LOGINSetelah menyelamatkan nyawa sang alpha, Lyra berakhir melakukan kontrak darah dan terjebak dalam kehidupan werewolf sebagai tawanan di bawah kekuasaan pria itu. Lyra tidak tahu bahwa ada sesuatu tentang aroma tubuhnya yang memikat telah menarik insting liar Kael, sang alpha. Membuat pria yang ditakuti tersebut tidak bersedia melepaskannya.
View MoreBau darah.
Itulah yang Lyra cium saat dirinya sedang mencari perlindungan dari hujan yang tiba-tiba turun lebat. Tadi, ia hanya berniat mengumpulkan tanaman obat tanpa menyadari hujan datang dan ia sudah terlalu jauh memasuki hutan.
Lyra menegakkan punggungnya, lalu dengan hati-hati bergerak mendekati sumbernya. Bau itu baru tercium setelah ia mendengar bunyi berat, seperti tubuh besar menghantam tanah. Disusul geraman rendah yang terlalu dalam untuk seekor rusa, terlalu berat untuk serigala biasa.
“Siapa di sana?” Suaranya terdengar kecil.
Tidak ada jawaban.
Langkah Lyra terhenti saat ia melihat semak di depannya roboh, rantingnya patah seperti diinjak sesuatu yang besar.
Dan di baliknya, seorang pria terbaring miring di tanah.
Tubuhnya tinggi dan lebar, bahkan dalam posisi terjatuh pun ia tampak besar. Mantel hitamnya koyak di beberapa bagian, memperlihatkan dada bidang yang sebagian terbuka oleh kemeja yang robek. Hujan menelusuri kulitnya yang pucat kecokelatan, bercampur dengan darah yang mengalir dari luka panjang di bahu dan rusuknya.
Bekas itu tidak seperti sabetan pisau.
Garisnya tidak rata. Dalam. Seperti dicabik sesuatu yang memiliki cakar.
Lyra menelan ludah.
Ia tidak pernah melihat luka seperti itu sebelumnya.
Pria itu bergerak pelan, dan ketika matanya terbuka, tatapan kelamnya langsung mengunci dirinya. Mata itu tidak kosong seperti orang yang hampir mati. Tatapan itu sadar. Waspada. Liar.
“Pergi.”
Suaranya berat, rendah, dan serak, tetapi tetap memiliki nada perintah yang membuat punggung Lyra menegang.
“Kau terluka parah,” jawab Lyra, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kalau tetap di sini, kau akan mati.”
“Aku bilang… pergi.”
Pupil pria itu menyempit, memanjang seperti garis tipis di tengah iris gelapnya.
Tubuhnya menegang. Otot-otot di leher dan rahangnya bergerak jelas di bawah kulit yang basah. Kukunya tampak menekan tanah, dan dalam detik berikutnya, ujungnya memanjang, mencakar lumpur.
Geraman rendah keluar dari tenggorokannya. Bukan sekadar kesakitan.
Lebih seperti binatang yang berusaha keluar dari dalam tubuh manusia.
Lyra mundur satu langkah, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia yakin pria itu bisa mendengarnya.
“Apa kau…” suaranya gemetar. “Apa kau manusia?”
Tatapan itu berkilat tajam.
“Pergi sebelum aku kehilangan kendali.”
Ancaman itu nyata. Ia bisa merasakannya di udara, seperti tekanan yang menekan dada. Tubuh pria itu bergetar hebat, seolah dua kekuatan saling bertarung di dalamnya. Hujan memukul punggungnya tanpa henti, tetapi ia tetap berdiri di sana.
“Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya akhirnya.
Ekspresi pria itu mengeras, menatapnya seakan hendak menerkam. Otot-ototnya menegang, bahunya bergerak maju.
Namun tubuh besar itu justru terhuyung. Matanya berkedip, kukunya perlahan kembali normal, dan dalam satu gerakan berat, ia roboh tak sadarkan diri di hadapannya.
Lyra berdiri terpaku beberapa detik sebelum kesadarannya kembali.
“Baik… baik…” gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengatur napas.
Ia memutar tubuh pria itu agar terlentang, lalu mencoba cara lain. Ia menyelipkan lengannya di bawah ketiaknya, memanfaatkan kemiringan tanah untuk menggeser tubuh itu sedikit demi sedikit. Lumpur menempel di rok dan tangannya, napasnya tersengal, punggungnya terasa perih.
Setiap beberapa langkah, ia harus berhenti untuk mengatur napas.
Hujan tidak membantu. Tanah menjadi semakin licin. Dua kali ia tergelincir dan hampir terjatuh di atas tubuh pria itu.
Perjalanan yang biasanya ia tempuh dalam sepuluh menit terasa seperti satu jam penuh perjuangan. Ketika akhirnya lampu redup pondok kayunya terlihat di antara pepohonan, lututnya hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Ia membuka pintu dengan bahunya, menyeret pria itu masuk sedikit demi sedikit. Lantai kayu basah oleh air hujan dan lumpur. Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh besar itu hingga mencapai ranjang sederhana di sudut ruangan.
Lyra menatap pria asing itu. Bahkan dalam keadaan tak sadarkan diri, ia tampak berbahaya. Dada bidangnya yang terekspos oleh kemeja robek bergerak perlahan, memperlihatkan garis otot yang tegas dan bekas luka lama yang melintang samar di kulitnya. Rambut hitamnya menempel basah di dahi, dan rahangnya yang kuat membuat wajahnya tampak keras meski sedang pingsan.
Lyra memalingkan wajahnya sesaat, menyadari pipinya menghangat bukan hanya karena kelelahan.
“Fokus,” bisiknya pada diri sendiri.
Tangannya gemetar ketika membersihkan luka-lukanya dengan air hangat. Setiap sentuhan membuat otot pria itu bergerak refleks, seolah tubuhnya tetap waspada meski pikiran tidak sadar. Saat ia membalut bahunya, ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria itu.
Hangat.....
Bukan hangat biasa seperti kulit yang terpapar api perapian. Panas itu terasa hidup. Berdenyut di bawah telapak tangannya, seolah ada sesuatu yang bergerak di balik kulit pria itu.
Lyra tidak langsung menarik tangannya. Ia terpaku sepersekian detik, merasakan suhu yang tidak masuk akal itu merambat ke ujung jarinya. Napasnya tercekat.
“Tubuh manusia tidak seharusnya sepanas ini....,” batin Lyra.
Gema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan
Reruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,
Aroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."
Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya
Cahaya bulan yang masuk melalui jendela kristal istana es memberikan rona perak pada kulit Lyra yang pucat namun memancarkan daya tarik yang mematikan. Kael Draven tidak melepaskan dekapannya sedikit pun sejak Elara dan pasukannya mundur.Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Lyra bersandar pada dada
Gema langkah kaki di koridor menara terdengar seperti detak jam menuju kehancuran. Kael Draven berdiri mematung di tengah kamar, matanya yang berwarna emas tajam menatap pintu yang tertutup rapat. Di belakangnya, Lyra duduk di tepi ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan kain sutra tipis yang nyaris t
Udara dingin merayap masuk melalui celah celah batu menara saat Kael Draven berdiri dari ranjang dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. Dia menatap Lyra yang masih berbaring lemas, lalu menyelimuti tubuh wanita itu hingga ke leher. Tatapan Kael penuh dengan kepemilikan yang tak tergoyah
Lantai marmer yang dingin seolah tidak berarti di bawah lutut Kael Draven saat dia menatap perut Lyra dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus pemujaan yang gelap.Tanda ungu yang menyerupai sulur-sulur kematian itu berpendar redup, kontras dengan kulit putih porselen Lyra yang biasanya mem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.