FAZER LOGINSatria Wisesa hanyalah kuli panggul rabun yang miskin dan selalu dicaci maki di Pasar Antik Triwindu Solo. Nasibnya berbalik 180 derajat setelah menemukan Liontin Giok Naga yang membangkitkan kemampuan legendaris: Netra Kawaskithan. Bukan cuma menyembuhkan matanya, kekuatan kuno ini membuat Satria mampu melihat aura pusaka sakral, menembus ilusi waktu, hingga menyembuhkan penyakit dalam. Bersenjatakan mata yang tak pernah salah, Satria melangkah masuk ke dunia elit. Dari emperan pasar loak, ia merajai lantai pelelangan internasional beromzet miliaran rupiah, menghancurkan musuh bisnis yang sombong, dan memaksa para konglomerat bertekuk lutut. Namun, bukan hanya harta yang berhasil ia taklukkan. Karisma liar sang naga diam-diam menjerat hati beberapa wanita cantik yang tak berdaya menahan pesona agresif Satria. “Di bawah Netra Kawaskithan milikku, tak ada harta yang bisa bersembunyi, dan tak ada wanita yang bisa menolak untuk ditaklukkan.”
Ver maisPasar Triwindu Solo siang itu begitu terik. Satria Wisesa pemuda berusia 24 tahun menyeka keringat yang bercucuran di dahinya dengan handuk lober yang sudah bolong-bolong. Bahunya terasa ngilu luar biasa setelah memanggul peti kayu berisi keramik kuno seberat 50 kilogram.
"Woi, Satria! Jalan pakai mata, jangan pakai dengkul! Itu keramik dinasti Qing, kalau pecah, kamu mau ganti pakai ginjal?!" teriakan melengking itu berasal dari Koh Asun, pemilik toko barang antik tempat Satria bekerja sebagai kuli panggul. Satria hanya bisa menunduk, meminta maaf. Pandangan matanya memang payah. Sejak remaja, ia menderita rabun parah. Untuk membeli kacamata yang layak saja uangnya tidak pernah cukup karena upahnya habis untuk makan sehari-hari dan bayar kosan sempit. Karena kekurangannya ini, Satria menjadi bulan-bulanan dan ejekan kuli lain di pasar. “Si Rabun Pembawa Sial,” begitu mereka biasa memanggilnya. "Maaf, Koh. Tadi agak buram," kata Satria pelan. "Halah, alasan! Ya sudah, cepat bersihkan gudang belakang! Kemarin ada borongan barang loakan masuk. Kalau ada yang bagus, bersihkan. Kalau sampah, buang!" titah Koh Asun ketus. Satria melangkah ke gudang belakang yang gelap dan berdebu. Saat sedang memilah tumpukan koin kuno berkarat dan patung-patung kayu yang sudah dimakan rayap, jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin di dasar sebuah kotak kayu lapuk. Sebuah liontin giok berbentuk naga. Kondisinya memprihatinkan. Warnanya kusam, diselimuti tanah kering, dan permukaannya penuh retakan rambut. Satria mendekatkan giok itu ke matanya yang rabun. Entah mengapa, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk membersihkan benda itu. Saat Satria menggosok permukaan giok dengan ujung jarinya, sekelumit pinggiran retakan giok yang tajam menggores ibu jarinya. Darah segar menetes, langsung terserap ke dalam retakan giok naga tersebut. WUZISSS! Seketika, liontin giok itu memancarkan cahaya hijau pekat yang menyengat. Satria terperanjat, namun tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Rasa hangat menjalar dari tangannya, mengalir cepat menuju dadanya, lalu melesat naik ke kedua matanya. Matanya terasa seperti terbakar selama beberapa detik. "Ahg...!" Satria memejamkan mata rapat-rapat karena rasa perih yang teramat sangat. Satria mengerjapkan mata. Kamar gudang yang tadinya remang-remang kini terlihat begitu terang benderang. Debu-debu yang beterbangan di udara bahkan bisa ia lihat dengan sangat jelas. Rabunnya hilang total! "M-mataku! Aku bisa melihat dengan jelas?" bisik Satria tidak percaya. Namun, kejutan belum selesai. Ketika ia menatap dinding bata gudang, pandangannya tiba-tiba menembus semen dan bata tersebut. Ia bisa melihat seorang perempuan paruh baya sedang mandi. Satria membelalak, langsung berbalik mengarahkan mata menatap kotak kayu. Matanya menembus lapisan kayu, memperlihatkan isi di dalamnya secara detail tanpa harus membukanya. Kemampuan Tembus Pandang! Satria menyadari, liontin giok naga tadi telah menyatu ke dalam dadanya—meninggalkan tato naga hijau samar dan memberikan dirinya mata dewa "Netra Kawaskithan". Saat Satria masih terpaku dengan kekuatannya, suara langkah kaki terdengar dari arah depan toko. Suara sepatu hak tinggi yang anggun, diikuti langkah berat pria paruh baya. Satria melongok ke arah toko depan. Menggunakan mata barunya, ia bisa melihat aura yang keluar dari barang-barang antik di toko Koh Asun. Kebanyakan barang memancarkan aura abu-abu tipis artinya barang palsu atau replika baru. Hanya ada satu dua barang yang memancarkan aura kuning tipis—barang asli tapi usianya muda tidak mempunyai nilai tinggi. Di depan toko, Koh Asun sedang membungkuk-bungkuk hormat kepada dua orang tamu VIP. Pria paruh baya itu adalah Baskoro Himawan, seorang konglomerat besar dan kolektor barang antik kelas kakap dari Jakarta. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda berwajah sangat cantik, anggun, dengan aura dingin yang memikat. Dia adalah Liana Himawan, putri Baskoro yang terkenal cerdas dan mewarisi bakat ayahnya dalam menilai barang antik. "Koh Asun, saya dengar Anda baru mendapatkan arca perunggu ganesha peninggalan kerajaan Mataram Kuno? Saya sengaja datang dari Jakarta untuk melihatnya," ujar Baskoro dengan suara berwibawa. "Oh, tentu saja ada, Pak Baskoro! Ini barang jaminan asli 100%! Saya dapat dari galian di daerah Klaten. Mari silakan dilihat." Koh Asun dengan bangga mengeluarkan sebuah arca perunggu kecil dari dalam kotak beludru merah. Baskoro mengeluarkan kaca pembesar, mulai meneliti. Liana pun ikut mengamati dengan kening sedikit berkerut. Dari balik tirai gudang, Satria memfokuskan pandangannya pada arca perunggu tersebut. Dengan kemampuan tembus pandangnya, Satria melihat bagian dalam arca. Alangkah terkejutnya ia saat melihat struktur logam bagian dalam arca itu sangat rapi, bahkan ada kode produksi modern yang sengaja dikikis di bagian dasarnya, lalu ditutup dengan karat buatan menggunakan zat kimia. Arca itu memancarkan aura abu-abu pekat—palsu! Koh Asun sedang berusaha menipu sang konglomerat demi uang miliaran rupiah. "Bagaimana, Liana?" tanya Baskoro pada putrinya. Liana tampak ragu. "Karat dan patinasinya terlihat alami, Pa. Tekstur perunggunya juga terasa tua. Tapi entah kenapa, perasaanku agak janggal." Ia membolak balik arca tersebut. Koh Asun langsung menimpali dengan lihai, "Aduh, Nona Liana, perasaan bisa menipu, tapi fisik barang tidak! Ini saya lepas 2 Miliar Rupiah saja karena Pak Baskoro adalah langganan lama saya. Kalau kolektor lain, saya minta 3 Miliar!" Baskoro mengangguk dengan senyuman tipis, tampaknya mulai tergiur dan bersiap mengeluarkan buku ceknya. "Baiklah, Koh Asun. Saya percaya pada reputasi—" "Jangan dibeli, Pak! Barang itu palsu!" Sebuah suara lantang memotong ucapan Baskoro. Koh Asun, Baskoro, dan Liana serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Satria berdiri dengan pakaian kulinya yang dekil, namun tatapannya tajam dan lurus, bukan lagi tatapan sayu dari si kuli rabun. Wajahnya Koh Asun langsung memerah padam karena marah sekaligus panik. "Satria!! Kurang ajar kamu ya! Kuli panggul miskin tahu apa soal barang antik? Cepat balik ke gudang sebelum saya pecat kamu!" Liana Himawan menatap Satria dengan mata indahnya yang jeli. Ada sesuatu yang berbeda dari kuli di depannya ini. Sorot matanya sangat percaya diri. "Tunggu," potong Liana, menahan Koh Asun. Ia beralih menatap Satria. "Kamu bilang arca ini palsu? Apa buktinya? Kalau kamu hanya asal bicara dan bikin rusuh toko majikanmu, kamu bisa dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik lho." Satria melangkah maju tanpa rasa takut. Aliran energi hangat dari giok naga di dadanya membuat jiwanya terasa begitu tenang. "Mbak, kalau mbak tidak percaya, coba ambil cairan alkohol murni atau aseton, terus gosok bagian bawah arca ini agak keras. Karat hijaunya akan luntur karena itu hanya lumutan kimia buatan," kata Satria tenang. Satria lalu menunjuk titik spesifik di bagian dalam guratan jubah arca. "Kalau Pak Baskoro rela merusak sedikit bagian lipatan jubah di belakang arca ini dengan jarum, Anda akan menemukan bagian dalamnya bukan perunggu murni kuno, tapi ini campuran besi modern. Di bagian dasarnya yang dilapisi semen tipis, sebenarnya ada bekas nomor seri pabrikan logam di Klaten yang dibuat tahun lalu." Mendengar penjelasan detail dari Satria, wajah Koh Asun pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya. Melihat reaksi Koh Asun, Baskoro Himawan yang sudah berpengalaman belasan tahun di dunia bisnis langsung tahu bahwa kuli di depannya ini tidak sedang menggertak.Liana yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh indahnya yang molek dan sintal terjatuh tepat di atas ranjang, hanya beberapa sentimeter di atas tubuh Satria. Aroma wangi parfum mewah yang menguar dari tubuh Liana semakin memicu gejolak di dalam darah Satria."Arrgghhh!" Akal sehat Satria berteriak untuk tidak melakukan hal yang tak terduga. Ia mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak merusak kehormatan gadis di atasnya. Namun, akibat menahan benturan dua energi ekstrem yang dahsyat di dalam dadanya, tubuh Satria justru semakin bergetar hebat. Wajahnya yang tampan terlihat sangat tersiksa."Dingin... di dalam... sangat dingin..." racau Satria lagi, tubuhnya kini mendadak menggigil seolah membeku.Melihat Satria yang tersiksa demi menyelamatkan nyawa ayahnya, hati Liana tersentuh. Hilang sudah rasa takut, berganti dengan rasa iba dan untuk menolong pemuda ini. Ia merebahkan tubuhnya di samping Satria, lalu melingkarkan kedua lengan untu
Netra Kawaskithan-nya terus memindai lapak-lapak loakan. Di sebuah meja yang menjual jam-jam dinding rusak, netra dewanya menangkap sekelebat aura kuning keemasan yang cukup bersih, meski tidak terlalu pekat.Aura itu memancar dari sebuah jam saku kuno berbahan kuningan yang rantainya sudah putus dan permukaannya tertutup kerak hitam.Satria mendekat dan mengaktifkan kemampuan tembus pandang. Netranya menembus casing jam tersebut. Mesin bagian dalam, roda-roda giginya ternyata terbuat dari perak murni dan ada ukiran halus bertuliskan "Chronometre Heuer - 1920". Mesinnya hanya tersangkut sepotong kotoran kecil, kalau dibersihkan dengan minyak jam, barang kuno ini akan hidup kembali.Taksiran nilai Netra Kawaskithan untuk jam saku ini jika dijual ke kolektor barang antik antik berkisar 5 hingga 7 juta rupiah, padahal pedagangnya hanya memasang harga barang rongsokan."Mas, jam rusak ini berapa?" tanya Satria pada pemuda pemilik lapak."Wah, itu sudah mati, Mas. Rantainya juga nggak ada.
Keesokan paginya, Satria memulai langkah pertamanya. Ia tidak pergi ke toko antik mewah, melainkan melangkah menuju kawasan Pasar Klithikan Notoharjo Solo—pusatnya pasar loak, besi tua, dan barang-barang bekas yang bercampur lumpur. Ratusan pedagang menggelar lapak mereka seadanya di atas terpal plastik di pinggir jalan. Satria berjalan perlahan di antara kerumunan, mengaktifkan kemampuan Netra Kawaskithan-nya. Pandangannya menyapu lapak demi lapak.Sebagian besar barang yang digelar memancarkan aura abu-abu redup artinya benar-benar barang rongsokan tak berharga atau replika murahan. "Mampir, Mas. Bisa diliat-liat dulu. Buat Kang Mas ganteng, aku kasih murah lho iki." Satu orang perempuan cantik yang sedang menunggu lapak menyapanya seraya memperlihatkan barang antik. Namun, di mata Satria barang itu jelas-jelas palsu. "Makasih, Mbak. Nanti saja."Satu orang perempuan berbisik pada perempuan di sebelahnya, ia memuji ketampanan Satria. "Ganteng banget. Liat ototnya, mengoda!"Baru
"Koh Asun," suara Baskoro Himawan terdengar berat dan menekan. "Apa benar yang dikatakan kuli ini? Kamu mencoba menjual barang replika modern padaku?""B-Bukan begitu, Pak Baskoro! Sumpah, demi Tuhan, anak ini cuma kuli panggul gila yang dendam karena sering saya tegur!" Koh Asun berteriak histeris, menunjuk wajah Satria dengan jari yang gemetaran. "Dia itu rabun! Huruf di koran saja tidak bisa baca, bagaimana bisa dia melihat nomor seri di lipatan jubah arca? Dia cuma asal bicara untuk merusak bisnis saya!"Mendengar kata 'rabun', Liana kembali menatap Satria. Memang benar, penampilan Satria sangat lusuh, kaosnya dekil, dan ada bekas luka gores di jemarinya yang masih segar. Namun, sorot mata pemuda di depannya ini sama sekali tidak mencerminkan orang yang menderita rabun. "Pa, buat buktiinnya mudah aja," ucap Liana tenang namun tegas. Ia menatap Satria. "Kebetulan saya membawa cairan pembersih karat khusus dan kaca pembesar pembesaran di mobil." "Silakan, Nona," jawab Satria tenan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.