Chapter: 22. eksekusi rahasia pertamaMalam telah mencapai puncaknya ketika separuh bulan tertutup oleh kabut tebal, menenggelamkan ibu kota Kekaisaran Tianlong dalam kegelapan yang pekat. Di kediaman megah milik Tuan Tanah Zhao, tirai-tirai sutra mahal melambai ditiup angin malam. Sang tuan tanah baru saja merebahkan tubuh tambunnya di atas ranjang, masih setengah mabuk oleh sisa-sisa arak dari perjamuan istana siang tadi. Dia tidak pernah menyadari, sebuah bayangan hitam telah melompati pagar tinggi kediamannya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Menggunakan wujud manusianya, Wei Lichun bergerak secepat bayangan yang melintas di bawah cahaya lilin. Langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan bobot manusia, melainkan meluncur bagai siluman yang tak kasat mata. Pintu kamar sang tuan tanah yang terkunci dari dalam terbuka sendiri secara gaib, membiarkan hawa dingin yang ekstrem merayap masuk, seketika membekukan suhu ruangan. Tuan Tanah Zhao tersentak bangun. Kesadarannya yang tersisa dari mabuk mendadak sirna ole
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 21. Investigasi yang BuntuKematian mendadak Tuan Tanah Zhao dalam semalam bak hantaman gada besi yang mengguncang seluruh dewan kota dan jajaran pejabat tinggi Kekaisaran Tianlong. Seorang pilar finansial militer, pria yang siang sebelumnya masih tertawa congkak di Aula Perjamuan Barat sambil menyombongkan darah kepahlawanan leluhurnya, ditemukan terbujur kaku di ranjangnya dengan mata mendelik dan rahang terbuka lebar. Di Aula Sidang Utama, atmosfer terasa mencekam. Puluhan pejabat tinggi berdiri dengan wajah tegang, saling berbisik penuh kecurigaan. Namun, laporan akhir dari kepala tabib kekaisaran justru memukul mundur semua spekulasi konspirasi pembunuhan. "Melapor pada Yang Mulia Putra Langit," kepala tabib berlutut dengan tubuh gemetar di hadapan takhta naga. "Hamba dan tiga tabib senior telah memeriksa jasad Tuan Tanah Zhao secara menyeluruh. Tidak ada bekas luka senjata tajam, tidak ada memar, dan tidak ada jejak racun apa pun di dalam darah maupun lambungnya. Beliau... murni meninggal akibat seran
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: 20. pelatihan rahasiaMalam-malam berikutnya di wilayah barat istana tak lagi dilewati Feng Long dengan meratapi nasib. Di bawah naungan kegelapan yang pekat, di sebuah ruang bawah tanah terbengkalai di sudut Paviliun Teratai Biru yang telah dibersihkan secara gaib oleh sihir ular, pelatihan maut itu resmi dimulai. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sedingin es, sebuah atmosfer yang sengaja diciptakan Lichun untuk menguji batas ketahanan manusia. PLAK! "Terlalu lambat! Berdiri!" suara Lichun menggelegar rendah namun menusuk, bergema di dinding batu yang lembap" sebelum kamu mengayunkan pisaumu, mungkin kepalamu sudah terlepas terlebih dahulu." Feng Long terjerembap ke lantai tanah, napasnya memburu laksana pandai besi yang kehabisan udara. Keringat bercampur debu hitam membasahi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menahan berat badannya sendiri untuk kembali bangkit. Seluruh persendiannya terasa seolah sengaja dipatahkan satu demi satu. Bertahun-tahun mendekam d
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 19. pahlawan palsuSuasana di Aula Perjamuan Barat siang itu terasa begitu meriah, berbanding terbalik dengan atmosfer dingin Paviliun Anggrek Liar yang biasa ditempati Wei Lichun. Aroma arak kuarter terbaik dan daging panggang berbumbu rempah mahal memenuhi udara, berbaur dengan tawa renyah para bangsawan dan pejabat istana depan yang sedang bersenang-senang. Di atas takhta naga berukir batu giok, Kaisar Long Yan duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Di pangkuannya, bersandar tubuh mungil Lichun yang mengenakan gaun sutra tipis sewarna kelopak bunga persik. Tangan kekar Long Yan melingkar posesif di pinggang Lichun, sesekali menyuapkan sebutir buah anggur segar ke mulut selir kesayangannya itu dengan pandangan memuja. "Makanlah lagi, permata kecilku," bisik Long Yan lembut di dekat telinga Lichun, mengabaikan tatapan beberapa menteri tua yang menganggap tindakan memamerkan selir di sidang informal siang ini agak melanggar adat. "Kau masih tampak terlalu pucat setelah kejadian di kolam waktu itu." "T
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: 18. tawaran untuk Feng longMalam merayap naik menutupi kemegahan Istana Agung, menyisakan keheningan yang pekat di Paviliun Teratai Biru—kediaman baru yang kini menjadi tempat bernaung bagi Pangeran Feng Long dan ibunya. Tidak ada lagi bau busuk kayu lapuk atau udara lembap yang menyesakkan dada seperti di Istana Dingin. Sebagai gantinya, aroma ketenangan dari sisa rebusan obat herbal dan wangi teh hangat memenuhi ruangan dalam. Di balik tirai sutra tipis, Selir Ji tampak tertidur lelap dengan napas yang teratur. Rona kemerahan yang sehat mulai tampak di bawah sapuan cahaya lilin, sebuah mukjizat yang mustahil terjadi tanpa pasokan obat-obatan langka yang diselundupkan secara berkala. Feng Long berdiri di ambang pintu paviliunnya yang menghadap ke halaman belakang yang sepi. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan malam tanpa membawa satu pun pelayan. Wei Lichun berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, jubah sutra putihnya berdesir halus di a
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 17. Korban yang SempurnaBagi seekor siluman ular putih yang telah hidup ratusan tahun di kedalaman lembah, air bukanlah ancaman. Air adalah elemen alaminya, sebuah pelukan yang akrab bagi sisik dan nadinya. Di dalam dasar Kolam Ikan Emas yang berlumpur, Wei Lichun bisa saja bernapas dengan bebas atau melesat secepat anak panah tanpa menguras tenaga. Namun, untuk menjadi korban yang sempurna, dia harus menolak kodrat silumannya. Di bawah permukaan air yang remang-remang, Lichun memaksa paru-paru manusianya untuk berhenti bekerja. Dia menahan napasnya dalam-dalam hingga dadanya terasa seperti dihantam batu, membiarkan tekanan air mulai menyiksa fisiknya. Energi spiritual di dalam intinya sengaja dia tekan hingga ke titik terendah, memaksa aliran darah di tubuh manusianya melambat secara drastis. Efeknya instan: kulitnya yang semula seputih pualam berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan suhu tubuhnya merosot tajam, bergetar hebat digerogoti hawa dingin yang menusuk tulang. Dari atas permukaan, suara kepa
Last Updated: 2026-06-06