LOGIN"Lepaskan, Daren! Bukankah seharusnya tubuhmu menolakku? Aku hanya—" ㅤ "Kondisi itu ternyata tidak berlaku padamu. Dosis darimu sudah cukup untuk membangkitkan sesuatu dari dalam diriku... dan sekarang, terimalah konsekuensinya." ㅤ Berniat menggagalkan perjodohan, Zea nekat menggoda Daren dengan sentuhan nakal di pertemuan pertama agar Daren murka. Mengira rumor sang Presdir alergi wanita itu benar, Zea justru bernasib sial. ㅤ Bukannya alergi, sentuhan Zea justru menjadi satu-satunya penawar yang membakar gairah Daren. Malam yang seharusnya membatalkan perjodohan justru menjadi malam panjang yang menjerat mereka dalam ikatan pernikahan! ㅤ Bagi Daren, Zea hanyalah obat berjalan sekaligus pemuas gairahnya. Bagi Zea, Daren tak lebih dari om-om mesum. ㅤ Akankah cinta tumbuh di antara dua orang yang sama-sama gengsi ini, ataukah pernikahan ini hanya dipenuhi gairah tanpa rasa?
View MorePintu ruang rapat yang terbuat dari kayu jati tebal bergeser terbuka perlahan.Zea yang tadinya bersandar lemas di bahu Helena langsung menegakkan tubuhnya. "Daren?" panggil Zea halus. "Apakah ada masalah berat di dalam? Papa bicara apa saja padamu?"Daren menghentikan langkah tepat di hadapan kedua wanita itu. Sepasang mata elangnya mengunci tatapan Zea, lalu secara bertahap kilat ketegangan di matanya meleleh menjadi senyuman tipis yang sangat menenangkan."Tidak ada apa-apa, sayang," jawab Daren lembut seraya merendahkan tubuhnya, mengusap puncak kepala Zea dengan jemari kekarnya. "Hanya diskusi singkat soal penyesuaian agenda perusahaan pasca-krisis. Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit."Helena yang memperhatikan interaksi tersebut tersenyum hangat, mengusap bahu menantunya pelan. Ia menoleh ke arah Daren dengan tatapan penuh pemahaman."Daren, lebih baik kamu membawa Zea pulang," ujar Helena dengan nada ibu yang mengayomi. "Lihat istrimu, matanya sudah bengkak dan wa
Daren membimbing bahu Zea menuju sofa kulit berukuran besar di sudut ruang kerjanya yang luas. Suasana kantor lantai paling atas gedung Elvano Group itu terasa begitu hening, berbanding terbalik dengan kekacauan yang mulai merayap di luar sana.Daren merengkuh Zea lembut agar terduduk nyaman, lalu melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan. Pria itu mengambil segelas air hangat dan sebuah piring berisi camilan manis, membawanya kembali ke hadapan istrinya."Minum ini dulu, sayang," bisik Daren seraya menyodorkan gelas tersebut. "Kau belum minum sejak tadi. Jangan buat aku makin khawatir. Jika kita terus berada di laboratorium itu, itu akan membuatmu semakin bersedih. Biarkan Aris yang menanganinya, percayakan semua ini padanya."Zea menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, menyesap air hangat tersebut perlahan sebelum meletakkannya di atas meja kaca. Wajahnya yang pucat merona tipis, matanya yang basah menatap Daren dengan binar kesedihan yang menggemaskan seka
Pintu kaca otomatis laboratorium isolasi itu bergeser terbuka dengan bunyi desis halus. Bau khas cairan antiseptik bersenyawa dengan udara dingin bertekanan rendah langsung menusuk indra penciuman. Zea berdiri kaku di luar kaca pengawas, jemarinya meremas kuat tepi pinggiran besi. Di sisinya, Daren berdiri tegap dengan satu tangan melingkar posesif di pinggang Zea, memberikan topangan fisik agar wanita itu tidak ambruk oleh tekanan emosi. sementara Sisca duduk termenung di kursi tunggu dengan wajah kusam dan mata sembap.Dr. Aris melangkah keluar dari ruang dekontaminasi, melepas sarung tangan lamanya dan menggantinya dengan yang baru. "Dokter Aris, bagaimana keadaan papa saya?" tanya Zea begitu melihat pria berjas lab itu mendekat. Suaranya serak, matanya menatap penuh keputusasaan. "Apakah penanganan di sini bisa menstabilkan kondisinya?"Dr. Aris menghela napas panjang, mengusap dahinya yang berkerut dalam sebelum menatap Zea dan Daren secara bergantian. "Kondisi Tuan Bastian s
Suara deru ban mobil sport hitam itu berdecit keras di pelataran IGD rumah sakit pusat. Mereka berlari menembus koridor rumah sakit yang dipenuhi kepanikan. Begitu tiba di lantai VIP tempat ruang pemulihan khusus berada, isak tangis langsung menyambut pendengaran mereka."Mama!" teriak Zea dengan suara serak, langsung menerjang tubuh wanita paruh baya yang terduduk lemas di kursi tunggu dengan tangan menutupi wajah.Sisca mendongak, wajahnya basah oleh air mata dan riasannya luntur berantakan. Ia langsung memeluk erat tubuh putrinya, menangis sejadi-jadinya di bahu Zea. "Zea... papa kamu, Nak... papa tiba-tiba tidak sadarkan diri di kamar mandi tadi!""Sstt, tenang, Ma. Tenang, Zea di sini," bisik Zea bergetar, mengusap punggung ibunya dengan tangan yang ikut bergetar hebat. Air mata Zea sendiri sudah menetes membasahi pipinya. "Papa pasti kuat. Jangan takut, ada Daren juga di sini."Daren berdiri tegak di samping mer


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews