Chapter: Bab 271. ENDINGLangkah kaki Satria Wisesa bergema di atas lantai pualam koridor utama. Di usianya yang makin matang, tak ada satu pun jejak kelemahan pada tubuhnya. Bahu tetap lebar, dada bidang, dan garis rahang yang tegas dengan jambang tipis memancarkan ketampanan yang membuat siapa pun menunduk. Binar Netrakwaskitan di matanya berkilat dingin, menekan seluruh atmosfer Mansion Himawan dengan aura dominasinya.Di belakangnya, empat wanita paling berpengaruh di Nusantara berjalan mengiringi.Liana Himawan berjalan tepat di sisi kanannya, gaun marun jatuh sempurna di tubuhnya. Larasati di sisi kiri, berbaju hitam, tangan bertumpu pada gagang pedang. Vanya Cedric dan Ratu Pramudya berjalan satu langkah di belakang, memandang punggung tegap Satria dengan binar yang sama: cinta, kekaguman, dan kepatuhan yang tidak pernah pudar.Bagi mereka berempat, Satria bukan sekadar suami atau sang penguasa. Ia adalah pria yang merebut jiwa mereka, melindungi mereka dari kehancuran, dan menguasai hati mereka sepenu
Terakhir Diperbarui: 2026-10-21
Chapter: Bab 270“Perasaan cintamu tidak pernah menyusahkanku,” lanjut Satria, membiarkan kehangatan suaranya menenangkan jiwa Larasati yang lelah. “Aku menghormati cintamu, sebagaimana aku menghargai nyawa yang kamu pertaruhkan untuk rumah ini. Kamu tidak pernah sendirian menanggungnya, Laras.”Larasati memejamkan mata, ia membiarkan bahunya turun. Ia membiarkan Satria menopang seluruh beban batinnya, meski hanya untuk beberapa detik di koridor malam yang sepi. Di balik kelopak matanya, bayangan-bayangan lama muncul: malam pertama ia berdiri di gerbang Himawan dengan pedang yang masih baru, pagi-pagi ketika ia menemani Nagendra kecil belajar memegang pedang, senyum Liana yang selalu lembut meski tahu ada seseorang yang selalu berdiri di bayangan.Pengakuan itu, dan balasan hangat dari Satria, membakar habis rasa dahaga dan keputusasaan yang merayapi hatinya selama ini. Ia tidak minta dimiliki; ia hanya butuh cintanya diakui dan dihargai oleh sang penguasa. Dan malam ini, ia mendapatkannya.Satria mer
Terakhir Diperbarui: 2026-10-20
Chapter: Bab 269Koridor sayap barat sudah sepi saat Satria keluar dari ruang kerja. Langkahnya pelan, menyusuri selasar pualam yang sunyi. Lampu dinding yang berjejer di sepanjang dinding memancarkan cahaya keemasan redup, seolah enggan mengganggu keheningan malam. Di luar jendela besar, angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah basah dari taman dalam yang baru saja diguyur hujan sore tadi. Daun-daun pohon jati tua bergoyang pelan, bayangannya menari-nari di lantai batu pualam yang dingin.Di ujung lorong, dekat jendela besar yang menghadap taman dalam, Larasati berdiri mengawasi malam. Posturnya tegap, bahu lurus, satu tangan menggenggam erat gagang pedangnya. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini sedikit berantakan di pelipis, beberapa helai putih yang mulai muncul terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Ia tidak bergerak, hanya menatap gelap di balik kaca, seolah bisa melihat ancaman yang belum datang.“Laras.”Wanita itu berbalik cepat, tubuhnya langsung tegang dalam posisi siap. Namun sa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-20
Chapter: Bab 268Malam sudah semakin larut ketika Nagendra menutup pintu ruang makan di belakangnya. Aurelia sudah kembali ke kamar di lantai utama, meninggalkan keheningan yang lembut di sepanjang koridor. Langkahnya membawa dirinya menuju sayap barat, ke ruang kerja kecil yang jarang digunakan kecuali untuk percakapan yang tidak ingin terdengar orang lain. Lampu meja hanya menyinari separuh ruangan, menyisakan sudut-sudut gelap yang menelan sebagian besar perabot. Satria duduk di kursi kayu dengan tablet di tangan, wajahnya setengah tenggelam dalam bayangan, garis rahang tegas terlihat lebih tajam di bawah cahaya kuning yang redup.Nagendra menutup pintu pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang sudah mengendap di antara dinding. “Belum tidur?” tanya Satria tanpa menoleh, suaranya rendah dan tenang, seolah sudah mengetahui siapa yang masuk hanya dari bunyi engsel.“Belum. Ada yang ingin aku tanyakan.” Nagendra berdiri di depan meja, jari-jarinya sedikit menggenggam ujung lengan kemejanya. “Tent
Terakhir Diperbarui: 2026-10-19
Chapter: Bab 267Dari balik bayangan pilar pualam di selasar taman, langkah kaki Larasati berjalan dengan postur tegap yang memancarkan ketangguhan khas kepala pengawal pribadi. Pakaian hitam elegannya tampak begitu pas membingkai tubuhnya yang anggun, sementara gagang pedang pusaka di pinggangnya tetap bersiap siaga melindungi seluruh anggota keluarga inti Faksi Himawan.Larasati menghentikan langkahnya di jarak yang sopan dari tempat Nagendra dan Aurelia berdiri. Matanya yang tajam dan terlatih sempat melirik ke arah jendela lantai dua—tempat Satria Wisesa dan Liana berdiri mengawasi—sebelum akhirnya menatap kedua sejoli di depannya dengan binar kehangatan yang jarang ia perlihatkan di luar tugas."Nagendra... Aurelia," sapa Larasati dengan senyuman. Aurelia perlahan merenggangkan pelukannya dari Nagendra, wajahnya bersemu merah muda. Namun, melihat raut wajah Larasati yang tenang dan penuh perlindungan, kehangatan segera menggantikan rasa malu."Bi Laras," balas Aurelia dengan senyum tulus. "Latih
Terakhir Diperbarui: 2026-10-18
Chapter: Bab 266Pagi hari menyingsing di atas langit Jakarta. Udara bersih berkabut tipis membalas hangatnya pendar keemasan pagar ghaib yang memagari seluruh kompleks Mansion Utama Himawan.Di ruang keluarga privat lantai dua, suasana berhias keceriaan yang jarang terlihat. Kain-kain sutra, renda impor berwarna gading, dan patung manekin tampak memenuhi sudut ruangan. Aurelia berdiri anggun di tengah podium kecil, mengenakan gaun pengantin fitting terakhirnya yang sudah dijahit sempurna. Potongan gaun itu membingkai tubuhnya dengan begitu presisi, memperlihatkan keanggunan matang seorang calon pendamping Pangeran Mahkota.Liana duduk di sofa seraya menyesap teh hangat, menatap Aurelia dengan tatapan penuh keharuan. Di samping Liana, Satria Wisesa duduk tegap. Kemeja hitam berpola naga emas yang dikenakannya mempertegas postur tubuh bidang dan wibawa matangnya yang tak pudar oleh zaman."Bagaimana, Pak Satria?" tanya Aurelia pelan. Wajah cantiknya merona manis, ada sedikit rasa gugup saat menantikan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-17
Chapter: Bab 9PLAK!Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri pria yang selalu menghina Daren. Suaranya terdengar jelas. Pak Wisnu tersungkur ke samping, memegangi pipinya yang mendadak panas dan memerah. Seluruh karyawan dan sekuriti yang berdiri di sana mendadak membeku, mata mereka membelalak hampir melompat keluar dari tempatnya.“Kurang ajar kamu, Wisnu!” bentak Pak Hermawan. “Kamu tahu sedang bicara dengan siapa, hah?!”Pak Wisnu meringis kebingungan, matanya berkaca-kaca menatap atasannya. “P-Pak Dirut... kenapa Bapak nampar saya? Dia itu cuma Daren, OB lantai 4 yang kemarin kabur—”“DIAM KAMU, BANGSAT!” potong Pak Hermawan histeris. Ia tidak lagi memedulikan Pak Wisnu. Dengan tubuh membungkuk, Pak Hermawan berjalan cepat mendekati Daren, lalu mengulurkan kedua tangannya penuh penghormatan.“S-Selamat pagi, Pak Daren... Maafkan atas ketidaknyamanannya. Saya atas nama seluruh direksi Astra Group memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan bawahan kami yang tidak tahu aturan ini!” ujar P
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 8“Aduuuh, Salmah! Daren! Ya ampun, Tante nggak nyangka banget!” Bu RT tersenyum manis. “Tante dari luar udah curiga, ini mobil mewah pasti punya kamu, Nak. Daren kan anak baik, rajin, pinter lagi dari kecil! Kelihatan banget calon orang sukses!”Daren berbalik pelan. Matanya dingin menatap Bu RT yang kini tersenyum pamer gigi.Dulu, wanita inilah yang berkali-kali mengetuk pintu rumahnya malam-malam sambil berteriak menagih utang beras dengan nada menghina di depan warga lain. Sekarang, wajah itu berubah manis. Munafik. “Ada perlu apa ya, Bu RT?” tanya Daren datar, tanpa menyisakan ramah sedikit pun.Senyum Bu RT agak kaku melihat respon dingin Daren, tapi ia cepat menutupi rasa canggungnya. “Ini lho, Ren... Tante cuma mau silaturahmi. Sekalian mau bilang, kalau Salmah sama Rina butuh bantuan buat pindahan, anak Tante yang cowok bisa bantu angkut-angkut barang. Oiya, denger-denger Daren sukses banget ya di kota? Bisnis apa sih, Ren? Bisa kali ajak-ajak anak Tante yang masih nganggur..
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 7“A-apa maksudnya, Mas?” Pak Perkasa mulai berdiri dari kursinya, wajahnya memucat.“Rekening si Daren itu terdaftar di bawah proteksi Enkripsi Khusus Tingkat Tinggi! Statusnya Investor VIP Internasional yang dilindungi hukum perbankan global! Tadi direksi bank pusat langsung nelepon saya, bilang kalau kita berani sentuh atau usik orang itu lagi, bukan cuma saya yang dipenjara, tapi SELURUH izin bisnis milik keluargamu bakal dicabut dan dibekukan hari ini juga!”Brak!Sambungan telepon diputus secara kasar dari seberang.Ponsel di tangan Pak Perkasa hampir terjatuh. Wajah pria paruh baya yang tadi begitu angkuh kini pucat pasi.Rendy membelalakkan mata, lidahnya kelu. “P-Papa, i-ini nggak mungkin, kan? Daren itu cuma mantan OB!”Belum sempat Pak Perkasa menjawab, sekretaris pribadinya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu panik luar biasa.“Bapak! Gawat, Pak!” teriak sekretaris itu seraya menyodorkan sebuah tablet. "Kolega kita di Astra Group baru saja
Terakhir Diperbarui: 2026-10-23
Chapter: Bab 6“Masih berani angkat telepon dari aku, Ren?”Daren melepas jaket kulit cokelatnya lalu melemparnya ke atas tempat tidur king-size kamar hotel. Telepon masuk dari nomor Rendy yang baru saja ia dapatkan dari pesan gertakan beberapa menit lalu, langsung ia angkat tanpa rasa ragu.“Jangan belagu kamu, Daren!” Suara Rendy di seberang sana terdengar tertahan, tapi sarat dengan ancaman. “Ayahku udah telepon kenalannya di Polda sama direksi bank. Besok pagi, rekening kamu bakal dibekukan. Kamu punya waktu sampai besok buat ngaku dari mana uang itu, atau kamu bakal dijemput paksa!”Daren menatap pantulan dirinya di jendela kaca hotel. “Bagus. Berarti kamu punya waktu sampai besok pagi buat nikmatin rasa bangga jadi anak pejabat. Jangan sampai malam ini kamu nggak bisa tidur nyenyak, Ren.”“Bangsat! Kamu—”Tut.Daren mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, ia membuka layar Sistem yang masih memancarkan cahaya merah peringatan.[MISI BARU: BUKTIKAN KEKUASAAN!]Batas Waktu: 11 J
Terakhir Diperbarui: 2026-10-22
Chapter: Bab 5: Tuduhan Tanpa Bukti“Kamu mencuri uang kantor? Atau kamu ikut jaringan uang haram? Atau ada tante girang kaya raya yang lagi biayai hidupmu?”Daren tidak membalas tuduhan sampah itu. Dia hanya berdiri tegap, menatap Rendy dengan mata yang dingin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang justru membuat suasana semakin berat. Cahaya lampu showroom yang putih dan terang jatuh tepat di wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang mengeras tanpa emosi. Beberapa staf di kejauhan pura-pura sibuk, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah kedua pria itu.Melihat Daren yang tak terpancing, Rendy menyunggingkan senyum penuh ancaman. Sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser badannya. “Oke. Kalau kamu mau main rahasia-rahasiaan, saya akan cari tahu sendiri. Keluarga saya punya banyak kenalan pejabat di kepolisian dan pihak direksi perbankan. Kalau uang yang kamu pakai ini uang kotor atau hasil kejahatan, cepat atau lambat kamu bakal membusuk di penjara.”“Sil
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: Bab 4: Kecurigaan di Showroom“Daren, jangan ungkit masa lalu lagi, Nak,” terisak pelan. “Itu semua salah Mama. Mama yang bodoh dan terlalu percaya sama orang bule brengsek itu.”Daren mengepalkan tangan kirinya. Bayangan masa kecilnya yang selalu dihina sebagai anak haram dan dinistakan tetangga kembali berputar. “Iya, Ma. Daren minta maaf,” bisik Daren. “Daren janji bakal terus kerja keras, biar Mama bahagia.”Di seberang sana, terdengar suara ibunya yang masih terisak. “Ya, Nak. Mama percaya sama kamu. Jangan lupa sholat.”“Iya, Ma. Daren pamit. Assalamu'alaikum.”“Waalaikumsalam, Nak…”Panggilan berakhir. Daren menatap layar ponselnya sejenak. Saldonya berkurang menjadi Rp257.557.400. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa mengirimkan uang tanpa harus pusing memikirkan sisa beras dan tunggakan kontrakan. Daren bangkit berdiri, lalu berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah dealer sepeda motor.Begitu melangkah masuk, seorang salesman muda yang berdiri di deka
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: 20. Kegilaan Adisti!Empat orang suster membawa Adisti masuk ke ruangan UGD. Sedangkan, Bagas, dan Anilla bergegas mengikuti dari belakang.Setelah sampai di UGD, mereka segera memberikan pertolongan pada Adisti. Karena luka Adisti tidak terlalu serius, dokter menyarankan agar Adisti dipindahkan ke ruang rawat inap. Dengan cepat Bagas menyetujuinya. Untuk Adisti, dia tidak pernah memikirkan keuangan yang akan dia keluarkan.Setelah memasuki ruang inap, Anilla main mengkhawatirkan kondisi Bagas yang terlihat kusut, dan lelah."Mas." Anilla mendekati Bagas. Sebelum menjawab, Bagas menoleh pada Anilla sembari mengulas senyuman. "Kenapa, Ann?" "Istirahat dulu!" titah Anilla sembari menyimpan tangan di bahu Bagas.Bagas hanya menggelengkan kepala. Kemudian dia menunduk di atas ranjang Adisti, dan melipat kedua tangannya sebagai tumpuan."Aku harus nunggu Adisti!" jawab Bagas tanpa menatap Anilla.Rasa sakit dalam hati Anilla kembali me
Terakhir Diperbarui: 2022-03-29
Chapter: 19. Kenapa Seperti Ini?"Aku gak tau dengan semua rasa ini, Ann! Tolong jangan desak aku!" teriak Bagas. Dadanya terengah karena emosi yang semakin tak terkendali.Netra Anilla terus menatap Bagas tanpa berkedip. Dia berpikir apa yang terjadi pada Bagas benar-benar tak masuk akal. Sebesar apa cintanya pada Adisti, hingga dia sendiri pun tidak tahu apa yang tengah menimpanya? Pertanyaan terus berputar dalam benak Anilla."Aku sadar diri, Mas. Mungkin Mas Bagas bersikap seperti ini ... karena kamu terlalu cinta pada Adisti!" lirih Anilla sembari membalikkan tubuhnya ke depan dengan tatapan kosong."Jangan bersikap seperti ini, Ann! Aku juga mencintai kam...," ucapan Bagas terhenti ketika jari telunjuk Anilla menempel di atas bibirnya."Jangan diteruskan! Aku tau, kamu berkata hanya untuk mengobati rasa cintaku yang tak pernah terbalas," keluh Anilla seraya menurunkan jarinya.Tanpa berkata, mata elang Bagas terus menatap Anilla menyaratkan seribu bahasa yang tak b
Terakhir Diperbarui: 2022-03-16
Chapter: 18. Kenapa Sikapmu Selalu Berubah?"Kamu masih gak sadar, juga?!" bentak Inggrid setelah menampar Bagas. Netra Bagas turun ke bawah, tak berani menatap Inggrid yang tengah dikuasai amarah."Maafkan Bagas, Bu! Bagas gak bisa nolak permintaan Adisti, apalagi sekarang dia sendirian," jawab Bagas.Inggrid kembali mendengkus kesal, dia mendekati kursi yang diduduki Bagas. "Kenapa kamu selalu melakukan apa yang Adisti minta? Apa karena empat tahun yang lalu dia menyelamatkan kamu?!" Suara Inggrid masih naik satu oktaf, terlihat dadanya turun naik. Terkadang dia mendengkus kesal sembari melipat tangannya di atas dada."Ya, Bu! Dan kalau waktu itu, Adisti gak datang ... aku pasti udah mati, Bu! Walaupun, aku sadar saat itu seharusnya aku mengeluarkan ayah dari dalam mobil!" tegas Bagas sembari mengeluarkan air mata. Dia membayangkan kembali pertemuan dengan Adisti. Kala itu, mobil yang dikemudikan Bagas terjun ke dalam jurang. Keberuntungan masih ada dalam takdir Bagas, karena A
Terakhir Diperbarui: 2022-03-12
Chapter: 17. Kemarahan Inggrid "Nilla belum tau, Bu ... kenapa Mas Bagas jadi seperti ini?" Dalam cemas Anilla menjawab pertanyaan Inggrid sembari menangis.Mata Inggrid masih membulat, menatap tajam pada Anilla. Netra Anilla tertunduk ketika Inggrid menatapnya seperti ini. Dia semakin merasa bersalah, tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa?"Bu, apa gak sebaiknya kita bawa saja, Mas Bagas ke rumah sakit?" saran Anilla."Gak perlu, kamu temani saja dia!" titah Ingrid, sembari berlalu meninggalkannya.Kini Anilla bingung sendiri, apa yang harus dia lakukan? Sedangkan, dia tidak tahu harus berbuat apa? "Mas, bangun! Kenapa jadi gini?" tanya Anilla, dia mencoba menggoyangkan lengan Bagas. Tapi, tubuh Bagas masih saja tidak merespon.Hati Anilla semakin cemas, membayangkan kondisi Bagas. Dia menyimpan tangan Bagas yang lemah di pipinya. "Kamu kenapa, Mas? Aku gak mau kayak gini, jangan bikin aku khawatir?" Wajah Anilla makin memucat karena Bagas tak kunjung b
Terakhir Diperbarui: 2022-03-11
Chapter: 16. Bertepuk Sebelah Tangan Bibir Bagas bergerilya di antara kaki Anilla, peluh membasahi kedua insan yang terus bergumul menyatu, dan menyalurkan hasrat kerinduan mereka.Mungkin cerita mereka masih sama seperti novel benci jadi cinta yang masih gengsi menyampaikan bahwa sebenarnya mereka saling menyukai dan mencinta. Tetapi, kita tidak tahu kedepannya terpaan apa yang akan menimpa mereka? Karena sekarang pun keadaan memaksa mereka harus menyimpan segala cinta dan rindu."Mas! Jangan curang!" pekik Anilla ketika Bagas kembali menyesap dan memainkan daerah sensitif Anilla."Aku gak curang, Ann! Aku hanya ingin membawamu pada kenikmatan surga dunia, walau sesaat!" ujar Bagas di sela buaiannya. Untuk saat ini mereka sepakat melepaskan dulu semua masalah yang terjadi, biarlah segala kecewa terganti dengan sentuhan yang memabukkan."Mas! Jujur, aku menyukai dan mencintai kamu!" kata Anilla keluar begitu saja dari bibirnya ketika Bagas makin membuatnya tidak berdaya.Ba
Terakhir Diperbarui: 2022-03-09
Chapter: 15. Cemburukah?"Siapa yang selingkuh? Itu Fikra, Pak. Tolong jangan bikin semua orang curiga pada kita!" tegas Anilla sembari menarik lengannya dari cengkeraman Bagas.Tanpa pamitan, Anilla langsung meninggalkan Bagas begitu saja. Tapi, bukan Bagas namanya kalau urusannya tidak terselesaikan."Ann! Aku mau bicara!" Bagas memekikkan suaranya. Sontak beberapa karyawan yang baru memasuki gerbang utama langsung fokus pada Bagas dan Anilla. Mereka seakan berbisik membicarakan atasannya.Walaupun, Bagas meneriakinya tetap saja Anilla terus berjalan tanpa menoleh padanya.Bagas berlari mengejar kemudian menarik tangan Anilla, dan membenamkan seluruh tubuh Anilla dalam pelukannya.Setelah tubuhnya menempel pada Anilla, Bagas berbisik, "Setelah meeting, datanglah ke ruanganku. Ada yang ingin aku tanyakan!" titah Bagas dengan wajah datar.Bagas melepaskan pelukannya ketika tamu dari Singapura, keluar dari mobil sedan mewah. "Nice to meet you, M
Terakhir Diperbarui: 2022-03-08