Chapter: Bab 106 Rahasia Mirana dan Bara PengkhianatanGema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan
Terakhir Diperbarui: 2026-05-28
Chapter: Bab 105 Aliansi Kegelapan yang TerjagaReruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 104 Kebangkitan Sang Mantan TunanganAroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."
Terakhir Diperbarui: 2026-05-26
Chapter: Bab 103 Gairah di Balik Kabut BeracunKabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-22
Chapter: Bab 102 Jerat Lavender dan Ultimatum DewanSuara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela
Terakhir Diperbarui: 2026-05-21
Chapter: Bab 101 Takhta Darah dan Air MataRasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde
Terakhir Diperbarui: 2026-05-20

Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!
"Pembalasan Dendam kepada Suami," sebuah kisah penuh intrik dan kekejaman terungkap di antara kisah cinta dan pengkhianatan. Ketika Rani, yang telah mengalami tragedi yang menghancurkan, diberi kesempatan untuk membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, Ivan, dan sahabatnya, Lidia, kehidupannya menjadi pusat dari permainan penuh tipu muslihat dan balas dendam yang memukau.
Mengulang waktu, Rani merencanakan balas dendamnya dengan hati-hati, membongkar skandal perselingkuhan yang mengguncang perusahaan dan kehidupan pribadinya. Dibantu oleh CEO perusahaan, Eric, yang menyimpan rasa cintanya sendiri pada Rani, intrik semakin memuncak ketika balas dendam menjadi semakin rumit.
Dalam kisah yang penuh dengan kejutan dan emosi yang mendalam, "Pembalasan Dendam kepada Suami" tidak hanya membawa pembaca melalui lika-liku permainan balas dendam yang gelap, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekuatan cinta, dan kesempatan kedua dalam kehidupan. Siapakah yang akan memenangkan permainan balas dendam ini? Temukan jawabannya dalam kisah yang memikat ini!
Baca
Chapter: Bab 112: Air Mata di Balik Cincin SafirMalam resepsi yang seharusnya menjadi malam paling indah dalam hidup Rani berubah menjadi malam penuh perenungan. Setelah acara selesai, mereka kembali ke mansion baru mereka. Suasana di dalam rumah begitu tenang, namun Rani bisa merasakan Eric menjauh secara emosional. Pria itu sibuk di ruang kerjanya, menatap dokumen-dokumen lama dan layar monitor yang penuh dengan data DNA.Rani masuk ke ruang kerja membawa secangkir cokelat panas. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja dan berdiri di belakang Eric, meletakkan tangannya di bahu pria itu. Eric tersentak, lalu segera menutup layar komputernya."Kau belum tidur?" tanya Eric dengan nada suara yang mencoba terdengar santai."Eric, kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku. Aku sudah menghabiskan waktu dua tahun untuk merencanakan setiap langkah Ivan dan Lidia, aku sangat hafal kapan seseorang sedang berbohong atau menyimpan sesuatu," Rani duduk di atas meja kerja di depan Eric, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Apa yang kau lihat d
Terakhir Diperbarui: 2026-05-28
Chapter: Bab 111: Pernikahan di Atas Sisa-Sisa DendamPernikahan itu berlangsung sederhana namun tak tertandingi kemegahannya dalam hal ketulusan. Berlokasi di sebuah kapel pribadi di dalam kawasan perbukitan yang dikuasai keluarga Utama, acara itu hanya dihadiri oleh segelintir orang: Ibu Eric, beberapa kolega terpercaya, dan pengacara pribadi mereka. Tidak ada media, tidak ada tamu undangan yang penuh kepalsuan, tidak ada Ivan atau Lidia yang berdiri di antara mereka untuk merusak kebahagiaan.Rani berjalan perlahan menyusuri altar dengan gaun putihnya yang sederhana. Kain sutra itu membalut tubuhnya dengan anggun, menonjolkan kecantikan alami yang selama ini tersembunyi di balik jas kerja perusahaan. Saat ia sampai di hadapan Eric, ia melihat pria itu menahan napas. Eric tampak begitu gagah dengan setelan jas hitam klasik, tatapan matanya yang biasanya dingin kini dipenuhi dengan binar kasih yang begitu murni hingga Rani merasa seluruh dunianya kini berpusat di sini."Aku, Eric Utama, menerima Rani sebagai istriku," ucap Eric dengan s
Terakhir Diperbarui: 2026-05-27
Chapter: Bab 110: Warisan yang BeracunUdara dingin sisa hujan masih menusuk tulang saat Eric dan Rani berdiri di depan SUV hitam mereka, menyaksikan lampu sirine mobil polisi menjauh dari rumah tua keluarga Ivan. Namun, suara rekaman suara Thomas Utama yang baru saja mereka dengar seolah memadamkan api kemenangan yang baru saja membakar semangat mereka. "Proyek Keabadian." Nama itu terdengar seperti kutukan yang tidak pernah berhenti mengejar.Eric memegang perangkat rekam itu dengan jemari yang memucat. Ia menatap Rani, yang kini sedang menghela napas panjang sembari memandangi langit malam. "Minggu depan. Dia mengundang kita ke rumah utama keluarga Utama," ucap Eric, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Dia tahu kita akan menangkap Lidia. Dia membiarkan Lidia menjadi martir untuk sebuah permainan yang lebih besar."Rani melangkah mendekat, mengambil alih perangkat perekam itu dan menyimpannya di tas kecilnya. "Dia tidak hanya mengundang kita, Eric. Dia menantang kita. Thomas Utama tidak pernah bermain tanpa pegangan kartu
Terakhir Diperbarui: 2026-05-26
Chapter: Bab 109: Sidang Akhir di Tengah KegelapanKegelapan yang pekat seketika menelan seluruh area perumahan tua itu, merenggut fungsi penglihatan normal dalam sekejap mata. Namun, bagi Rani, kegelapan ini bukanlah hal baru. Ia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam kegelapan spiritual setelah kematian bayinya di kehidupan pertama, sebuah fase di mana ia belajar untuk melihat bukan dengan mata, melainkan dengan memori dan insting."Rani, tetap di posisimu!" suara Eric terdengar tegas di sisi kanannya, disusul suara gesekan kain jas saat pria itu bergerak maju untuk memposisikan dirinya di depan Rani sebagai perisai alami.Namun, Rani justru melangkah ke samping, menghindari perlindungan Eric dengan gerakan yang sangat halus. "Tidak, Eric. Ini adalah panggung yang dipilih Lidia untukku. Jika kau maju, dia akan langsung menekan tombol manual tanpa memedulikan sisa waktu."Rani menyalakan senter kecil khusus dari ponsel cadangannya, mengarahkan berkas cahaya putih tajam itu langsung ke arah pintu depan rumah yang kini telah ter
Terakhir Diperbarui: 2026-05-22
Chapter: Bab 108: Konseling dalam Bayang-Bayang TraumaPerjalanan menuju lokasi rumah lama keluarga Ivan berlangsung dalam keheningan yang sarat akan ketegangan tak tersentuh. Eric mengemudikan SUV hitamnya membelah malam yang sunyi, sementara di sampingnya, Rani terus menatap layar ponselnya yang menampilkan angka penghitung mundur di dada Ibu Ivan yang terus berkurang detik demi detik. Sinar layar ponsel memantulkan ekspresi wajah Rani yang kaku, seolah seluruh otot wajahnya telah dikunci oleh rasa takut yang bercampur dengan determinasi murni.Di kursi belakang, dua anggota tim medis Utama duduk siap dengan peralatan darurat mereka, menjaga kalau-kalau terjadi eskalasi fisik yang membutuhkan intervensi medis instan. Jarak dari mansion baru ke pinggiran barat kota memakan waktu sekitar tiga puluh menit, sebuah bentangan waktu yang terasa seperti siksaan abadi bagi jiwa Rani yang masih membawa trauma kematian dari kehidupan pertamanya."Rani, dengarkan aku," ucap Eric tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan aspal yang basah di depann
Terakhir Diperbarui: 2026-05-21
Chapter: Bab 107: Jejak Masa Lalu yang TerbukaMalam semakin larut, namun atmosfer di dalam ruang keluarga kediaman baru Eric dan Rani justru terasa semakin membeku. Detik jarum jam dinding berbunyi teratur, seakan menghitung mundur waktu yang tersisa sebelum ancaman Lidia menjadi kenyataan. Layar monitor CCTV masih menampilkan siluet mengerikan Lidia di depan gerbang besi, berdiri diam di bawah guyuran sisa hujan, memegang boneka dengan kepala terpenggal sebelum akhirnya ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam yang pekat.Rani berdiri mematung di tengah ruangan, matanya menatap kosong ke arah layar yang kini hanya menampilkan kekosongan jalan setapak depan rumah. Jemarinya yang dingin mencengkeram kain rajut blusnya sendiri tepat di atas dada kirinya, merasakan jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sesak. Napasnya tersendat, menyerap udara dingin ruangan yang seolah berubah menjadi jarum-jarum halus yang menusuk paru-parunya."Rani, tenangkan dirimu. Tarik napas perlahan," ucap Eric dengan nada suara
Terakhir Diperbarui: 2026-05-20
Chapter: Bab 188. Keluarga LegendarisSRAK! Tak, tak, tak! Suara hentakan kaki yang besar sedang membentur tanah dengan kuat dan tangan yang berotot sedang membentang melawan aliran udara. Benda yang besar itu sedang bergerak menuju tempat kedua anakku sedang bermain. “Halo putriku…! Ayah datang!!” seru Raja Edgar yang berlari girang untuk menghampiri Zanna sambil mengenakan jubah resminya, karena ia baru saja tiba dari perjalanan panjang sepulang dari Kerajaan tetangga. “Tidak, pergi!! Jangan sentuh adikku dan jangan ganggu waktu kami! Pakaian Ayah tidak cocok untuk ikut bermain. Pergilah dulu ke sana untuk ganti baju!” teriak Eden untuk mengusir Raja Edgar. “Kalau begitu, jika Ayah sudah berganti baju, bolehkah Ayah bergabung untuk bermain dengan kalian?” tanya Raja Edgar lagi yang pantang menyerah dengan tatapan penuh harap. “Tidak!” jawab Eden tanpa berbelas kasihan. “Eden! Ayah tidak menanyakan hal ini padamu!” balas Raja Edgar kepada Eden dengan nada marah. K
Terakhir Diperbarui: 2021-12-31
Chapter: Bab 187. Kakak Adik yang Akur“Apakah kamu sudah memaafkan aku, Sayang?” tanya Raja Edgar yang menolehkan kepalanya ke belakang dari pojokan dengan matanya yang berbinar.Namun, tidak semudah itu untuk meluluhkanku atas kesalahannya yang serius. Jadi, aku berkata, “Tidak, aku masih belum memaafkanmu. Aku hanya memberikan kamu kesempatan untuk ikut campur dalam memberikan nama bagi putrimu nanti. Namun, jika kamu tidak mau, ya sudah, tidak apa-apa.”“Tidak! Tidak! Aku mau! Aku sudah memikirkannya!” seru Raja Edgar sambil dengan cepat beranjak dari pojokan itu dan berjalan dengan tergesa-gesa ke arahku.“Ia sudah memikirkannya? Dalam waktu yang singkat itu selama ia berada di pojokan sana? Memang bakatnya luar biasa. Bahkan, bakatnya dalam memberikan nama yang bagus dalam waktu singkat itu, ia turunkan dengan baik kepada Eden,” batinku.“Aku sudah memikirkan namanya, yaitu Rani, artinya seorang bangsawan yang merupakan putri. Itu coc
Terakhir Diperbarui: 2021-12-31
Chapter: Bab 186. Eden yang BahagiaTap, tap, tap.Dengan mataku yang tertutup, aku bisa mendengar suara langkah kaki kecil Eden yang mendekat ke arahku.“Minggir sebentar, Yang Mulia Raja, aku harus melakukan sesuatu,” ucap Eden begitu ia sampai di tempatku.Aku tidak tahu reaksi apa yang diberikan oleh Raja Edgar setelah itu karena aku masih menutup mata. Namun beberapa sat setelahnya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang hangat di tanganku. Eden sudah dewasa dan pintar, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan di situasi ini. Alasan di awal aku mencegahnya untuk menggunakan kekuatan Saintess agar ia tidak salah bertindak dan menyalurkan kekuatan penyembuhannya di daerah perutku, di mana janinku sedang bertumbuh dan berkembang sekarang. Jadi sekarang, karena Eden sudah tahu bahwa aku sedang hamil, ia bisa menanganinya dengan tepat dan menyalurkan kekuatan Saintess untuk memberikan kekuatan dan tenaga dengan menggenggam tanganku.Ketika ia sudah menyalurkan kekuatannya setelah be
Terakhir Diperbarui: 2021-12-31
Chapter: Bab 185. Hamil Kedua“Apa?! Adik? Eden … itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Lagi pula, jika kamu menginginkan adik, usia kalian terpaut terlalu jauh untuk dijadikan sebagai teman bermain,” balasku.“Hanya delapan tahun jika dihitung Sembilan bulan Ibu akan melahirkan. Tidak apa, Ibu. Aku senang untuk menjaga dan menjadi teman bermain dengannya. Sama seperti Ibu dan kembaran Ibu di masa lalu. Aku tahu maksud Ibu membicarakan hal ini. Ibu pasti baru mendengarkan sesuatu dari Paman Steein, ‘kan?” tanya Eden.Untungnya, Eden menggunakan sapaan tidak formal untuk menyebut Steein. Pasti karena Lissa ada di hadapannya. Jika ia bersama dengan orang-orang, ia tetap memanggil Steein dengan sebutan Tuan Duke Kesar.“Oh ya? Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Lissa dengan senyuman sambil meremas jari-jarinya yang saling bertautan untuk berpura-pura bersikap tenang.Eden sepertinya tahu kalau aku sedang berbohong karena mata merah
Terakhir Diperbarui: 2021-12-31
Chapter: Bab 184. Kebahagiaan EdenTap, tap, tap!Kembali lagi, aku berlari dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa henti. Sekarang giliran aku menghampiri Eden untuk menepati janjiku padanya.“Yang Mulia Ratu!! Kenapa Yang Mulia berlari-lari? Bagaimana jika Yang Mulia terjatuh?” tanya Eden dengan tergesa-gesa menghampiriku.Aku tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan nasihat dari anak kecil perihal berlari dan terjatuh. Padahal seharusnya nasihat itu aku berikan kepadanya sebagai nasihat dari seorang Ibu untuk anak. Jika aku ingat-ingat, Eden juga tidak pernah terjatuh atau bertindak ceroboh sejak kecil. Walau aku dan Raja Edgar selalu sibuk, ia tidak menuntut apa pun dan mengurus tanggung jawabnya sendiri.Untuk menghilangkan sikap formalitas Eden yang kaku, aku pun mengelus-elus kepalanya dengan kasar sehingga rambutnya yang rapi jadi berantakan.“Yang Mulia! Apa yang telah Yang Mulia lakukan?! Setelah ini aku ada pertemuan Tuan Count dari Utara, jadi aku
Terakhir Diperbarui: 2021-12-31
Chapter: Bab 183. Tumbuh Menjadi Tidak BerperasaanTap, tap, tap!!Aku sangat sibuk. Baru saja aku pergi ke Sekolah Akademi untuk memberikan kata-kata penyambutan kepada para siswa baru, sekarang aku harus cepat menemui Steein sebelum menepati janji temu yang aku buat dengan Eden.Jika aku membuang-buang waktu sedikit saja, aku tidak bisa menemui Steein terlebih dahulu, atau aku jadi terlambat untuk menepati janjiku dengan Eden.“Hahhh … Haahhh….” Napasku terengah-engah dan dadaku naik turun karena kekurangan oksigen. Jika zaman ini sudah semakin maju, aku akan membayar mahal siapa pun yang berhasil menciptakan kantung oksigen di dunia ini untuk bisa membantuku bernapas dengan baik setiap kali aku kekurangan stamina seperti ini.“Lissa, kamu tidak apa-apa? Mau aku bantu?” tanya Steein yang dengan sigap menghampiriku.Namun, untuk mencegah kontak fisik yang berlebihan, aku segera berdiri tegak dan menyesuaikan napasku. Karena aku memiliki banyak tanggung jawab,
Terakhir Diperbarui: 2021-12-30