Share

Bab 190

Penulis: Hisa NK
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 19:57:05

Satria tidak membuang waktu.

Dengan Raka di satu lengan dan adiknya di lengan yang lain, ia menembus hutan kembali menuju batas kota. Aura pelindung yang ia sebarkan membuat kedua anak itu tertidur lelap di tengah perjalanan. Luka di tubuh Raka cukup banyak, tapi tidak langsung mengancam nyawa. Adiknya lebih parah—kurang gizi, aura terkuras, dan bekas segel penghisap tenaga masih terlihat di dada.

Di tengah perjalanan, Raka sempat membuka mata sebentar. Saat pandangannya jatuh pada wajah Satria
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 192

    Di lantai atas, Nagendra baru selesai latihan pagi ketika Satria memanggilnya ke ruang kerja.“Masuk.”Nagendra masuk dan berdiri di depan meja. Wajahnya masih datar, tapi ada ketegangan di bahunya.“Ayah sudah mendengar keterangan Hendra,” kata Satria. “Raka benar-benar dipaksa. Adiknya dijadikan sandera. Mereka memakai anak-anak itu untuk mematahkan Hendra dan Raka.”Nagendra tidak menjawab.Satria menatapnya. “Ayah tidak meminta kamu langsung memaafkan. Tapi ayah meminta kamu tidak membiarkan luka itu mengendalikan keputusanmu ke depan. Trah Sangkala masih di luar. Mereka akan datang lagi. Dan lain kali, mereka mungkin tidak hanya menyerang nama baik.”Nagendra mengangguk pelan. “Aku ngerti, Yah.”“Raka minta bertemu denganmu lagi,” lanjut Satria. “Ayah bilang keputusan ada di tanganmu.”Nagendra terdiam beberapa detik. “Nanti. Belum saatnya, Yah.”Satria mengangguk. “Baik. Pergi istirahat. Wajahmu masih pucat.”Nagendra keluar. Di koridor, ia bertemu Aurelia yang sedang membawa na

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 191

    Raka baru saja selesai diobati ketika Nagendra masuk ke ruang pengobatan.Tabib yang sedang mengganti perban langsung menyingkir tanpa banyak kata. Pintu ditutup pelan di belakang Nagendra. Hanya tersisa bunyi mesin monitor yang berdetak stabil dan napas Raka yang masih lemah.Raka membuka mata. Saat pandangannya jatuh pada sosok di kaki ranjang, tubuhnya menegang."N-Nagendra.”Nagendra tidak menjawab. Ia berdiri diam, tangan di saku celana, wajah datar. Tapi matanya—matanya sudah berubah. Dingin. Dalam. Seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak lagi percaya.Raka mencoba bangkit, tapi rasa sakit langsung membuatnya mengerang dan jatuh kembali ke bantal. “Gue tahu lo marah. Lo berhak marah.”Nagendra melangkah mendekat satu langkah. Suaranya rendah, hampir tanpa emosi.“Lo pengkhianat, padahal dah kasih percaya. Lo hancurin nama gue di depan publik. Dan lo lakuin itu sambil senyum di depan muka gue.”Raka menelan ludah. Air mata sudah menggenang di sudut matanya, tapi ia me

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 190

    Satria tidak membuang waktu.Dengan Raka di satu lengan dan adiknya di lengan yang lain, ia menembus hutan kembali menuju batas kota. Aura pelindung yang ia sebarkan membuat kedua anak itu tertidur lelap di tengah perjalanan. Luka di tubuh Raka cukup banyak, tapi tidak langsung mengancam nyawa. Adiknya lebih parah—kurang gizi, aura terkuras, dan bekas segel penghisap tenaga masih terlihat di dada.Di tengah perjalanan, Raka sempat membuka mata sebentar. Saat pandangannya jatuh pada wajah Satria, rasa bersalah langsung menyelimuti matanya.“Pak Satria…” suaranya parau. “Aku… aku tahu aku tidak pantas diselamatkan.”Satria tidak menoleh. “Bagaimanapun kalian itu anak-anak Hendra. Kau hanya ikut hanyut dalam tekanan mereka.”Raka menunduk dalam. Ia tahu betul apa yang dimaksud Satria. ***Mansion Himawan sudah dalam keadaan siaga penuh ketika aura Satria terdeteksi mendekat dari langit yang cerah. Sinar matahari siang menyinari pelataran, menerangi setiap sudut taman yang hijau dan rimb

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 189

    Aurelia mencubit pelan pinggang Nagendra. “Jangan gitu.”Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil bersama. Tawa itu pelan, lelah, tapi tulus. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke kamar, suasana terasa sedikit lebih ringan.Nagendra menarik selimut yang tersampir di pojok ranjang, menutupi tubuh mereka berdua. Aurelia menempel lebih dekat, kaki saling berjalin. Kelelahan akhirnya datang menghampiri.“Tidur,” bisik Nagendra. “Gue jagain.”Aurelia mengangguk, memejamkan mata. “Kamu juga tidur.”“Iya. Bentar lagi.”Tapi Nagendra tidak langsung tidur. Ia tetap terjaga beberapa saat, menatap wajah Aurelia yang sudah terlelap di dadanya. Jemarinya mengusap rambut gadis itu pelan.Di dalam dadanya, rasa bersalah masih ada. Janji yang dilanggar masih terasa berat. Tapi di samping rasa itu, ada kelegaan yang nyata dan sesuatu yang lebih hangat, yang belum berani ia sebutkan namanya.Perlahan, matanya ikut terpejam.Malam terus berjalan. Di luar kamar, mansion Himawan tenang. Di ruang ba

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 188

    “Aahh… Nagendra…”Nagendra membeku sejenak di dalam tubuh Aurelia, menikmati kelegaan yang langsung terasa. Panas yang membakar organ dalamnya berkurang drastis begitu menemukan jalan keluar. Tapi ia masih belum bergerak. Matanya menatap Aurelia, penuh rasa bersalah.“Maaf…” bisiknya lagi.Aurelia meraih wajahnya, menariknya turun. “Gerak. Sekarang.”Nagendra mulai bergerak. Awalnya pelan, penuh kontrol. Lalu semakin cepat seiring Energi yang terus mengalir keluar dari tubuhnya. Setiap hentakan melepaskan sedikit demi sedikit racun yang menumpuk. Aurelia mengerang di bawahnya, kuku-kukunya mencengkeram bahu Nagendra, menerima setiap aliran energi dengan sadar.“Aahh… aahh… lebih dalam…” desah Aurelia.Nagendra menurut. Ia menghentak lebih dalam, lebih cepat. Suara basah pertemuan tubuh mereka memenuhi kamar yang sunyi. Cahaya emas redup mulai muncul di sekitar tubuh mereka—tanda penyelarasan akhirnya berjalan.Nagendra menunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aurelia. “Gue ben

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 187

    Pendar merah di matanya menyala makin terang. Gelombang Energi Yang yang tertahan tidak menemukan jalan keluar, mulai membalik arah—menyerang balik jantung dan otak Nagendra sendiri. Darah segar menetes deras dari kedua lubang hidungnya, membasahi karpet.Nagendra merangkak mundur menjauhi Aurelia. Ia menyudutkan dirinya di balik pilar kamar, menancapkan kuku-kukunya ke daging pahanya sendiri hingga berdarah—menggunakan rasa sakit fisik demi mengalihkan siksaan gairah dan energi jahat yang membakar dadanya."Jauhi gue, Rell... gue mohon!" bisik Nagendra terengah-engah, matanya merah padam menatap gadis itu. "Kalau gue ngelanggar janji ini cuma selamatin diri gue... gue nggak ada bedanya, gue monster Sangkala... gue nggak mau, AURELIA!"Aurelia meremas dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa melihat pemandangan itu. Di depan matanya, seorang pemuda tidak bertarung melawan musuh luar, melainkan bertarung mati-matian menundukkan naluri paling liar di dalam tubuhnya sendiri demi sebu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status