Chapter: Hanya Menjalankan KewajibanKetukan keras di pintu sore itu ternyata hanyalah kurir yang mengantarkan sisa barang Sulaiman dari kantor, sebuah interupsi singkat yang menunda jawaban Sulaiman, tetapi tidak menghapus ketakutan di matanya. Sulaiman memilih kembali bungkam, berlindung di balik statusnya sebagai pria lumpuh yang tak berdaya. Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka dalam keheningan. Aminah terjebak dalam rutinitas yang membunuh jiwanya perlahan. Aminah duduk sendirian di sudut ruangan, wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan kebingungan. Hatinya berkecamuk karena harus menghadapi suatu keadaan yang tidak bisa diterima oleh pikirannya. Suaminya, Sulaiman, seorang pria yang dalam beberapa tahun terakhir berubah menjadi sosok yang berbeda. Kelembutan dan cinta yang dulu selalu ada di antara mereka, kini telah pudar menjadi ingatan yang suram. Sulaiman telah berubah menjadi sosok yang dominan dan keras. Dia meminta hak atas Aminah, hak yang seharusnya tidak perlu diminta karena seharusnya hadir dengan ci
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Kecelakaan dan Sebuah RenunganKeheningan di rumah itu bukan lagi ketenangan, melainkan bom waktu yang siap meledak. Aminah menyadari bahwa mengandalkan kapal yang bocor hanya akan membuatnya tenggelam bersama kenangan. Di sela isak tangisnya yang mulai mengering, sebuah tekad muncul. Dia tidak akan membiarkan Ahmad melihat ibunya karam. Diam-diam, saat Ahmad tertidur lelap di siang hari, Aminah sibuk di dapur. Bukan sekadar memasak untuk makan malam yang seringkali berakhir dingin tak tersentuh, dia sedang bereksperimen. Aminah mendaftarkan diri dalam "Grand Culinary Challenge", sebuah kompetisi memasak tingkat nasional. Setiap bumbu yang diulek, setiap sayuran yang diiris, adalah bentuk perlawanan terhadap rasa rendah dirinya. Dia ingin membuktikan bahwa gurat di perutnya dan tubuhnya yang tak lagi ramping adalah simbol kekuatan, bukan kelemahan. Dia ingin mandiri—agar jika suatu saat dia harus melompat dari "kapal" yang diarungi bersama Sulaiman, dia punya tenaga untuk berenang ke tepian. Insting seorang istri
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Sikap Tak Biasa"Terlalu banyak kebocoran di kapal yang ditumpangi. Apakah harus lompat dari kapal untuk menyelamatkan diri atau bertahan? Berharap ada yang menolong, walau kapalnya sewaktu-waktu akan karam." Setahun telah berlalu sejak Ahmad lahir. Kini, bocah kecil itu sudah mulai belajar berjalan, sering tertawa sendiri, dan menjadi cahaya di rumah kecil mereka. Namun, di balik tawa Ahmad, ada perasaan getir yang mulai tumbuh dalam hati Aminah. Sulaiman, suami yang dulu selalu ada di sampingnya, kini semakin jarang pulang. Jika pun pulang, hanya sejenak—tanpa pelukan hangat, tanpa obrolan mesra seperti dulu. Aminah mulai menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Tatapan Sulaiman tidak lagi sama. Sentuhannya tak lagi penuh cinta. Di depan cermin, Aminah berdiri diam. Tubuhnya yang dulu ramping kini berubah. Bekas kehamilan masih terlihat jelas. Dia meraba perutnya, memandangi gurat-gurat yang tertinggal, dan berpikir, "Mungkinkah ini alasan dia tak lagi mencintaiku?" Aminah memejamkan mata, mencoba
Last Updated: 2025-06-11
Chapter: Segudang TanyaHari-hari berikutnya, di rumah Sulaiman dan Aminah dipenuhi dengan kebahagiaan dan kesibukan baru. Bayi laki-laki yang baru lahir, mereka beri nama Ahmad, menjadi pusat perhatian keluarga. Sulaiman berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Sementara Aminah, meskipun masih dalam masa pemulihan, menghabiskan banyak waktu bersama Ahmad, menyusui dan merawatnya. Dania dan Clara sering datang untuk memeriksa kondisi Aminah dan Ahmad. Clara memastikan bahwa pemulihan Aminah berjalan baik, sementara Dania membantu Aminah dengan saran-saran praktis mengenai perawatan bayi dan pemulihan pasca persalinan. Ahmad Ryan Pratama, itulah nama lengkap anak Aminah dan Sulaiman. Dengan harapan, anak pertama mereka akan selalu dipuji oleh orang lain karena kebaikannya. Bukan berarti haus akan pujian, tetapi mereka ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang memiliki sifat terpuji. Karena hal tersebut sangat dicintai Allah. Suatu hari, Sulaiman memutuskan mengundang Dania dan Clara untuk maka
Last Updated: 2024-11-07
Chapter: Buah Cinta KamiDua bulan kemudian, usia kehamilan Aminah sudah memasuki 9 bulan, artinya sebentar lagi bayi yang dikandungnya akan segera lahir. Aminah sudah tidak nyaman untuk bergerak bahkan tidur pun serba salah. Sedangkan Sulaiman semakin sibuk dengan kariernya, padahal saat-saat seperti inilah Aminah sangat membutuhkan peran suaminya. "Mas, lagi di mana? Perutku terasa kram nih. Aku butuh kamu saat ini. Bisa pulang kah?" pinta Aminah dengan lirih melalui pesan singkat di salah satu aplikasi chat. Karena ditelepon sebanyak 50 kali, Sulaiman tidak jua merespons. Beberapa menit kemudian, Aminah kembali menghubungi Sulaiman, tetapi tidak juga ada balasan dari sang suami, baik chat maupun telepon. Sedangkan Aminah meringis kesakitan. Tak ada satu pun orang di rumah, bahkan anak angkatnya, Zahra sedang berada di rumah orang tua kandungnya. Aminah semakin merasakan sakit, sampai teriak meminta bantuan. Beruntungnya ada tetangga mereka yang sering dititipkan Zahra kebetulan hendak mampir ke rumah, ing
Last Updated: 2024-08-16
Chapter: Tujuh Bulan KehamilanWaktu berlalu, perut Aminah semakin membesar menandakan perjalanan kehamilan yang berjalan lancar. Setiap saat diisi dengan persiapan dan kebahagiaan menjelang kelahiran anak pertama mereka. Mereka berdua ikut serta dalam kursus kehamilan, merencanakan dekorasi kamar bayi, dan berbelanja perlengkapan bayi dengan penuh antusias. "Sayang, kan sudah aku bilang, jangan capek-capek. Istirahat aja, loh!" ujar Sulaiman dengan raut wajah yang sangat khawatir ketika kaki Aminah hampir tergelincir. "Iya, sayang. Aku cuma mau membereskan mainannya Zahra saja, kok. Kan tidak terlalu menguras tenaga juga," jawab Aminah sambil mengelus perutnya. "Lagian, anak kita yang ada di dalam perut ini, baik-baik saja." Di sana, ada Zahra yang ketakutan karena khawatir dimarahi Sulaiman. Apalagi Aminah hampir tergelincir akibat mainan Zahra yang berantakan. Aminah dengan wajah tertunduk, merasa bersalah, langsung meminta maaf. "Pa, Ma, maafin Zahra, ya. Gara-gara mainan Zahra, mama hampir saja celaka. Zahra
Last Updated: 2024-04-07