Mag-log in"Pembalasan Dendam kepada Suami," sebuah kisah penuh intrik dan kekejaman terungkap di antara kisah cinta dan pengkhianatan. Ketika Rani, yang telah mengalami tragedi yang menghancurkan, diberi kesempatan untuk membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, Ivan, dan sahabatnya, Lidia, kehidupannya menjadi pusat dari permainan penuh tipu muslihat dan balas dendam yang memukau. Mengulang waktu, Rani merencanakan balas dendamnya dengan hati-hati, membongkar skandal perselingkuhan yang mengguncang perusahaan dan kehidupan pribadinya. Dibantu oleh CEO perusahaan, Eric, yang menyimpan rasa cintanya sendiri pada Rani, intrik semakin memuncak ketika balas dendam menjadi semakin rumit. Dalam kisah yang penuh dengan kejutan dan emosi yang mendalam, "Pembalasan Dendam kepada Suami" tidak hanya membawa pembaca melalui lika-liku permainan balas dendam yang gelap, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekuatan cinta, dan kesempatan kedua dalam kehidupan. Siapakah yang akan memenangkan permainan balas dendam ini? Temukan jawabannya dalam kisah yang memikat ini!
view more“Ini jam dua pagi. Kenapa kamu di sini?”
Langit malam menyelimuti rumah Rani dengan ketenangan. Namun, keheningan itu segera terganggu oleh teriakan tajam Rani. Wanita itu mengamati penampilan sahabatnya.
Setahu dia, sahabatnya, Lidia, tidak datang sampai ia terlelap tadi. Namun, saat Rani terbangun dini hari karena ingin ke kamar kecil, ia justru mendapati pemandangan asing.
“Astaga, Rani, kenapa kamu bersikap berlebihan?” jawab Lidia tanpa merasa bersalah, wajahnya tak berkedip. “Aku hanya meminjamnya sebentar karena menginap di sini.”
Rani membelalak. Sahabatnya itu tampak sedang menggampangkan dirinya.
“Lalu kenapa kamu di sini?” Rani bertanya lagi. Sebab rasanya asing melihat sahabatnya tersebut sedang berduaan dengan suaminya di waktu yang amat larut seperti ini.
Apalagi Rani melihat ekspresi keduanya tampak seperti terusik dengan kehadirannya. Padahal, ini kan rumahnya bersama Ivan, suaminya.
Kenapa justru ia merasa asing di sini?
Apakah karena selama ini Rani membiarkan Lidia menggunakan barang-barang miliknya, Lidia lantas bertindak jauh, seolah-olah menganggap rumah Rani yang menjadi tempat Rani beristirahat dan berbagi kasih dengan suami, menjadi tempat miliknya juga.
Tentu saja, Rani tidak akan tinggal diam.
“Lebih baik kamu pulang, Lidia,” ucap Rani kemudian.
Namun, Ivan, yang sebelumnya hanya menjadi penonton langsung menimpali.
“Temanmu kehujanan, Rani. Ia ingin menemuimu. Tapi karena kamu sudah tidur, aku tidak membangunkanmu,” ucap Ivan. Dengan belaian lembut, ia mengelus bahu Rani dan mencoba meredakan ketegangan. “Bajunya basah, aku meminjamkan baju milikmu sebagai baju ganti sementara. Bukan masalah besar, kan? Lagi pula bukankah Lidia adalah sahabatmu?”
“Lalu apa yang kalian lakukan dini hari begini?” tanya Rani jengkel, apalagi suaminya sedang membela wanita lain.
Ivan gelagapan dan menjawab, “A-aku–”
“Dan kenapa kamu membela dia? Dalam situasi ini kamu seharusnya membela istrimu!” potong Rani. Mungkin ini adalah pengaruh hormon kehamilannya juga. Biasanya ia menyikapi semuanya dengan tenang dan tidak emosi. Namun, benar-benar. Perasaannya terasa janggal melihat kedekatan dua orang ini.
Saat itu, mata Rani melihat bahwa baju tidur Lidia tidak terikat dengan baik. Seperti sedang diikat dengan terburu-buru.
Apakah … suami dan sahabatnya–
Tiba-tiba Rani bergerak, tangannya terulur tanpa pikir panjang. Ia mencengkeram baju tidur yang menempel di tubuh Lidia.
“Lepaskan ini!” teriak Rani histeris sambil mengacak-acak baju tidur Rani dengan maksud ingin melepasnya. “Ini adalah hadiah dari suamiku. Kamu tidak berhak–”
“Rani! Kamu gila ya!?”
Kedua tangan wanita itu saling mengacau, memukul, dan menghempaskan. Tidak ada yang mau mengalah.
Di sisi lain, Ivan tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri dan gelisah di tempat seperti orang bodoh.
“Lepaskan ini dan pergi dari sini, Lidia!” ucap Rani. Meskipun suaranya terdengar kasar, pipinya sudah basah karena air mata. Di kepalanya berputar momen-momen di mana suaminya menatap Lidia dengan tatapan hangat, bahkan lebih hangat dibanding saat Ivan melihat Rani.
Kenapa dia baru menyadari ini?
“Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi berbicara denganku dan juga suamiku!”
“Apa!? Kamu pikir kamu punya hak?” balas Lidia, tak kalah kasar. “Sekalipun kamu tidak ingin berbicara denganku, tetapi suamimu tidak, tuh? Bahkan suamimu lebih suka bersama denganku daripada denganmu!”
PLAK!
Suara nyaring terdengar nyaring setelah suara teriakan keduanya berhenti. Setelah itu keheningan meliputi ruangan, dengan posisi Lidia yang memegang pipi untuk mengurangi rasa sakit dan menutupi kemerahan di atasnya.
“Lidia!” Ivan menghampiri Lidia dengan segera begitu melihat Lidia ditampar. Bukan hanya itu, ia bahkan memeriksa keadaan pipi Lidia dengan penuh perhatian.
Rani menganga lebar. Ia tidak bisa berkata-kata ketika melihat interaksi keduanya.
“Kamu baru saja menamparku?” tanya Lidia.
“Benar! Aku rasa tamparan saja tidak akan cukup untuk menghukum cara pikirmu yang menyimpang.” Rani melirik ke arah Ivan yang masih berdiri di sisi Lidia. “Sekarang kembalikan semua di tempatnya semula, Lidia!”
Tidak terima, Lidia mendorong Rani dengan segenap tenaga.
Tubuh Rani yang ringkih terpental ke belakang. Waktu seakan-akan berjalan lambat ketika Rani berada di tengah-tengah udara. Ia melihat ekspresi Lidia yang menyeringai senang ketika melihatnya berada dalam bahaya.
BRUK!
Tubuh Rani membentur tembok. Letak lemari yang kurang menguntungkan membuat kepala Rani dikoyak oleh siku kayu yang tajam. Lemari yang tadinya putih pun jadi bernoda. Lantai yang sebelumnya bersih juga jadi dibanjiri oleh cairan kemerahan yang kental.
“Lidia! Apa yang telah kamu lakukan?!” teriak Ivan.
“A-aku tidak bermaksud untuk membuatnya sampai seperti itu. Aku hanya mendorongnya sedikit,” jawab Lidia.
“Tidak terlalu masalah jika hanya Rani yang terluka. Tapi bagaimana jika bayinya juga kena? Semuanya bisa kacau kalau kita kehilangan bayi kita!”
Dalam penglihatan yang buram, dan sedikit kesadaran yang tersisa, Rani melihat keduanya berseteru. Bukannya langsung memanggil ambulans. Mereka malah sibuk berdiskusi atas topik yang tidak dipahami oleh Rani.
“Bayi kita?” pikir Rani. Kepalanya terasa sakit, begitu pula perutnya. “Apa maksud–”
“Kalau dia keguguran, kita harus mencari cara lain agar aku bisa punya keturunan! Kita harus memulai sandiwara dari awal!”
Ucapan Ivan tersebut adalah hal terakhir yang didengar Rani sebelum ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Malam resepsi yang seharusnya menjadi malam paling indah dalam hidup Rani berubah menjadi malam penuh perenungan. Setelah acara selesai, mereka kembali ke mansion baru mereka. Suasana di dalam rumah begitu tenang, namun Rani bisa merasakan Eric menjauh secara emosional. Pria itu sibuk di ruang kerjanya, menatap dokumen-dokumen lama dan layar monitor yang penuh dengan data DNA.Rani masuk ke ruang kerja membawa secangkir cokelat panas. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja dan berdiri di belakang Eric, meletakkan tangannya di bahu pria itu. Eric tersentak, lalu segera menutup layar komputernya."Kau belum tidur?" tanya Eric dengan nada suara yang mencoba terdengar santai."Eric, kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku. Aku sudah menghabiskan waktu dua tahun untuk merencanakan setiap langkah Ivan dan Lidia, aku sangat hafal kapan seseorang sedang berbohong atau menyimpan sesuatu," Rani duduk di atas meja kerja di depan Eric, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Apa yang kau lihat d
Pernikahan itu berlangsung sederhana namun tak tertandingi kemegahannya dalam hal ketulusan. Berlokasi di sebuah kapel pribadi di dalam kawasan perbukitan yang dikuasai keluarga Utama, acara itu hanya dihadiri oleh segelintir orang: Ibu Eric, beberapa kolega terpercaya, dan pengacara pribadi mereka. Tidak ada media, tidak ada tamu undangan yang penuh kepalsuan, tidak ada Ivan atau Lidia yang berdiri di antara mereka untuk merusak kebahagiaan.Rani berjalan perlahan menyusuri altar dengan gaun putihnya yang sederhana. Kain sutra itu membalut tubuhnya dengan anggun, menonjolkan kecantikan alami yang selama ini tersembunyi di balik jas kerja perusahaan. Saat ia sampai di hadapan Eric, ia melihat pria itu menahan napas. Eric tampak begitu gagah dengan setelan jas hitam klasik, tatapan matanya yang biasanya dingin kini dipenuhi dengan binar kasih yang begitu murni hingga Rani merasa seluruh dunianya kini berpusat di sini."Aku, Eric Utama, menerima Rani sebagai istriku," ucap Eric dengan s
Udara dingin sisa hujan masih menusuk tulang saat Eric dan Rani berdiri di depan SUV hitam mereka, menyaksikan lampu sirine mobil polisi menjauh dari rumah tua keluarga Ivan. Namun, suara rekaman suara Thomas Utama yang baru saja mereka dengar seolah memadamkan api kemenangan yang baru saja membakar semangat mereka. "Proyek Keabadian." Nama itu terdengar seperti kutukan yang tidak pernah berhenti mengejar.Eric memegang perangkat rekam itu dengan jemari yang memucat. Ia menatap Rani, yang kini sedang menghela napas panjang sembari memandangi langit malam. "Minggu depan. Dia mengundang kita ke rumah utama keluarga Utama," ucap Eric, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Dia tahu kita akan menangkap Lidia. Dia membiarkan Lidia menjadi martir untuk sebuah permainan yang lebih besar."Rani melangkah mendekat, mengambil alih perangkat perekam itu dan menyimpannya di tas kecilnya. "Dia tidak hanya mengundang kita, Eric. Dia menantang kita. Thomas Utama tidak pernah bermain tanpa pegangan kartu
Kegelapan yang pekat seketika menelan seluruh area perumahan tua itu, merenggut fungsi penglihatan normal dalam sekejap mata. Namun, bagi Rani, kegelapan ini bukanlah hal baru. Ia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam kegelapan spiritual setelah kematian bayinya di kehidupan pertama, sebuah fase di mana ia belajar untuk melihat bukan dengan mata, melainkan dengan memori dan insting."Rani, tetap di posisimu!" suara Eric terdengar tegas di sisi kanannya, disusul suara gesekan kain jas saat pria itu bergerak maju untuk memposisikan dirinya di depan Rani sebagai perisai alami.Namun, Rani justru melangkah ke samping, menghindari perlindungan Eric dengan gerakan yang sangat halus. "Tidak, Eric. Ini adalah panggung yang dipilih Lidia untukku. Jika kau maju, dia akan langsung menekan tombol manual tanpa memedulikan sisa waktu."Rani menyalakan senter kecil khusus dari ponsel cadangannya, mengarahkan berkas cahaya putih tajam itu langsung ke arah pintu depan rumah yang kini telah ter
Dinding rumah sakit itu berwarna putih pucat, sewarna dengan wajah Eric yang terduduk lesu di depan ruang operasi darurat. Sudah tiga jam berlalu, namun lampu merah di atas pintu masih menyala, menandakan perang di dalam sana belum berakhir. Ibu Eric, yang baru saja tiba dengan kursi rodanya, seger
Lampu kamar sudah padam.Rani masih berdiri di halaman.Angin malam menyapu rambutnya pelan. Gerbang di depannya terbuka sedikit—cukup untuk membuat bayangan di lantai bergeser ketika ia mendorongnya.Ia melangkah masuk.Pintu rumah tidak dikunci.Tentu saja tidak.Ivan selalu menunggunya dengan car
Lampu gantung kristal di restoran itu memantulkan cahaya keemasan di atas meja marmer. Gelas-gelas anggur tersusun rapi seperti barisan tentara. Denting sendok dan tawa pelan tamu lain menyatu dengan alunan piano yang lembut.Rani berdiri kaku di dekat pintu masuk.Gaun kerjanya terasa terlalu sede
“Rani! Kamu dari mana saja?” tanya Lidia.Begitu Rani muncul, Lidia langsung datang dan merangkul lengan Rani. Sentuhan itu terasa tidak nyaman dan sontak membuat Rani segera menghempasnya.Lidia terpaku. Matanya yang membesar menandakan kalau wanita itu terkejut dengan reaksi penolakan tidak terdu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.