author-banner
Yukari
Yukari
Author

Novels by Yukari

Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha

Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha

Setelah menyelamatkan nyawa sang alpha, Lyra berakhir melakukan kontrak darah dan terjebak dalam kehidupan werewolf sebagai tawanan di bawah kekuasaan pria itu. Lyra tidak tahu bahwa ada sesuatu tentang aroma tubuhnya yang memikat telah menarik insting liar Kael, sang alpha. Membuat pria yang ditakuti tersebut tidak bersedia melepaskannya.
Read
Chapter: Bab 69: Penjara Mawar dan Air Mata
Istana yang muncul dari kabut itu tampak seperti replika dari mimpi buruk yang indah. Dindingnya terbuat dari es hitam yang memantulkan cahaya matahari pagi menjadi warna ungu yang menyakitkan mata. Kael Draven berdiri di depan gerbang utama, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Di belakangnya, Lyra menolak untuk bergeming. Ia tidak akan membiarkan Kael masuk sendirian ke dalam sarang mahluk yang terobsesi padanya."Kael, jika kau masuk sendirian, kau hanya memberikan apa yang dia inginkan," ucap Lyra, suaranya mantap meskipun hatinya bergetar memikirkan putranya. "Dia ingin memisahkan kita karena dia tahu kekuatan kita ada pada penyatuan jiwa kita."Kael menoleh, menatap mata biru Lyra yang kini berkilat dengan kekuatan perak. "Aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya lagi, Lyra. Eros menginginkanmu. Jika kau masuk ke sana, dia akan menggunakan segala cara untuk mengikatmu.""Dan jika kau masuk tanpa aku, dia akan menghancurkanmu perlahan dengan ilusi tentang diriku," bala
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 68: Dendam Sang Dewa yang Terluka
Langkah Kael menuruni lereng pegunungan Frostbite tidak lagi membawa kelegaan, melainkan badai murka yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang melihatnya. Garan berdiri mematung, kepalanya tertunduk dalam penyesalan yang mendalam. Di tangannya, seangkatan mawar hitam yang kelopaknya tampak terbuat dari beludru kegelapan itu masih mengeluarkan hawa dingin yang mematikan. Lyra merosot dalam pelukan Kael, dunianya yang baru saja kembali terang kini runtuh lebih hebat dari sebelumnya. Putranya, nyawa yang ia selamatkan dengan taruhan jiwa, kini berada di tangan mahluk yang menganggap cinta sebagai permainan kekuasaan."Bagaimana mungkin penjagaan elit kita bisa ditembus tanpa suara?" suara Kael rendah, namun getarannya membuat salju di sekitar mereka berguguran. Mata merah pekatnya menatap ke arah puncak gunung yang tadi mereka tinggalkan."Kami tidak merasakan apa pun, Alpha," bisik Garan dengan suara gemetar. "Hanya ada kabut ungu yang tiba-tiba menyelimuti perkemahan. Saat ka
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 67: Persaingan Cinta Sang Dewa
Kembalinya Lyra dari ambang kematian seharusnya menjadi momen kemenangan bagi Kael, namun kehadiran Eros di puncak gunung suci itu merusak segalanya. Pria bermata merah itu tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun terhadap dominasi Kael. Sebaliknya, ia melangkah di atas permukaan air mata air seolah-olah itu adalah lantai padat, dengan gaya yang sangat aristokrat dan mempesona."Kau terlihat jauh lebih hidup sekarang, Lyra," ucap Eros, matanya mengamati lekuk tubuh Lyra yang tercetak jelas di balik pakaian yang basah kuyup. Tatapannya begitu intens, seolah ia sedang menelanjangi jiwa Lyra di depan Kael.Kael menggeram, suaranya rendah dan mengancam. Ia menarik Lyra ke belakang punggungnya, menutupi pandangan Eros dengan tubuh bidangnya yang penuh luka perang. "Berhenti menatapnya seperti itu, atau aku akan mencungkil matamu!"Eros tertawa, suaranya halus namun mengandung daya pikat yang berbahaya. "Kau sangat primitif, Kael. Kau pikir kau bisa memiliki mahluk seindah Lyra hanya dengan
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Bab 66: Perjalanan Menembus Kehampaan
Kael Draven tidak pernah merasa seputus asa ini. Bahkan saat ia hampir tewas di hutan Black Hollow tahun lalu, ia masih memiliki harapan karena ada Lyra yang merawatnya. Namun sekarang, Lyra yang ia cintai terbaring kaku di dalam kereta yang bergerak cepat menuju puncak tertinggi Pegunungan Frostbite. Tubuh Lyra terasa sedingin es, dan setiap kali Kael mencoba menghangatkannya dengan pelukan, ia merasa energinya justru terserap oleh kehampaan yang kini menyelimuti jiwa istrinya.Di dalam kereta yang mewah namun terasa seperti peti mati itu, Kael tidak pernah melepaskan tangan Lyra. Ia menciumi jemari wanita itu satu per satu, memberikan ciuman yang lambat dan penuh kerinduan. Ia merindukan bagaimana jemari ini membelai wajahnya saat mereka sedang terhanyut dalam gairah. Ia merindukan tatapan mata Lyra yang penuh keberanian."Kenapa kau selalu menjadi pahlawan untukku, Lyra?" bisik Kael, suaranya serak karena tidak tidur selama tiga hari. "Seharusnya aku yang melindungimu. Seharusnya a
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Bab 65: Jantung Kegelapan yang Berdenyut
Langkah Kael terhenti tepat di garis perbatasan yang memisahkan keanggunan wilayah Barat dan kekerasan wilayah Utara. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat statis, seolah-olah oksigen baru saja ditarik keluar dari atmosfer. Di hadapannya, sosok wanita yang mengenakan gaun pengantin compang-camping itu berdiri tegak. Meski wajahnya adalah wajah Selena, namun sorot matanya kosong, digantikan oleh kegelapan pekat yang seolah bisa menelan cahaya bulan. Di tangan kanannya, sebuah jantung mahluk purba masih berdenyut lambat, meneteskan cairan hitam ke atas salju yang langsung mendidih dan menghitam.Kael mempererat dekapannya pada Lyra dan putranya. Dominasi Alpha-nya yang tadinya membara kini berubah menjadi sikap waspada yang dingin. Ia bisa merasakan bahwa mahluk di depannya bukan lagi serigala betina yang ambisius, melainkan sebuah wadah bagi kekuatan kuno yang seharusnya tetap terkubur di dasar sejarah."Selena, hentikan kegilaan ini!" raung Garan dari barisan belakang, namun sua
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 64: Penyatuan di Tengah Badai
Suasana di aula istana bulan berubah menjadi medan perang yang sangat panas. Lucien bangkit dari reruntuhan dinding dengan wajah yang berlumuran darah perak. Keanggunannya telah hilang, digantikan oleh kegilaan sihir bulan yang kini menyelimuti tubuhnya seperti jubah kegelapan. Di sisi lain, Kael Draven tetap memeluk Lyra dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersiap untuk merobek apa pun yang berani mendekat."Kau pikir kau bisa membawanya pergi dalam keadaan seperti ini, Kael?" Lucien melayang di udara, matanya kini sepenuhnya berwarna ungu gelap. "Kutukan anakmu hanya bisa dilepaskan di sini. Jika kau membawanya keluar, dia akan mati dalam hitungan jam!"Kael menatap bayinya yang berada di tangan Garan di belakangnya. Ia menyadari bahwa garis hitam itu memang mulai berdenyut kembali karena kehadirannya. Namun, Kael tidak akan tertipu lagi."Sihirmu adalah parasit, Lucien!" raung Kael. "Kau tidak menyembuhkannya, kau hanya memindahkan kutukan itu ke dalam jiwamu agar kau bisa
Last Updated: 2026-04-24
Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!

Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!

"Pembalasan Dendam kepada Suami," sebuah kisah penuh intrik dan kekejaman terungkap di antara kisah cinta dan pengkhianatan. Ketika Rani, yang telah mengalami tragedi yang menghancurkan, diberi kesempatan untuk membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, Ivan, dan sahabatnya, Lidia, kehidupannya menjadi pusat dari permainan penuh tipu muslihat dan balas dendam yang memukau. Mengulang waktu, Rani merencanakan balas dendamnya dengan hati-hati, membongkar skandal perselingkuhan yang mengguncang perusahaan dan kehidupan pribadinya. Dibantu oleh CEO perusahaan, Eric, yang menyimpan rasa cintanya sendiri pada Rani, intrik semakin memuncak ketika balas dendam menjadi semakin rumit. Dalam kisah yang penuh dengan kejutan dan emosi yang mendalam, "Pembalasan Dendam kepada Suami" tidak hanya membawa pembaca melalui lika-liku permainan balas dendam yang gelap, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekuatan cinta, dan kesempatan kedua dalam kehidupan. Siapakah yang akan memenangkan permainan balas dendam ini? Temukan jawabannya dalam kisah yang memikat ini!
Read
Chapter: Bab 80: Makam yang Berbicara
Hujan badai mengguyur Jakarta seolah-olah langit sedang mencoba mencuci bersih semua dosa yang terkubur di bawah tanah. Angin kencang meliukkan pohon-pohon kamboja di TPU Sanur, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan yang menari di bawah lampu sorot media. Kilatan blitz kamera dari puluhan wartawan yang berdesakan di balik garis polisi terlihat seperti petir yang menyambar berulang kali.Eric turun dari mobil SUV hitamnya dengan payung besar yang dipegang oleh asistennya. Jas mahalnya mulai basah di bagian bawah, namun ia berjalan dengan langkah yang begitu tenang, seolah ia sedang berjalan masuk ke ruang rapat, bukan ke sebuah area pemakaman yang sedang menjadi pusat skandal nasional.Di hadapannya, sebuah liang lahat kecil dengan nisan tanpa nama berdiri kusam di bawah guyuran hujan. Di sekelilingnya, tim forensik pribadi Eric yang didampingi oleh beberapa petugas kepolisian yang sudah ia suap—atau lebih tepatnya, ia beli loyalitasnya—sudah bersiap dengan alat penggali otomatis."
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 79: Gema dari Liang Lahat
Keheningan yang menyelimuti kamar VIP rumah sakit itu terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi timah cair yang masuk ke paru-paru. Suara Lidia di pesan suara itu masih terngiang, bergetar di antara dinding-dinding putih yang dingin. "Di dalam peti mati bayi kita di kehidupan pertama..." Kata-kata itu bukan sekadar instruksi; itu adalah belati yang menembus rahasia terdalam yang selama ini Rani simpan rapat di balik dinding kewarasannya.Rani merasa dunia di sekitarnya mulai berputar. Keringat dingin merembes dari pori-porinya, membasahi baju pasien yang baru saja diganti. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Lidia—wanita yang ia anggap hanya sekadar bidak catur dalam permainan balas dendamnya—tahu tentang rahasia regresi ini? Apakah Lidia juga mengulang waktu? Ataukah Yudha yang memberikan informasi gila ini padanya?Eric berdiri mematung di sisi tempat tidur, ponselnya masih menyala, menampilkan durasi pesan suara yang sudah berakhir. Matanya yang taja
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 78: Tuduhan Balik
Di dalam kamar perawatan VIP, Rani tidak menyadari badai yang sedang terjadi di luar sana. Ia sedang menatap layar televisi yang dimatikan, pantulan wajahnya yang pucat tampak begitu rapuh namun matanya menyimpan api yang tak pernah padam. Ia baru saja selesai menyusui Erica—sebuah momen singkat yang diizinkan dokter karena kondisi Erica yang mulai stabil. Meskipun menyusui setelah operasi caesar sangatlah menyakitkan, bagi Rani, setiap hisapan kecil Erica adalah obat bagi jiwanya yang telah lama hancur."Ibu akan melindungimu, Nak," bisik Rani, mengelus pipi Erica yang halus. "Kali ini, tidak ada yang bisa membawamu pergi."Tiba-tiba, suara riuh dari luar kamar tertangkap oleh pendengarannya. Suara teriakan, langkah kaki yang terburu-buru, dan suara benda yang jatuh. Rani segera meletakkan Erica kembali ke dalam boks bayi yang aman di samping ranjangnya. Instingnya yang sudah terasah di kehidupan pertama berteriak bahwa bahaya sedang mendekat."Nyonya Utama?" panggil Rani, namun Ibu
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Bab 77: Ruang Rapat Sunyi
Gedung Skyrise Utama menjulang tinggi menembus awan kelabu Jakarta pagi itu. Suasana di lobi utama terasa sangat berbeda; para karyawan berjalan dengan kepala tertunduk, bisik-bisik tentang penangkapan Arthur Utama dan kematian tragis Ivan—mantan kepala departemen kebanggaan mereka—memenuhi udara. Di lantai paling atas, di dalam ruang rapat dewan direksi yang berlapis kaca kedap suara, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu hakim.Eric duduk di kursi kebesaran CEO, meskipun bahunya diperban dan wajahnya memiliki beberapa luka gores yang belum kering. Di sampingnya, Nyonya Utama berdiri dengan anggun, matanya yang tajam mengawasi sepuluh orang direksi yang duduk melingkari meja mahoni panjang itu. Di tengah meja, sebuah kotak hitam yang sudah terbuka diletakkan di samping sebuah laptop."Tuan-tuan," Eric memulai, suaranya stabil dan penuh wibawa, tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan fisik. "Kalian semua sudah mendengar berita te
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Bab 76: Rekaman Diputar
Cahaya lampu neon di ruang perawatan VIP itu berpendar pucat, memantulkan bayangan Eric yang sedang berdiri terpaku menatap selembar foto tua di tangannya. Cincin berlian yang baru saja ia sematkan di jari manis Rani berkilau, seolah menjadi satu-satunya titik terang di tengah kegelapan misteri yang baru saja terbuka. Di atas ranjang, Rani masih mengatur napasnya yang pendek. Tubuhnya terasa remuk, namun pikirannya yang tajam tidak bisa berhenti berputar."Eric, katakan sesuatu," bisik Rani. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering seperti padang pasir. "Siapa bayi laki-laki di foto itu? Dan siapa yang mengirimkan amplop itu?"Eric tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang hingga terlihat jelas. Ia membalikkan foto itu, menatap tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Arthur bukan satu-satunya saudara yang Alexander sembunyikan. Selamat atas pernikahan kalian, kakakku.” Kalimat itu bukan sekadar pesan; itu adalah deklarasi perang baru. Eric merasak
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 75: Fajar yang Tak Lagi Kelam
Dunia terasa begitu tenang bagi Rani. Tidak ada lagi rasa sakit yang menyayat, tidak ada lagi amarah yang membara. Ia merasa seperti melayang di atas hamparan awan putih yang hangat. Namun, di kejauhan, ia mendengar suara tangisan bayi yang sangat keras—tangisan yang begitu familiar, tangisan yang memanggil jiwanya untuk kembali dari kegelapan."Rani... bangunlah. Erica membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu."Rani membuka matanya perlahan. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya harus mengerjap beberapa kali. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis bedside monitor. Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan ia merasakan jemari seseorang menggenggamnya dengan sangat erat—begitu erat seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, Rani akan menghilang."Eric..." suara Rani sangat lemah, nyaris seperti embusan angin.Eric, yang duduk di samping tempat tidur dengan perban di kepala dan tangan yang digips, langsung berdiri. Wajahnya yang tampan kini terlihat sang
Last Updated: 2026-04-24
MENJADI SAINTESS TERHEBAT

MENJADI SAINTESS TERHEBAT

Aku berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan adik kembarku agar tidak tertabrak truk. Namun, begitu membuka mata, kami sudah berada di dunia yang berbeda tanpa terluka sedikit pun. Ini adalah dunia fantasi dengan sistem Pemerintahan Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja Tiran. Berdasarkan kepercayaan mereka, jika ada yang datang dari dunia lain, maka orang tersebut adalah Saintess. Akan tetapi, Saintess yang dipercayai hanya ada satu orang. "Karena kamu bukan Saintess. Aku akan membunuhmu di sini. Ada pesan terakhir?" ucap Raja sambil menarik pedangnya ke arahku.
Read
Chapter: Bab 188. Keluarga Legendaris
SRAK! Tak, tak, tak! Suara hentakan kaki yang besar sedang membentur tanah dengan kuat dan tangan yang berotot sedang membentang melawan aliran udara. Benda yang besar itu sedang bergerak menuju tempat kedua anakku sedang bermain. “Halo putriku…! Ayah datang!!” seru Raja Edgar yang berlari girang untuk menghampiri Zanna sambil mengenakan jubah resminya, karena ia baru saja tiba dari perjalanan panjang sepulang dari Kerajaan tetangga. “Tidak, pergi!! Jangan sentuh adikku dan jangan ganggu waktu kami! Pakaian Ayah tidak cocok untuk ikut bermain. Pergilah dulu ke sana untuk ganti baju!” teriak Eden untuk mengusir Raja Edgar. “Kalau begitu, jika Ayah sudah berganti baju, bolehkah Ayah bergabung untuk bermain dengan kalian?” tanya Raja Edgar lagi yang pantang menyerah dengan tatapan penuh harap. “Tidak!” jawab Eden tanpa berbelas kasihan. “Eden! Ayah tidak menanyakan hal ini padamu!” balas Raja Edgar kepada Eden dengan nada marah. K
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Bab 187. Kakak Adik yang Akur
“Apakah kamu sudah memaafkan aku, Sayang?” tanya Raja Edgar yang menolehkan kepalanya ke belakang dari pojokan dengan matanya yang berbinar.Namun, tidak semudah itu untuk meluluhkanku atas kesalahannya yang serius. Jadi, aku berkata, “Tidak, aku masih belum memaafkanmu. Aku hanya memberikan kamu kesempatan untuk ikut campur dalam memberikan nama bagi putrimu nanti. Namun, jika kamu tidak mau, ya sudah, tidak apa-apa.”“Tidak! Tidak! Aku mau! Aku sudah memikirkannya!” seru Raja Edgar sambil dengan cepat beranjak dari pojokan itu dan berjalan dengan tergesa-gesa ke arahku.“Ia sudah memikirkannya? Dalam waktu yang singkat itu selama ia berada di pojokan sana? Memang bakatnya luar biasa. Bahkan, bakatnya dalam memberikan nama yang bagus dalam waktu singkat itu, ia turunkan dengan baik kepada Eden,” batinku.“Aku sudah memikirkan namanya, yaitu Rani, artinya seorang bangsawan yang merupakan putri. Itu coc
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Bab 186. Eden yang Bahagia
Tap, tap, tap.Dengan mataku yang tertutup, aku bisa mendengar suara langkah kaki kecil Eden yang mendekat ke arahku.“Minggir sebentar, Yang Mulia Raja, aku harus melakukan sesuatu,” ucap Eden begitu ia sampai di tempatku.Aku tidak tahu reaksi apa yang diberikan oleh Raja Edgar setelah itu karena aku masih menutup mata. Namun beberapa sat setelahnya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang hangat di tanganku. Eden sudah dewasa dan pintar, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan di situasi ini. Alasan di awal aku mencegahnya untuk menggunakan kekuatan Saintess agar ia tidak salah bertindak dan menyalurkan kekuatan penyembuhannya di daerah perutku, di mana janinku sedang bertumbuh dan berkembang sekarang. Jadi sekarang, karena Eden sudah tahu bahwa aku sedang hamil, ia bisa menanganinya dengan tepat dan menyalurkan kekuatan Saintess untuk memberikan kekuatan dan tenaga dengan menggenggam tanganku.Ketika ia sudah menyalurkan kekuatannya setelah be
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Bab 185. Hamil Kedua
“Apa?! Adik? Eden … itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Lagi pula, jika kamu menginginkan adik, usia kalian terpaut terlalu jauh untuk dijadikan sebagai teman bermain,” balasku.“Hanya delapan tahun jika dihitung Sembilan bulan Ibu akan melahirkan. Tidak apa, Ibu. Aku senang untuk menjaga dan menjadi teman bermain dengannya. Sama seperti Ibu dan kembaran Ibu di masa lalu. Aku tahu maksud Ibu membicarakan hal ini. Ibu pasti baru mendengarkan sesuatu dari Paman Steein, ‘kan?” tanya Eden.Untungnya, Eden menggunakan sapaan tidak formal untuk menyebut Steein. Pasti karena Lissa ada di hadapannya. Jika ia bersama dengan orang-orang, ia tetap memanggil Steein dengan sebutan Tuan Duke Kesar.“Oh ya? Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Lissa dengan senyuman sambil meremas jari-jarinya yang saling bertautan untuk berpura-pura bersikap tenang.Eden sepertinya tahu kalau aku sedang berbohong karena mata merah
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Bab 184. Kebahagiaan Eden
Tap, tap, tap!Kembali lagi, aku berlari dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa henti. Sekarang giliran aku menghampiri Eden untuk menepati janjiku padanya.“Yang Mulia Ratu!! Kenapa Yang Mulia berlari-lari? Bagaimana jika Yang Mulia terjatuh?” tanya Eden dengan tergesa-gesa menghampiriku.Aku tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan nasihat dari anak kecil perihal berlari dan terjatuh. Padahal seharusnya nasihat itu aku berikan kepadanya sebagai nasihat dari seorang Ibu untuk anak. Jika aku ingat-ingat, Eden juga tidak pernah terjatuh atau bertindak ceroboh sejak kecil. Walau aku dan Raja Edgar selalu sibuk, ia tidak menuntut apa pun dan mengurus tanggung jawabnya sendiri.Untuk menghilangkan sikap formalitas Eden yang kaku, aku pun mengelus-elus kepalanya dengan kasar sehingga rambutnya yang rapi jadi berantakan.“Yang Mulia! Apa yang telah Yang Mulia lakukan?! Setelah ini aku ada pertemuan Tuan Count dari Utara, jadi aku
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Bab 183. Tumbuh Menjadi Tidak Berperasaan
Tap, tap, tap!!Aku sangat sibuk. Baru saja aku pergi ke Sekolah Akademi untuk memberikan kata-kata penyambutan kepada para siswa baru, sekarang aku harus cepat menemui Steein sebelum menepati janji temu yang aku buat dengan Eden.Jika aku membuang-buang waktu sedikit saja, aku tidak bisa menemui Steein terlebih dahulu, atau aku jadi terlambat untuk menepati janjiku dengan Eden.“Hahhh … Haahhh….” Napasku terengah-engah dan dadaku naik turun karena kekurangan oksigen. Jika zaman ini sudah semakin maju, aku akan membayar mahal siapa pun yang berhasil menciptakan kantung oksigen di dunia ini untuk bisa membantuku bernapas dengan baik setiap kali aku kekurangan stamina seperti ini.“Lissa, kamu tidak apa-apa? Mau aku bantu?” tanya Steein yang dengan sigap menghampiriku.Namun, untuk mencegah kontak fisik yang berlebihan, aku segera berdiri tegak dan menyesuaikan napasku. Karena aku memiliki banyak tanggung jawab,
Last Updated: 2021-12-30
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status