Deru mesin diesel truk engkel Bang Jarwo bergetar konstan, beradu dengan gesekan roda pada aspal kasar menuju pusat Kota Kabupaten. Angin pagi yang kian menghangat berembus menembus celah kaca depan yang retak sehalus benang.
Di dalam kabin, kesunyian yang tegang perlahan melunak. Bang Jarwo sesekali melirik Ren dari sudut matanya, seolah-olah pria muda di sampingnya ini bisa berubah menjadi monster kapan saja.
"Ren..." Jarwo akhirnya memecah keheningan, suaranya parau seraya membetulkan posisi topi rimbanya. "Soal cerita Pak Broto, Charoen Pokphand, denda penalti puluhan juta... itu semua benar-benar gertakan kosong?"
Ren yang sejak tadi memandangi hamparan sawah di luar jendela menoleh pelan. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Delapan puluh persen kebohongan, dua puluh persen fakta, Bang."
"Hah? Maksudmu bagaimana?" Jarwo mengerutkan dahi, tangan kekarnya memegang erat lingkar kemudi.
"Krisis pasokan pakan ternak dan nama PT Charoen Pokphand itu nyata," jawab Ren santai. Tangannya terangkat, mengusap bekas noda jelaga di lengan kemejanya. "Tapi bagian di mana saya menelpon Pak Broto semalam dan dia mengancam akan meratakan rumah Surya? Itu murni imajinasi yang saya karang di tempat."
Jarwo menginjak pedal gas sedikit lebih dalam karena terperanjat. "Gila! Kamu mempertaruhkan leher kita semua di atas gertakan seperti itu?! Kalau Surya tadi nekat menelpon orang di pasar untuk mengeceknya..."
"Dia tidak akan berani mengeceknya, Bang," potong Ren, matanya berkilat penuh keyakinan analisis. "Pria seperti Surya membangun kekuasaannya di atas rasa takut dan intimidasi. Orang seperti itu biasanya sangat protektif terhadap aset dan posisinya. Ketika ditawari risiko kehilangan segalanya akibat kemarahan 'pihak yang lebih besar', insting pertamanya adalah bertahan dan mundur, bukan memverifikasi."
Jarwo menggeleng-gelengkan kepala, hembusan napas berat lolos dari hidungnya yang lebar. "Kamu baru dua puluh dua tahun, Ren. Tapi otakmu... rasanya seperti otak tengkulak kawakan umur lima puluh tahun yang sudah kenyang makan asam garam politik."
"Saya hanya pembaca situasi yang baik, Bang Jarwo," bisik Ren. Dan pernah mengendalikan perusahaan bernilai triliunan rupiah di kehidupan sebelumnya, tambah Ren di dalam hatinya.
Tiba-tiba, kaca belakang kabin diketuk kasar dari luar.
Tuk! Tuk! Tuk!
Ren memutar tubuhnya dan membuka kaca geser kecil yang menghubungkan kabin dengan bak truk. Di sana, wajah Jono dan Didik muncul dengan rambut acak-acakan disapu angin jalanan. Wajah mereka masih menyiratkan sisa-sisa keheranan yang luar biasa.
"Ren! Ren!" panggil Jono setengah berteriak menyaingi gemuruh angin. "Kami di belakang sampai menahan napas! Demi Tuhan, tadi waktu Surya membentak, aku sudah siap melompat ke parit!"
Didik menimpali dengan mata membelalak lebar, "Aku bahkan sudah membaca doa selamat tiga kali, Ren! Tapi kamu... kamu malah menertawakan mukanya yang kumal itu! Kamu belajar ilmu rawa rontek dari mana, sih?"
Ren terkekeh pelan melihat tingkah kedua pemuda desa itu. "Tidak ada ilmu rawa rontek, Didik. Cuma sedikit keberanian dan memanfaatkan kelemahan lawan. Kalian berdua aman di belakang?"
"Aman dari Surya, tapi tidak aman dari angin!" celoteh Jono sambil menggosok hidungnya yang merah. "Tapi serius, Ren... nanti kalau jagung ini benar-benar laku tiga ribu rupiah lebih, aku mau beli celana jins baru di pasar kota!"
"Janji tetap janji," sahut Ren. "Dua mangkuk es campur penuh dengan sirup merah untuk kalian berdua begitu transaksi selesai."
"Nah! Itu baru ketua tim yang mantap!" seru Didik kegirangan sebelum kembali duduk bersandar di antara karung-karung goni.
Pasar Induk Kabupaten menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang riuh. Bau tanah basah, sayuran membusuk, asap knalpot, dan aroma kopi rempah bercampur di udara pagi yang mulai menyengat. Truk-truk besar dan sedang terparkir membajak lorong-lorong sempit, sementara kuli panggul bertelanjang dada mondar-mandir membawa keranjang-keranjang kayu.
Truk engkel merah Bang Jarwo merayap perlahan melintasi area bongkar muat hasil bumi, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah hanggar luas beratap seng tebal. Di depan hanggar itu, papan kayu kusam bertuliskan 'UD. Makmur Jaya - Agen Utama Hasil Bumi & Pakan Ternak' tergantung miring.
Di dalam hanggar, puluhan ton jagung dan kedelai menumpuk dalam karung-karung raksasa. Di atas sebuah kursi kayu ukir yang diletakkan di panggung semen yang agak tinggi, duduk seorang pria paruh baya bertubuh gemuk. Pria itu mengenakan kaus kutang putih, celana pendek tebal, dan gelang bahu dari akar bahar hitam. Tangan kanannya memegang timbangan gantung kecil, sementara tangan kirinya memegang kalkulator beras yang sesekali ia tekan dengan kasar.
Dia adalah Pak Broto, penguasa lapak jagung terbesar di kabupaten tersebut.
"Itu orangnya," bisik Bang Jarwo pelan sambil mematikan mesin truk. "Ingat, Ren. Broto ini tidak segan-segan mengusir pedagang yang mencoba menjual barang busuk atau menaikkan harga seenaknya."
"Tenang," ujar Ren pendek. Ia membuka pintu kabin dan melangkah turun. Jono dan Didik segera menyusul, berdiri di belakang Ren bagaikan dua pengawal pribadi yang canggung.
Ren melangkah mantap memasuki hanggar. Sepatunya yang kusam menapak tegas di atas lantai semen yang berdebu. Pria tua bersinglet putih itu—Pak Broto—merasa ada presensi yang mendekat. Ia menoleh, matanya yang kecil dan tajam menatap kelompok pemuda itu dari atas ke bawah.
"Cari siapa?" tanya Pak Broto pendek, suaranya berat dan bergema di dalam hanggar. Tangan kirinya tidak berhenti menekan tombol kalkulator.
"Saya mencari pemilik UD. Makmur Jaya, Pak Broto," jawab Ren dengan nada suara yang tenang, sopan, namun memiliki tekanan artikulasi yang mantap.
Broto menyandarkan punggungnya yang tebal ke sandaran kursi, meletakkan kalkulatornya ke meja kayu. "Saya sendiri Broto. Ada perlu apa? Kalau mau lamar jadi kuli panggul, tanya ke Kang Maman di sebelah sana."
Jono dan Didik di belakang Ren sempat menyenggol lengan satu sama lain dengan raut cemas. Namun Ren sama sekali tidak terganggu oleh sambutan dingin itu.
"Saya datang bukan untuk meliput pekerjaan kuli, Pak Broto," ujar Ren sambil menyunggingkan senyum ramah. "Saya membawa dua setengah ton jagung hibrida super kualitas A. Kadar air di bawah empat belas persen, dipetik kering dari ladang Karangrejo."
Alis tebal Pak Broto terangkat sebelah. Mendengar frasa 'kadar air di bawah empat belas persen', fokusnya seketika berpindah.
"Karangrejo?" Broto menyipitkan mata. "Bukannya Karangrejo itu jatahnya Surya? Kenapa kalian yang bawa ke sini naik truknya Jarwo?"
"Juragan Surya sedang ada halangan operasional hari ini," jawab Ren tanpa mengedipkan mata, memberikan alasan diplomatik yang sangat halus. "Dan karena pasokan jagung dari wilayah timur sedang tersendat akibat banjir minggu lalu, saya tahu Pak Broto membutuhkan bahan baku segar untuk pemenuhan kuota pakan ternak hari ini."
Pak Broto tidak langsung menjawab. Ia menatap Ren dengan pandangan selidik yang sangat dalam. Pengalaman puluhan tahun berbisnis di pasar induk membuatnya bisa membaca gestur orang dengan cepat. Pemuda di depannya ini memakai baju kusam khas anak desa, namun gaya bicaranya, tatapan matanya, dan cara dia berdiri... sama sekali tidak mencerminkan buruh tani biasa.
Broto bangkit dari kursinya. Tubuhnya yang tambun melangkah mendekati bak truk Jarwo. "Coba saya lihat barangnya."
Jono dengan sigap memanjat bak dan membuka ikatan terpal biru. Broto meraih sebuah pisau kecil dari saku celananya, menusuk salah satu karung goni di barisan atas, dan membiarkan bulir-bulir jagung kuning mengalir keluar ke telapak tangannya yang lebar.
Broto memeriksa bulir jagung itu. Ia menggenggamnya, merasakan kekeringan teksturnya, lalu menggigit satu biji jagung dengan gigi gerahamnya untuk mengetes tingkat kekerasan dan kadar air.
Klek. Biji jagung itu pecah dengan garing.
Mata Broto berkilat kaget. Sialan, barangnya benar-benar bagus! Kering sempurna dan bulirnya padat. Ini pas sekali untuk menutupi kekurangan kuota pakan ternak minggu ini!
Namun, sebagai pedagang senior, Broto segera menyembunyikan kekagumannya di balik ekspresi datar. Ia menyapu sisa jagung di tangannya kembali ke karung.
"Barangnya lumayan," ucap Broto dingin. "Tapi pasar lagi agak sepi hari ini. Saya cuma bisa ambil di harga dua ribu empat ratus rupiah per kilo."
Bang Jarwo di sebelah truk menahan napas. Dua ribu empat ratus rupiah! Angka itu sudah jauh lebih tinggi dari penawaran Surya yang hanya seribu delapan ratus rupiah! Bagi Jarwo, angka itu sudah sangat menguntungkan.
Namun, sebelum Jarwo sempat tersenyum, suara Ren memotong udara.
"Tiga ribu empat ratus rupiah per kilogram, Pak Broto," sahut Ren tegas, tanpa ragu sedikit pun.
Broto memutar tubuhnya, matanya membelalak kaget. "Apa?! Tiga ribu empat ratus?! Kamu gila, Bocah?! Harga pasaran biasa cuma dua ribu delapan ratus!"
"Harga pasaran biasa untuk kualitas reguler memang dua ribu delapan ratus," balas Ren, melangkah mendekat hingga berdiri hanya satu meter dari Pak Broto. "Tapi barang kami adalah hibrida super kadar air rendah. Tanpa perlu pengeringan ulang di oven hanggar Anda, jagung ini bisa langsung digiling masuk ke mesin produksi sore ini juga."
Ren menatap lurus ke dalam mata pedagang tua itu, melancarkan serangan analisis keduanya.
"Pak Broto bisa saja menolak tawaran saya dan mencari jagung lain. Tapi biaya solar pengeringan, risiko penurunan berat akibat pembusukan jagung basah, dan keterlambatan pengiriman kuota ke pabrik pakan sore ini akan menelan biaya jauh lebih mahal daripada selisih beberapa ratus rupiah yang saya tawarkan."
Ruangan hanggar itu mendadak hening. Hembusan angin pasar terdengar membawa suara bising dari luar.
Pak Broto terpaku. Otak dagangnya berputar keras menghitung kalkulasi matematika yang baru saja dilemparkan oleh pemuda di depannya. Semua yang dikatakan Ren... seratus persen tepat! Kebutuhan operasional dan efisiensi waktu hari ini membuat jagung kering milik Ren bernilai sangat tinggi baginya.
Broto menatap Ren, lalu menatap Jarwo, lalu kembali menatap Ren.
"Siapa nama kamu, Bocah?" tanya Broto, suaranya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi rasa penasaran dan keputusasaan yang tertahan.
"Arkan. Tapi orang-orang memanggil saya Ren," jawab Ren tenang.
Broto mendengus kasar, lalu tiba-tiba... tawa terkekeh keluar dari mulutnya yang besar.
"Hahaha! Bajingan kecil!" seru Broto sambil menepuk bahu Ren dengan cukup keras. "Kamu pintar sekali menghitung isi kantong orang tua! Baik! Tiga ribu dua ratus rupiah per kilo! Itu batas maksimal saya. Kalau kamu tidak mau, silakan angkut lagi jagung ini ke laut!"
Ren menghitung kilat di dalam otaknya. Tiga ribu dua ratus rupiah per kilogram dari total dua setengah ton (2.500 kg). Totalnya adalah delapan juta rupiah! Sebuah angka yang sangat fantastis untuk standar ukuran desa tahun 1996, di mana gaji bulanan buruh harian saat itu hanya sekitar seratus ribu rupiah.
Ren mengulurkan tangannya ke depan. "Dua setengah ton di harga tiga ribu dua ratus rupiah per kilo. Ditambah syarat: timbangan harus jujur dan pembayaran tunai di tempat sekarang juga."
Broto menatap uluran tangan itu, lalu menyambutnya dengan cengkeraman mantap. "Deal! Maman! Panggil anak-anak! Bongkar truk ini sekarang dan timbang semuanya!"
Satu jam kemudian.
Proses penimbangan selesai. Total bersih jagung yang diturunkan adalah 2.560 kilogram. Dengan harga tiga ribu dua ratus rupiah per kilo, total nilai transaksi mencapai Rp8.192.000,- (Delapan Juta Seratus Sembilan Puluh Dua Ribu Rupiah).
Pak Broto menyerahkan seikat tebal uang kertas pecahan puluhan ribu rupiah yang diikat karet gelang kepada Ren di atas meja kerjanya.
"Ini delapan juta seratus sembilan puluh dua ribu rupiah. Hitung lagi kalau tidak percaya," ucap Broto sambil menyalakan rokok kreteknya.
Ren tidak menghitungnya lembar demi lembar secara amatir. Dengan keterampilan jemarinya yang legendaris di masa lalu saat memegang saham fisik, Ren membeberkan ikatan uang itu secara melengkung dan mengibaskannya sekali di dekat telinganya. Rasa tebal dan suara gesekan kertasnya sudah cukup memberi tahu otaknya bahwa jumlahnya tepat.
"Pas," kata Ren pendek, memasukkan ikatan uang tebal itu ke dalam tas anyaman bambu kecil buatan Alya.
Pak Broto menatap gerakan Ren dengan decak kagum. "Ren... kamu benar-benar bukan anak desa biasa. Kalau kamu mau, mulai minggu depan kamu bisa jadi penyuplai tetap di tempat saya. Saya beri kamu kuota lima ton per minggu."
Sebuah penawaran kemitraan eksklusif dari penguasa pasar! Jono dan Didik yang menyaksikan hal itu di belakang hampir saja pingsan karena syok.
Ren tersenyum tipis. "Terima kasih atas penawarannya, Pak Broto. Kita pasti akan bekerja sama lagi dalam skala yang jauh lebih besar dari ini."
Setelah perpisahan singkat itu, Ren merapikan letak tas bambunya di pinggang. Ia berbalik menatap Bang Jarwo, Jono, dan Didik yang berdiri di sudut hanggar dengan mata berbinar-binar penuh tanya.
"Ayo kita ke truk dulu," ajak Ren pendek.
Mereka empat orang berjalan menuju parkiran truk engkel. Begitu sampai di samping kendaraan kayu itu, Ren menepuk bak truk pelan sebelum menoleh menatap rekan-rekannya satu per satu.
"Bang Jarwo, Jono, Didik," panggil Ren, raut wajahnya tampak serius namun memancarkan keramahan. "Transaksi kita di pasar sudah selesai secara sah. Tapi saya tidak akan membagikan uang hasil penjualan ini di sini."
Jono dan Didik saling pandang dengan kening berkerut bingung, sementara Bang Jarwo menyilangkan tangan di dada, mendengarkan dengan seksama.
"Uang delapan juta lebih ini adalah milik Pak Karsa," lanjut Ren tegas. "Semua perhitungan hasil, pembayaran sewa truk untuk Bang Jarwo, upah lelah panen untuk Jono dan Didik, serta bagian keuntungan Pak Karsa harus dilakukan secara terbuka di depan pemilik ladangnya langsung. Jadi, nanti malam setelah isya, saya minta kalian bertiga berkumpul di rumah Pak Karsa."
Mendengar penjelasan itu, rasa tegang di wajah Jono seketika luluh berganti rasa hormat. "Oalah... begitu! Bagus kalau begitu, Ren! Pak Karsa pasti dari tadi di rumah sudah mondar-mandir seperti cacing kepanasan menunggu kabar."
"Betul," timpal Bang Jarwo sambil terkekeh pelan. "Perhitungan terbuka di rumah pemilik barang itu prinsip yang bagus, Ren. Menjaga keterbukaan biar tidak ada curiga di antara kita. Aku setuju, nanti malam aku ke rumah Karsa."
Didik tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jempolnya. "Siap, Bos Ren! Nanti malam kami datang!"
"Tapi janji es campurnya tidak batal, kan?" canda Jono sambil menyeringai.
Ren tertawa renyah. "Tentu saja tidak. Sebelum kita pulang ke desa, mari kita tuntaskan janji es campur itu dulu."
Mereka empat orang kemudian duduk di sebuah warung es campur pinggir jalan di sudut pasar. Suasana sangat cair dan penuh gembira. Jono dan Didik melahap mangkuk es campur kedua mereka dengan tawa renyah yang membahana, sementara Bang Jarwo menyeruput kopi hitamnya dengan wajah cerah tanpa beban utang lagi.
Ren duduk di sudut bangku kayu, memegang segelas air putih hangat. Matanya menatap keramaian kota kabupaten di depannya.
Di dalam tas bambu di pangkuannya, tersimpan amanah besar yang akan mengubah peta ekonomi desa mereka.
"Ren," panggil Jarwo sambil menyunggingkan senyum tulus. "Setelah ini, apa langkahmu selanjutnya? Surya pasti tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti tadi."
Ren menyesap air hangatnya pelan, membiarkan rasa hangat menjalar ke tenggorokannya.
"Biarkan Surya berencana," bisik Ren dengan binar mata yang jernih dan mematikan. "Karena mulai besok... bukan Karangrejo lagi yang akan kita kuasai, tapi seluruh rantai pasok di kecamatan ini."
Matahari siang mulai menggelincir ke barat ketika truk engkel merah itu kembali menderu memasuki jalan desa Karangrejo.
Di halaman rumah kontrakan kecilnya, Alya berdiri di dekat pintu kayu yang terbuka. Sejak pagi, hatinya tidak pernah tenang. Jemari kecilnya terus meremas ujung daster katun pudar miliknya, matanya tak berhenti menatap ke arah jalan makadam desa.
Ketika suara mesin truk Jarwo terdengar mendekat, jantung Alya berdegup kencang.
Truk itu berhenti tepat di depan rumah. Ren melangkah turun dari kabin, membawa tas anyaman bambu kecil di tangannya. Wajahnya yang tampan dibingkai oleh sinar matahari sore yang hangat, memancarkan kelelahan fisik namun dihiasi oleh senyuman paling tulus yang pernah ada.
Alya berlari kecil menyongsong suaminya. Tanpa peduli pada Jarwo, Jono, dan Didik yang menonton dari atas truk, Alya langsung menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Ren.
"Ren! Kamu selamat... Kamu tidak apa-apa, kan?!" bisik Alya penuh isakan lega, wajahnya terbenam di dada tegap Ren.
Ren merengkuh tubuh istrinya dengan erat, mencium rambut hitam Alya yang beraroma wangi alami. Seluruh kelelahan negosiasi dan ketegangan perang saraf sepanjang hari sirna seketika dalam dekap ini.
"Aku sudah janji padamu, kan?" bisik Ren lembut di telinga Alya. Ia merenggangkan pelukan sedikit, mengambil tangan kanan Alya, lalu meletakkan genggaman tangan istrinya di atas tas anyaman bambu yang terasa berat dan padat.
Alya meraba isi tas itu dari luar, merasa ada tumpukan tebal kertas bermaterial kaku di dalamnya. Ia mendongak, menatap mata Ren dengan bingung. "Ini... apa, Sayang?"
Ren tersenyum manis, membelai pipi istrinya yang mulus.
"Ini adalah bukti pertama... bahwa suamimu akan mengubah seluruh dunia untukmu, Alya. Nanti malam setelah isya, kita ke rumah Pak Karsa untuk membagikan hasilnya."