Chapter: 8. perjamuan istanaAula Naga Agung menyala terang benderang malam itu. Ribuan pelita minyak wangi digantung di langit-langit setinggi puluhan meter, memantulkan cahaya keemasan pada pilar-pilar marmer yang dililit ukiran naga raksasa. Perjamuan Musim Gugur kali ini diadakan dengan kemegahan yang luar biasa, dihadiri oleh seluruh jajaran menteri senior, jenderal perbatasan, serta para selir dari Istana Belakang. Sebagai selir tingkat rendah yang baru saja menarik perhatian Kaisar, Wei Lichun ditempatkan di barisan meja belakang, agak jauh dari takhta utama. Namun, posisinya ini justru memberinya sudut pandang yang sempurna untuk mengamati seluruh mangsanya. Lichun duduk bersila dengan tubuh yang sengaja dibuat sedikit merosot, menampilkan sosok Han Lichun yang pemalu dan rapuh. Gaun sutra ungu mudanya tampak polos tanpa hiasan permata, membuat beberapa selir senior di barisan depan sesekali menoleh dan melemparkan tatapan meremehkan. Lichun mengabaikan mereka. Fokus indra silumannya terkunci pada bar
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 7. Sentuhan EsMalam kian larut di Paviliun Anggrek Liar. Kamar tidur Wei Lichun hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu. Sejak pertemuan di Taman Anggrek sore tadi, ego Kaisar Long Yan yang setinggi langit terusik oleh sosok selir barunya yang rapuh. Maka, di sinilah sang penguasa tertinggi Istana Agung berada sekarang—berdiri berkacak pinggang di samping ranjang, menatap gadis yang kini tampak tertidur dengan pandangan menilai yang sarat akan keangkuhan. Sebagai Putra Langit yang sah, Long Yan selalu menganggap dunia dan isinya adalah miliknya. Baginya, manusia di bawah kakinya tidak lebih dari pion yang bergerak sesuai kehendaknya. Namun, fakta bahwa ada selembar kertas putih tak berdaya dari Utara yang berani menunjukkan kesedihan mendalam di hadapannya membuat rasa superioritasnya tertantang. Long Yan mengulurkan tangannya yang dibalut cincin giok mahal, mencengkeram dagu Lichun dengan agak kasar agar gadis itu
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 6. Air Mata di Taman AnggrekMatahari sore baru saja tergelincir di balik paviliun barat saat Wei Lichun berjalan lambat menyusuri koridor batu Taman Anggrek. Sesuai namanya, tempat ini dipenuhi oleh ratusan jenis anggrek langka yang mekar dalam berbagai warna, wewangiannya menguar pekat, bercampur dengan bau tanah basah setelah disiram. Lichun mengenakan gaun sutra polos sewarna awan kelabu. Rambut hitamnya dibiarkan terurai sebagian, hanya dijepit menggunakan sebatang tusuk konde bambu sederhana. Tidak ada emas, tidak ada permata. Di antara hamparan bunga yang memesona, dia sengaja menampilkan dirinya sebagai satu-satunya kelopak yang layu dan rapuh. KREK. Suara langkah kaki berat yang menginjak ranting kering terdengar dari balik rumpun anggrek putih. Indra pendengaran siluman Lichun menangkap detak jantung yang kuat, diikuti oleh denyut energi spiritual yang sangat dia kenali—Batu Ular. Lichun segera menurunkan pandangannya. Dia berlutut di dekat pot batu besar, menyembunyikan wajahnya di balik kedua
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 5. Racun dalam SelimutMalam pertama di Istana Belakang bergulir dengan kesunyian yang mencekam. Sebagai selir tingkat rendah yang baru terpilih, Wei Lichun ditempatkan di Paviliun Anggrek Liar—sebuah kediaman kecil yang terletak di sudut paling terpencil dari kompleks Istana Agung. Tempat itu dikelilingi oleh rumpun bambu tipis dan kolam teratai yang terbengkalai, jauh dari kemegahan paviliun milik para selir senior yang dipenuhi dekorasi emas. Namun, bagi Lichun, keterasingan ini adalah berkah mutlak. Dia duduk bersila di atas ranjang kayu sederhana, menatap nyala lilin yang bergoyang ditiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Pakaian sutra putih polosnya kontras dengan kegelapan kamar. Perlahan, Lichun melepaskan topeng manusianya untuk sejenak. Manik matanya kembali menyusut menjadi vertikal emas yang tajam, dan hawa dingin siluman mulai merayap keluar dari pori-pori kulitnya, membekukan embun yang menempel di meja kayu dekat ranjang. Tok, tok, tok. Suara ketukan pelan di pintu luar
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 4. gerbang EmasKereta kuda cendana merah berlambang militer Utara itu akhirnya berhenti di depan Gerbang Shenwu—pintu masuk utara menuju Istana Terlarang Kekaisaran Tianlong. Dinding-dinding batu merah setinggi belasan meter berdiri angkuh, memisahkan dunia fana yang bising dengan kemegahan dingin tempat bersarangnya klan Long. Wei Lichun menyibak sedikit tirai sutra kereta. Di luar, puluhan kereta mewah lainnya telah berbaris. Gadis-gadis cantik dari berbagai klan bangsawan dan pejabat tinggi melangkah turun, masing-masing mengenakan gaun terbaik mereka, memamerkan keanggunan, kecerdasan, dan latar belakang keluarga mereka yang agung. Di sinilah sandiwara sesungguhnya dimulai. Lichun tahu betul, jika dia tetap mempertahankan karakter Han Lichun yang sombong dan angkuh di dalam istana, dia hanya akan menjadi target empuk bagi faksi politik lain. Di depan Kaisar Long Yan yang penuh curiga dan para menteri tua yang licik, seorang putri jenderal yang arogan akan dinilai sebagai ancaman militer ya
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 3. Topeng SempurnaWei Lichun berdiri di luar kereta kuda yang kini sunyi, membiarkan jubah sutra ungu muda milik mendiang Nona Han yang baru saja dikenakannya berkibar ditiup angin sore. Di bawah kakinya, jasad asli Han Lichun telah melarut sepenuhnya menjadi tumpukan abu putih halus yang langsung tersapu oleh desau angin di sela-sela batang bambu. Tidak ada jejak. Tidak ada bukti. Siluman ular tidak meninggalkan bekas saat mereka menuntut mangsa. Lichun memejamkan mata emasnya yang kini telah tersembunyi di balik ilusi pupil hitam manusia. Di dalam kepalanya, jutaan pecahan memori milik putri Jenderal Utara itu berputar, menyatu dengan kesadarannya seperti air yang merembes ke dalam tanah kering. Dia bisa merasakan bagaimana rasanya tumbuh di tengah badai salju perbatasan Utara yang keras. Dia bisa mengingat wajah Jenderal Han—pria paruh baya berwajah bengis yang menatap putrinya bukan sebagai anak, melainkan sebagai bidak politik murni untuk memperkuat pengaruh militer mereka di ibu kota. Lichun
Last Updated: 2026-05-21