yang dahulu sangat mencintainya, seorang anak yatim piatu yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk Ren. Dan bagaimana Ren membalasnya? Ren menggeram pelan, rasa sakit di dadanya menggelegak melebihi rasa sakit kanker yang menggerogoti tubuh tuanya. Dalam ingatan yang membakar, Ren mengingat betapa jahat dirinya di masa lalu. Ia mengingat saat jemarinya mengepal dan melayang ke tubuh ringkih itu. Ia mengingat bau alkohol murah yang menyengat dari napasnya sendiri, suara meja perjudian yang bising, dan teriakan kemarahannya ketika ia kalah. Puncaknya adalah hari kelam itu—hari ketika Alya, dengan tubuh makin kurus dan pucat, berjuang setengah mati memeras keringat mengumpulkan selembar demi selembar uang kertas lusuh untuk berobat. Dan Ren tua yang saat itu masih seorang bajingan muda tanpa nurani, merampas semua uang itu tanpa peduli tangisan mohon dari istrinya. Ren mengambilnya hanya untuk dilempar ke atas meja judi dan demi beberapa botol minuman keras. dua hari kemudian, Alya yang sudah tidak kuat dengan sikap suaminya pun mengakhiri hidupnya sendiri. Sejak hari itu, jiwa Ren pun seolah mati. Dan demi melarikan diri dari bayang-bayang dosa dan rasa bersalah yang mencekik tenggorokannya setiap malam, Ren bekerja bagai kesetanan. Ia melatih setiap kemampuan, menguasai ilmu bisnis, bertaruh di pasar modal, dan memanjat puncak hirarki ekonomi dunia dengan darah dan keringat. Ia menjadi miliarder teratas, pria paling berkuasa. Tapi di setiap malam di penthouse mewahnya, Ren selalu terbangun sambil menjerit, menggenggam kehampaan di samping tempat tidurnya. Uang triliunan rupiah tidak mampu membeli satu detik pun senyuman Alya. Uang itu bagai seongok sampah bagi ren tua. "Duit ini sampah... Kekayaan ini juga tidak ada gunanya..." batin Ren tua saat grafik detak jantung di monitor makin mendatar. Suara kurva tajam membunyikan nada panjang yang monoton. Bip... Bip... Biiiiip... Cahaya di pandangannya perlahan menggelap. Kehampaan menelannya bulat-bulat. Ren bersiap untuk jatuh ke dalam neraka penyesalannya yang abadi. "Haaah! Haaah!" Ren tersentak hebat. Paru-parunya mendadak mengembang paksa, meraup udara segar dalam jumlah besar sampai tenggorokannya terasa gatal dan perih. Rasa sakit mematikan di dadanya menghilang secara instan. Suara lengkingan monoton monitor rumah sakit berganti menjadi derit lembut angin yang berembus menembus celah-celah dinding papan. Ren terbatuk-batuk, matanya terbuka lebar. Udara yang dihirupnya tidak lagi berbau antiseptik dingin, melainkan aroma tanah basah, jelaga kayu bakar, dan bau samar sabun batangan murah. Ia memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bertenaga, dan penuh kehidupan. Saat ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah, matanya membelalak. Tidak ada kulit keriput bertotol hitam. Tidak ada selang infus yang menusuk pembuluh darahnya. Yang ada hanyalah sepasang tangan pemuda berusia dua puluh dua tahun—tangan yang masih agak kasar, namun kekar dan utuh. Ren berdiri secara refleks. Pandangannya bergerak liar menatap setiap detail ruangan di sekitarnya. Dinding kayu berserat kasar yang sebagian catnya mengelupas, kalender kertas usang yang tergantung di paku karatan, sebuah meja kayu tebal dengan taplak renda buatan tangan yang sedikit terkoyak di ujungnya. Ini adalah rumah kontrakan kecil mereka lima puluh tahun yang lalu. "I-Ini... tidak mungkin..." bisik Ren dengan suara yang masih serak. Suara pemuda. Bukan suara parau kakek tua yang rapuh. Sensasi dingin di telapak kakinya yang menyentuh lantai semen tanpa alas membuat kesadarannya tersengat hebat. Ini bukan mimpi. Ini bukan ilusi sesaat sebelum kematian. Kehangatan darah yang mengalir di pembuluh darahnya terlalu nyata. udara dingin yang dihirupnya terasa begitu nyata. Entah karena keajaiban alam semesta, keberuntungan tak terhingga, atau belas kasihan atas rasa sakitnya selama setengah abad, ia telah dikembalikan. Ia kembali ke masa lalunya! Tiba-tiba, sebuah ketakutan yang mencekam menghantam kesadarannya. "Masa lalu yang mana? Jam berapa ini? Apakah ini sebelum atau sesudah aku merusak semuanya?!" Jantung Ren berdebar begitu keras hingga terasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan napas terengah-engah, ia tidak memedulikan kakinya yang bertelanjang. Ren berlari secepat yang ia bisa, menyeberangi ruang tengah kecil yang sempit, menerobos koridor pendek menuju bagian belakang rumah. Langkahnya mendadak terhenti tepat di batas kosen pintu kayu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur sederhana mereka. Seluruh tubuh Ren membeku secara instan. Di sana, di dekat tungku tanah bata yang mengepulkan asap tipis, berdiri seorang wanita muda. Rambut hitam pekatnya diikat melonggar di belakang leher, beberapa helai rambut halus jatuh menyentuh pipinya yang mulus. Ia mengenakan daster kain katun lusuh berwarna pudar yang sudah beberapa kali ditambal di bagian lengan. Tangannya yang mungil sedang memegang gagang teko seng tua, menuangkan air panas ke dalam cangkir seng. Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi dapur, membingkai tubuh wanita itu dalam pendar keemasan yang hangat. Alya. Istrinya. Wanita yang bayang-bayangnya terus memburu Ren hingga ke bangsal kematian. Dia ada di sana. Bernapas dan Hidup. Pendengaran Alya yang tajam menangkap suara langkah kaki terburu-buru yang mendadak berhenti di ambang pintu. Wanita itu meletakkan teko seng ke atas tatakan kayu, lalu perlahan memutar tubuhnya. Mata hitamnya yang jernih membulat kecil saat melihat suaminya berdiri mematung dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. "Ada apa, Sayang...?" ucap Alya. Suaranya begitu lembut, jernih, dan penuh kehangatan yang tulus. Suara itu menghantam dada Ren bagaikan godam raksasa. Seluruh pertahanan mental yang dibangunnya selama puluhan tahun sebagai pria paling berpengaruh di dunia hancur berkeping-keping dalam satu detik. Tanpa membuang waktu sekejap pun, Ren melangkah lebar dan melompat maju. Ia merengkuh tubuh ringkih Alya ke dalam pelukannya. "Hgh!" Alya sedikit terperanjat saat tubuhnya tertarik ke dalam dekapan tegap suaminya. Ren memeluknya begitu erat,begitu kuat seolah jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja, wanita itu akan menguap menjadi abu dan menghilang lagi. Kepala Ren terbenam di lekukan leher Alya, meresapi aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan: perpaduan antara aroma sabun murah dan wangi alami tubuhnya yang tidak pernah bisa ditiru oleh parfum termahal mana pun di dunia. Air mata panas meleleh deras dari mata Ren, membasahi kain katun lusuh di bahu Alya. "Sayang... Maaf... Maafkan aku..." tangis Ren pecah, napasnya tersengal-sengal diiringi isakan yang teramat dalam. "Maafkan... aku karena selalu bersikap kasar dan selalu membuatmu menderita... Maafkan aku, Alya..." ucap Ren bertubi-tubi, suaranya bergetar hebat penuh keputusasaan dan penyesalan yang membakar. Alya berdiri terpaku di dalam pelukan hangat itu. Keningnya berkerut penuh kebingungan, lalu Dengan perlahan, kedua tangan kecilnya terangkat, mengelus punggung tegap Ren yang sedang berguncang karena tangisan. Tangan itu menepuk-nepuk punggung suaminya dengan irama yang sangat lembut dan menenangkan. "Sayang... Apa yang kau katakan...?" jawab Alya dengan nada halus, ada kekehan kecil yang tertahan di tenggorokannya. "Meskipun hidup kita susah, tapi kamu tidak pernah bersikap kasar kepadaku." Ren menghentikan isakannya sejenak, tubuhnya menegang di dalam pelukan itu. Pernyataan Alya berputar di dalam kepalanya. Tidak pernah bersikap kasar? Ren mendadak teringat sesuatu. Ingatan masa mudanya yang samar-samar kembali berputar cepat. Sifat bajingan, tabiat pemabuk, kecanduan judi, dan tindakan KDRT-nya baru dimulai setelah ia terpengaruh oleh pergaulan buruk kawan-kawannya dan frustrasi karena krisis keuangan yang menjerat mereka. Hari ini... adalah hari sebelum semua neraka itu dimulai! Hari di mana ia masih menjadi Ren yang polos, pria pekerja keras yang sangat mencintai istrinya, meski mereka hanya memiliki sepiring nasi dan tempe untuk dimakan berdua. Keluarga kecil mereka saat ini memang hidup sangat pas-pasan, namun ikatan romantis dan keharmonisan mereka begitu kuat hingga menjadi buah bibir dan keirian warga desa sekitar. "Sudah, sudah... Kau pasti sedang bermimpi buruk," ucap Alya lagi, tangannya kini berpindah mengelus bagian belakang kepala Ren, mencoba meredakan guncangan emosi suaminya. Ren merenggangkan pelukannya sedikit, hanya cukup untuk menatap wajah Alya. Jemari Ren yang gemetar terangkat, mengusap air matanya sendiri dengan kasar, lalu jemarinya berpindah menyentuh pipi mulus Alya. Sentuhan kulitnya terasa nyata, hangat, dan hidup. "Mimpi?...Ya... aku bermimpi," ucap Ren, memutuskan untuk berbohong demi menyembunyikan kenyataan fantastis yang mustahil dipercayai orang lain. "Dan di dalam mimpi itu, sikapku berubah menjadi sangat buruk... Hingga aku kehilanganmu untuk selamanya, hingga hal itu menghantuiku selamanya." Alya menatap mata suaminya yang masih merah dan basah. Senyum manis mekar di bibir tipis wanita itu, menampilkan lesung pipi kecil yang sudah puluhan tahun tidak pernah dilihat Ren secara langsung. "Hahaha... Tapi itu hanya sebuah mimpi, Sayang," ucap Alya sambil tertawa kecil, suara tawa yang bagaikan melodi terindah bagi indra pendengaran Ren. "Dan mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, jadi lupakan itu semua" sambung alya. "Y-ya... Benar, itu hanya mimpi," sahut Ren cepat. Suaranya kini terdengar jauh lebih mantap. "Jadi aku berjanji akan melakukan kebalikan dari mimpi itu. Kamu tenang saja, karena mulai saat ini aku akan melakukan segala hal untuk membuatmu bahagia." Ren kembali menarik Alya ke dalam dekapannya, menyandarkan dagunya di atas kepala istrinya. Di dalam hatinya, sebuah gema sumpah terpancar begitu kuat. "Kehangatan ini, senyum ini, dan wajah ini pasti akan kujaga sebaik mungkin." Ren memejamkan mata, bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan padanya. Ren juga merasa tenang karena Kali ini, pengetahuan bisnis selama puluhan tahun, instrumen strategi investasi, penguasaan berbagai bahasa, analisis psikologi pasar, dan mentalitas baja yang membentuk kekaisaran bisnis triliunan rupiah di kehidupan sebelumnya... semuanya tersimpan utuh di dalam kepalanya yang berusia dua puluh dua tahun ini. Ia tidak hanya akan melindungi Alya dari kemiskinan dan penderitaan, tapi ia juga akan membangun kekaisaran yang jauh lebih megah tanpa pernah mengorbankan wanita yang menjadi napas hidupnya ini. Saat Ren masih tenggelam dalam pusaran pikiran dan janjinya, Alya merenggangkan pelukan mereka perlahan. Menggunakan ujung jarinya, Alya mengusap sisa air mata di sudut mata Ren sambil memberikan tatapan geli. "Oh iya, Sayang..." kata Alya merapikan kerah kaus suaminya yang sedikit kusut. "Tadi Pak Karsa ke sini. Dia minta bantuan untuk memanen jagungnya nanti siang." Ren berkedip, mencoba menyelaraskan ingatan bisnis tingkat tingginya dengan realitas kehidupan desanya saat ini. Pak Karsa adalah tetangga sebelah rumah mereka yang memiliki beberapa hektar ladang jagung. Di kehidupan sebelumnya, bantuan memanen jagung ini dihargai dengan beberapa kilo jagung hasil panen atau sedikit uang tunai. Ren tersenyum tipis, memegang jemari lembut Alya yang ada di dadanya. "Pak Karsa minta bantuan nanti siang?" "Iya," Alya mengangguk manis. "Kata Pak Karsa kalau kamu mau bantu, kita bisa dapat bagian jagung untuk makan seminggu dan sedikit uang belanja. Tadi aku mau bangunkan kamu, tapi kamu kelihatannya kecapean hingga tidur udah kaya kebo." Mendengar istrinya yang menyamakan dirinya dengan kebo pun membuat ren segera berkata. "Dan betapa beruntung nya kebo ini karena memiliki istri sebaik ini". Setelah itu tawa renyah pun bergema di dapur sempit itu lalu,Ren pun menatap sekeliling dapur mereka yang bersahaja. Di atas meja tebal itu hanya ada dua buah cangkir seng dan sebungkus kecil garam. Tidak ada lauk mewah, tidak ada fasilitas canggih. Tapi di sini, di samping Alya, tempat ini terasa jutaan kali lebih berharga daripada penthouse lantai paling atas di New York. "Baiklah," ucap Ren dengan suara tenang namun penuh keyakinan. "Aku akan bantu Pak Karsa panen jagung nanti siang. Tapi sebelum itu, biarkan aku membantumu menyiapkan sarapan dulu." Alya tertawa kecil, matanya menyipit indah. "Membantu masak? Biasanya kamu cuma menunggu di meja, Sayang. Mimpi burukmu benar-benar membuatmu aneh hari ini." "Bukan aneh," jawab Ren sambil meraih jemari Alya dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Tapi Ini adalah awal dari janji baruku".Deru mesin diesel truk engkel Bang Jarwo bergetar konstan, beradu dengan gesekan roda pada aspal kasar menuju pusat Kota Kabupaten. Angin pagi yang kian menghangat berembus menembus celah kaca depan yang retak sehalus benang. Di dalam kabin, kesunyian yang tegang perlahan melunak. Bang Jarwo sesekali melirik Ren dari sudut matanya, seolah-olah pria muda di sampingnya ini bisa berubah menjadi monster kapan saja. "Ren..." Jarwo akhirnya memecah keheningan, suaranya parau seraya membetulkan posisi topi rimbanya. "Soal cerita Pak Broto, Charoen Pokphand, denda penalti puluhan juta... itu semua benar-benar gertakan kosong?" Ren yang sejak tadi memandangi hamparan sawah di luar jendela menoleh pelan. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Delapan puluh persen kebohongan, dua puluh persen fakta, Bang." "Hah? Maksudmu bagaimana?" Jarwo mengerutkan dahi, tangan kekarnya memegang erat lingkar kemudi. "Krisis pasokan pakan ternak dan nama PT Charoen Pokphand itu nyata," jawa
Kabut tipis masih menggantung rendah di atas atap-atap daun rumbia Desa Karangrejo ketika semburat merah fajar mulai merekah di ufuk timur. Udara pagi terasa menggigit kulit, membawa aroma embun yang bercampur dengan wangi tanah basah sisa hujan semalam. Di dalam dapur kecilnya, Ren berdiri di dekat meja kayu sambil mengancingkan kemeja flanel pudar miliknya. Di depannya, Alya sedang sibuk membungkus beberapa potong singkong rebus dan sambal terasi ke dalam daun pisang. "Sayang, singkongnya jangan lupa dimakan nanti kalau kamu lapar di jalan, ya," ucap Alya lembut. Tangannya yang cekatan mengikat bungkusan itu dengan tali serat pelepah pisang, lalu memasukkannya ke dalam tas anyaman bambu kecil. Ren tersenyum, melangkah mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Alya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu istrinya, menghirup aroma sabun mandi yang menenangkan. "Singkong buatanmu selalu jadi menu bintang lima untukku," bisik Ren, membuat Alya terkekeh pelan
Sengatan matahari siang di atas ladang jagung Pak Karsa mulai meredup, berganti pendar jingga yang membakar ufuk barat. Bau tanah hangat yang mengepulkan sisa panas berpadu dengan aroma manis kulit jagung basah yang menumpuk di tepi ladang.Ren menyapu keringat di dahinya menggunakan lengan kaus oblong birunya. Otot-otot lengan dan bahunya yang berusia dua puluh dua tahun terasa pegal, namun ada kehangatan yang memuaskan di dalam dadanya. Tubuh muda ini masih prima, belum digerogoti oleh penuangan sel, dahak rokok mahal, atau penyakit akibat stres bertahun-tahun di ruangan ber-AC."Dua puluh delapan karung..." Pak Karsa menghela napas panjang sambil mengikat simpul serat jerami pada karung goni terakhir. Tangannya yang dipenuhi kapalan tebal gemetar pelan. Pria tua itu terduduk di atas tanah, memegangi lututnya yang mulai ngilu. "Kalau digabung dengan panen besok pagi, totalnya bisa mencapai empat puluh karung lebih. Sekitar dua setengah ton..."Jono dan Didik ambruk di rumput
Asap tipis dari tungku kayu bakar membumbung pelan, membawa aroma khas jelaga yang bercampur dengan uap air mendidih. Di dalam dapur berukuran tiga kali empat meter itu, Ren berdiri kaku di depan sebuah talenan kayu yang sudah menipis di bagian tengahnya.Di tangannya, sebuah pisau dapur bersarung kayu dengan mata pisau yang sedikit terkelupas lapisan hitamnya terasa begitu asing.Sebagai pria yang selama lima puluh tahun terakhir hanya perlu menjentikkan jari untuk menikmati hidangan kualitas bintang lima dari koki pribadi berpaspor Prancis, memegang pisau dapur karat untuk mengiris bawang merah adalah sebuah ujian keterampilan yang tak terduga."Sayang, memotong bawangnya jangan terlalu tebal. Nanti saat ditumis bersama tempe rasanya jadi aneh," bisik Alya dari balik punggungnya. Ia sedang sibuk mengaduk adonan tepung terigu encer di dalam mangkuk seng. Ren berkedip, memfokuskan pandangannya pada biji bawang merah kecil di atas talenan. Otaknya yang memuat rumus kalkulus eko


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.