Chapter: 174. Zea Adalah BataskuPintu ruang rapat yang terbuat dari kayu jati tebal bergeser terbuka perlahan.Zea yang tadinya bersandar lemas di bahu Helena langsung menegakkan tubuhnya. "Daren?" panggil Zea halus. "Apakah ada masalah berat di dalam? Papa bicara apa saja padamu?"Daren menghentikan langkah tepat di hadapan kedua wanita itu. Sepasang mata elangnya mengunci tatapan Zea, lalu secara bertahap kilat ketegangan di matanya meleleh menjadi senyuman tipis yang sangat menenangkan."Tidak ada apa-apa, sayang," jawab Daren lembut seraya merendahkan tubuhnya, mengusap puncak kepala Zea dengan jemari kekarnya. "Hanya diskusi singkat soal penyesuaian agenda perusahaan pasca-krisis. Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit."Helena yang memperhatikan interaksi tersebut tersenyum hangat, mengusap bahu menantunya pelan. Ia menoleh ke arah Daren dengan tatapan penuh pemahaman."Daren, lebih baik kamu membawa Zea pulang," ujar Helena dengan nada ibu yang mengayomi. "Lihat istrimu, matanya sudah bengkak dan wa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: 173. Kedatangan Sang PelindungDaren membimbing bahu Zea menuju sofa kulit berukuran besar di sudut ruang kerjanya yang luas. Suasana kantor lantai paling atas gedung Elvano Group itu terasa begitu hening, berbanding terbalik dengan kekacauan yang mulai merayap di luar sana.Daren merengkuh Zea lembut agar terduduk nyaman, lalu melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan. Pria itu mengambil segelas air hangat dan sebuah piring berisi camilan manis, membawanya kembali ke hadapan istrinya."Minum ini dulu, sayang," bisik Daren seraya menyodorkan gelas tersebut. "Kau belum minum sejak tadi. Jangan buat aku makin khawatir. Jika kita terus berada di laboratorium itu, itu akan membuatmu semakin bersedih. Biarkan Aris yang menanganinya, percayakan semua ini padanya."Zea menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, menyesap air hangat tersebut perlahan sebelum meletakkannya di atas meja kaca. Wajahnya yang pucat merona tipis, matanya yang basah menatap Daren dengan binar kesedihan yang menggemaskan seka
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: 172. Rantai PenularanPintu kaca otomatis laboratorium isolasi itu bergeser terbuka dengan bunyi desis halus. Bau khas cairan antiseptik bersenyawa dengan udara dingin bertekanan rendah langsung menusuk indra penciuman. Zea berdiri kaku di luar kaca pengawas, jemarinya meremas kuat tepi pinggiran besi. Di sisinya, Daren berdiri tegap dengan satu tangan melingkar posesif di pinggang Zea, memberikan topangan fisik agar wanita itu tidak ambruk oleh tekanan emosi. sementara Sisca duduk termenung di kursi tunggu dengan wajah kusam dan mata sembap. Dr. Aris melangkah keluar dari ruang dekontaminasi, melepas sarung tangan lamanya dan menggantinya dengan yang baru. "Dokter Aris, bagaimana keadaan papa saya?" tanya Zea begitu melihat pria berjas lab itu mendekat. Suaranya serak, matanya menatap penuh keputusasaan. "Apakah penanganan di sini bisa menstabilkan kondisinya?" Dr. Aris menghela napas panjang, mengusap dahinya yang berkerut dalam sebelum menatap Zea dan Daren secara bergantian. "Kondisi Tuan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: 171. Rahasia di Malam TerakhirSuara deru ban mobil sport hitam itu berdecit keras di pelataran IGD rumah sakit pusat. Mereka berlari menembus koridor rumah sakit yang dipenuhi kepanikan. Begitu tiba di lantai VIP tempat ruang pemulihan khusus berada, isak tangis langsung menyambut pendengaran mereka."Mama!" teriak Zea dengan suara serak, langsung menerjang tubuh wanita paruh baya yang terduduk lemas di kursi tunggu dengan tangan menutupi wajah.Sisca mendongak, wajahnya basah oleh air mata dan riasannya luntur berantakan. Ia langsung memeluk erat tubuh putrinya, menangis sejadi-jadinya di bahu Zea. "Zea... papa kamu, Nak... papa tiba-tiba tidak sadarkan diri di kamar mandi tadi!""Sstt, tenang, Ma. Tenang, Zea di sini," bisik Zea bergetar, mengusap punggung ibunya dengan tangan yang ikut bergetar hebat. Air mata Zea sendiri sudah menetes membasahi pipinya. "Papa pasti kuat. Jangan takut, ada Daren juga di sini."Daren berdiri tegak di samping mer
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: 170. Apa yang Terjadi...Daren mengerjap pelan, manik matanya menatap tajam ke arah Alex seolah ingin menembus kepala sekretarisnya itu. Suaranya terdengar berat dan dingin, mencerminkan ketidakpercayaan yang mutlak atas apa baru saja ia dengar."Tunggu dulu, Alex," potong Daren dengan nada rendah yang mengintimidasi, menghentikan napas memburu sekretarisnya. "Bukankah para korban itu sudah dinyatakan sembuh total dan bersih dari virus setelah menerima suntikan penawar buatan Elvano Group? Bagaimana mungkin mereka bisa jatuh sakit lagi secara bersamaan?"Alex menelan ludah dengan susah payah, mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. "Benar, Tuan... itu juga yang membuat pihak rumah sakit pusat panik luar biasa. Semua catatan medis menunjukkan mereka sudah pulih seratus persen dan dipulangkan dengan hasil negatif."Zea yang duduk di sebelah Daren ikut mengerutkan kening, rasa cemas langsung merayap dan meremukkan sisa-sisa nafsu makannya. Ia meletakkan garpunya ke atas piring dengan gerakan lamba
Terakhir Diperbarui: 2026-10-10
Chapter: 169. Alarm Pagi di Meja Makan"Jangan bergerak, atau aku akan mengurungmu di kamar ini seharian penuh."Suara bariton itu terdengar berat, mencerminkan dominasi mutlak seorang pria yang masih dihantui bayang-bayang ketakutan. Daren melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di pinggang Zea, menarik tubuh istrinya itu rapat-rapat hingga tidak ada celah udara di antara mereka.Zea mendengus pelan sambil melipat tangan di dada, meskipun sudut bibirnya jelas-jelas tertarik membentuk senyuman geli."Tuan CEO yang terhormat, aku ini manusia normal, bukan tahanan hukuman mati yang harus mendekam di sel isolasi," protes Zea dengan nada mengejek, mencoba melepaskan diri dari kungkungan posesif suaminya. "Aku sudah lapar. Kalau kau terus memelukku seperti lintah darat begini, aku bisa pingsan lagi bukan karena penyakit, tapi karena sesak napas."Daren mengecup puncak kepala Zea sekilas dengan penuh kelembutan, namun dekapannya sama sekali tidak mengendur. "Biar saja kau pingsan. Nanti aku yang akan memberikan napas buatan se
Terakhir Diperbarui: 2026-10-10