Chapter: Bab 162 : Runtuhnya Gua Sarang SilumanSituasi menjelma semakin darurat. Goncangan yang luar biasa hebat di dalam gua nyaris tak memberikan waktu berpikir. Suara deguman batu kapur yang berjatuhan dari atas seakan saling bersahutan, menciptakan irama sumbang yang menyentak gendang telinga. Selain itu, butiran halus dari pecaha batur kapur yang menyerupai pasir ikut pula berguguran, dan di lantai gua mulai timbul tanda-tanda bahwa tanah itu sebentar lagi akan rengkah.“Kau harus keluar dari sini sekarang, Giandra!” Jaka Purnama mendesak. Dadakan, si pendekar berjubah putih itu mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia lakukan.“Wuuut!”Sambil menghentak napas ke diafragma, Jaka Purnama memukulkan telapak tangan kanannya, gelora energi kencang pun terpancar, menghantam tubuh Giandra dengan serta-merta.Dalam keadaan panik antara menghindari jatuhan batur kapur dan menjaga keseimbangan kaki di lantai yang hampir pecah, Giandra tak menduga kalau sang ayah akan memukulnya diam-diam. Ener
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Bab 161 : Pertarungan Dalam GuaMentari di ufuk barat telah pulang ke peraduan, menyisakan semburat merah laksana darah. Petang yang anggun kini dipeluk magrib yang temaram, nuansa redup pun turun di puncak Gunung Ratri membawa aura mistikDengan keadaan lunglai dan menahan sakit, Iblis Hitam akhirnya ambruk jua. Tubuhnya yang besar kalah oleh pengaruh racun yang merayapi aliran darahnya.Jarum-jarum kecil masih menancap di sekujur kulit siluman itu. Benjolan-benjolan di seluruh badannya makin berdenyut bagai hendak meletus. Dia meringis kesakitan. Napas yang sempit membuatnya menghengal. Butiran peluh sebesar biji jagung membasahi keningnya yang berkerut.Sambil duduk selonjoran, punggungnya bersandar pada sebongkah cadas yang rapat dengan tembok gua. Dia hanya terkulai lemas. Bola matanya yang semula nyalang dan tajam, sekarang berubah sayu dan perlahan-lahan mulai rabun. Dia berharap aura magis yang menyelimuti ruangan gua ini akan memulihkan lagi kekuatannya.Tak jauh dari tem
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 160 : Kehebatan Jarum Beracun“Sreeek sreeek sreeek!”Tungkai Iblis Hitam terkayuh mundur menahan nyeri. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi memberikan keuntungan bagi Giandra untuk membidik area selangkangan. Dia sangat kesusahan apabila musuh menghantamnya di bagian bawah, dan terlebih lagi kecepatan Giandra tidak mudah diukur.“Kurang ajar! Kau beraninya main serangan kotor, pendekar tengik. Kau harus merasakan pembalasanku!”“Heh, yang namanya pertarungan antara hidup dan mati itu bebas, tidak ada peraturan khusus. Salahmu sendiri yang kurang hati-hati,” ucap Giandra. Jari telunjuknya menunjuk pada siluman tersebut.Iblis Hitam yang mengernyit kesakitan menghentakkan kakinya yang sebelah kiri. Bumi pun tiba-tiba bergetar hebat. Dua bongkahan cadas besar yang ada di belakangnya melambung setinggi dua tombak dari tanah. Seolah dikendalikan dengan benang-benang sihir kasat mata, kedua batu itu mengapung tanpa terpengaruh oleh gravitasi. Iblis Hi
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Bab 159 : Menyerbu Gua Sarang SilumanPetang merayap di puncak Gunung Ratri. Nuansa kemerahan membakar langit yang dikerumuni mega-mega. Bau belerang naik dan menebar dari dalam kawah yang luas, berpadu pula dengan udara dingin dan kabut tipis yang bersiaranSetelah menempuh perjalanan panjang, melintasi lembah dan mendaki gunung yang berselimut hutan, sekarang Giandra dan ayahnya tiba di hadapan wadah persembunyian Iblis Hitam. Tempat itulah yang bernama Gua Sarang Siluman. Pada masa lampau, asap pembakaran dari daging manusia yang dipanggang kerap tercium dari dalam gua tersebut.Semburan matahari petang membentuk garis-garis keemasan, menyinari tepat di hadapan terowongan lebar yang bagian dalamnya ditumbuhi lumut itu. Jika dilperhatikan dari luar, penampakannya mirip seperti mulut raksasa yang menganga kelaparan.Di sekitaran lokasi itu, terlihat banyak bongkahan-bongkahan cadas besar, kerikil kecil yang berserakan, dan hamparan pasir yang berasal dari abu vulkanik, semuanya itu menciptaka
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bab 158 : PerjanjianMalam yang dingin menyelimuti rimba raya, suasana larutnya menenggelamkan suara jangkrik, kelompok kunang-kunang masih berpijar, gemerlapan di ranting pohon, kelap-kelipnya seolah menggantikan cahaya kejora yang sirna di langit. Kala itu embun dini hari sudah turun, rerumputan yang basah pun memancarkan bau lembab, berpadu dengan aroma daun-daun busuk yang menghitam di tanah.Dalam kondisi setengah sadar, Patrioda diikat tergantung pada sebatang dahan pohon. Kepalanya menghadap ke bawah, sedangkan dua kakinya mengarah ke atas. Dia sekarang tak ubahnya bagaikan kelelawar yang biasa bergelantungan di langit-langit gua.Lilitan akar-akar yang kokoh dan tumbuhan liar yang melayap membelenggu sekujur badannya. Entah sudah berapa lama dia siksa seperti itu, tenggorokannya terasa kering mencekat, kepalanya pusing dan perutnya mual. Cuma dialah satu-satunya yang terpisah dari rombongan saat berada di Gunung Ratri. Setelah yang lain sudah kembali ke istana, lelaki ini malah jadi bulan-bulanan
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 157 : Keputusan Yang BulatDi hadapan pintu kamar Jaka Purnama sendirian termenung. Walaupun malam kian meninggi, tapi lelaki itu masih belum jua istirahat. Dengan ditemani nyianyian Jangkrik dan hawa dingin yang menari di keheningan, dua tangannya bertumpu pada pagar kayu, dia silangkan semua jemarinya, pikirannya pun mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi besok.Derap langkah di lantai papan tiba-tiba terdengar. Ada yang datang mendekatinya. Jaka Purnama pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Tampaklah olehnya seorang wanita berpakaian kuning muncul, berjalan dengan anggun. Dia ini tidak lain adalah Alindra, dirinya tampak sedang membawa gelas bambu yang mengepulkan asap.Wanita itu tersenyum manis. Dia berhenti di dekat Jaka Purnama, lalu menyuguhkan minuman yang dibawanya tersebut. Aroma harum pun seketika tercium dari asap yang mengepul itu. Jaka Purnama tahu kalau itu adalah segelas kopi tubruk yang nikmat.“Minumlah, Kakang. Aku sengaja membuatkannya untukmu, biar Kakang tidak bosan mer
Last Updated: 2026-06-03