author-banner
Hisa NK
Hisa NK
Author

Novels by Hisa NK

Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya

Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya

Satria Wisesa hanyalah kuli panggul rabun yang miskin dan selalu dicaci maki di Pasar Antik Triwindu Solo. Nasibnya berbalik 180 derajat setelah menemukan Liontin Giok Naga yang membangkitkan kemampuan legendaris: Netra Kawaskithan. Bukan cuma menyembuhkan matanya, kekuatan kuno ini membuat Satria mampu melihat aura pusaka sakral, menembus ilusi waktu, hingga menyembuhkan penyakit dalam. Bersenjatakan mata yang tak pernah salah, Satria melangkah masuk ke dunia elit. Dari emperan pasar loak, ia merajai lantai pelelangan internasional beromzet miliaran rupiah, menghancurkan musuh bisnis yang sombong, dan memaksa para konglomerat bertekuk lutut. Namun, bukan hanya harta yang berhasil ia taklukkan. Karisma liar sang naga diam-diam menjerat hati beberapa wanita cantik yang tak berdaya menahan pesona agresif Satria. “Di bawah Netra Kawaskithan milikku, tak ada harta yang bisa bersembunyi, dan tak ada wanita yang bisa menolak untuk ditaklukkan.”
Read
Chapter: Bab 50
Gema gamelan dan gelak tawa tamu undangan di pendopo depan masih terdengar samar, namun di sudut taman belakang kediaman Himawan, keheningan mendadak terasa janggal.Angin sore yang semula berembus lembut tiba-tiba berembus kencang, membawa hawa dingin yang tak lazim. Wangi melati yang memenuhi area taman perlahan terkikis oleh aroma amis air laut dan bau kemenyan terbakar yang pekat.Liana yang sedang menyandarkan kepala di dada Satria refleks mendongak. Tubuhnya merinding hebat saat merasakan perubahan suhu yang drastis."Sat..." lirih Liana, cengkeraman tangannya di jas beskap Satria seketika mengencang. "Kenapa dadaku mendadak sesak banget? Angin ini... rasanya aneh."Satria tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya memicing tajam menatap ke arah sudut dinding benteng tua di ujung taman. Tato naga emas di dada bidangnya yang semula berdenyut tenang kini membara panas, memancarkan pendar keemasan tipis yang menembus kain beskap hitamnya.Batin naga murni di dalam tubuh
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 49
Tepuk tangan membahana memecah keheningan. Di barisan depan tamu VIP, tampak tiga taipan Jakarta—Tirta Wijaya, Hasyim, dan Sofyan—ikut bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kepatuhan. Kematian Ki Brojo dan ketegasan Satria di Hotel Kempinski telah memutus habis niat kotor mereka, menggantikannya dengan rasa hormat dan ketakutan mutlak pada sang naga pelindung.Setelah prosesi sambutan resmi selesai, Satria dan Liana melangkah turun dari panggung utama untuk menyapa para tamu undangan di pelataran pendopo. Hendra berjalan beberapa tindak di belakang mereka dengan keperkasaan dan kewaspadaan penuh, menjaga ruang gerak sang calon majikan utama.Ki Samudro bersama belasan sesepuh adat Keraton Solo mendekati Satria. Pria paruh baya berbatik lurik itu membungkuk dalam-dalam dengan kedua telapak tangan terkatup di dada."Selamat, Den Satria, Mbak Liana," ucap Ki Samudro dengan suara bergetar haru. "Tanah Mataram tersenyum malam ini. Penyatuan Anda berdua bukan hanya menyatukan dua insan, m
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 48
Mobil mewah yang membawa Satria dan Liana bergerak membelah jalanan Kota Solo yang mulai dibasahi rintik hujan sore. Di jok belakang, keheningan melingkupi mereka berdua. Bukan keheningan yang canggung, melainkan ketenangan mendalam dari dua insan yang baru saja melintasi berbagai badai besar bersama.Satria menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon asam tua dan bangunan bergaya arsitektur Jawa klasik yang melintas lambat. Di tanah inilah, petualangan mereka dimulai dari kesederhanaan. Kini, setelah melumpuhkan ancaman Ki Brojo, menundukkan pilar tiga taipan Jakarta, hingga menyelaraskan kembali nadi bumi Mataram, Satria merasakan gejolak energi di dalam dadanya tidak lagi membara liar. Energi naga itu telah berada pada titik keseimbangan mutlak—tenang, kokoh, dan berwibawa.Satria berpaling, mengamati wajah Liana dari samping. Putri tunggal konglomerat Baskoro Himawan itu tampak begitu anggun dengan sapuan rias tipis dan senyuman lembut yang menempel di bibirnya. Liana tid
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 47
Liana tersenyum lebar mendengar bisikan Satria. Kehangatan yang mengalir dari pelukan pemuda itu seolah menyingkirkan hawa dingin dan lembap yang tersisa di dalam goa tua tersebut. Di sekeliling mereka, kilauan batangan emas berstempel kolonial dan deretan batu permata memantulkan cahaya senter dengan sangat indah."Bonus dari bumi yang nilainya bisa bikin Papa makin geleng-geleng kepala," kekeh Liana manja, jemari lentiknya bermain-main di kancing jaket kulit Satria. "Kalau Papa tahu kita nemuin harta karun ratusan miliar cuma gara-gara kamu kecium 'bau tanah' di Puncak, dia pasti langsung minta kamu patroli ke seluruh aset arsitektur Himawan Group."Satria terkekeh rendah, suara baritonnya bergema halus di dinding bata merah goa tua itu. "Pak Baskoro tidak perlu repot-repot sejauh itu, Li. Harta ini terkunci di sini selama hampir satu abad karena tanah di atasnya tersumbat oleh energi mati. Saya hanya membebaskan aliran nadinya, dan bumi menyerahkannya sebagai imbalan."Satria melet
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 46
Malam makin larut di perbukitan Puncak. Suara gemercik air hujan gerimis yang menghantam kaca tebal vila membaur dengan suara letupan kecil dari kayu pinus yang terbakar di dalam perapian.Liana baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, mengenakan jubah mandi sutra longgar berwarna hitam yang kontras dengan kulit mulusnya. Namun, saat melangkah keluar dari kamar mandi, dia mendapati Satria tidak lagi berada di atas ranjang *king size* mereka.Pemuda itu berdiri tegak di tengah ruang tengah vila, tepat di atas karpet bulu tebal. Tubuhnya polos di bagian dada, hanya mengenakan celana panjang jins hitam. Matanya terpejam rapat, kedua telapak tangannya terbuka ke bawah, menggantung santai di sisi tubuhnya.Yang membuat Liana menahan napas adalah tato naga emas di dada Satria—pola itu tidak lagi sekadar berdenyut hangat, melainkan berpendar keemasan dengan ritme yang sangat cepat, seolah sedang merespons sesuatu dari dalam kedalaman tanah yang mereka pijak."Sat?" pangg
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Bab 45
Kata-kata tulus itu membakar sisa-sisa pertahanan emosi Liana. Tanpa menunggu lebih lama, Liana mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Satria, menjinjitkan kakinya, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah pagutan yang dalam, hangat, dan sangat emosional.Ciuman mereka di tepi balkon berangin dingin itu mengalun tanpa ada rasa terburu-buru. Ini bukan ciuman yang dipicu oleh pelepasan energi akibat pertempuran spiritual, melainkan murni ciuman kerinduan akan ketenangan dan cinta yang telah teruji oleh berbagai badai. Lidah Satria menyesap lembut manisnya rongga mulut Liana, sementara tangan besarnya merayap menelusuri lekuk punggung mulus Liana, memanjakan setiap sentuhan di atas kain rajut tipisnya.***Sore harinya, saat kabut tebal perlahan mulai turun membungkus seluruh perbukitan dan hujan gerimis halus mulai membasahi kaca-kaca vila, udara dingin Puncak mencapai puncaknya.Di dalam kamar utama yang temaram, perapian kayu bakar menyala lembut, memancarkan cahaya jingga hangat
Last Updated: 2026-07-23
Rahim Pinjaman

Rahim Pinjaman

"Apa, Mas? Kamu menikah denganku hanya untuk dijadikan wanita kedua? Supaya kalian bisa memiliki keturunan!" pekik Anilla. "Ya! Dan aku pun, tidak pernah mencintai kamu, Anilla Prameswari!" Bariton Bagas terdengar tegas. Perkenalan singkat antara Anilla Prameswari dan Bagas Surya Mahardika menumbuhkan benih cinta di hati seorang gadis cantik dan mandiri ini. Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah. Bagas, membawa hantaran dan mahar yang super wah. Semua orang menyangka, Anilla adalah gadis yang beruntung telah dinikahi oleh seorang CEO muda. Namun, ketika kebahagian merajainya. Dia baru mengetahui bahwa dia hanya dijadikan istri kedua setelah menyerahkan kesuciannya. Anilla merasa gagal menjadi seorang wanita. Akankah Anilla bertahan dalam drama hidup bersama Bagas?
Read
Chapter: 20. Kegilaan Adisti!
Empat orang suster membawa Adisti masuk ke ruangan UGD. Sedangkan, Bagas, dan Anilla bergegas mengikuti dari belakang.Setelah sampai di UGD, mereka segera memberikan pertolongan pada Adisti. Karena luka Adisti tidak terlalu serius, dokter menyarankan agar Adisti dipindahkan ke ruang rawat inap. Dengan cepat Bagas menyetujuinya. Untuk Adisti, dia tidak pernah memikirkan keuangan yang akan dia keluarkan.Setelah memasuki ruang inap, Anilla main mengkhawatirkan kondisi Bagas yang terlihat kusut, dan lelah."Mas." Anilla mendekati Bagas. Sebelum menjawab, Bagas menoleh pada Anilla sembari mengulas senyuman. "Kenapa, Ann?" "Istirahat dulu!" titah Anilla sembari menyimpan tangan di bahu Bagas.Bagas hanya menggelengkan kepala. Kemudian dia menunduk di atas ranjang Adisti, dan melipat kedua tangannya sebagai tumpuan."Aku harus nunggu Adisti!" jawab Bagas tanpa menatap Anilla.Rasa sakit dalam hati Anilla kembali me
Last Updated: 2022-03-29
Chapter: 19. Kenapa Seperti Ini?
"Aku gak tau dengan semua rasa ini, Ann! Tolong jangan desak aku!" teriak Bagas. Dadanya terengah karena emosi yang semakin tak terkendali.Netra Anilla terus menatap Bagas tanpa berkedip. Dia berpikir apa yang terjadi pada Bagas benar-benar tak masuk akal. Sebesar apa cintanya pada Adisti, hingga dia sendiri pun tidak tahu apa yang tengah menimpanya? Pertanyaan terus berputar dalam benak Anilla."Aku sadar diri, Mas. Mungkin Mas Bagas bersikap seperti ini ... karena kamu terlalu cinta pada Adisti!" lirih Anilla sembari membalikkan tubuhnya ke depan dengan tatapan kosong."Jangan bersikap seperti ini, Ann! Aku juga mencintai kam...," ucapan Bagas terhenti ketika jari telunjuk Anilla menempel di atas bibirnya."Jangan diteruskan! Aku tau, kamu berkata hanya untuk mengobati rasa cintaku yang tak pernah terbalas," keluh Anilla seraya menurunkan jarinya.Tanpa berkata, mata elang Bagas terus menatap Anilla menyaratkan seribu bahasa yang tak b
Last Updated: 2022-03-16
Chapter: 18. Kenapa Sikapmu Selalu Berubah?
"Kamu masih gak sadar, juga?!" bentak Inggrid setelah menampar Bagas. Netra Bagas turun ke bawah, tak berani menatap Inggrid yang tengah dikuasai amarah."Maafkan Bagas, Bu! Bagas gak bisa nolak permintaan Adisti, apalagi sekarang dia sendirian," jawab Bagas.Inggrid kembali mendengkus kesal, dia mendekati kursi yang diduduki Bagas. "Kenapa kamu selalu melakukan apa yang Adisti minta? Apa karena empat tahun yang lalu dia menyelamatkan kamu?!" Suara Inggrid masih naik satu oktaf, terlihat dadanya turun naik. Terkadang dia mendengkus kesal sembari melipat tangannya di atas dada."Ya, Bu! Dan kalau waktu itu, Adisti gak datang ... aku pasti udah mati, Bu! Walaupun, aku sadar saat itu seharusnya aku mengeluarkan ayah dari dalam mobil!" tegas Bagas sembari mengeluarkan air mata. Dia membayangkan kembali pertemuan dengan Adisti. Kala itu, mobil yang dikemudikan Bagas terjun ke dalam jurang. Keberuntungan masih ada dalam takdir Bagas, karena A
Last Updated: 2022-03-12
Chapter: 17. Kemarahan Inggrid
"Nilla belum tau, Bu ... kenapa Mas Bagas jadi seperti ini?" Dalam cemas Anilla menjawab pertanyaan Inggrid sembari menangis.Mata Inggrid masih membulat, menatap tajam pada Anilla. Netra Anilla tertunduk ketika Inggrid menatapnya seperti ini. Dia semakin merasa bersalah, tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa?"Bu, apa gak sebaiknya kita bawa saja, Mas Bagas ke rumah sakit?" saran Anilla."Gak perlu, kamu temani saja dia!" titah Ingrid, sembari berlalu meninggalkannya.Kini Anilla bingung sendiri, apa yang harus dia lakukan? Sedangkan, dia tidak tahu harus berbuat apa? "Mas, bangun! Kenapa jadi gini?" tanya Anilla, dia mencoba menggoyangkan lengan Bagas. Tapi, tubuh Bagas masih saja tidak merespon.Hati Anilla semakin cemas, membayangkan kondisi Bagas. Dia menyimpan tangan Bagas yang lemah di pipinya. "Kamu kenapa, Mas? Aku gak mau kayak gini, jangan bikin aku khawatir?" Wajah Anilla makin memucat karena Bagas tak kunjung b
Last Updated: 2022-03-11
Chapter: 16. Bertepuk Sebelah Tangan
Bibir Bagas bergerilya di antara kaki Anilla, peluh membasahi kedua insan yang terus bergumul menyatu, dan menyalurkan hasrat kerinduan mereka.Mungkin cerita mereka masih sama seperti novel benci jadi cinta yang masih gengsi menyampaikan bahwa sebenarnya mereka saling menyukai dan mencinta. Tetapi, kita tidak tahu kedepannya terpaan apa yang akan menimpa mereka? Karena sekarang pun keadaan memaksa mereka harus menyimpan segala cinta dan rindu."Mas! Jangan curang!" pekik Anilla ketika Bagas kembali menyesap dan memainkan daerah sensitif Anilla."Aku gak curang, Ann! Aku hanya ingin membawamu pada kenikmatan surga dunia, walau sesaat!" ujar Bagas di sela buaiannya. Untuk saat ini mereka sepakat melepaskan dulu semua masalah yang terjadi, biarlah segala kecewa terganti dengan sentuhan yang memabukkan."Mas! Jujur, aku menyukai dan mencintai kamu!" kata Anilla keluar begitu saja dari bibirnya ketika Bagas makin membuatnya tidak berdaya.Ba
Last Updated: 2022-03-09
Chapter: 15. Cemburukah?
"Siapa yang selingkuh? Itu Fikra, Pak. Tolong jangan bikin semua orang curiga pada kita!" tegas Anilla sembari menarik lengannya dari cengkeraman Bagas.Tanpa pamitan, Anilla langsung meninggalkan Bagas begitu saja. Tapi, bukan Bagas namanya kalau urusannya tidak terselesaikan."Ann! Aku mau bicara!" Bagas memekikkan suaranya. Sontak beberapa karyawan yang baru memasuki gerbang utama langsung fokus pada Bagas dan Anilla. Mereka seakan berbisik membicarakan atasannya.Walaupun, Bagas meneriakinya tetap saja Anilla terus berjalan tanpa menoleh padanya.Bagas berlari mengejar kemudian menarik tangan Anilla, dan membenamkan seluruh tubuh Anilla dalam pelukannya.Setelah tubuhnya menempel pada Anilla, Bagas berbisik, "Setelah meeting, datanglah ke ruanganku. Ada yang ingin aku tanyakan!" titah Bagas dengan wajah datar.Bagas melepaskan pelukannya ketika tamu dari Singapura, keluar dari mobil sedan mewah. "Nice to meet you, M
Last Updated: 2022-03-08
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status